
...Happy reading...
...🤗...
-di waktu yang sama…
Brian? Tiba-tiba Lia teringat tetang pembicaraannya dengan Kenzo kemarin. Apakah Brian orangnya? Jika semua ini di lakukan oleh satu orang yang sama kemungkinan itu Brian.
"Al, orang yang di kantin waktu itu namanya Brian?"
"Bukan, kalau Brian gue tau. Kalau yang kemarin itu bukan dia. Dia temennya Brian, tapi gue gak tau namanya."
Lia kembali terdiam sebelum kembali berbicara. "Adkel yang nyamperin gue kemarin bilang kalau yang ngikutin gue itu Brian."
"Hah? Serius lo?"
"Iya, si kenzo itu kemarin bilang sama gue kalau Brian itu ngikutin gue kemanapun."
"Berarti secret admirer lo Brian dong?"
Lia menggeleng tak tahu. Ia tidak bisa menebak pasti apakah yang melakukan ini semua Brian atau bukan. Pasalnya Lia juga tengah mencuriga orang lain saat ini.
-Jam 10 pun tiba dan mereka berangkat ke Bean cafe
Lia menghembuskan nafasnya. Ia meminum segelas milkshake coklatnya kemudian menatap Alya yang tengah asik memakan pancakenya.
"Al. balik yuk?"
Sontak saja perkataan Lia itu membuat Alya menatapnya dengan gelengan kepala tak percaya. Mereka baru sampai dan Lia sudah meminta pulang?
"Kita baru sampai, Li. Lo malah minta balik. Udah gak waras lo hah? Balik sendiri sana!"
Lia berdecak pelan dan kembali meminum milkshakenya. Sejak kedatangannya ke tempat ini Lia merasa ada yang menatapnya dan itu membuatnya merasa risih dan tak nyaman. Apalagi saat ia berulang kali memergoki seorang pria tengah menatan ke arahnya.
Meletakan segelas milkshakenya ke atas meja, Lia kembali melihat pada sekumpulan pria yang tak jauh dari tempat duduknya saat ini dan tepat saat itu juga salah satu dari para pria tersebut juga tengah menatapnya. Namun pria itu buru-buru mengalihkan tatapnya saat tertangkap basah olehnya.
"Al! Coba lo liat arah jam yang ada di kanan." bisik Lia pelan.
Alya yang tak mengerti dengan apa yang di maksud Lia menautkan alisnya bingung. "Apa sih?"
"Udah liat aja arah jam yang di kanan itu."
Meskipun masih bingung, Alya tetap mengikuti apa yang di katakan Lia. "Anjir, ganteng!"
Mendegar pekikan Alya membuat Lia berdecak kesal. Sial, Alya malah memujinya. Dengan gemas Lia menendang kaki Alya yang membuat gadis itu memekik kencang hingga menarik perhatian orang-orang.
Lia menundukan kepalanya merasa malu. Alya yang bertriak juga menunda karena merasa malu. Namun itu juga gara-gara Lia yang menendang kakinya lebih dulu.
Alya mengusap kakinya kemudian menatap Lia sengit. "Kenapa nendang kaki gue sih. Sakit tau!"
"Lo sih!"
"Gue kenapa? Tadi lo nyuruh gue liat arah jam yang ada di kanan. Giliran gue udah liat lo malah nendang kaki gue. Maksud lo apa sih? Mau ngajak ribut lo hah?" ucap Alya kesal bukan main.
"Ya lo. Kan gue mau ngasih tau kalau tu cowo ngeliat ke sini mulu, eh lo nya malah muji dia. Gak tau apa gue udah was-was dari tadi!"
"Ck. Ya tapi emang tuh cowo ganteng, Lia. Lagian emang kebetulan aja paling tu cowo ngeliat ke sini. Udahlah gak usah lo pikirin."
