Until Medan

Until Medan
2. Menuju Gapura



Rey dan Farhan sudah berlari cukup jauh, cukup lama juga. Sepuluh menit ini mereka habiskan untuk berlari cepat demi menjauh sejauh mungkin dari mayat-mayat yang tiba-tiba bisa bergerak dan hidup atau lebih tepatnya zombie. Farhan sudah kehabisan napas, begitu pula dengan Rey.


"Haah, apa tadi itu?" gumam Farhan.


"Entahlah, kok bisa wajahnya hancur tapi dia tetap hidup?"


Farhan mendudukkan dirinya di tengah jalan, napasnya habis, dia kelelahan. Rey memegang pinggangnya, dia juga sama kelelahannya seperti Farhan. Pisau masih ada di tangannya. Lima menit mereka menarik napas, Rey mengajak Farhan pergi.


"Ayo."


Farhan mengeluh, napasnya masih berat. Dia berdiri dengan bantuan uluran tangan Rey.


"Kita harus cepat-cepat, Farhan. Kalau bisa kita berlari cepat-cepat ke Gapura. Gapura tidak jauh karena itu adalah tempat pertama yang mesti dilewati orang-orang ketika memasuki kawasan gunung ini."


Rey memimpin perjalanan. Mereka menuruni gunung lewat jalan aspal yang sepi tanpa manusia hidup. Beberapa mayat tak bergerak—Rey memastikannya dengan hati-hati—bergelimpangan di jalan. Itu menyisakan manusia hidup yang ada hanyalah Rey dan Farhan berdua.


"Kau mau apa, Rey setelah ketemu dengan lima orang tadi? Mau melawan mereka begitu saja?"


Rey menjawab santai, dia tentu masih marah.


"Iya, aku akan membunuh lima orang itu jika perlu," jawab Rey mantap. Amarah membuat dirinya begitu yakin pada tindakannya tanpa harus memikirkan konskeunsi yang ada. "Kau juga, siapkan memang pisau lain. Untuk berjaga-jaga, mungkin saja mereka malah memilih mendatangi kita atau mungkin kita saat sampai di gapura dihadang oleh banyak orang."


Farhan ketakutan. "Kau mau melawan banyak orang tanpa tahu resikonya, Rey? Kuingatkan, kita bisa saja mati dikeroyok."


Rey menatap sahabatnya itu. "Maka, kita mati bersama, Farhan. Sesimpel itu."


Farhan terdiam dengan balasan Rey. Dia belum siap mati karena masih banyak hal yang harus dia capai. Dengan diam, dia mengambil pisau dari tasnya dan memberikannya pada Rey.


"Kau mau menggunakan dua pisau?" tanya Farhan.


Rey mengerut, itu lelucon? "Duh, duh. Tidak. Pisau itu untukmu, Farhan. Kau harus membantuku melawan mereka juga. Aku akan jelas-jelas mati jika bertarung sendirian tanpa seorang teman."


Farhan semakin terdiam. Kalau begini sudah jelas hari ini dia akan mati.


"Kau gila? Tidak, tidak." Farhan menyimpan pisau itu kembali. "Aku tak bisa berkelahi,Rey, apalagi membunuh. Tidak, aku tak berani. Aku hanya pengecut tak berguna."


Rey tertawa, dia menepuk pundak sahabatnya itu, merangkulnya erat.


"Ayolah, Farhan. Kau bisa, yakinlah. Kita akan menang melawan orang-orang itu. Aku hanya butuh kau sebagai pembantu, karena aku tak yakin bisa menang seorang diri."


"Kau tak bisa mengingat ketika kau dikeroyok waktu itu?" Farhan mendorong Rey. "Aku ngapain aja saat itu coba? Aku gak membantu, Rey! Aku gak bisa berkelahi. Sekali pukul, aku bahkan terlempar dan langsung pingsan. Kaulah yang ngeladenin tiga orang itu seorang diri. Aku hanya beban."


Rey tertawa, dia menggaruk-garuk kepala Farhan. Yah, siapapun pasti akan pingsan bila dipukul dengan besi seberat 20 kilogram.


