You Are Mine

You Are Mine
YAM-10



...-***You are mine-...


-Dikamar***......


Lia membuka pintu kamarnya, mempersilakan Alya untuk masuk ke dalam sedangkan dirinya setelah itu buru-buru pergi ke kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi, Lia mendapati Citra, mamanya berada di dapur. "Ada temen kamu?" tanya Citra.


"Iya, di kamar. Ivan mana, Ma? Kok gak keliatan?" tanya Lia saat tak melihat adiknya, karena biasanya adiknya itu sudah duduk manis di depan TV di jam seperti ini.


"Di kamar main hp. Temen kamu udah makan? Kalau belum sekalian aja suruh makan."


Lia mengangguk mengiyakan kemudian berjalan menuju kamarnya. Begitu sampai di kamar Lia mendapati Alya yang telah berbaring di atas ranjangnya.


"Al, mau makan gak? Di suruh makan tuh sama Mama."


Alya membuka matanya kemudian mengubah posisinya menjadi duduk. "Enggak deh. Masih kenyang gue."


Alya mengeluarkan ponselnya. Mengecek sebuah pesan yang baru saja masuk. Membacanya, Alya mendegus kesal.


"Kenapa?" Lia mendudukan dirinya di samping Alya. Badannya ia sandarkan pada dinding.


"Masa gue yang di suruh buat pptnya. Gak mau lah gue." jawab Alya kemudian mengetikan balasan untuk temannya. "pasti kalau di kelompok lo yang ngerjain si kembar kan?" tebak Alya yang di balas anggukan dari Lia.


"Enak banget sih. Gue juga mau gitu. Kenapa gue gak sekelompok sama lo aja sih. Sama si kembar juga."


"Hmm, tapi gue kayak numpang nama doang. Gak enak gue sama si kembar."


"Kita tukeran kelompok aja gimana?" tawar Alya namun segera di tolak mentah-mentah oleh Lia. Mana mungkin Lia menyia-nyiakan hal ini. Ya meskipun dalam hatinya merasa tidak enak tapi dirinya tetap senang, setidaknya ia hanya perlu presentasi besok tanpa harus repot-repot mengerjakan pptnya.


Setelahnya tak ada percakapan lagi di antara keduanya karena mereka sama-sama fokus pada ponselnya masing-masing.


"Al, liat. Bagus gak menurut lo?" Lia menujukan sebuah gambar sweater pada Alya.


Alya mengalihkan tatapannya dari layar ponsel dan melihat gambar yang di tunjukan Lia. "Bagus, harganya berapa tuh?"


"Kalau gue mending juga jangab dulu deh, Li. Sayang uangnya. Mending buat beli buku sbmptn tuh jadi gue gak perlu beli. Tinggal liat buku lo aja, ya kan?" ucap Alya terkekeh di akhir kalimatnya.


Lia mendegus. "Enak di lo dong."


Alya tersenyum menujukan deretan giginya pada Lia. "Berbagi itu indah, Li."


Mendengar itu Lia memutar bola matanya malas kemudian kembali mendegus.


"Eh, Li sabtu kita ke Bean cafe yuk? Gimana? Lo mau gak?"


Lia berpikir sejenak sebelum menjawab ajakan Alya. "Tapi gue nebeng ya?"


"Biasanya juga gitu kan. Jadi lo mau kan ini?" Alya kembali bertanya untuk memastikan.


"Iya. Cuma kita berdua doang?"


Alya mengangguk. "Carine sama viona gue ajakin gak mau." Mendegar itu Lia hanya ber oh ria.


"Jadi, fix sabtu kita berangkat ya?"


Lia menghembuskan nafasnya. "Iya, Alya."


"Okey. Gue mau balik dulu nih. Takut kemaleman sampai rumah," Alya beranjak dari tempatnya keluar dari kamar Lia. Setelah berpamitan pada Mama nya Lia yang kebetulan berada di luar Alya segera pulang karena langit semakin gelap.



***Jangan lupa like, komen and vote ya......


Terima kasih......


See you next part***.......