You Are Mine

You Are Mine
YAM-18



...Happy reading 🤗...



*keesokan harinya di sekolah....


Lia mendengarkan penjelasan guru yang sedang mengajar dengan seksama. Sedangkan Alya yang berada di sampingnya kini malah sedang asik makan. Berulang kali gadis itu menunduk untuk memasukan makanan ke dalam mulutnya.


"Makan mulu lo." degus Lia.


"Ssstt....entar ketahuan, Li. Kalau lo mau ambil aja." Alya kembali menunduk untuk memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Lia menggelengkan kepalanya dan kembali menatap depan mendegarkan penjelasan guru. Tak lama kemudian bel pergantian jam pelajaran berbunyi membuat Bu Lina menyudahi pembelajarannya kali ini.


"Cassandra!"


uhuk uhuk uhuk


Alya menepuk-nepuk dadanya. Ia meraih botol air mineral di atas meja lalu meneguknya. Nama Lia yang di panggil namun dirinya yang terkejut hingga tersedak makanan yang sedang di mulutnya.


"Kamu kenapa Alya?"


Alya mendongak. Ia menatap Bu Lina lalu menggeleng pelan. "Gak papa kok, Bu. Cuma tenggorokan saya tadi kering. Hehehe..."


Bu Lina mengangguk kemudian kembali menatap Cassandra. "Lia, tolong bawakan buku ini ke meja saya ya."


Lia menganggukkan kepalanya. "Baik,Bu." ucapnya kemudian beranjak dari tempatnya. Setelah mengambil beberapa buku di atas meja Lia mengikuti Bu Lina yang sudah lebih dulu berjalan menuju ruang guru.


Lia tersenyum ramah saat berpapasan dengan beberapa guru, setelah dirinya sudah masuk ke dalam ruang guru.


"Taruh sini saja. Makasih ya." ucap Bu Lina saat sudah duduk di kursinya.


Lia segera menaruh buku-buku yang ada di tangannya ke atas meja. "Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu." ucap Lia dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


Sebelum kembali ke kelas Lia berniat untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Namun saat dirinya melewati ruang musik matanya tak sengaja menangkap siluet seseorang tengah berada di dalam.


Lia sedikit tersentak dan menghentikan langkah kakinya. Yang dilihatnya tadi orang atau hantu? Tiba-tiba saja bulu kuduk Lia berdiri. Meski takut Lia kembali melangkah mundur, ia ingin memastikannya.


Lia mengintip dari celah pintu yang tak tertutup rapat. Ia sedikit bernapas lega saat mengetahui ternyata yang dilihatnya adalah orang. Di dalam sana terdapat seseorang-ah tidak dua orang lebih tepatnya. Namun Lia tak dapat melihat jelas siapa kedua orang itu karena di dalam sana terlalu gelap. Lia hanya dapat melihat siluet kedua orang itu saja.


Sayup-sayup Lia bisa mendengar percakapan keduanya. Jiwa keponya yang tiba-tiba keluar membuat Lia memilih tetap diam di tempatnya. Sebelumnya Lia tak pernah melakukan hal seperti ini. Ia sama sekali tak tertarik dengan urusan orang lain. Namun entah kenapa kali ini Lia benar-benar penasaran. Lia menajamkan pendengarannya untuk mencuri dengar percakapan kedua orang dalam sana.


Dahi Lia mengernyit bingung saat mendengar namanya di sebut. Sebenarnya siapa kedua pria di dalam sana? Kenapa menyebut-nyebut namanya?


Beberapa saat setelahnya Lia tak lagi mendegar suara. Penasaran dengan apa yang sedang terjadi, Lia kembali mengintip melalui celah pintu. Matanya membulat saat mengetahui ternyata salah satu dari mereka sedang berjalan ke arah pintu. Buru-buru Lia pergi dari sana sebelum dirinya ketahuan menguping.


...-YOU ARE MINE- ...


Jam pulang sekolah sebenarnya sudah dari lima belas menit yang lalu. Namun karena guru di kelasnya tadi sedikit memberikan ceramahnya membuat kelas XII MIPA 1 kali ini harus pulang lebih akhir.


