Until Medan

Until Medan
Kampung Kolam



Rey dan Farhan kini duduk tenang di salah satu bangku yang ada di rumah Amang. Mereka berbincang-bincang, Rey menjelaskan segalanya dimulai dari awal. Dimulai dari pertama kali turun ke gunung hingga diakhiri dengan perjalanan dirinya yang semata-mata mencari Anggi. Rey juga mengatakan siapa pelakunya. Yosua.


"Yosua? Dari yang Amang tahu, Yosua memang orang jahat. Tanyakan saja pada penduduk sekitar, semua pasti setuju. Sebelum wabah orang mati ini, Yosua juga telah mengacau di beberapa kesempatan. Barang-barang wisatawan hilang? Yosua penyebabnya. Lampu Depan mobil yang elok dan indah raib? Yosua penyebabnya. Dia dan komplotannya dari Kampung Perampok sering kali berbuat onar."


"Kampung Perampok, Amang?" kata Rey bingung. Nama yang aneh untuk sebuah kampung.


"Begitu kami memanggilnya. Kampung itu memiliki nama asli—Desa Ujung Tebing—namun banyak orang lebih senang memanggil kampung itu sebagai Kampung Perampok karena tindakan Yosua dan orang-orangnya. Mereka lebih dikenal begitu."


Rey menatap Farhan, hati mereka berdua tak enak. Anggi sendirian dengan komplotan perampok tentu membuat hati mereka tak senang.


"Kalian seharusnya tak perlu berenang untuk menyebrang," lanjut Amang. "tapi, karena Yosua dan komplotannya mencuri berbagai mesin sampan dan berbagai kendaraan, Amang dan warga lainnya terpaksa menjauhkan sampan-sampan yang tersisa dari seberang sana. Hanya tersisa beberapa sampan dengan mesin saja di kampung ini."


"Kalau kendaraan, Amang punya berapa?" tanya Farhan.


"Dulu lima, sekarang sisa satu. Yaitu, kereta (sebutan untuk sepeda motor) yang kalian kendarai, itu adalah satu-satunya yang tersisa. Semuanya raib akibat ulah Yosua."


Rey mengepal geram, Yosua ternyata lebih brengsek dari yang dia perkirakan. Yosua tak boleh dibiarkan begitu saja.


"Mengapa tak merebut kembali mobilnya, Amang? Saya lihat, Amang punya senapan. Apa Yosua punya senapan juga?"


Amang menggeleng. "Mereka tak punya dan berkelahi itu sebenarnya tak diperlukan. Lamban laun, Yosua dan komplotannya akan memohon untuk bisa ke Kampung Kolam ini. Tempat mereka kurang aman. Disini adalah tempat teraman. Mereka tak punya pilihan lagi dan kita hanya perlu menunggu hingga mereka memohon untuk berlindung disini."


Aman? Rey tak yakin tempat ini aman. Samar-samar di benaknya, dia sebelum pingsan dapat melihat ratusan zombie saling panjat mencoba naik ke pulau. Saat dia mau mengatakan hal itu, kedatangan Imelda dan dua pria lain memaksanya diam.


"Mari masuk, Fadil," tawarkan Amang.


Rey menatap pria yang bernama Fadil. Pria itu adalah pendaki yang disebut oleh Amang. Seorang pria kurus dengan tinggi standar, datang menghampiri Amang. Wajahnya yang tampak sinis, terarah pada Rey. Matanya yang runcing, menyipit kala tertaut pada kedua mata Rey.


"Ah, ternyata kau, Rey!"


"Bang Fadil? Haha, duh, duh. Ternyata abang."


Sialnya, Rey ternyata mengenal orang ini. Bang Fadil adalah salah satu pendaki yang dia jumpai kala mendaki gunung. Seingatnya kala pertemuan singkatnya dengan bang Fadil, bang Fadil adalah orang yang ramah dan tergolong santai.


Rey bangkit dari duduk dan menyalam bang Fadil, sopan. Bang Fadil menerima salamnya sambil tertawa riang.