"Itukan masa SMP, sekarang beda, Farhan." Rey mengambil pisau dari tas Farhan, lalu menaruhnya erat-erat di tangan Farhan. "Sekarang, aku butuh bantuanmu. Aku yakin kita tak terkalahkan jika kita berdua. Ini pasti seru."


Farhan masih tak setuju tapi dalam satu sisi bila dia berniat menolong Anggi, dia harus ikut mengangkat senjata dan mengotori tangannya. Pada sisi lain, dia maunya pergi saja dari tempat ini dan melupakan semua yang terjadi. Melupakan Anggi dan kejadian yang menimpanya lalu hidup normal seperti biasa. Hal ini terlalu berat untuk mereka hadapi, mereka hanya dua orang remaja! Apa yang bisa mereka lakukan ketika melawan lima orang dewasa? Tak ada, karena mereka akan mati.


Kedua kaki mereka terus melangkah, Rey berbicara sepanjang jalan dan semangat memberikan motivasi pada Farhan yang tampak pucat.


Farhan berhenti, membuat Rey turut berhenti.


"Ada apa, kau mau meneriakkan kata-kata keren sekarang?" goda Rey.


"Apa mengatakan bahwa di depan kita ada zombie adalah kata-kata keren?"


Rey menoleh dan benar saja. Di depan mereka ada tiga zombie. Zombie itu linglung, tak kenal arah maupun tujuan. Saat Farhan berbicara mengeluarkan suara, barulah zombie itu menghampiri mereka berdua.


"Rey, kita harus kabur kemana, nih?" Farhan pucat, dia menengok kebelakang dan baru menyadari bahwa, nun jauh di belakang mereka, pasti ada zombie yang tengah berjalan ke arah mereka.


"Ngapain kabur? kita lewati saja mereka!"


"Apa kau gila?" Farhan mendorong Rey. Dia mencari jalan kabur dengan menengok area luar pagar pembatas jalan. Namun hanya ada jurang disana. Tak ada jalan kabur seperti yang dia harapkan.


"Duh, duh. Kau yang gila, Farhan. Kau mau melompat? Kau pasti mati, loh."


Farhan melotot pada Rey yang bisa-bisanya santai dalam kondisi seperti ini.


"Kau melawak sekarang? Kau tidak takut mati? Ya, kau hebat, Rey! Tapi aku masih punya masa depan yang ingin kugapai. Aku tak mau mati sekarang!"


Rey mendepak kepala Farhan. "Enak saja, kau kira hanya kau yang punya masa depan?" marahinya. Farhan mengaduh kesakitan.


Rey menarik tangan Farhan dan mengajaknya mendekati ketiga zombie. "Ayo, mereka itu lambat, Farhan. Kita akan baik-baik saja!"


"Rey, lepas!"


Rey tak mempedulikan, dia terus membawa Farhan untuk menantang tiga zombie di depan sana. Mereka mulai berlari.


Rey berhasil melewati tiga zombie itu dengan mudah. Tangan-tangan zombie mencoba menggapai mereka namun Rey dengan mudah mengecoh dan melewati zombie-zombie yang ada. Rey menoleh kepada tiga zombie yang dia lewati. Saat Rey melihat wajah Farhan, Farhan menampakkan wajah pucat.


"Haha, kau lihat, 'kan? Mereka lamban, Farhan!"


Farhan menggeleng-geleng, itu adalah pengalaman hidup yang takkan pernah bisa dia lupakan.


"Minta minummu," kata Farhan. Rey mengulurkan sebotol air minum pada Farhan. Farhan meneguknya dengan puas. Farhan merasakan bila Rey memutuskan akan menyelamatkan Anggi, maka Rey akan benar-benar menyelamatkannya. Sial, rasa kagumnya pada Rey muncul kembali. "Kau benar ... kau benar-benar gila, Rey."


"Duh, duh ... kau memuji atau menghina, nih?"


Lalu, mereka berdua tertawa. Rasa takut Farhan berangsur-angsur hilang. Dia mulai menjadi lebih pemberani. Pisau yang disematkan Rey pada tangannya dia genggam erat-erat. Dia bertekad akan membantu Rey sekuat tenaga!