"Al, gue ketempat fotokopian dulu ya." ucap Lia pada Alya yang sedang mengantri sosis bakar di depan gerbang sekolah.


"Oke, lo mau nitip ini gak? Biar sekalian gue beliin." tanya Alya yang di jawab gelengan oleh Lia.


Lia melangkahkan kakinya menuju tempat fotokopian yang berada di sebrang jalan. Saat menyebrang Lia tak menyadari jika ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya. Ia baru tersadar saat beberapa orang berteriak padanya.


-Brukkk


Lia memejamkan matanya rapat. Ringisan kesakitan keluar dari mulutnya saat merasakan tubuhnya terhempas di atas aspal.


"Li? Lia?" Kevin berucap panik melihat keadaan Lia. Ia yang tadi juga ikut terjatuh di atas aspal kini sudah mengubah posisinya menjadi duduk.


Saat melihat sebuah mobil melaju ke arah Lia tadi buru-buru Kevin berlari ke arah gadis itu dan menariknya untuk menyingkir hingga membuat mereka akhirnya jatuh bersama di atas aspal.


Perlahan Lia membuka matanya. Dilihatnya beberapa orang sudah berkumpul di sekitarnya.


"Lia! Lo baik-baik aja kan?" Alya yang berhasil menerobos kerumunan itu, langsung berjongkok di samping Lia. Ia benar-benar panik saat melihat Lia yang akan tertabrak mobil tadi. Beruntung ada Kevin yang dengan cepat menarik Lia untuk menyingkir.


Lia mengubah posisinya menjadi duduk dengan bantuan Alya. Namun ia masih membungkam mulutnya dan tak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan itu. Dirinya masih dalam keadaan shock.


Tubuh Lia tampak bergetar. Setetes cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Sedangkan tangannya semakin mencengkeram kuat tangan Alya. Lia tak bisa membayangkan jika tadi tak ada yang menariknya menyingkirkan mungkin ia sudah kehilangan nyawanya saat ini.


"Sssttt....tenang, Li... Ada gue. Lo udah aman." ucap Alya yang sudah menarik Lia ke dalam pelukannya. Alya mengelus punggung Lia pelan, berusaha untuk menenangkan gadis itu yang semakin terisak.


"Hiks... Pu-pulang. G-gue mau pulang. Hiks..." lirih Lia.


"Iya, kita pulang. Lo tenang dulu ya..."


Dengan cepat Alya mengambil botol dari tangan Kevin, kemudian melepaskan pelukannya dari Lia. "Minum dulu, biar lo lebih tenang."


Dengan tangan yang masih gemetar, Lia mulai menenguk air dari dalam botol itu.


"Kalian semua bubar sana. Jangan pada kerumunan gini. Bubar!" sentak Kevin yang membuat beberapa dari mereka membubarkan diri.


Kevin bangkit berdiri. Diliriknya Zean yang masih berdiri di sampingnya. Disana juga ada Arvin dan beberapa temannya yang lain.


"Ze, ambil mobil lo bawa kesini. Lia biar gue anter pulang." Zean mengangguk dan segera berlari masuk ke area sekolah untuk mengambil mobilnya.


"Li, gue anter ke rumah sakit ya? Buat ngecek keadaan lo dulu." tanya Kevin yang sudah menunduk agar sejajar dengan Lia.


Lia menggeleng pelan. "G-gue mau pulang." ucap Asha yang masih sedikit terisak. Kevin menghembuskan nafasnya mendegar penolakan Lia.


Beberapa saat kemudian Zean datang dengan mengendarai mobilnya. Pria itu keluar dari mobil dan memeberikan kunci mobilnya pada Kevin. "Nih, kuncinya. Lo mau sendiri atau-"


"Gue sendiri aja. Kalian langsung kesana. Jangan tunggu gue." potong Kevin setelah mengambil kunci mobil milik pria itu.


"Oke."


Kevin beralih menatap kedua gadis yang masih terduduk di aspal. "Ayo, gue anter pulang. Al, bawa Lia masuk ke mobil."