Lia menghembuskan nafasnya. Awalnya Lia memang berpikir seperti itu namun ketika berualang kali dirinya mendapati cowk itu menatap ke arahnya membuat Lia curiga.
Memilih mengabaikannya, Lia memakan spaghetti miliknya yang masih utuh. Mungkin saja apa yang di katakan Alya memang benar dan itu semua hanya kecurigaannya saja.
-Hari Minggu pun tiba
Hari minggu ini Lia hanya menghabiskan waktunya berada di kamar. Bermain ponsel dan menonton film. Ia tak ada rencana pergi kemana-mana hari ini. Saat Alya mengajaknya pergi tadi pun Lia menolaknya.
"Lia! Ini ada paket buat kamu." panggil mamanya dari luar kamar Lia.
Lia mempaus film yang baru ditontonya kemudian beranjak untuk membuka pintu kamar. Paket? Seingatnya Lia tidak ada memesan barang apapun dan soal sweater pun Lia tak jadi membelinya. Jika pun jadi itu pun tak akan datang secepat ini.
"Nih ada paket buat kamu." Lia menerima sebuah paperback yang diberikan Mamanya padanya.
"Dari siapa Ma?" tanya Lia.
"Tadi ada cowo ngasih ini katanya buat kamu."
"Orangnya masih ada di luar, Ma?"
"Gak, tau. Coba kamu cek aja."
Lia segera berlari keluar. Semoga saja orang yang mengantar ini masih berada di luar rumahnya. Melihat tak ada siapa-siapa Lia menghembuskan nafasnya.Sepertinya orangnya sudah pergi.
Lia masuk ke dalam rumah dan menghampiri Mamanya. "Mah, tadi cowonya ada bilang apa lagi sama Mama."
"Dia cuma ngasih itu dan bilang kalau itu buat kamu."
Mendegar itu Lia kembali menghembuskan nafasnya lagi. Lia menatap paperback di tangannya. Penasaran dengan isi di dalamnya, Lia segera masuk ke dalam kamar dan membuka paperback itu setelah menutup pintu kamarnya terlebih dahulu agar tak ada orang yang masuk.
Lia mengambil kotak hitam dari dalam paperback dan membukanya. Begitu dia melihat isi kotak itu mata nya terbelalak kaget, dia masih tak percaya. Ini adalah jam tangan yang dia inginkan. Dan untuk bisa memilikinya hanya dalam mimpi baginya. Tapi siapa sangka. Jam tangan, yang harganya hampir seratus juta itu, sekarang ada di tangannya.
Mengerjapkan matanya sesaat, Lia kemudian meraih jam tangan itu untuk memastikannya apakah yang di lihatnya ini nyata atau tidak. Namun baru saja menyentuhnya sedikit Lia buru-buru menutup dan menaruhnya di atas tempat tidur.
"Aww...." Lia meringis pelan saat dirinya sengaja mencubit tangannya sendiri. Sakit, berarti ini bukan mimpi?!
Lia menggelengkan kepalanya tak percaya. Kembali Lia menatap kotak berwarna hitam itu sebelum akhirnya keluar kamar menghampiri Mamanya.
"Mah!" Menghampiri Mamanya yang sedang memasak di dapur.
"kenapa?"
"Itu paketnya tadi beneran buat aku?"
"Iyaa."
"Mama yakin?"
Citra menoleh pada Lia dengan dahi mengernyit. "Iya. Orang cowonya tadi bilang buat kamu kok. Kenapa sih?"
Lia menggeleng pelan kemudian kembali masuk ke kamar. Di tetapnya kotak berwarna hitam itu kembali kemudian memungut paperback yang terjatuh di lantai.
Dahi Lia mengernyit saat melihat sebuah note terjatuh ketika dirinya mengambil paperback itu. Lia kembali membungkuk untuk mengambil notenya.
Dahi Asha mengeryit ketika membaca tulisan yang ada di note itu.
Jangan lupa like, komen, and vote ya all
Terima kasih
see you next part