
...Happy reading 🤗...
Lia saat ini tengah berdiri di pinggir jalan. Ia tampak kebingungan. Motornya tiba-tiba macet dan Lia bingung harus bagaimana. Menghubungi orang rumah? Ponselnya mati karena kehabisan daya. Menuntun motornya ke bengkel? Tidak. Tidak ada bengkel motor di sekitar sini.
Kevin yang kebetulan lewat memberhentikan motornya saat melihat Lia. Turun dari motor, ia berjalan menghampiri Lia dan bertanya. "Kenapa, Li?"
Lia tampak kaget saat melihat Kevin yang menghampirinya. "Hah? I-ini motor gue macet. Gak tau kenapa." jawab Lia.
"Di sekitar sini gak ada bengkel. Mau gue anter aja?"
Lia tampak berpikir. Motor yang gunakan Kevin adalah motor ninja. di Bagaimana dia bisa menaikinya dengan luka di lutunya saat ini? Apalagi ia menggunakan rok saat ini. Yang ada hanya akan membuat luka dilutunya semakin sakit karena tertekan kain dari rok yang dikenakannya.
"Ah, gue lupa. Kaki lo baru sakit ya? Tunggu biar gue chat si Zean aja suruh kesini." ucap Kevin yang kini mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi zean.
"Eh, gak usah. Gue bisa kok nanti pulang sendiri." tolak Lia yang merasa tak enak.
"Gak papa. Ini juga si Zeannya masih di sekolah. Jadi masih deket. Bentar lagi juga sampai."
Dan benar, tak berapa lama kemudian ada sebuah mobil warna hitam yang berhenti.
Zean keluar dari dalam mobil itu kemudian menghampiri keduanya. "Kenapa nyuruh gue kesini?" tanyanya pada Kevin.
"Lo anterin Lia pulang."
"Lah, dia sendiri aja bawa motor."
"Motornya mogok. Lo anterin pulang gih."
"Ouh. Yaudah ayo, Li. Bareng gue." ajak Zean pada Lia.
"Gak papa, Li. Ikut aja sama Zean dari pada lo nanti kek orang ilang di jalanan," ucap Kevin karena Lia yang hanya diam saja. "soal motor lo tenang aja, nanti temen gue bakal kesini buat ngambil. Baru kalau udah selesai di benerin entar gue anter ke rumah lo."
Akhirnya Lia mengangguk menyetujuinaya kemudian ikut pulang bersama Zean. Di dalam mobil ternyata ada Arvin jadi ia tak berdua saja dengan Zean.
Di sepanjang jalan Zean dan Arvin tampak berdebat akan sesuatu hal. Sedangkan Lia hanya diam tak ingin ikut campur. Dirinya lebih memilih melihat keluar jendela.
Setelah Zean menghentikan mobilnya di pekarangan rumahnya Lia segera turun. "Makasih, ya. Maaf, jadi ngerepotin lo." ucap Lia pada Zean yang kini sudah membuka kaca mobil miliknya.
Zean mengangguk dari dalam mobil. "Santai aja, Li. Lagian jalan rumah lo sama rumah gue searah kok. Jadi gak ngerepotin sama sekali."
Lia mengangguk kecil mendegar penuturan Zena lalu kembali mengucapkan terimakasih kepada Zean. "Sekali lagi makasih. Oh ya, tolong sampain ke Kevin juga. Makasih bantuannya."
"Iya, nanti gue sampaiin sama orangnya. Kalau gitu gue pulang ya." Setelahnyah Zean melajukam mobilnya dan Lia segera masuk ke dalam rumah.
ketika membuka pintu.
" Loh, udah pulang? Mama gak denger suara motor kamu." tanya Citra yang sedang menonton TV.
"Tadi Lia di anter sama temen. Motornya tiba-tiba aja macet di jalan."
"Terus motornya gimana? Di tinggal?"
"Mau di benerin dulu sama temen, kalau udah selesai katanya mau di bawa kesini."
