Until Medan

Until Medan
Sahabat



Rey menyelam ke danau satu detik setelah Farhan ditenggelamkan oleh sesosok zombie. Dia masuk, melesat cepat menembus lapisan air. Dia menyipitkan matanya agar bisa melihat sekitar. Di bawah sana, dia dapat melihat sosok yang dia cari.


Farhan melambai-lambaikan tangan pada Rey. Sahabatnya itu mencoba untuk berteriak, meminta tolong, namun hanya buih-buih air yang keluar dari mulutnya. Zombie semakin menarik Farhan ke dalam danau.


Rey mendorong dirinya lebih jauh, lebih dekat pada Farhan. Dia mengayuh kedua tangannya keras agar bisa menggapai Farhan dengan cepat. Dia tak bisa buang waktu!


Zombie yang memegangi kaki Farhan, menarik-narik Farhan mendekat ke bibirnya, mencoba menggigit. Farhan meronta-ronta, sedikit menendang ke wajah zombie itu menyebabkan dia tak kunjung tergigit.


Namun, permasalahannya adalah napas yang habis. Dia telah kehabisan napas. Tubuhnya lemas karena asupan yang masuk ke hidungnya bukanlah udara, melainkan air. Dia tersedak, terbatuk. Dimulai dari hidung hingga otaknya, terasa panas sekali.


Rey tiba dihadapan Farhan. Mereka berdua saling tatap sekejap. Farhan memberikan tangannya yang kemudian ditarik Rey. Dia mengayuh kaki, mencoba naik ke permukaan. Namun terasa berat sekali.


Rey menoleh pada Farhan yang menggeleng-geleng menunjuk kakinya yang dipegangi zombie.


"Jauhkan dia dulu!" kata Farhan lewat isyarat-isyarat gerakan yang bisa ditangkap Rey.


Rey mengangguk lalu mengangkat jemari, memberikan jempol. "Oke."


Dia menarik tangan Farhan, menjadikan Farhan sebagai tarikan agar dia dapat melesat ke kaki Farhan dengan cepat. Disana, dia melihat zombie yang telah terkelupas kulit wajah dan kepalanya, menggeram menyambut kedatangannya.


Zombie brengsek! umpat Rey dalam hati, meninju wajah si zombie sekuat tenaga.


Wajah zombie yang menerima pukulan Rey bergeming. Pukulan Rey tak cukup kuat. Rey memukul lagi, kali ini benar-benar melimpahkan seluruh tenaganya pada satu pukulan. Zombie itu menerima pukulan telak, namun, masih tetap bergeming.


Rey terbatuk di dalam air, tak sengaja dia menghirup air kala mengumpat marah. Pukulannya di dalam air sangat pelan, sangat lamban, sangat tak bertenaga. Air menjadikan pukulannya sangat lemah.


"Kakiku! Tangannya lepaskan dari kakiku!" Farhan menggoyang-goyangkan kakinya yang dipegangi zombie, memberikan pesan isyarat agar Rey bisa sadar bahwa untuk melepaskan pegangan zombie ini, tak dibutuhkan tenaga besar, melainkan cukup dengan siasat kecil saja.


Mereka yang perlahan semakin tenggelam lebih dalam, kehabisan waktu. Napas Farhan telah diujung batas, Rey pun sama. Dengan sigap Rey menangkap tangan zombie yang memegangi kaki Farhan, menarik-nariknya, memaksa agar tangan itu melepas cengkramannya.


Cengkraman zombie itu sangat lekat dan sangat kuatnya. Rey berpikir sesuatu, dia mesti melakukan sesuatu. Dia jadi teringat, jika tangan tak bisa, maka ada kaki.


Dia sembari menarik cengkraman zombie, mengayunkan dirinya dan menghantamkan kakinya pada perut zombie itu.


Zombie itu kali ini bergerak. Cengkramannya pada Farhan juga melorot. Ini bekerja. Rey mengayunkan tendangannya lagi, berulang kali, hingga pada tendangan ketiga, zombie itu melepas cengkramannya.


Rey menangkap kepala botak si zombie lalu mendorongnya ke bawah laut, kemudian menendang kepala botaknya itu sebagai dorongan agar bisa naik lebih cepat ke permukaan.


Rasakan itu!


Rey melesat dengan mendorong tubuh Farhan. Mereka berdua berenang naik ke permukaan. Saat Rey mengira bahwa masalah telah usai, tibalah napasnya yang habis dan jarak ke permukaan masih tergolong jauh.


Dia memejam mata, mendorong Farhan ke atas dan mempercepat ayunan kakinya. Dia berusaha cepat, dia berenang naik dengan cepat, namun usahanya terasa lambat.


