You Are Mine

You Are Mine
YAM-15



...Happy reading...


...🤗...


Lia menghampiri Kevin yang tengah mengobrol dengan Zean dan Arvin di kursi belakang. Pria itu baru kembali ke kelas setelah menyelesaikan hukumannya. Tampak bajunya basah karena kringat yang membuat Lia semakin merasa bersalah.


"Kevin." panggil Lia.


Yang menoleh bukan hanya Kevin tetapi Zean dan Arvin juga ikut menoleh yang membuat Lia hanya bisa tersenyum canggung menatap ketiganya.


"Kenapa?" tanya Kevin membuka suara.


Lia memberikan topi milik pria itu yang tadi ia kenakan. "Ini topi lo, makasih ya. Dan maaf gara-gara gue, lo jadi kena hukum." ucap Lia merasa bersalah.


"Santai aja. Bukan salah lo kok." Kevin mengambil topi dari tangan Lia kemudian menyimpannya.


"Hmm... Perut lo masih sakit? Gue bener-bener minta maaf ya..." ucap Lia yang malah di sambut kekehan kecil oleh Kevin.



"Perut gue gak sakit kok. Sebenarnya tadi gue cuma mau bolos tapi keburu ketahuan sama guru." papar Kevin.


Ah, begitu rupanya. Setidaknya rasa bersalah dalam diri Lia sedikit berkurang. Lia menganggukkan kepalanya kemudian segera kembali kebangkunya setelah kembali mengucapkan terima kasih pada Kevin.


"Kan, apa gue bilang dia tuh bohong. Dia emang sengaja ngelakuin itu supaya lo gak dapet hukuman, Li." ucap Alya saat Lia sudah duduk di bangkunya. Alya tadi memang sengaja mencuri dengar pembicara Lia dan Kevin.


Asha menghembuskan nafasnya. "Dia mau bolos Gytha. Maknnya dia mau minjemin topinya sama gue dan itu bukan berarti dia suka sama gue. Ngerti?"


"Li-"


"Entar temenin gue ketemu Brian ya? Mau gak?" pinta Lia menyela Alya yang hendak berbicara. Ia sengaja agar Alya tak melulu membahas tentang Kevin.


"Mau ngapain?"


"Mau nanya tetang itu. Bener atau engga dia yang ngelakuin. Gue juga kemarin habis di kirimin jam tangan juga."


Mendegar itu Alya menatap kesal pada Lia. "Kok lo gak ngasih tau gue sih kalau di kasih jam?"


"Ini gue udah ngasih tau lo 'kan?"


"Ya kemarin maksdunya, Li. Sini coba liat jam tangannya. Mahal nih pasti?" tebak Alya.


Lia menarik nafasnya sejenak kemudian berbicara. "Hmm, lo inget jam tangan yang waktu itu gue tunjukkin sama lo? Waktu kita di rumah lo."


Alya mencoba mengingatnya. "Yang harganya 100 juta itu?" tanyanya yang di anggukkan Lia.


Seketika kedua matanya membola sempurna. "Serius lo, Li? Gak bohong? Sumpah demi apa?!"


"Ngapain gue bohong coba."


"Gue mau liat sini! Mana jamnya."


"Di rumah. Gak gue bawa lah."


"Yaudah, gue nanti mau ke rumah lo. Gue mau liat jam tangannya. Btw, Li si secret admirer kaya banget ya berarti? Sampai kasih lo jam tangan harga 200 juta gitu. Mana lo juga di kasih kalung." Alya menggeleng takjub. Jika dirinya menjadi Lia mungkin ia akan sangat-sangat bahagia saat ini.


"hmm, Li kalau misalnya lo gak mau sama jam tangannya lo bisa kok kasih ke gue. Sekalian sama kalungnya juga tuh. Gue ikhlas kok nerimanya. Tenang aja."


Lia berdecih kecil mendegar itu. "Orang mau gue kembaliin ke orangnya kok."


"Jangan, Li! Mending buat gue aja dari pada lo kembaliin."


"Gak!"


"Ck. Gak baik, Li kalau di kasih barang terus di kembaliin lagi. Dia udah beliin lo barang mahal gitu masa mau lo kembaliin gitu aja. Dia belinya itu juga pakai usaha kali. Kalau lo kembaliin itu namanya gak ngeharagai pemberian orang tau! Mending kasih ke gue kalau lo emang gak mau daripada di kembaliin kan."