"Bentar, kalau gue ikut lo motor gue terus gimana? Masa iya gue tinggal di sekolah. Mending Lia lo anter sendiri aja terus gue ikutin lo pakek motor. Gimana?"


"Nanti motor lo di bawain temen gue. Sana bawa Lia masuk ke mobil."


Alya segera menuntun Lia masuk ke dalam mobil milik Kevin. Setelah melihat kedua gadis itu masuk, Kevin menatap teman-temannya.


"Ar, lo ikut gue, bawa motor Alya. Dan kalian semua urus masalah tadi. Cari tau siapa pelakunya. Gue anter Lia pulang dulu." setelah mendapat anggukan dari temannya Kevin masuk ke dalam mobil. Pria itu mulai melajukan mobilnya.


Kevin melirik sekilas pada spion belakang kemudian mengambil kotak P3K yang tersimpan di kaci dashboard. Dengan tatapan yang masih fokus ke jalan Kevin menyerahkan kotak P3K pada Alya.


"Al, obatin dulu luka Lia."


Alya mengambil kotak P3K dari tangan Kevin. "Gue obatin dulu ya luka lo." Dengan telaten Alya mulai mengobati luka-luka kecil yang terlihat di tubuh Lia. Kondisi gadis itu sudah jauh lebih tenang saat ini.


Lima belas menit kemudian mobil yang di kendarai Kevin berhenti di depan pekarangan rumah Lia. Dengan cepat Kevin turun dari mobil dan membukakan pintu untuk kedua gadis itu.


"Hmm, Kevin. Makasih ya udah selametin gue tadi. Kalau gak ada lo tadi mungkin gue udah gak ada hari ini." ucap Lia dengan suara serak setelah keluar dari dalam mobil. Matanya terlihat sembab.


"Sama-sama, Li. Itu udah jadi tugas gue buat jagain lo."


Mendengar itu, dahi Lia berkedut. Dia yang awalnya membungkuk juga mengangkat kepalanya. "Maksud Lo ?" tanya Lia yang hanya disambut dengan senyuman oleh Kevin.


"Lo suka Lia ya?" cetus Alya yang langsung membuat Lia menyikut perut gadis itu pelan. "Apaan sih. Jangan mulai deh, Al." bisik Lia.


"Eh, Iya, iya. Maaf, Li." Alya kembali menatap Kevin denga cengiran di wajahnya. "Gak, usah lo jawab. Gue cuma asal tanya tadi, hehehe."


"Ayo masuk dulu. Obatin luka lo." ucap Lia melihat beberapa goresan di tangan pria itu.


"Hmm, gue langsung balik aja deh, Li. Ini juga cuma luka kecil kok. Kebetulan gue juga ada urusan habis ini."


"Ouh, oke. Nanti jangan lupa di obatin lukanya, biar gak infeksi."


"Iya, gue pulang ya. Lo istirahat. Jangan nangis lagi. Kalau butuh apa-apa hubungin gue aja."


Saat Kevin akan masuk ke dalam mobil, Arvin datang dengan menggunakan motor Alya. Pria itu dengan tergesa turun dari motor dan menghampiri Kevin.


Tatapan Kevin seketika berubah saat Arvin membisikkan sesuatu di telinganya. "Kita kesana sekarang." Dengan cepat pria itu masuk ke dalam mobil. Membuat kedua gadis itu menatap heran.


"Ada apa?" tanya Alya penasaran pada Arvin.


"Gak ada apa-apa. Lo jagain Lia dan ini kunci motor lo." setelah mengucapkan itu Arvin segera masuk ke dalam mobil.


Melihat mobil yang di kendarai Kevin sudah menjauh Alya menoleh pada Lia. Ia masih penasaran apa yang terjadi. Kenapa Kevin tadi tampak emosi setelah Arvin berbisik kepadanya. "Ada apa ya, Li? Gue jadi penasaran. Muka Kevin tadi tiba-tiba berubah gitu."


Lia mengendikkan bahunya tak tahu. Untuk sekarang Lia ingin istirahat dan menenangkan diri. Ia tak ingin memikirkan hal-hal lain saat ini.


BERSAMBUNG........


**Jangan lupa like, komen and vote ya...


Terima kasih...


See you next part**...