Until Medan

Until Medan
Mattius



Rey dan Farhan hening saling tatap. Siapakah gerangan yang mengeluarkan suara itu? Mereka menatap ke arah suara dan sedikit berjalan mundur menjauhi dua zombie yang datang ke arah mereka.


"Kau siapa? Apa kau zombie yang bisa bicara?"


Farhan menjadi pucat mendengarnya. "Zombie yang bisa bicara! Kau gila, Rey. Jika ada maka kita harus lari secepat mungkin!"


"Aku manusia tulen! Laki-laki, pejantan tangguh! Kalian bisa .... Argh, mati kau!"


Rey mendengarkan dengan cermat makian tak jelas orang asing tersebut. Setelah beberapa detik terlewat, si orang asing kembali berbicara.


"Maaf, ada zombie yang jatuh ke sumur dan aku harus membunuhnya. Sampai dimana kita tadi? Ah, ya. Aku adalah manusia hidup yang terjebak di dalam sumur ini. Bisakah kalian menolongku?"


Rey menatap sahabatnya menunggu respons. Farhan merespon tak senang. "Membunuh? Apa zombie yang seperti mereka ini bisa dibunuh? Bahkan ada beberapa zombie yang hancur wajahnya tapi tidak mati, loh."


"Aduh, kawan. Kau keluarkan saja aku dari sini baru kita ngobrol. Oke?"


Rey menepuk punggung Farhan.


"Oke, aku akan memancing zombie-zombie itu pergi dan kau bantu dia keluar dari sumur secepat mungkin."


"Apa?!" Farhan menolak keras usul Rey. "Kau mau mengorbankan nyawa demi orang asing, Rey? Ayolah, dia mungkin sudah tergigit dan sudah mati."


Rey melototi Farhan dengan tajam. Dia tak senang sahabatnya ini masih terus-terusan terpengaruh kata-kata penculik Anggi.


"Kau masih memikirkan hal itu? Itu tidak benar, Farhan. Benar, 'kan? Jika tergigit kau tak akan berubah menjadi zombie, 'kan?" tanyanya pada si orang asing.


Si orang asing segera menutup mulutnya karena nyaris keceplosan mengatakan hal yang sebenarnya. Dia menelan ludah dan memutuskan untuk menutupi fakta yang ada karena takut mereka tak membantunya keluar dari sumur akibat curiga dia tergigit.


"Y-ya .... Itu tidak benar."


"Dengarkan, Farhan? Itu tidak benar. Jadi saat aku memancing zombie itu, kau segera cepat-cepat membantunya keluar. Oke?"


Farhan pasrah tapi mulutnya masih bergumam. "Bodoh sekali menolong orang asing dengan mempertaruhkan nyawa."


"Ada yang namanya karma, Farhan. Hal baik akan menimbulkan hal baik, hal buruk akan menimbulkan hal buruk," ucap Rey yang sebenarnya ragu akan kebenaran karma. Jika karma memang benar adanya, dia tidak mau karma atas dirinya yang menusukk seseorang akan menjadi hal buruk yang datang pada dirinya di masa depan. Namun, dia berharap bahwa hal baik yang dia lakukan saat ini dia harap akan mendatangkan kebaikan di masa depan. Egois.


Rey melewati dua zombie dan mendekati gerombolan zombie yang mengerumuni sumur tempat si orang asing terjebak. Dua zombie tadi berputar mengejar Rey dengan sepenuh hati walau langkah mabuk mereka lamban sekali. Farhan disana bersembunyi dengan cemas dan menunggu Rey membawa gerombolan menjauh dari sumur sebelum menolong si orang asing.


"Ayo, mayat. Come to papa ...."


Rey menarik-narik zombie yang bergerombol. Tak puas karena tak semua zombie mendengar panggilannya, Rey menendang kaki-kaki zombie yang tak mendengarkannya hingga zombie itu terjatuh dan mengerang marah padanya. Semua zombie yang berjumlah nyaris dua lusin sekarang ini tengah mengarahkan nafsu mengunyahnya pada Rey seorang.


Dia berjalan mundur sambil bertepuk tangan mengejek-ejek zombie untuk menarik perhatian mereka. Tanpa dia sadari saat melangkah mundur, kakinya tersandung tanah yang tak rata dan terhempas ke kubangan air lumpur yang entah sejak kapan ada disana. Suara erangan zombie terasa terdengar kuat ditelinga Rey saat dia kesulitan untuk berdiri.