"Haha, tak kusangka. Hei, kau dengan Farhan juga," kata bang Fadil sambil mengangkat alis pada Farhan, menyapa. "Mana gadis kecil itu? Yang imut itu, Rey. Haha, abang rindu dengannya."


Air wajah Rey berubah. Bang Fadil tersenyum canggung, merada bersalah. Bila respon seperti ini, maka sesuatu yang buruk pasti telah terjadi. Dia kemudian mencairkan suasana dengan berbicara pada Amang.


"Oh, Amang. Rey dan Farhan ini bukan orang jahat. Sama sekali bukan orang kurang ajar pula. Selama satu minggu dengan mereka, berkemah bersama dan setenda bersama, aku dan kawan-kawan tak pernah kehilangan satu barangpun. Mereka dijamin baik dan ramah. Seharusnya, semua pendaki bersifat seperti mereka."


Amang mendengarkan omongan Fadil memuja-muji Rey dengan cermat. Dia berpikir sejenak kemudian berbicara.


"Baiklah, bila Fadil telah menjamin kalian, maka kalian boleh tinggal. Fadil ini sering membantu-bantu warga yang kesulitan, jadi Amang percaya dengannya," beritahu Amang. Amang kemudian menepuk pundak bang Fadil. "Fadil, Amang undur diri dulu. Silakan bawa mereka ke 'rumah'-mu."


Setelah mengatakan itu, Amang masuk ke kamarnya meninggalkan para pemuda-pemudi menatap satu sama lain.


"Dil, kau yakin mereka baik?" tanya Lindung, pria dengan tubuh tegap dan tinggi bertanya pada bang Fadil. Senapan terikat di pundaknya, menghasilkan khawatir pada diri Rey dan Farhan.


"Aman, Lindung, aman." Fadil membentuk bulat di jemarinya. "Mereka aman."


"Oke, lae. Aku tinggal kalian dulu, ya," kata Lindung kemudian keluar dari rumah Amang.


Tinggallah Rey, Farhan, Fadil dan Imelda berempat. Imelda merasa canggung menjadi seorang wanita sendirian di ruangan ini. Namun, dia tak bisa pergi meninggalkan rumah Amang kala ada orang asing disini. Dia kemudian memilih duduk saja di salah satu kursi ruang tamu sembari memperhatikan ketiga pria itu saling bicara mengacuhkan dirinya.


"Rey, kau ada rencana balik ke Medan?" tanya bang Fadil serius.


Rey mengangguk dan menggeleng.


"Apasih ngangguk-menggeleng? Kau tak ingin balik ke Medan?" pekik Fadil bingung.


"Eh, tentu aku mau balik bang. Tapi aku musti bawa Anggi juga. Aku tak mungkin ninggalin dia."


"Bukannya—maaf bukan bermaksud apa-apa—bukannya Anggi itu sudah ...?" Fadil menggantung kata terakhirnya, namun, Rey tetap paham.


Rey menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Anggi dan tentang dia yang akan menyelamatkan Anggi apapun yang terjadi.


"Setelah berhasil membawa Anggi, kalian akan balik ke Medan, 'kan?" Fadil memastikan.


"Iya."


Imelda yang sedari tadi memperhatikan, merasa luluh dengan tekad Rey. Menyelamatkan Anggi yang ada di kampung Perampok, itu dia ketahui sangat berbahaya dan Rey yang tak peduli bahaya itu dan tetap bertekad untuk menyelamatkan Anggi, gadis mana yang tak luluh?


Namun, dia jujur sangat risih kala mereka menyebut-nyebut Medan. Kembali ke Medan? Apa-apaan itu!


"Medan jaraknya sangat jauh! Kalian bisa mati bodoh, kalau keluar dari pulau ini. Dasar bodoh," geram Imelda tak senang.


"Duh, duh, kak Imelda." Rey menggaruk wajahnya. "Aku akan naik mobil atau apalah dan saat malam, tidur dan senyap, maka semuanya bakalan aman. Tenang saja."


"Panggil saja Mel. Mel, oke?" paksa Imelda mengganti namanya menjadi Mel. Rey mengangguk mengiyakan. "Terus bagaimana caramu nyelamatin cewekmu?"


Rey tersenyum canggung, Farhan tampak tak senang.


