Until Medan

Until Medan
Kisah Belum Dimulai



Jalanan yang panjang itu hanya diisi oleh Rey, Mattius dan Farhan bertiga. Tak ada zombie, tak ada burung yang lewat, tak ada. Hanya ketiga remaja yang sedang berbincang-bincang santai.


"Kau dikepung terus melompat ke sumur? Apa yang kau pikirkan, Matt?"


"Bukan begitu, kawan. Jika ada jalan lain, aku juga tak akan melompat ke dalam sumur itu," beritahu Mattius sambil tertawa.


Mattius mengeluarkan pisau panjang dari sarungnya, dia menunjukkannya kepada Rey dan Farhan dengan sangat bangga.


"Kalian tahu ini apa?"


Rey hendak menjawab, tapi Mattius tak memberikan kesempatan.


"Ini namanya Piso Gading! Pisau yang terbuat dari gading gajah berabad-abad yang lalu. Kalian tahu hal menakjubkan tentang piso ini? Ini hanya dua di dunia dan salah satunya ada di tanganku! Ini adalah sebab aku kembali ke desa. Untuk pisau panjang yang diturunkan turun-temurun di dalam keluargaku. Dan sekarang, ini menjadi tanggung jawabku."


"Kau kembali ke desa zombie hanya demi 'sebuah' pisau, Matt?" tanya Farhan tak percaya. Sangat. Bodoh. Sekali.


"Iya, saat aku mengambil ini dan singkat cerita, aku dikerumuni zombie yang sangat banyak hingga tak bisa lari. Makanya, aku melompat ke sumur seperti yang kuceritakan tadi."


"Hanya demi pisau?" tanya Farhan lagi.


Rey memperhatikan sahabatnya itu nyaris kelewatan batas. Dia segera merangkul Farhan. Rey memberikan senyum pada Mattius namun memberikan tekanan keras pada leher Farhan yang tidak paham arti pisau tersebut bagi Mattius.


"Yeah, pisaumu itu keren juga. Ya, 'kan, Farhan?"


Farhan kebingungan dan bergumam. Dia tak tahu mau merespon apa. Rey menekan leher Farhan lebih keras, lantas membisikkan sesuatu ke telinganya.


"Pisaunya keren, Farhan!"


"Ya, ya," ujar Farhan gugup. "Pisaumu itu keren."


"Haha, terimakasih." Mattius menyimpan pisau itu kembali ke sarung yang ada di pinggangnya. "Ngomong-ngomong, apa yang sedang kalian lakukan disini? Tak wajar melihat orang-orang berjalan santai disaat keadaan gawat darurat seperti ini."


Rey menggaruk wajahnya. "Umm, segawat apa, ya? Soalnya, kami juga baru selesai mendaki dan saat turun, tempat ini sudah seperti ini. Apa daerah wisata ini terjangkit suatu penyakit?"


Mattius menatap Rey tak percaya. "Kalian serius?"


Rey dan Farhan mengangguk mantap. "Ya, kami turun gunung tadi pagi."


"Kulihat kau tidak ketakutan saat berhadapan dengan zombie itu, Rey. Apa diatas gunung sana juga ada zombie?"


"Tidak, gunung sangat aman. Itu gerombolan kedua yang kami dapati setelah turun gunung."


Mattius menghela napasnya. Dia menoleh kebelakang, memperhatikan desa yang dulu dia tinggali semakin lama-semakin tak terlihat. Dia bukannya rindu desa itu, dia bahkan baru satu tahun di desa ini. Namun, kekacauan yang terjadi di desa itu takkan bisa dia lupakan.


Mattius menceritakan segala yang dia tahu. Mulai dari detik-detik awal merebaknya virus atau penyakit ini, sampai ke detik sekarang. Saat Rey bertanya tentang langkah apa yang diambil pemerintah, Mattius hanya menggeleng frustrasi.


"Dua hari setelah kami mendengar kabar-kabar buruk terjadi di kota-kota besar, siaran berita menghilang. Setelah itu kami tak lagi mengetahui kabarnya dan yah, kami juga disibukkan oleh zombie yang muncul disini."


"Darimana zombie ini muncul? Sebuah penyakit?"


"Mungkin, kawan. Aku juga tak tahu. Tapi, sepertinya memang sebuah penyakit. Saat sebelum di desa ini kedatangan zombie, ada seorang pendaki yang jatuh sakit. Setelah ditanyai, rupanya dia digigit oleh supir bus saat mau membayar ongkos. Itu, desa tadi dimana kalian menyelamatkan aku, adalah titik mula dari zombie yang muncul di daerah ini. Dimulai dari satu orang, dimulai dari satu gigitan."


Farhan menatap Rey. Rey tahu apa yang mau dikatakan Farhan.


Kan aku sudah bilang gigitan itu memang berbahaya!


Sebelum Farhan sempat berbicara itu, Rey menangkap bibir Farhan dan mulai melanjutkan bicara dengan Mattius.


"Katamu kota besar, kota besar itu termasuk Medan?"


"Ibukota? Kalian berasal dari Medan rupanya." Mattius menepuk pundak Rey dengan iba. "Turut berduka, kawan. Medan telah hilang."


Rey menjauhkan tangan Mattius dari pundaknya. Apa-apaan dengan Medan telah hilang?


Rey mengusap seluruh wajahnya. Saat ini dia kehilangan Anggi dan apakah dia akan kehilangan keluarganya juga? Apa mereka sudah mati? Apa bahkan, Anggi masih hidup?