Air telah masuk ke paru-parunya, tak sengaja dia menghirup napas karena mengharapkan oksigen masuk mengisi paru-parunya. Sejenak kala otaknya panas akibat menghirup air, dia berpikir kotor.


Dia mengumpat dalam hati. Terbersit pikiran kotor untuk melepaskan Farhan, membiarkan sahabatnya ini tenggelam begitu saja, maka dia akan bisa berenang dengan mudah ke permukaan. Namun, dia tepis pikiran itu jauh-jauh. Tak akan dia lakukan itu. Bukan seperti itu namanya sahabat.


Dia mencoba dengan keras. Farhan menyadari berenang mereka semakin melambat namun dia tak bisa lakukan apa-apa untuk membantu. Dia juga tengah memejam mata, menahan rasa panas yang membakar otaknya akibat dirinya tak sengaja menghirup air danau.


Rey menarik napas, dia tersedak. Kepalanya panas, panas sekali! Dia melepas dorongannya pada Farhan. Dia tak punya kekuatan lagi untuk mendorong. Tubuhnya jadi lemas, dia hanya bisa memegangi kepalanya yang panas sembari meronta-ronta dalam gelombang air.


Sakit!


Sejenak, dia berpikir ulang keputusannya menolong Farhan. Sejenak, seharusnya dia biarkan saja Farhan mati tenggelam dan dia lanjutkan hidup saja. Sejenak, seharusnya dia tak mati disini.


Rey menatap bawah laut yang gelap, menatap kegelapan yang seakan-akan menyambut dirinya. Sekilas, di tebing-tebing daratan pulau, matanya menangkap ratusan zombie memegangi tebing itu dan saling memanjat satu sama lain.


Tapi siapa dia untuk peduli? Dia tenggelam dan dia akan mati.


***


Kenangan demi kenangan silih muncul dan berganti di hadapan Rey. Dia menatap kenangan itu, satu persatu. Hingga, timbullah kenangan dimana dia berkumpul dengan Anggi. Lebih tepatnya, kenangan dimana ada Rey, Anggi dan juga Farhan di dalamnya.


Entah sejak kapan, dia tak ingat pasti, dirinya merasa nyaman kala berada di dekat Anggi. Gadis itu kala duduk disisinya, berhasil menghangatkan hatinya. Gadis itu kala menyunggingkan senyum padanya, berhasil menerbangkan jiwanya. Entah sejak kapan, dia tak ingat pasti, dirinya mencintai Anggi, sahabatnya sendiri.


Mereka berkumpul bersama, tertawa bersama. Dimana ada Rey, disana ada Anggi. Dimana ada Anggi, disana ada Farhan yang menaruh hati.


Rey yang menaruh hati pada Anggi, tahu betul bahwa Farhan juga menaruh hati pada gadis itu. Bila orang lain yang menaruh rasa pada Anggi, dia tak akan masalah. Dia akan merebut Anggi sekuat tenaga. Namun, mengapa dari tujuh miliar manusia yang ada, harus Farhan, sahabatnya sendiri, yang menjadi saingannya.


Dia tahu, sahabat tak boleh merebut kekasih sahabatnya sendiri. Dia tahu itu, dia sangat tahu. Dia telah meredam iblis itu di dalam dirinya, menekan rasa pada dirinya untuk Anggi, memaksanya agar hilang.


Bila demi sahabat, dia akan lakukan segalanya. Hanya demi seorang sahabat. Hanya demi Farhan, sahabat sejatinya.


Namun, apakah yang dia lakukan bagus untuk dirinya?


***


"Rey bangun! Rey! Buka matamu!"


Lirih seseorang menangis menyebut namanya, membuka pendengarannya kembali aktif. Rey, membuka mata.


Di hadapannya, Farhan berlinang air mata dan tersenyum bahagia. Rey terheran, padahal dia baru saja melewati mimpi yang indah, lantas, kenapa Farhan menangis?


"Kau baru saja kembali dari kematian, Rey!" Farhan memukul dada Rey pelan, tak mau melukai sahabatnya itu. "Itu keren sekali!"


Rey terbatuk, batuknya mengeluarkan air yang banyak. Kala mendengar ucapan Farhan, dia teringat tentang kejadian apa yang menimpanya.


Apa yang Farhan baru saja ucapkan persis dengan apa yang dia ucapkan pada Farhan kala sahabatnya itu kembali dari kematian. Setelah Farhan hidup kembali—tetap manusia, tentunya—mereka kemudian berenang, Farhan tenggelam, Rey menyelamatkan hingga Rey tenggelam dan dia sudah pasrah bahwa dirinya akan mati.


Rey mencoba duduk, Farhan segera membantu sahabatnya itu.


"Si-siapa yang menolongku?" tanya Rey pada Farhan. Mustahil Farhan menolongnya dari tenggelam, sedangkan Farhan sendiri membutuhkan pertolongan.


