Until Medan

Until Medan
Farhan (2)



Rey terpaku menatap tubuh tak berdaya sahabatnya. Dia sudah mengecek napas, mengecek nadi, dan juga mengecek jantung Farhan, namun, tak ada tanda-tanda kehidupan.


"A-apa dia ...?" sang gadis segera menutup mulutnya saat mendengar sesenggukan tangis Rey. "Tidak mungkin!"


"Kau yang menyebabkan Farhan mati!" Rey berdiri dan mencekik sang gadis tanpa sempat sang gadis berkutik. Tangan Rey mencengkram lehernya, sangat keras sehingga baru sebentar saja dicekik wajah sang gadis sudah mulai pucat. "Kau membunuhnya!"


Sang gadis mencoba memukul-mukul tangan Rey agar terlepas, namun tak berhasil. Dari wajah Rey yang merah padam, marah, tersirat pesan bahwa dia benar-benar akan membunuh sang gadis.


Sang gadis tak mau mati begitu saja, tidak, masih banyak yang harus dia lakukan. Dengan napasnya yang terakhir, dia mencoba menendang selangkangan Rey sekuat tenaga. Dan berhasil!


Rey tumbang, cengkramannya pada leher sang gadis melemah secara signifikan. Sang gadis termundur-mundur menjauh dari Rey selagi Rey mencari napasnya yang hilang akibat selangkangannya ditendang. Dia terbatuk-batuk sebelum bisa berbicara.


"Kau," kata sang gadis dengan suara serak parau. "maafkan aku, aku tak berniat melakukannya."


"Maaf?" Rey menatap sang gadis dalam-dalam, kedua mata Rey berair. Kata maaf tak bisa dia terima! Itu tak bisa mengembalikan Farhan dari kematian. "Maaf kau bilang! Kau bercanda?"


Rey mendatangi sang gadis dengan berlari.


"Aku serius! Aku minta maaf, sungguh."


Rey mengangkat tangannya tinggi, mengepal keras hendak meninju.


"Apa minta maaf Farhan bisa hidup kembali? Kau sudah membunuhnya! Dia mati .... Farhan mati."


"Lakukan CPR atau apalah!" sang gadis berseru keras sambil memejamkan matanya menyambut pukulan Rey. Namun, satu detik dua detik berlalu, dia tak merasakan pukulan Rey hinggap di wajahnya. Dia membuka mata mencari tahu, dan malah melihat Rey telah minggat dari hadapannya dan tengah berjongkok disisi Farhan.


Bagi sang gadis, seruan tadi adalah seruan asal-asalan dan penuh keraguan. Tapi bagi Rey, itu adalah sebuah harapan. Harapan untuk mengembalikan Farhan dari kematian.


Rey melakukan prosedur CPR yang pernah dia pelajari dulu kala. Bagi para pendaki yang sering menantang maut, prosedur CPR yang merupakan prosedur pertolongan pertama sangat perlu untuk diketahui. Makanya, dulu Rey pernah mempelajarinya.


Rey meletakkan kedua tangannya pada dada Farhan. Dia menghimpit tangan yang satu dengan tangan lain.


"Ayo, Farhan."


Dia menghentakkan tangan, memberi tenaga penuh tekanan pada dada Farhan. Dia melakukannya hingga sepuluh kali sebelum dia beralih memberi napas buatan.


Dia menutup hidung Farhan dan menaruh bibirnya ke bibir sahabatnya itu. Kedua bibir mereka saling melekat satu sama lain. Liur dan segala yang ada di bibir Farhan juga ikut melekat pada bibir Rey. Tapi, Rey tak jijik sama sekali. Dia akan melakukan hal seperti ini demi keselamatan Farhan. Bahkan hal lebih parah rela dia lakukan jika itu berarti untuk keselamatan sahabatnya.


Farhan belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Rey kembali mengulangi prosedur CPR dari awal. Menekan dada sebanyak sepuluh kali, lalu kembali memberikan napas buatan. Namun, jantung Farhan belum juga kunjung berdetak.


Rey mulai menangis. "Ayo, brengsek. Farhan brengsek bangunlah! Anggi menunggumu, aku menunggumu, jangan mati, kumohon. A-aku akan menjodohkanmu dengan Anggi jika kau bangun, jadi ... kau harus bangun. Oke?"


Sang gadis yang memperhatikan Rey menutup kedua mulutnya, terharu. Nada suara Rey pilu, menyedihkan. Suara itu mampu membuat siapa saja yang mendengarnya untuk ikut bersedih.