"Duh, duh! Brengsek!" umpat Rey menjauh dari Farhan dan Mattius.


Rey mengamuk dalam diam. Napasnya menggebu-gebu dan pikirannya kacau di sore hari ini. Dia begitu khawatir pada nasib keluarganya dan juga pada nasib Anggi. Apa yang harus dia lakukan? Dia tak ingin kehilangan keluarganya!


Sementara Rey meratapi apa yang terjadi, Farhan bertanya-tanya pada Mattius.


"Kau katakan kau sempat tinggal satu tahun di daerah ini, jadi apa kau mengenal seseorang yang bernama Yosua?"


"Yosua? Banyak Yosua di desa ini, kawan. Ada urusan apa memangnya?"


Farhan kemudian menceritakan tentang masalah mereka dengan Yosua dan tentang Anggi yang harus mereka tolong. Farhan juga tak lupa menceritakan detail-detail tak penting, seperti warna kulit Yosua dan semacamnya.


"Kalau orang seperti dia, hanya ada satu. Yosua itu tinggal di Desa Ujung Tebing."


"Desa Ujung Tebing?! Kau tahu tempatnya?!" seru Rey yang tak sengaja mendengarkan percakapan Farhan dengan Mattius.


"Tentu, aku adalah pengungsi yang tinggal disana bersama beberapa orang dari desa-desa lainnya. Jadi aku cukup hafal."


"Bawa kami kesana secepatnya sebelum Anggi kenapa-napa!" Rey menarik tangan Mattius dan mendorongnya ke depannya agar Mattius bisa memimpin jalan.


"Santai, kawan. Tak perlu tergesa-gesa. Kita takkan bisa sampai ke Desa Ujung Tebing dengan cepat jika hanya berjalan kaki. Butuh beberapa jam jika naik kendaraan, namun jika berjalan kaki, kira-kira kita akan sampai besok. Tapi, apa benar bang Yosua menculik teman kalian? Aku tak menduga dia orang seperti itu."


"Dia orang brengsek. Sebelum dia melakukan sesuatu, kita harus sampai ke desa terlebih dahulu. Kalau perlu jalan kaki sampai besok!"


"Hei, hei. Kau bercanda bukan?" ucap Mattius tak percaya.


"Rey ... ayolah."


Rey menatap Farhan lamat-lamat. Dia secara tak sengaja melampiaskan segala amarahnya tentang Anggi dan keluarganya di Medan sana pada Farhan yang malang.


"Kau apalagi! Kau takut? Kau takut berjalan di siang hari lantas kau juga sekarang takut berjalan di malam hari? Kau mendengarkan perkataan Yosua itu? Ya, ya, ya. Dia benar soal tergigit, tapi itu belum tentu di malam hari akan terjadi sesuatu." Rey menatap Mattius. "Hei, kau. Apa akan terjadi sesuatu jika malam tiba?"


Mattius mengangkat bahunya. "Aku kurang tahu, kawan. Aku tak pernah mencoba berjalan-jalan di malam hari. Saat aku kemaripun, setiap hari mulai gelap, aku segera bersembunyi di suatu rumah dan aku hening hingga pagi tiba."


"Kau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan kau malah bersembunyi ketakutan? Duh, duh. Ada kemungkinan tak ada yang terjadi saat malam hari."


"Lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal, kawan. Rumor ada karena itu benar. Walau tidak sepenuhnya benar, tapi paling tidak tentang zombie yang menjadi 'agresif' itu aku yakini benar. Terkadang, aku samar-samar mendengar derap langkah kaki cepat dari luar rumah."


"Itu artinya zombienya berlari?" tanya Farhan namun hanya dijawab oleh Mattius dengan angkatan bahu.


Rey mendorong Mattius pelan untuk memimpin jalan. Farhan menahan Rey, padahal sudah jelas-jelas malam akan terjadi sesuatu tapi Rey tetap tak peduli.


"Bagaimana jika zombienya benar-benar berlari dimalam hari, Rey?! Kita tak bisa lomba lari dengan puluhan zombie."


Rey memukul dagu Farhan dengan jarinya. Farhan mengaduh sakit.


"Duh, duh, Farhan. Jika zombienya berlari, aku berjanji kita akan langsung sembunyi. Oke? Aku berjanji."


Farhan mengangguk menyetujui.


"Sekarang, ayo kita terus berjalan. Ayo, maju."


Kaki Rey tetap melangkah, namun hati Rey begitu khawatir. Dia tak pernah sekhawatir ini, tak pernah. Medan telah hilang? Dia tak percaya omong kosong itu. Keluarganya mungkin mati? Apalagi sampah satu ini. Dia takkan percaya itu, tak akan pernah. Keluarganya orang hebat, mereka kuat dan pintar. Ya, mereka akan selamat dan saat ini pasti sedang menunggu kepulangannya dengan cemas. Dan dia bisa pastikan, dia akan pulang dengan selamat setelah menyelamatkan Anggi. Dia kembali ke keluarganya, Anggipun sama, Farhan juga begitu. Semuanya lantas akan hidup bahagia selamanya. Happily ever after?


Ha! Rey salah karena terlalu cepat berpikir ke sana. Hidup bahagia selamanya? Jalan yang akan dia tapaki masih sangatlah panjang, berliku, juga pilu. Banyak orang-orang yang akan dia temui, juga banyak senyuman dan tawa yang akan dia beri, dan juga ... banyak air mata dan darah yang tumpah karena dirinya.


Kisah ini belum dimulai.