"Rey ngapain?!" teriak Farhan cemas. Dia berniat membantu namun kedua kakinya tak mau bergerak saat menyadari dia akan mendatangi zombie yang begitu banyaknya.


"Duh, duh. Tenang saja."


Rey merangkak keluar dari kubangan dengan tergesa-gesa. Jaketnya kotor dan tangannya menjadi licin akibat lumpur. Dia mendorong zombie yang sudah sangat dekat padanya untuk menjauh sebelum dirinya berhasil berdiri sepenuhnya.


"Huhh, nyaris."


Tanpa buang-buang waktu, Rey berteriak kembali pada para zombie untuk mengikutinya.


"Yeah, fans! Ikuti aku sini."


Farhan menunggu Rey membawa gerombolan zombie untuk sepenuhnya menjauh dari tempatnya berdiri. Saat jarak zombie itu sudah terlalu jauh dan suara teriakan ejekan Rey mulai semakin samar, barulah dia berlari untuk menolong si orang asing.


Dia mendapati sumur kecil dengan batu sebagai dindingnya. Dia menengok ke dalam dan mendapati seseorang tengah berenang bersama mayat-mayat zombie yang mengapung. Lebih dari lima jasad zombie terpaksa menjadi teman berenang si orang asing, membuat si orang asing menjadikan jasad zombie yang ada sebagai pelampung darurat.


"Yaps. Berenang dengan zombie ... kurasa aku cukup baik. Dan bisa kupastikan aku tak tergigit sama sekali, kawan, balas si orang asing. "Aku tidak mau menyusahkan tapi aku tahu bahwa sudah menyusahkan kalian. Bisakah kau mencari tali atau semacamnya untuk mempermudahku memanjat keluar? Sedikit sulit memanjat dinding batu yang berlumut, loh."


Farhan mengiyakan. Dia mencari sekitarnya namun tidak menemukan sesuatu yang bisa berfungsi seperti tali. Karena merasa desa ini sudah aman sepenuhnya, Farhan keluar-masuk beberapa rumah untuk mencari desa. Pintu yang tertutup dia buka dan tak dia tutup kembali. Tak berapa lama di salah satu rumah yang ada, dia menemukan sebuah terpal biru. Terpalnya dia gulung sedemikian rupa hingga dapat berfungsi sebagai tali. Semua itu dia lakukan sambil berlari kembali ke sumur dan tak sengaja dia menabrakkan terpal pada sebuah kendi yang ada di atas meja. Kendi itu pecah dan menimbulkan suara keras. Farhan terus melaju tanpa menoleh kebelakang dan tanpa dia sadari akibat suara pecahan kendi, ada satu sosok yang bergerak dalam bayangan.


Farhan melempar terpal ke dalam sumur. Si orang asing menangkapnya dan memegangnya erat.


"Kau tahan sekuat mungkin! Aku akan naik dengan cepat."


Farhan mengangguk. Dia kemudian menginjak kedua terpal dengan kaki dan menghimpit sebagian terpal yang lain juga dengan tangan. Dia merasakan tarikan keras akibat si orang asing mulai memanjat. Dia memperkuat cengkramannya hingga kedua matanya terpicing fokus. Seluruh tenaga dan fokusnya dia curahkan untuk mencengkram terpal sekeras mungkin. Dan tanpa dia sadari, sebuah sosok datang dari belakangnya. Sosok itu berjalan bagaikan orang yang mabuk.


Beberapa detik kemudian si orang asing berhasil naik ke permukaan. Dia berusaha keluar secepat mungkin dan matanya membelalak terkejut ketika dia melihat sebuah zombie tengah bersiap menerjang Farhan. Dia mencabut pisau panjang dari sarung di pinggangnya dan berteriak.


"Awas!"


Farhan membuka mata saat mendengar teriakan si orang asing dan betapa terkejutnya dia saat menatap benda tajam sejenis pisau melesat tepat wajahnya. Dia tanpa basa-basi melepas pegangan pada terpal dan melompat ke samping. Benda tajam yang melesat tadi menusukk wajah zombie dan berhasil menembus tengkorak kepalanya. Setelah itu si orang asing terjatuh ke dalam sumur dan terdengar suara mengaduh keras serta umpatan makian.


