
...HAPPY READING...
...🤗...
Jam pertama kelas XII MIPA 1 hari ini adalah olahraga. Semua murid sudah berkumpul di lapangan sekolah. Selesai berdoa, Pak Johan memberikan arahan untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu.
Materi hari ini adalah basket dan Lia sama sekali tak menyukainya. Ia paling malas harus berlari-lari dan merebut bola seperti itu. Setelah melakukan pemanasan, Pak Johan membentuk kelas itu menjadi 6 kelompok. Putra sendiri dan Putri sendiri. Dan yang akan pertama bermain adalah kelompok 1 dan 3 putra. Sedangkan sisanya menonton di pinggir lapangan.
Asik melamun, Lia sampai tak menyadari jika bola basket melambung ke arahnya. Lia baru tersadar setelah salah satu temannya berteriak. Bukannya menghindari Lia justru reflek melindungi kepalanya dengan tangan. Matanya memejam rapat siap menerima hantaman bola tersebut. Untuk beberapa saat Lia tak kunjung merasakan bola itu mengenainya. Perlahan ia menyingkirkan tangannya dan melihat kedepan.
Ternyata saat ini Zean tengah berdiri tempat di depanya. Tangan pria itu tampak memegang bola basket jika di lihat Lia dari belakang. Pria itu kah yang menangkap bolanya agar tak mengenainya?
Zean melempar bola basket di tangannya pada Arvin yang sedang berdiri di dalam lapangan, setelahnya pria berjalan menjauhinya.
"Zean!" panggil Lia. "Makasih!"
Zean berbalik dan mengangguk lalu mendekati Kevin yang berada di sisi lain lapangan. Wajah Kevin terlihat begitu tenang saat melihat bola basket melayang ke arah Lia.
"Santai." kekeh Zean menepuk pundak Kevin.
Permainan basket putra kini sudah selesai dan saat ini giliran kelompok 2 dan 3 Putri yang akan bermain.
Lia dengan malas beranjak dari tempatnya untuk bergabung dengan kelompoknya yang sudah berada di dalam lapangan dan permainan pun segera di mulai setelah semuanya siap. Lia memilih berjaga di belakang karena dirinya yang memang tak bisa bermain basket.
Saat ini Lia berusaha merebut bola basket dari tangan lawan yang sedang mencoba memasukan bolanya ke dalam ring. Berhasil, Lia segera mengopernya pada teman satu timnya.
Brugh..
Lia jatuh tersungkur saat seorang temannya tak sengaja menabrak dirinya. Beberapa temanya langsung datang dan membantunya. Lia meringis pelan saat merasakan sakit di lututnya. Celana olahraga yang digunakannya kini robek hingga memperlihatkan luka di bagian lututnya yang mengeluarkan darah.
Alya segera membawanya ke UKS untuk mengobati lukanya agar tak infeksi.
"Sshh...Pelan-pelan, Al." desis Lia ketika Alya sedang membersihkan lukanya.
"Ini udah pelan, Li."
Selesai membersihkannya, Alya segera membalut luka Lia menggunakan kain kasa.
"Li, tau gak?? Muka Kevin tadi keliatan khawatir banget tau." Alya mendudukan dirinya di samping Lia setelah mengembalikan kota p3k di tempatnya.
Dahi Lia mengernyit. Tak paham mengapa Alya malah membicarakan Kevin sekarang. "Hah? Maksud lo apa sih, Al? Kenapa jadi Kevin?"
"Ck. Waktu lo jatuh tadi muka si Kevin kelihatan khawatir. Waktu lo hampir kena bola juga tadi dia udah panik. Mau lari ke arah lo tapi udah keduluan sama Zean."
"Hmm, terus?"
Alya berdecak kasar. "Ck. Ya berarti dia beneran suka sama lo!"
Lia menghembuskan nafasnya. Mulai lagi. "Serah lo, Al."
"Ish, gue bener Lia. Si Kevin tuh suka sama lo. Buktinya dia keliatan khawatir tadi. Atau mau gue tanyain langsung sama orangnya?"
"Jangan! Gak usah!" sentak Lia cepat. Jika Alya salah lagi maka dirinya akan kembali menanggung malu. Dan Lia tak mau itu terjadi lagi.
...******...
