
Disebuah pinggiran sungai, ada dua anak kecil sedang duduk bersantai. Mereka menatap sungai dan sedang menikmati keindahannya.
"Kita berenang, yuk!" seru Farhan kecil dengan lantang.
Rey menggeleng-geleng. Farhan menarik tangannya.
"Apalagi? Ayo kita lomba berenang. Siapa kalah dia harus ngetraktir makan bakso."
Farhan kecil tetap memaksa Rey yang diam sejak tadi. Melihat Rey tak berniat sedikitpun untuk meladeninya, Farhan memilih duduk kembali.
"Yah, payah."
Rey merespon dengan tertawa. Dia ingin berenang, tentu. Tapi dia tidak tahu caranya berenang. Mengakui bahwa dirinya tidak tahu berenang adalah hal yang memalukan dan dia tak akan melakukan hal semacam itu.
"Pulang, yuk," ajak Rey setelah beberapa waktu mereka habiskan hanya menatap sungai.
Farhan berdiri dengan lesu. "Ayo."
Mereka berjalan beriringan. Farhan masih kesal dengan Rey yang tak mau diajak untuk berenang. Padahal dia sudah beriming-iming untuk lomba berenang dengan Rey. Dia ingin mempermalukan Rey di sungai seperti Rey mempermalukannya ketika dirinya kalah lomba lari beberapa hari yang lalu. Dia yakin dia akan menang telak jika soal berenang. Tapi, sialnya, Rey tak mau.
Rey dan Farhan kecil memilih pulang dengan melewati jembatan panjang. Jembatan ini menjadi penghubung antara dua wilayah yang terpisah karena sungai. Jalanan di sekitar sepi, tak ada orang lain selain Rey dan Farhan. Padahal hari masih sore.
Disaat seperti itu, sekelompok anak muncul dihadapan mereka berdua. Rey mempersiapkan diri.
"Apa mau kalian?" tanya Rey waspada. Di belakangnya, Farhan sedikit ketakutan melihat sekelompok anak itu.
"Kami gak ada urusan samamu. Orang itu yang kami cari."
Rey menoleh pada Farhan. "Kau ada masalah apa sama mereka?"
"Mereka itu anak kelas enam. Aku menyenggol abang yang besar itu di kantin sekolah, hanya itu saja," kata Farhan tertawa takut.
Rey menghela napas dan mencoba tenang. Masalah sepele rupanya. Dia memutuskan untuk berbicara pada orang-orang ini dan menyelesaikan masalah tanpa ada perkelahian.
"Oke, minta maaf, Farhan," kata Rey.
Farhan dengan kikuk menampakkan diri. Dia menundukkan kepalanya dan berucap lembut meminta maaf.
"Maaf, bang. Aku salah."
Seseorang di antara sekelompok orang itu melayangkan tendangan pada Farhan secara tak terduga. Rey menarik mundur Farhan lalu menyepak kaki orang itu.
"Dia sudah minta maaf!" seru Rey.
"Minta maaf kepalamu. Sini kupukul dia sekali dulu."
Rey takkan membiarkan Farhan dipukul begitu saja apalagi meninggalkannya kabur walau dia harus melawan anak sebanyak ini. Jika dia melakukannya, itu bukan seorang sahabat namanya. Rey melompat ke depan dan menyambar kepala anak itu dengan tangannya. Kemudian, Rey melayangkan tinju berulang kali sebelum dia ditahan oleh beberapa anak yang lain.
Sekelompok anak menahan Rey dan membuatnya nyaris tak bisa bergerak. Anak yang tadi Rey pukuli menyeka hidungnya yang memerah. Wajah anak itu pilu, mau menangis akibat pukulan Rey.
"Huu—Emak!"
Dia mendatangi Rey hendak membalas dendam namun Rey membebaskan diri dari sekelompok anak yang menahannya lalu menendang dagu anak yang menyerang sambil menangis hingga anak itu terpelanting jatuh dan pingsan.
Teman-temannya yang lain tak terima. Mereka berseru keras memaki Rey dan memukuli Rey berulang kali.
"Jatuhin aja dia ke sungai!" seru seorang dari mereka.
Mendengar itu, Rey menjadi pucat. Dia kemudian berubah menjadi liar, meronta-ronta dan memukul ke segala arah agar bisa terbebas dari kepungan ini. Namun, dia terlalu lemah untuk bisa melawan sekelompok anak kelas enam.
Satu anak menarik kerah baju Rey dan satu anak lagi memukul perut Rey dengan keras. Rey tersentak, tak bisa bernapas selama beberapa detik.
"Pegang kakinya, aku pegang tangannya!"
"Jangan, jangan! Lepaskan! Aku tak bisa beren—" seru Rey meronta-ronta.
Namun, sebelum dia menyelesaikan perkataannya, dia sudah dilemparkan ke udara. Dia dilempar jatuh dari atas jembatan dan melesat cepat ke sungai di bawah sana.