"Anggi sahabatku, kak," kata Rey memperjelas kesalahpahaman. Farhan tersenyum lega. "Tak peduli apapun, bagaimanapun caranya dan apapun yang akan terjadi, Anggi akan aku keluarkan dari Kampung Perampok. Rencananya, besok aku dan Farhan akan pergi ke Kampung itu. Apa kakak bisa nunjukkin jalannya?"


Mel memeluk wajahnya tak percaya. Bukan hanya Mel, Fadilpun tersentak terkejut. Farhan juga sama, hanya saja pemuda itu memilih untuk menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Kau mau pergi dari sini? Keluar ke tempat dimana banyak zombie-zombie yang hendak mengoyak dan membunuhmu? Kau bisa mati, kau akan mati. Tadi saja, jika tak diselamatkan oleh Lindung, kau sudah mati tenggelam! Sudahlah, berhenti sajalah niatmu mau keluar. Kau bisa mati, bodoh."


Rey tersenyum murni, dia tahu yang dia lakukan ini bahaya.


"Bilang dengan bang Lindung, aku berterimakasih. Maaf juga karena telah kasar dengan kakak waktu pertama kali jumpa," kata Rey tulus.


Mel bungkam, dia terdiam. Percuma bicara lagi, karena itu hanya sia-sia.


Tak ada yang bisa merubah pendirian Rey selain Rey seorang.


"Hei, kau mau kubantu?" tanya Fadil, serius. "Tapi, jangan ada nyari rusuh bila tak perlu. Setelah lepaskan Anggi, kalian dan abang akan langsung cabut ke Medan dan selesai. Oke?"


Rey terkekeh. Dari yang dia ketahui kala dia dan kelompok bang Fadil berkemah bersama, dia dapat tahu bahwa bang Fadil itu adalah berandal di daerahnya. Preman kelas kakap, dia dipanggil. Rey lega karena ada jaminan bantuan dari seorang berandal bila dia memang harus rusuh di Desa Ujung Tebing.


"Oke. Kita akan langsung gas ke Medan. Tak ada bacot lagi, langsung gas. Hingga Medan!"


Mel mengurut kepalanya yang sakit. Mereka ini tak tahu bahaya apa?


"By the way, kita nginap dimana, ya?" Rey melirik pakaiannya yang basah kuyup, begitu juga dengan Farhan. "Kami juga mau ganti baju, nih."


"Amang tadi bilang, kalian menginap di rumah abang saja," kata Fadil.


"Abang punya rumah?" Farhan membelalak tak percaya.


"Haha, itu hanya rumah titipan. Orangnya sudah mati, makanya abang tinggal sementara disana. Benarkan, Mel?"


Mel mengangguk mengiyakan.


"Apa kamar mandinya ada, bang Dil?" tanya Farhan penasaran.


"Gak ada kamar mandi," jawab Fadil.


"Terus ganti bajunya?" Farhan kebingungan, Mel menatap tak percaya.


"Kamar mandi apanya?! Kalian itu cowo bisa ganti baju dimana aja! Buang air kecil? Danau itu luas! Kalian bisa buang disana."


Rey terkekeh kala Farhan diomeli oleh Mel. Dia terpingkal-pingkal, kemudian kata-kata Mel tadi terbersit dipikirannya.


Buang air kecil? Danau itu luas! Kalian bisa buang disana.


Isi perut Rey mencoba mendobrak keluar. Dia mual, dia tahu bahwa dia telah menelan entah-seberapa-banyak air danau dan danau itu adalah tempat mem-'buang'? Tempat dimana seluruh warga menjadikannya sarana toilet umum?


Rey pucat dan lemas. Dia rasanya mau mati saja.


"Kalau mandi, juga nanti di danau," tambah Mel.


Rey mau mati saja.


Fadil kemudian mengajak Rey serta Farhan kembali ke rumah agar mereka bisa beristirahat. Mereka membuka pintu, melirik ke sisi teras dimana disana Rey dan Farhan menaruh ransel mereka.


Saat ini, beberapa pemuda desa tengah berkumpul menggerogoti isi ransel.