Rey kembali melakukan prosedur CPR. Dia menghentakkan tangannya ke dada Farhan, namun kali ini dengan sedikit frustrasi. Dia mulai takut bahwa dia akan kehilangan sahabatnya yang satu ini. Jika dia kehilangan Farhan detik ini, dia akan ... dia akan menghabisi gadis tadi!


Rey memberi napas buatan. Dia menarik napas dalam-dalam, yang kemudian dia hembuskan jauh-jauh dan juga kuat agar dapat mencapai paru-paru Farhan. Dia menghembuskannya sembari air mata turun membasahi pipi. Namun, mata Farhan tak kunjung terbuka.


"Bangunlah, brengsek!" Rey berhenti memberi napas buatan. Ini tak berhasil. Ini tak berhasil!


Dia memukul dada Farhan berulang-ulang, sangat keras hingga ada bunyi berdentum. "Anggi, Farhan. Kau tega meninggalkan aku dan Anggi, ha? Ayo, bangun. Ada keluargamu juga yang masih menunggu di Medan. Jangan mati ... kau bahkan belum menyatakan perasaanmu pada Anggi ...."


Sang gadis yang memperhatikan Rey menyakiti jasad sahabatnya itu, memutuskan untuk menghentikan Rey. Dia menarik Rey mundur, mendorongnya tak sengaja hingga terduduk di rerumputan.


Rey melirik sang gadis tajam. Dia mengeluarkan pisau dari saku celananya dan menodongkannya kepada sang gadis.


"Kubunuh kau!"


Farhan terbatuk. Mengejutkan mereka berdua.


Rey tersenyum sumringah dan sang gadis juga turut lega karena dia gagal menjadi pembunuh serta juga karena dia tak jadi dibunuh oleh Rey.


Rey mengengsot ke sisi Farhan dan bergegas memberikan sahabatnya itu sebotol air minum.


"Duh, duh. Kau mengkhawatirkanku saja."


Farhan selesai minum. Dia kemudian menatap Rey dengan bodoh, bak manusia lupa ingatan.


"Kau siapa? Aku dimana?" ucap Farhan polos penuh ketidaktahuan. Dia terkena syok ringan yang biasa terjadi pada orang yang mengalami kecelakaan tak terduga.


Rey menjelentik hidung Farhan, tak peduli itu syok atau bukan.


Farhan mengaduh pelan, ingatannya perlahan kembali.


"Itu untuk apa!" seru Farhan terkejut.


"Kau baru saja menakut-nakutiku, bodoh. Kau baru saja kembali dari kematian, itu keren sekali!"


"Mundur!"


Sang gadis memungut batu seukuran segenggaman tangannya dan menyerang zombie yang muncul dari hutan. Dia memukul kepala zombie itu dengan sangat keras hingga zombie itu tertunduk. Dia menyerangnya lagi dan berhasil menumbangkan zombie itu dengan telak.


"Kita mesti cabut dari sini sebelum ada zombie lain yang muncul!"


Rey membantu Farhan berdiri. Dia membawa Farhan untuk naik ke motor mereka yang ada di atas jalan aspal sana.


Dia naik pertama, kemudian menyuruh Farhan naik. Farhan naik dengan sedikit lamban, tubuhnya masih sangat lemah.


"Peluk yang erat. Jangan sampai kau jatuh lagi dan mati. Haha."


Farhan melingkarkan tangannya ke perut Rey. Rey sebenarnya sedikit geli, tapi kondisinya tak memungkinkan untuk menyuruh Farhan agar tak memeluknya. Fathan bisa jatuh, jadi dia membiarkannya saja.


"Hei, cewek. Cepat naik!" seru Rey.


Sang gadis menghadapi zombie yang sama dengan kayu-yang-entah-darimana dia dapatkan. Dia menjegal kaki zombie itu, menjatuhkannya. Lalu memukul kedua kaki zombie itu berulang kali. Zombie itu kini cacat seumur hidup—jika dia 'hidup'—sang gadis berhasil mematahkan kedua kakinya.


Sang gadis membuang kayu lalu memungut ransel Farhan sebelum bergegas naik ke motor. Dia melompat naik, lalu menepuk pelan punggung Rey.


"Jalan."


Rey mengebut motornya. Kali ini dia fokus menatap depan dan memperhatikan apakah ada bahaya di depan sana. Tak berapa lama mereka bergerak, mereka disuguhkan dengan sebuah persimpangan. Sebuah simpang empat seperti yang dikatakan oleh Mattius.