"Yaudah, sana mandi bersih-bersih." Lia mengangguk kemudian segera menaruh tasnya ke kamar dan pergi ke kamar mandi.
...******...
Lia saat ini tengah bermain ponsel di kamarnya dan tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan adiknya yang masuk ke dalam. Seketika Lia menatap kesal adiknya yang berumur lima tahun itu dan segera mengusirnya keluar. Jika adiknya berada di sini yang ada hanya akan membuat kamarnya tambah berantakan.
"Ngapain kesini. Kalau mau main di luar sana."
Bukannya keluar seperti yang Lia suruh, Adiknya malah naik ke ranjangnya.
Ivan Narendra menggeleng. "Ndak mau. Mau di sini."
Lia menghela nafasnya. "Kenapa mau disini? Sana tidur sama Mama." Naren tak menjawab dan malah
menidurkan dirinya di samping Lia. "Mau tidur di sini."
"Tidur sama Mama aja. Di sini gak ada yang pok pok kamu. Kaka gak mau ya pok pok kamu." adiknya itu tidak akan tertidur jika pantat kecilnya itu tak di tepuk-tepuk.
"Ndak. akak pokonya harus pok pok Nalen!"
Lia menggeleng. "Gak mau."
"Nalen bilang Mama, lho. Nalen juga udah bilang sama Mama mau tidul sini kok." ancam bocah kecil itu yang membuat Lia gemas dan mencubit pipi gembulmilik bocah itu.
"Akak. sakit tau! Huaa..." Naren memukul tangan Lia yang mencubit pipinya.
Lia terkekeh kemudian melepaskan cubitannya. "Makannya tidur sama Mama aja sana."
"Gak mau. Mau tidul sama kakak san."
"Tidur sama kak ona aja sana kalau gak mau tidur sama Mama."
"Ndak. Mau tidul sama kak san!"
"Lia" teriak Mamanya.
Lia yang mendegar teriakan itu segera keluar kamar menghampiri Citra. "Ada apa, Ma?"
"Di luar ada temen kamu tuh."
Lia mengangguk, ia kemudian berjalan keluar untuk melihat siapa temannya yang datang malam-malam seperti ini. Begitu berada di luar ia mendapati Kevin tengah berdiri di teras rumahnya. Ah, ternyta cowk itu.
"Li." sapa Kevin kemudian memberikan kunci motor Lia. "Gue mau ngemabaliin motor lo. Ini kunci motornya. Dan itu motor lo udah di benerin sama temen gue."
Lia mengambil kuci motornya dari tangan Kevin. "Makasih ya, maaf kalau jadi ngerepotin lo. Mau masuk dulu?"
"Gak usah. Gue mau langsung pulang aja udah di tungguin sama temen gue tuh." Kevin menujuk temannya yang menunggu di motor dengan dagunya.
"Akak San!" tiba-tiba saja Naren datang menghampiri. Naren menatap pria di depannya. "pacalnya Kak san ya?" tanyanya yang membuat Lia terkejut dan langsung menutup mulut bocah itu kemudian memintanya agar bocah itu masuk kedalam.
"Eh, sorry. Gak usah dengerin omongan adik gue tadi." ucap Lia saat Naren sudah masuk ke dalam. "Oh ya, tunggu gue ambil uangnya dulu ya. Nanti tolong kasihin ke temen lo ya."
"Gak usah, Li. Gak bayar kok. Gratis." ucap Kevin yang membuat Lia tak jadi masuk dan kembali menatap pria itu.
"Kok gitu?"
"Iya, temen gue bilang katanya gak usah bayar gitu."
"serius?"
"Iya. Kalau gitu gue cabut ya."
Lia mengangguk. "Tolong bilangin sama temen lo itu ya, makasih udah benerin motor gue."
"Oke, nanti gue sampein."
Bersambung......
**Jangan lupa like, komen and vote ya...
Terima kasih...
see you next part**...