"Dia, abang itu yang menolongmu." Tunjuk Rey ke sebuah arah.


Rey menengok arah jari telunjuk Farhan dan dia tertegun. Dia tak menyangka dirinya tengah dikelilingi oleh puluhan warga. Dari paras mereka, mereka ini warga lokal.


Rey memperhatikan kembali arah tunjukkan Farhan dan mendapati bahwa ada seorang pria tengah beradu tatap dengan sang Gadis pemilik motor. Tubuh pria itu tegap tinggi, kulitnya sedikit gelap dan pakaian serta rambutnya basah kuyup. Tanda bahwa orang itu benar-benar menolongnya.


"Dia yang menolongku, Farhan?" tanya Rey, memastikan.


Farhan mengangguk. Mereka kemudian menatap gerombolan warga yang mengelilingi. Rey menunduk, mencoba memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya namun suara sang Gadis yang berdebat dengan seseorang membuatnya diam memperhatikan debat mereka.


"Kau sudah bawa orang asing kemari, itu bahaya, dik!" seru pria yang basah kuyup pada sang Gadis.


"Abang, aku mana mungkin biarkan mereka diluar sana sendirian," ucap sang Gadis tak berdosa, membalik fakta yang ada. Rey dan Farhan yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, saling tersenyum dalam senyap saja.


"Tapi tetap saja mereka bahaya. Bagaimana kalau mereka tergigit? Bagaimana kalau gigitan mereka menghancurkan Kampung Kolam ini, Imelda? Bagaimana?"


"I-itu ...." Sang Gadis yang rupanya bernama Imelda, tak punya jawaban atas pertanyaan dari abangnya. Dia menunduk menatap tanah, kemudian melirik pada Rey sedikit geram.


Gerombolan warga yang ramai, perlahan bergeser untuk membuka jalan. Dari jalan itu, tiba seorang pria tua dengan janggut dan rambut yang telah memutih. Dia melangkah, melangkah dengan bijak dan penuh wibawa.


"Amang, kita sebaiknya mengusir mereka saja besok pagi. Kita belum tahu apa mereka ini telah tergigit. Jikapun belum, mereka belum tentu orang baik. Saat-saat kacau seperti ini, banyak sekali orang yang berani bertindak gila, amang," kata abang Imelda pada Amang.


Imelda memberontak. "Abang, kenapa kau begitu? Aku sudah lihat, mereka itu orang baik. Mereka itu tak akan melakukan sesuatu yang berbahaya, mereka itu pendaki, mereka pasti bisa berbaur dengan baik dengan warga, sama seperti pendaki yang telah kita tolong."


"Pendaki?!" Rey melompat dari duduknya dan langsung berdiri. Dia mendekati Amang dan Imelda. Sebuah senapan ditodong oleh abang Imelda, mengancam keselamatan dirinya.


"Mau ngapain kau?!" bentak orang itu.


Rey menelan ludah, tak menyangka dalam hidupnya dia akan ditodong oleh senapan. Dia mengangkat tangan dan berusaha bicara dengan ramah.


"A-aku hanya ingin tahu, pendaki itu. Apa ... apa pendaki itu adalah wanita? Gadis sebaya kami, Amang?"


Rey menatap Amang penuh harapan, menunggu jawaban. Amang menggeleng, membuat Rey menghela napas.


"Bukan, pendaki yang mereka sebut adalah Fadil, seorang laki-laki. Apa pendaki wanita yang kau cari adalah temanmu?"


Rey mengangguk, "Iya," jawabnya lesu. "terimakasih telah menyelamatkanku, abang Imelda," ucap Rey dengan sopan menunduk pada abang Imelda.


"Namaku Lindung," kata abang Imelda, seorang pria tegap tinggi bernama Lindung.


"Siapa namamu, nak?" tanya Amang.


"Aku Rey dan dia Farhan," ujar Rey memperkenalkan diri.


"Baik, Rey dan Farhan. Ayo, ikut Amang ke rumah. Ada yang mau Amang tanyakan, dan hal yang Amang tanyakan ini berhubungan dengan apa kalian boleh tinggal disini atau tidak."


Rey hendak membantah Amang, mengatakan bahwa dia harus segera pergi karena dia mesti mencari Anggi. Namun, Imelda menatapnya geram, berhasil membuat Rey bungkam.


"Ikuti saja dulu," bisik Imelda.


Rey tunduk, mengikuti langkah Amang. Hari pertama yang Rey habiskan kala menyaksikan wabah zombie, sungguh hari yang menegangkan dan penuh masalah. Mentalnya lelah dan dia ingin segera merebahkan diri, beristirahat.


Namun, malam baru saja dimulai. Tanpa dia ketahui, masalah lain akan datang menghampiri.