Mendegar kalimat terakhir yang di ucapkan temannya membuat Lia mendegus. Temanya itu benar-benar licik.


...********...


"Eh, Li. Itu Brian!" pekik Alya saat melihat cowk berada di parkiran. Kedua gadis itu sendiri tadi sudah mengitari sekolah untuk mencari cowk itu namun tak kunjung ketemu dan ternyata cowk itu berada di parkiran. "Ayo buruan samperin." Alya segera menarik Lia untuk menghampiri cowk itu.


"Brian! Tunggu bentar!" teriak Alya saat pria itu hendak melajukan motornya.


Brian yang mendengar namanya di panggil menoleh, kemudian mematikan mesin motornya.


"Apa?" tanyanya tanpa melepas helm ketika kedua gadis itu sampai di depannya. Brian melirik sekilas pada Lia kemudian kembali menatap Alya.


"Lo suka sama temen gue ya?" tanya Alya langsung to the point yang membuat Lia menunduk malu. Sial, kenapa Alya langsung bertanya seperti itu. Jika tuduhan alya itu salah maka dirinya yang akan menanggung malu. Di tariknya baju aluan kemudian bebrisik pelan.


"Al lo apa-apaan sih? Main tanya gitu aja. Gue yang malu, Al."


"Sstt... Diem. Katanya lo mau tau kan." balas Alya yang ikut berbisik pelan.


Setelah beberapa saat diam, Brian mengeluarkan suaranya. "Ngomong apa sih lo? Mana ada gue suka sama temen lo. Kalau emang gak penting gue mau balik nih, ada urusan." Brian yang hedak menyalakan motornya, kembali mengurungkan niatnya saat mendengar apa yang di katakan Alya.


"Terus kenapa lo ngikutin temen gue hah?"


"Maksud lo?"


"Gak usah pura-pura gak tau gitu deh. Lo ngikutin temen gue kan? Ngaku lo!"


Brian kembali diam sebelum akhirnya pria itu tertawa renyah. "Kurang kerjaan banget gue ngelakuin itu. Udahlah, gue mau cabut."


"Jangan pergi dulu lo. Gue belum selesai ya." Alya mengambil kunci motor milik Brian agar pria itu tak dapat pergi.


"Baliikin kunci gue sini. Gue beneran ada urusan ini." Brian berusaha meraih kunci motornva yang di ambil Alya.


"Gak! Jawab jujur dulu. Suka kan lo sama temen gue?"


"Ck. Tadi udah gue bilang, gue gak suka sama temen lo. Sini balikin kunci gue."


Brian berdecak saat Alya tak kunjung memberikan kunci motornya. "Lagian dapet info dari mana sih lo? Sampai nuduh-nuduh gue segala."


"Adkel. Dia ngasih tau Lia kalau lo selalu ngikutin dia."


Brian tampak mengeraskan rahangnya mendegar itu. "Siapa namanya?"


"Kez, eh bukan. Siapa, Li?" tanya Alya menoleh ke Lia yang dirinya sendiri diam menahan malu.


"Kenzo."


"Nah iya. Kenzo." ulang Alya.


Brian tampak tersenyum miring di balik helm yang di kenakannya. Ternyata bocah itu. Melihat Alya tampak lengah, Brian segera meraih kunci motornya dari tangan Alya.


"Heh! Gue belum selesai Brian!! Berhenti gak lo! Gue sumpahin lo jatuh dati motor ya!!" Alya berteriak kencang saat motor yang di kendarai Brian mulai menjauh.


Melihat Brian yang justru memacu motornya semakin cepat Alya berdecak. Di tatapnya Lia yang berdiri di samping. "Malah diem aja lo tadi. Bukannya ikut ngomong juga."


"Gue malu, Al. Lo asal to the point gitu aja. Mana dia bilang kalau dia emang gak suka sama gue. Ya malu lah gue. Nyebelin banget sih lo!"


"Ya kan biar cepet, Li. Kalau pakai basa-basi dulu ribet. Keburu pergi juga orangnya."


"Iya gak ribet, tapi bikin gue malu!" degus Lia sebal. Dirinya benar-benar merasa malu dan kesal saat ini. Bagiamana tidak, Alya dengan mudahnya bertanya seperti itu. Apalagi mendegar jawaban pria itu membuatnya semakin malu.



**Jangan lupa like,komen and vote ya


Terima kasih


see you next part**