Tapi, dia tak menyerah. Dia mencoba lagi. Mencoba lagi. Namun, tetap tak bisa. Semakin dia mencoba, semakin tubuhnya lelah dan lemas. Air masuk ke mulut dan juga hidungnya saat dia mencoba menarik napasnya yang tersengal. Tangan dan kakinya semakin pegal. Dia kelelahan dan perlahan tenggelam.
Seseorang menampakkan tangan dari atas sana. Rey dapat melihat samar ada seseorang yang baru melompat dari atas jembatan dan mencoba meraihnya. Rey mengulurkan tangannya pada orang itu dengan sebisanya, tangan mereka berdua bertaut, kemudian Rey ditarik ke permukaan.
Rey bernapas lega saat hidungnya menyentuh permukaan air, menghirup oksigen. Dia melihat siapa yang menolongnya dan menyadari si penolong adalah Farhan, sahabatnya sendiri.
"Kau tak bisa berenang?" tanya Farhan sembari menarik Rey ke tanah.
Rey berkata malu, "Ya."
"Jadi karena itu kau menolak ajakanku untuk lomba berenang?"
"Iya, iya. Aku tak tahu berenang. Udah, jangan tanyakan itu lagi."
Farhan tertawa. Rey menjadi jengkel dibuatnya.
"Kenapa tidak bilang? Astaga. Hei, Rey. Apa kau mau aku ajari berenang?"
Rey menatap Farhan tak percaya.
"Maksudmu, kau menjadi guruku untuk pelajaran berenang?" tanya Rey polos, layaknya anak sd kelas empat--dia memang anak kelas empat.
"Ya," kata Farhan. Mereka sudah sampai di pinggiran sungai. Farhan membantu Rey untuk naik.
"Aku bisa menjadi gurumu, mungkin. Haha. Apa kau mau, Rey?"
Rey tersenyum, malu dan hendak menolak tapi itu dia urungkan segera. Berenang? Inilah yang dia inginkan sejak dahulu. Dia ingin sekali berenang dan menyelam di sungai, namun tak pernah ada yang mau mengajarinya. Tentu dia sangat mau!
"Oke, aku mau," ucap Rey biasa saja, menutupi rasa excited-nya.
"Tapi, kau harus memanggilku guru, ya. Seperti guru di sd kita, sepakat?"
Rey menggaruk wajahnya. Dia tersenyum dan tertawa ketika memanggil Farhan sebagai guru.
"Duh, duh. Iya, iya. Tentu, guru."
***
Farhan bertumpu ke punggung Rey saat mereka berenang melewati danau. Farhan sudah bisa berbicara dan dia mulai baikan, tapi untuk berenang, dia belum memiliki tenaga yang cukup.
Sang gadis yang berenang di depan Rey menoleh kebelakang. Dia melihat wajah Rey menampakkan kesulitan karena sedang membawa Farhan berenang di punggungnya.
"Apa kau masih kuat?" sang gadis berenang mendekati Rey, berniat membantu.
"Berenang saja cepat, duh, duh. Sana, aku masih kuat." Sang gadis menghela napasnya mendengar 'pengusiran' dari Rey.
"Oke, oke," ucapnya kesal dan berenang cepat ke pulau sana.
Di belakang mereka, zombie-zombie yang muncul dari hutan telah melompat ke danau. Rey menoleh sekejap dan memperhatikan zombie itu selama beberapa waktu. Zombie yang melompat, tak bisa berenang. Mereka tenggelam dan hilang.
Rey menghela napas lega dan memutuskan berenang santai menghemat tenaga. Lagipula, zombienya tak bisa berenang dan mengejarnya. Dia bisa berenang dengan santai.
Namun, dia salah. Sangat salah. Sebuah tangan menarik kaki Rey dari dalam danau. Rey meronta dan terkejut.
"Kau kenapa?!" seru sang gadis yang nyaris sampai ke pinggiran pulau. Di pinggiran pulau tampak beberapa orang dewasa.
Rey menendang tangan yang memeganginya. Tangan itu dia dapat rasakan terlepas dan berhenti memegangi kakinya, namun tanpa dia ketahui tangan itu menangkap kaki Farhan dan menariknya masuk ke dasar danau.
Farhan terlepas dari punggung Rey. Rey menengok ke dalam danau dan menjadi pucat ketakutan.
Dia melihat Farhan menggoyang-goyangkan tangan meminta pertolongan padanya. Rey tentu akan menolong! Dia tak mungkin membiarkan Farhan tenggelam. Mungkin hari ini adalah hari balas jasa Rey pada Farhan yang telah menolongnya dahulu ketika mereka masih kecil.
Rey mendorong tubuhnya untuk menyelam.
"Tendang zombienya dan jangan sampai tergigit!" seru Rey, kemudian menghilang ke dalam danau, mengejar Farhan. Sahabatnya itu baru saja kembali dari kematian dan sekarang dia akan kembali mati? Dia takkan biarkan!