"Ngapain kalian?! Pergi sana!" bentak Mel membubarkan mereka.


Rey menggertak mereka, mencoba menendang angin agar mereka pergi menjauh. Namun, sialnya, pasir terangkat dari sepatu Rey dan menerjang masuk ke mata salah satu pemuda desa.


"Sialan kau!" maki pemuda desa itu marah, menerjang Rey membabi buta.


Rey terkejut, dia tak sengaja. Namun belum sempat dia bicara menenangkan situasi, dia dilayangkan pukulan keras.


Rey mendorong pemuda itu hingga terpelanting jatuh mencium tanah. Teman-temannya yang menyaksikan kejadian, berubah beringas. Mereka menyerang Rey bersamaan.


Dikeroyok tiba-tiba memaksa Rey untuk melindungi diri. Dia mendorong mereka yang mencoba memukulnya. Satu dua terpelanting, yang ketiga menendang perut Rey sangat keras.


Rey tertegun menahan sakit di perut. Dia memegangi perutnya yang tertendang. Dari kejauhan, pemuda yang matanya kelilipan pasir tadi tengah berlari gila kearah Rey dengan bersenjatakan batu besar.


Rey bersiap menerima serangan karena dia tahu untuk menghindar, itu mustahil. Dia akan terlambat dan malahan akan menerima pukulan dari belakang, yang dia tahu takkan berakhir lebih baik.


Si pemuda bersenjatakan batu melayangkan serangan. Tanpa ada yang menduga, Farhan menendang **** si penyerang tiba-tiba.


Pemuda itu tersungkur, mengerang kesakitan. Batu ditangannya terlepas, dia menggeliat-geliat di tanah.


Rey menatap Farhan tak percaya—sekaligus senang. Ini adalah pertama kalinya Farhan membantunya kala berkelahi. Ini patut dirayakan sebenarnya, namun itu mesti diurungkan terlebih dahulu karena mereka belum aman sama sekali.


Teman-teman pemuda yang kemaluannya ditendang Farhan tak terima dan menyerang Rey dan Farhan secara bersamaan. Mel telah teriak-teriak mengusir mereka, namun tak ada yang mendengarkan.


Mel khawatir keadaan akan memburuk. Memang memburuk. Perkelahian antara Rey dan Farhan dengan pemuda desa, mengundang warga-warga desa yang lain untuk menonton. Mel memaki-maki, membentak, namun mereka terus berkelahi dan tak kunjung mendengarkan.


Disisi Rey dan Farhan, mereka tak sempat memikirkan kedatangan warga desa. Mereka bahkan tak menyadarinya sama sekali. Rey sibuk menghancurkan hidung seorang pemuda sedangkan Farhan tengah menginjak-nginjak kepala seorang lagi.


Seseorang menangkap pundak Rey. Rey berkelit, berbalik kemudian mengirim pukulan keras dan telak ke hidung orang itu.


"Mampus kau!—Eh?"


Rey menurunkan pukulannya perlahan, perlahan pula, tampaklah wajah Amang yang memerah karena pukulan telak tak sengaja yang dilontarkan Rey.


Rey menelan ludah, mau berkata-kata, tapi dia terbata-bata. Pemuda desa yang berkelahi dengan Rey, kala merasakan kehadiran Amang, mereka mengengsot menjauh karena tak mau terkena masalah.


"A-ak—"


Lindung kemudian tiba memberikan Rey lorong senapan tepat pada wajahnya. Mel membujuk abangnya itu untuk menurunkan senapan. Rey ragu bahwa dia akan hidup untuk melihat matahari pagi esok hari.


Amang berdeham, semuanya pun hening. Mel tak lagi bicara, Rey tak lagi gagap mencoba bicara, semua orang mematung mendengarkan Amang yang mengeluarkan raungan amarah.


"Besok pagi-pagi sekali, angkat kaki dari sini atau kalian mati."


Di Medan, Sepeda Motor biasa disebut Kereta. Karena setting Until Medan saat ini ada di daerah pegunungan wisata, maka saya memakai bahasa menyebut sepeda Motor adalah Kereta. Maafkan bila salah dan luruskan. Terimakasih telah membaca.