Mereka melanjutkan perjalanan, melaju terus demi Anggi, demi gadis yang Rey cintai. Berjam-jam mereka berjalan, membuat perasaan bosan mulai timbul.


Farhan memutuskan berjalan-jalan di pinggir parit untuk menghilangkan kebosanan. Dia mencoba menapakkan langkah kaki hanya pada batu horizontal yang ada di pertengahan parit. Dia berjalan sembari melompat kecil batu demi batu tanpa menginjak sisi kiri dan kanan parit.


"Yaps, kelihatannya Farhan sedang bosan," ejek Rey.


Rey mengangguk. Dia menatap langit, melihat matahari yang sudah mulai pas berada di atas kepalanya.


"Ini mungkin jam dua belas sekarang."


Farhan tertawa, dia melempar Rey dengan batu kerikil yang dia pungut.


"Belum sehari kau bertemu zombie, kau sudah bisa melihat waktu dari alam? Gunakan jam di tanganmu, bodoh!"


Rey tertawa, dia merasa malu. Dia melirik Farhan dengan serius, Farhan meliriknya dengan heran. Farhan mulai pahan, kalau Rey sudah seperti itu maka sebentar lagi Rey akan menghajar Farhan!


"Hentikan, bodoh! Kita lagi tersesat!"


"Duh, duh, Farhan takut rupanya."


Rey mengejar Farhan, dia mengikuti Farhan menginjak batu tengah parit. Bedanya, kali ini mereka berdua berlari kencang melompati batu-batu parit.


Farhan jago sekali menapakkan kaki di dinding parit, dia yang sudah terbiasa membuat membuat Rey menjadi terlihat lamban karena masih menyesuaikan pijakan.


"Hoho, Rey gak bisa mengejarku rupanya."


Rey geram, dia mempercepat langkah.


"Tenang saja, bentar lagi kau pasti jatuh!"


Farhan semakin memperjauh jarak, dia berada di depan. Lompatannya semakin lama semakin akurat, dia berlari sangat indah dan aman. Hingga pada suatu lompatan, sebuah tangan dari dalam parit menarik kakinya. Dia tersungkur!


"Rey!" teriaknya.


Rey melihatnya, tentu, Rey melihatnya. Di depan mata Rey, satu zombie menariknya dari dalam parit. Farhan bukan main menggeliat-geliat, menendang kakinya asal-asalan ke wajah zombie itu. Rey menjadi takut, sebuah peringatan tak jelas dari si penculik Anggi terngiang di telinganya.


"Awas, kalian jangan sampai tergigit."


Segera, dia membantu Farhan. Dia menendang kepala zombie itu bak menyepak bola dengan kuat. Namun zombie itu tak berhenti menggenggam kaki Farhan. Farhan semakin menggeliat karena zombie itu sekarang menggunakan kedua tangannya untuk menarik Farhan masuk ke dalam parit.


Rey kalap, menikam kepala zombie itu berulang kali.


"Lepaskan Farhan, dungu! Lepaskan dia!"


Saat Rey menikam zombie untuk kedua kalinya, pegangan zombie itu perlahan terlepas. Hingga pada akhirnya, zombie itu ambruk masuk ke dalam genangan parit dan melepaskan Farhan yang merangkak ketakutan.


Farhan merangkak menjauh dari tempat kejadian. Dia terduduk di tengah jalan, menatap horor parit dan Rey yang wajahnya terciprat darah.


"Kau lihat tadi itu, Rey? Kau lihat tadi?"


"Ya."


"Aku nyaris mati, Rey! Aku nyaris mati. Sudah kubilang, aku tak sekuatmu! Satu zombie saja sudah kesulitan, apalagi melawan banyak. Kita tak akan berhasil selamat, Rey. Kita akan mati disini, Anggi juga sama."


"Kau bicara apa, Farhan!" Rey menarik leher Farhan. "Kuatkan dirimu! Tujuan kita tetap sama. Kita akan tetap menyelamatkan Anggi, bagaimanapun caranya! Kita pasti akan kembali ke Medan, bersama-sama! Kita bertiga akan kembali ke rumah dan tak ada dari kita yang akan mati.."