"Aduh, kepalaku!"


Farhan merangkak mundur melihat zombie yang tumbang di dekat kakinya. Dia dapat melihat jelas sebuah pisau panjang menembus tengkorak zombie itu dan berhasil membuat zombie itu tak bergerak lagi.


"Hei, kau diluar sana! Pegang lagi terpalnya! Aduh, cepatlah!" seru si orang asing emosian karena kepalanya perih akibat menghantam dinding sumur.


Akibat dia menggunakan satu tangannya untuk menusukk dan satu tangan lagi masih memegang terpal, terpal yang tak ditahan sesuatu tertarik berat badannya dan membawanya jatuh ke dalam sumur. Dia telah melepaskan pisaunya dan berusaha mencengkram dinding sumur untuk bertahan, namun kejadiannya begitu cepat hingga saat dia menyadarinya, kepalanya menghantam dinding sumur dengan sangat keras.


Farhan kembali memegangi terpal dan kali ini Farhan menoleh kiri-kanannya karena takut zombie datang tiba-tiba seperti tadi. Dengan cepat si orang asing memanjat keluar dan hal pertama yang dia lakukan saat diluar adalah menarik napas keras dan berseru senang.


"Whoo! Aduh, kepalaku sakit," kesal si orang asing. "Ngomong-ngomong, makasih sudah menolong. Namaku Mattius, salam kenal."


Pemuda berambut pendek yang terlihat sepantaran dengan Farhan mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. Farhan menerima jabatannya dan mengenalkan dirinya pada Mattius.


"Farhan."


Lalu kedua pemuda sebaya itu terdiam selama beberapa detik. Beberapa detik yang canggung.


"Oh, iya, Mattius." Farhan teringat sesuatu yang dia lupakan. "Temanku membawa zombie-zombie yang mengerumuni sumur untuk pergi dan kita harus segera mengabarinya bahwa kau telah selamat sebelum terjadi sesuatu. Ayo."


"Teman-temanku memanggilku Matt, kau bisa memanggilku Matt juga."


Farhan mengiyakan lalu berlalu pergi menaiki lereng kembali ke jalanan aspal. Sebelum pergi Mattius mengambil kembali pisau panjangnya yang melekat di tengkorak zombie tadi.


Mereka bergegas mengejar gerombolan zombie yang ada di areal sekitaran sawah. Farhan khawatir terjadi sesuatu pada Rey karena membawa gerombolan zombie sebegitu banyaknya. Namun dia sudah salah karena telah mengkhawatirkan Rey.


"Maju, maju, maju."


Farhan terkekeh melihat tingkah laku Rey yang bertindak layaknya seorang pemimpin pramuka. Matt juga tertawa takjub melihat Rey yang bisa menyikapi keadaan seperti itu dengan santai.


"Itu temanmu? Dia gila abis."


"Yah, dia memang gila," balas Farhan. "Rey, sudah selesai! Dia sudah berhasil keluar."


Rey menoleh pada arah suara dan dapat melihat Farhan bersama dengan orang asing. Rey mengacungkan jempol pada Farhan sebelum memanjat lereng untuk kembali ke jalanan.


"Kau terlihat bagus. Oke, sekarang kau adalah pemimpin peleton ini selama aku tidak ada. Paham? Bagus," seru Rey pada seorang zombie bertopi jerami. Zombie itu menoleh bingung pada Rey yang kabur meninggalkannya. Dia membawa zombie yang lain mengejar Rey namun tak bisa mengejar Rey lebih jauh akibat lereng yang menanjak dan harus dipanjat untuk sampai ke jalanan aspal.


Rey menyusul Farhan dan Mattius. Mattius menyalami Rey dan memperkenalkan diri sekaligus sangat berterimakasih pada mereka berdua yang telah membantunya keluar dari maut. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Yang tadinya dua, bertambah jadi tiga. Operasi penyelamatan Anggi berlanjut!


Emm, halo. Ngomong-ngomong kalian jangan lupa berikan jempol di setiap chapter, ya. Oke? Dan juga kasih rating 5 kalau bisa, hehe. Soalnya ada yang ngasi rating bintang 1 saat saya baru publish. Ga tahu apa maunya. Makasih, dada! Semoga menikmati.