
Rey dan Farhan menatap tajam gapura dimana ada dua orang warga lokal disana. Gapura ini berukuran raksasa dengan tulisan SELAMAT DATANG di atasnya. Dibawah gapura ini terdapat berbagai macam kedai souvenir. Namun sekarang kedai souvenir itu kosong dan hanya diisi oleh dua orang warga lokal yang masing-masing membawa parang.
"Rey, tahan emosimu."
Farhan mengingatkan terlebih dahulu sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dia sangat tahu bahwa pada detik ini, Rey kemungkinan besar tak akan bisa mengendalikan emosinya.
Memang benar. Rey sangat geram mengingat si penculik yang membawa Anggi kabur. Dia merasa bodoh dan lemah ketika tak dapat berbuat apa-apa ketika sahabatnya itu diculik di depan matanya. Suasana hatinya sangat buruk, dia tak sabar bertemu dengan si pria hitam yang menculik Anggi dan menyelesaikan masalah ini dan jika terpaksa, menyelesaikan nyawa si pria hitam.
"Kita harus membantu Anggi secepatnya, Farhan. Aku yakin salah satu dari dua orang disana itu adalah si penculik. Mau tak mau jika mereka memancingku, maka aku akan menikam dia dengan pisau ini," ujar Rey menggenggam erat pisau ditangannya.
"Bicarakan baik-baik dulu! Jangan main tikam-tikam aja," kata Farhan gamang melihat sorot tajam kedua mata Rey. "Siapa tahu kita hanya perlu menyerahkan barang-barang kita dan kita bisa membawa Anggi dan kita selamat. Selesai. Kau mesti ingat Rey, kita hanya berdua sedangkan mereka berlima."
Rey menyetujui saran Farhan walau dia tak menyukai soal-menyoal menyerahkan barang-barang mereka. Tapi dia tetap akan melakukannya jika itu berarti untuk keselamatan mereka bertiga.
"Oke, Farhan. Kita ikuti caramu."
Rey berjalan mendekati gapura diikuti oleh Farhan dibelakang. Dari kejauhan Rey sudah dapat melihat seorang pria dewasa berdiri di tengah jalan dan tengah menatap waspada Rey. Satu orang lagi Rey dapat pastikan sedang tertidur menelungkupkan wajah pada meja. Sebuah parang tergeletak di meja yang sama.
Semakin Rey mendekat, semakin waspada orang itu. Rey juga dapat melihat persis di depan kedai souvenir ada mobil jeep yang terparkir rapi. Rey mengingatkan Farhan untuk bersiap-siap ketika mereka sudah lebih dekat dengan si pria lokal.
"Rey," panggil Farhan untuk berkata sesuatu namun langkah Rey saat ini tak dapat dihentikan.
Pria yang berdiri ditengah jalan itu berteriak menyuruh pria yang tertidur untuk segera bangun dari tidurnya. Pria yang tertidur terbangun dengan malas. Dia menatap parang miliknya yang ada di meja, menoleh pada temannya yang berteriak memanggil namanya lalu secara masih tak sadarkan diri dia pergi kebelakang untuk membasuh wajah. Di benaknya tujuan temannya membangunkan dirinya adalah untuk mengajaknya kembali ke desa.
"Berhenti disana dan katakan kau siapa! Lepaskan juga pisaumu, anak muda!" seru pria yang berdiri di tengah jalan.
Rey terus maju. Dia terus maju hingga jaraknya dan si pria begitu dekat, membuat pria itu semakin waspada. Dia mengangkat parangnya dan bersiap untuk menyerang.
"Kubilang berhenti!"
"Jangan memancingku, pak. Aku menahan diri sekarang ini." Rey berhenti ditempat, Farhan ikut berhenti. "Aku bertanya, apa kau satu komplotan dengan orang yang membawa Anggi?"
"Siapa Anggi?"
Pria ini kebingungan. Dia menatap Rey dari kaki hingga kepala. Menurutnya, Rey masih seorang remaja dan perlakuannya sudah tidak sopan pada orang tua. Kepalanya menjadi panas karena ada anak muda yang berlaku tak sopan pada orang lebih tua seperti dirinya.
"Jangan pura-pura tidak tahu kau! Mana temanmu yang hitam tadi? Janjinya bertemu disini. Sekarang, aku disini dan katakan dimana Anggi!"
"Rey, tahan emosimu."
"Kau bicara apa orang idiot? Aku tak kenal dengan orang yang kau bilang!"
Rey hampir lepas kendali jika saja Farhan tak menepuk pundaknya. Dia menoleh pada Farhan dengan kesal.
"Ada apa!"
"Pergi sana. Kau sopan sedikit dengan orang tua. Kau datang menanyakan siapa Anggi dan orang hitam, aku tak tahu! Aku tak kenal dengan Anggi atau apalah itu."
Rey mencerna omongan pria itu tak percaya. Gapura yang dimaksud pasti ini dan orang di depannya ini pasti adalah satu komplotan dengan orang yang menculik Anggi. Namun kenapa orang ini terlihat tak berbohong? Apa dia hanya dipermainkan? Tapi melihat dari wajah pria itu, dia tak nampak menyembunyikan sesuatu. Lantas, kemanakah Anggi mereka bawa?