Dia lupa arah mana Desa Ujung Tebing, jadi dia melambankan motor menunggu sang gadis berbicara memberi tahu arah jalan.


"Belok kanan, ada desa disana yang sangat aman."


Rey membanting setir ke kanan. Dia mengumpat dalam hati ketika menyadari dia tak akan sempat menghindar dari gundukan tanah di hadapannya yang tak terlalu tinggi. Karena tak bisa menghindar atau mengerem, dia menarik penuh gasnya, menerbangkan motor itu ke udara.


"Pegangan!"


Farhan memperkuat pelukannya, begitu juga dengan sang gadis yang turut memeluk Rey. Dia tak menyangka bahwa Rey akan begitu gilanya mengebut dan melaju menabrak gundukan tanah.


"Kita bisa jatuh!" seru sang gadis.


"Farhan, Farhan. Gimana?" Rey mengacuhkan sang gadis dan malah bertanya tentang kondisi Farhan.


Farhan tak menjawab.


"Hei, Farhan!" Farhan masih tak menjawab. Sang gadis mulai panik dan hendak memeriksa hidung Farhan apa mengeluarkan napas atau tidak. Namun dia urungkan niatnya karena Farhan telah bergerak dan sedang mendekatkan wajahnya pada telinga Rey.


"Aku mengingat seorang pepatah berkata. Ada sesuatu yang berdiri tegak, dan bisa kupastikan itu bukanlah keadilan. Bawanya yang tenang, Rey. Aku jomblo dari lahir dan seorang gadis tengah memelukku dari belakang. Seorang gadis. Ada yang menempel, Rey."


Rey tertawa mendengarnya, tapi juga dia menyadari sesuatu dari quote yang diucapkan oleh Farhan. Dengan geli dia menyeret punggungnya dan bergerak sedikit jauh dari Farhan. Farhan memukul punggung Rey dan mereka berdua kemudian tertawa. Namun, sang gadis dibelakang sana diam dengan penuh kebingungan tanpa tahu bahwa dia adalah penyebab dua sahabat ini tertawa.


Motor menyusuri jalan setapak yang lebar, terbuat dari tanah. Kiri kanannya hutan dan jalan ini juga menurun. Sepanjang Rey melaju, zombie-zombie yang mendengar deru motor berhamburan keluar dari dalam hutan. Mereka kembali dikejar.


Tak berapa lama menuruni jalan, mereka telah sampai ke sebuah danau yang lumayan lebar. Di tengah danau itu ada sebuah pulau mini dan memiliki rumah-rumah bercahaya terang, menandakan itu adalah sebuah desa.


Rey melirik sekitar mencari jembatan menuju desa, tapi dia tak menemukannya.


"Jembatannya kekiri atau kekanan?" tanya Rey memastikan, bersiap-siap mengebut.


Sang gadis menepuk pundak Rey dan turun dari motor. "Tak ada jembatan, kita berenang. Kalian tahu berenang, 'kan?"


Rey menggaruk wajah kesal, dia terkejut. Tentu dia dan Farhan tahu berenang, tapi kondisi Farhan tak memungkinkan Farhan untuk berenang. Dia terlalu lemas dan lemah.


Rey hendak berputar arah dan mencari tempat bersembunyi lain, tapi saat dia menoleh ke belakang, dia mendapati zombie-zombie berhamburan dari hutan dan sedang berlari ke arah mereka.


"Duh, duh. Tak ada jalan lain," ucap Rey. Rey kemudian menyerahkan ranselnya pada sang gadis untuk dia bawa, sementara dia membawa Farhan menyebrangi danau ini.


Rey menggiring Farhan ke pinggir danau. Hal seperti ini, membuatnya teringat masa lalu dimana mereka berdua masih anak kecil. Pada kala itu, Farhan mengajari Rey untuk berenang.


"Kau ingat saat kau membawaku berenang di danau, Farhan? Kali ini aku yang akan membawamu."


Farhan terkekeh pelan, dia tidak lagi syok tapi tubuhnya masih tetap lemas seperti tadi. "Semoga kau masih mengingat semua yang guru ajarkan padamu," kata Farhan mengejek.


Rey tertawa mendengar guyonan sahabatnya itu. Kemudian, dia melompat ke danau membawa Farhan.


"Tentu, guru!"


Special Thanks buat kak Tya ಥ‿ಥ dan kak Maria ʕ´• ᴥ•̥`ʔ