Saat ini di dalam kelas hanya ada Lia seorang diri. Lia lebih dulu kembali ke dalam kelas setelah selesai menganti bajunya dan meninggalkan Alya sendiri di kamar mandi. Namun sudah lebih dari lima belas menit gadis itu tak kunjung kembali.
Lia mendongak melihat pintu yang terbuka dan memperlihatkan Kevin di sana. Ia pikir yang datang adalah Alya. Lia kembali menunduk dan melihat ponselnya.
Ringisan kecil keluar dari mulut Lia saat lututnya kembali terasa sakit begitu ia menggerakan kakinya.
"Kenapa?" tanya Kevin ketika mendengar ringisan Lia dari tempatnya berdiri sekarang. Ada nada khawatir yang terselip dalam pertanyaan Kevin.
Kevin menaruh tasnya setelah mengambil sesuatu kemudian melangkahkan kakinya maju menghampiri Lia. "kaki lo makin sakit?"
Lia menoleh pada Kevin degan wajah terkejut. "Hah? Gak kok. Gak papa, cuma nyeri dikit."
"Baru ke kamar mandi." Kevin menganggukan kepalanya.
Beberapa saat Kevin hanya berdiri diam di sampingnya membuat Lia melirik pada cowk itu. "Ken-" perkataan Lia terhenti saat pintu kelas kembali terbuka.
"Li-eh kok lo di sini?" Alya yang baru saja masuk langsung bertanya begitu melihat keberadaan Kevin.
"Kepo lo!" jawab Kevin kemudian berjalan keluar kelas.
"Kevin tadi ngapain nyamperin lo, Li?" tanya Alya dengan wajah penasarannya.
"Gak ngapa-ngapain."
"Bohong! Dia kesini pasti gara-gara khawatir sama lo. Dia nanyain keadaan lo pasti, ya 'kan?"
Lia menghembuskan nafasnya, tak ingin menjawab Lia memilih untuk kembali memainkan ponselnya. Percuma saja menjelaskannya pada Alya. Gadis itu pasti tak akan percaya dan akan menuduh tentang hal-hal lainnya.
Tigapuluh menit kemudian teman kelasnya mulai berdatangan satu persatu. Beberapa dari mereka segera menyerbu ke dekat AC untuk menghilangkan rasa gerah di badannya.
"Woi! Yang cewe-cewe keluar dulu dong. Kita mau ganti baju nih." teriak Varel yang berdiri di atas meja. "tapi kalau mau lihat juga gak papa, sih." ucap Varel yang terkekeh di akhir kalimatnya.
Tak...
Kevin melempar Varel menggunakan botol air yang sudah kosong yang tepat mengenai kepala pria itu. "Mereka pada gak minat. Perut lo gak ada roti sobeknya sih."
"Dih, yang penting perut gue enak kalau di peluk. Empuk, gak keras kayak perut lo!" balas Varel.
"Eh, Rel. Lo sini deh coba. Bentar." sahut Leon dengan seringai kecil di bibirnya.
Varel menatap Leon dengan alis terangkat. "Ngapain?"
"Sini dulu.'
"Gak, ngapain dulu."
"Lo ke sini dulu baru gue kasih tau. Penting ini." ucap Leon yang akhirnya membuat Varel mau mendekat. Melihat itu Leon tersenyum lebar dan begitu Varek berada di depannya ia langsung mengapit kepala pria itu di ketiaknya.
"Lepas, Le! Bau Bego!"
Varel berusaha memberontak melepaskan diri dari Leon sedangkan mulutnya terus mengeluarkan makian untuk Leon. Sang pelaku kini sudah tertawa puas.
"Mampus lo. Yang lama aja, Le." sahut Kevin yang ikut tertawa puas.
Usahanya tak sia-sia. Varel akhirnya bisa terlepas dari apitan tangan Leon. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Sedep kan baunya." kekeh Leon seolah merasa tak bersalah.
Varel berdecih. Berulang kali ia mengusap wajahnya. Mereka baru selesai berolahraga dan pastinya ketiak Leon itu berbau asam. Mana baju pria itu masih basah oleh keringat. Leon sialan.
"Baunya asem banget. Lo gak mandi berapa hari sih?!"
"Rel, mau nyium tempat gue sekalian gak?" tawar Kevin.
Varel mengacungkan jari tengahnya yang sontak saja membuat Kevin langsung tertawa melihat itu.
**Jangan lupa like, komen and vote ya...
Terima kasih...
See you next part**...