"Rey, Anggi itu gadis yang kuat dan bisa menjaga dirinya. Dia pasti akan baik-baik saja."
"Gadis?" tanya pria di depan mereka.
Rey menatapnya mengharapkan jawaban. Pria di hadapannya ini sedang mengusap dagunya mencoba mengingat-ingat. Dia mengingat beberapa saat yang lalu ada truk lewat ... dan ada gadis yang menangis. Ahh, sekarang dia mengingat sesuatu.
"Ahh, maksudmu Anggi itu adalah cewek yang dibawa Yosua? Oh, aduh kalian ternyata dua remaja yang disebut-sebut Yosua. Kenapa tak bilang daritadi? Ahh, idiotnya diriku yang pelupa."
Pria itu memukul kepalanya sendiri bak orang idiot. Dia memaki dirinya sendiri yang terlahir dengan otak bodoh yang bahkan mengingat beberapa hal kecil saja dia sering lupa. Rey membelalak tak percaya saat melihat wajah pria di hadapannya ini berubah konyol.
"Lantas sekarang dimana mereka!" Rey berseru keras. Dia ternyata dipermainkan oleh orang gila satu ini!
"Hei, kalian tahu teman kalian cantik, 'kan? Yosua mungkin membawanya ke semak-semak. Aduh, ayolah, kalian pasti paham. Hehe."
Seketika saja kepala Rey diisi oleh api-api membara. Kepalanya panas sekali saat orang di hadapannya ini dengan lancang berkata buruk tentang Anggi, dia tak bisa menerimanya. Rey dengan sepenuh kesadaran menikam pria idiot dengan keras! Pisau keluar-masuk perut pria itu berulang-ulang. Tanpa sempat pria itu sadari, pisau sudah menembus organ dalamnya sebanyak lima kali. Pria itu menatap Rey hendak mengucapkan sesuatu namun dirinya berubah lemas saat darah menyembur deras dari lima lubang di perutnya.
Pria itu mengalami pendarahan dan terluka parah. Darah keluar dari mulutnya bersamaan dengan itu kedua kakinya menjadi lemas tanpa dia sadari parang di tangannya terlepas dari genggaman tangannya. Tusukan Rey lebih dalam dari yang terlihat dan darah yang keluar sangat banyak serta tak bisa dia hentikan walau sudah menekan kelima lubang tikaman di perutnya. Dalam kondisi ini nyawa pria itu terancam.
"Rey, hentikan!" Farhan berseru ketakutan. Darah sebanyak ini adalah sebuah pembunuhan! Ini pertama kali bagi Farhan melihat darah begitu banyaknya dan itu membuatnya mual.
Rekan si penjaga begitu terkejut melihat temannya berdiri tegak memegangi perutnya yang menyemburkan darah. Dia baru saja selesai membasuh wajah dan sangat terkejut melihat temannya menerima lima tikaman oleh penikam berdarah dingin.
"Hei, apa yang kalian buat, iblis!"
Rey menoleh pada arah suara. Seorang pria lokal membawa parang sambil memaki-maki pada dirinya. Rey geram karena makian orang itu dan bersiap melawan namun Farhan menarik lengan Rey dengan keras dan membawanya berlari pergi melewati gapura.
"Lepaskan, Farhan!"
"Ayo pergi, Rey. Kau sudah tahu bahwa Anggi tak ada disini."
Rey hendak melepaskan diri dari Farhan dan berniat menanyai pria yang saat ini sedang memaki-makinya. Namun tak dia lakukan saat sebuah pemikiran buruk tentang nasib Anggi muncul di benaknya. Dia menggeram marah dan bertekad akan mencari si penculik dan menghajarnya jika terjadi sesuatu pada Anggi. Dia akan menolong Anggi apapun yang terjadi.
"Lari terus, Farhan! Kita harus sampai ke desa terdekat jika tidak maka Anggi akan ...."
Rey tidak menyelesaikan omongannya. Itu terlalu berat untuk dia ucapkan. Dan Farhan tentu mengetahui maksud dari perkataan Rey tadi. Tak perlu diucapkan lewat kata-kata karena detik ini pemikiran dua pemuda ini selaras. Anggi dalam bahaya dan terancam masa depannya. Satu-satunya yang harus mereka lakukan adalah mencegah itu terjadi!
Farhan melepaskan pegangannya pada Rey. Rey dan Farhan berlari cepat meninggalkan pria lokal yang sedang ketakutan menengok tubuh lesu rekannya. Dia menggaruk-garuk kepala dan mencoba menekan pendarahan yang keluar akibat lima luka tikaman di perut temannya. Dia ketakutan jika temannya akan mati hari ini. Namun sang penikam berdarah dingin tak bertanggung jawab dan telah menghilang dari pandangan. Dia meninggalkan korban yang dia tikam tanpa peduli jika orang itu akan mati.