Rey hendak meninju wajah Farhan, tapi dia urungkan karena itu hanya akan menambah rasa takut pada diri Farhan.


"Hingga Medan, Farhan. Hingga Medan."


Namun bukannya termotivasi, kali ini Farhan menjadi semakin ketakutan. Dia mendorong Rey menjauh, membuat Rey terhuyung mundur nyaris terjerembab.


"Kita akan kembali pulang katamu? Mungkin, kita bisa. Kita akan menyelamatkan Anggi? Kau gila? Itu bukanlah hal yang bisa dilakukan remaja seperti kita, Rey! Sebaiknya, kita kembali ke Medan, lalu melaporkan kasus ini ke polisi dan selesai!"


"Lalu membiarkan Anggi sendirian bersama lima orang gila itu? Dengan lima laki-laki? Kau tahukan apa yang akan terjadi pada Anggi!"


Farhan tak menjawab, dia juga tak mau meninggalkan Anggi bersama lima orang itu, tapi tak ada pilihan lain.


Rey mengusap wajahnya. Farhan terlalu ketakutan dan mungkin tidak akan bekerja sama saat ini. Farhan mungkin akan lari ketika melawan lima orang itu dan itu berarti Rey pasti dikalahkan dan mati. Rey memikirkan tentang kata-kata yang akan membuat Farhan semangat. Dia mengetahui suatu hal. Suatu hal yang akan membuat Farhan bangkit dari penakut menjadi seorang pemberani! Dia tak rela mengatakan ini, namun tak ada jalan lain.


"Lihatlah, Farhan. Ini sebuah kesempatanmu! Kau harus membuktikan dirimu sanggup untuk menolong Anggi! Jika bukan sekarang, maka Anggi akan tewas, Farhan. Kau harus percaya pada dirimu! Anggi pasti ingin ditolong oleh dirimu, bukan polisi!"


Rey menarik napas dan meneguhkan hatinya sendiri.


"Kau mencintai Anggi, Farhan?" tanya Rey.


Farhan mengangguk pasti.


"Kalau begitu buktikan! Buktikan kau mencintainya!"


Farhan diam, hening sekejap. Sudah lama Farhan memendam rasa pada Anggi, sudah lama rasa ini tak dia ungkapkan pada Anggi. Mungkin ... mungkin saat-saat seperti ini, dia bisa melakukannya! Dia terbayang ketika dia berhasil menyelamatkan Anggi, maka dia akan mengatakan perasannya langsung.


"Iya, Rey," kata Farhan sangat yakin. "kau benar. Jika aku kabur sekarang, maka aku tak pantas untuk Anggi. Aku akan menyelamatkan Anggi dan aku akan membuktikan padanya aku serius. Karena dia adalah bagian dari masa depan yang ingin kugapai."


Rey tersenyum melihat sahabatnya, tersenyum pahit. Anggi ... kenapa bisa Farhan sahabatnya sendiri, menyukai Anggi? Dadanya sakit sekali, sangat sakit. Rasanya dia ingin melemparkan Farhan ke dasar jurang sana. Tapi tidak dia lakukan. Jika demi sahabat, cinta rusak, maka, dia akan membuang percintaan. Persahabatan jauh lebih berharga daripada itu.


"Oke, kalau begitu, ayo!"


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Farhan sudah meneguhkan tekadnya dan tak akan mundur demi menyelamatkan Anggi. Dia dan Rey akan membantu Anggi keluar dari masalah ini lalu dia akan menyatakan cintanya. Itu yang dia rencanakan.


Beberapa waktu berlalu, Rey menghentikan Farhan saat menatap gapura besar yang dimaksudkan oleh si penculik Anggi. Dada Rey bergemuruh!


"Ini dia, Farhan. Ini dia."


"Tahan dirimu, Rey. Kita hanya harus membawa kabur Anggi jika bisa tanpa ada perkelahian."


Rey mengangguk paham. Namun, itu adalah sebuah kebohongan. Dia tak akan bisa menahan diri, oh, tidak bisa. Dia dengan pisaunya, akan mencabut nyawa si pria hitam!