Until Medan

Until Medan
1. Kehilangan Anggi



Baru menuruni gunung, Rey dan Farhan tak kuasa saat kehilangan Anggi tepat di depan mata mereka.


"Temui aku di gapura masuk! Aku akan menunggumu, lae!"


Oleh karena itu, ceritapun, dimulai.


***


Udara gunung sangat sejuk, apalagi dipagi hari seperti ini. Mustahil bagi ketiga remaja ini untuk bertahan jika mereka tak mengenakan jaket.


"Turun-turun," lantun Rey, seorang remaja berjaket yang menjadi tokoh utama kita.


Anggi, satu-satunya gadis dirombongan mereka mengangguk-angguk. Dia adalah gadis menarik yang lucu dan imut. "Iyaa! Ayo turun. Sudah dua minggu, loh, kita mendaki. Udah makanan kita habis juga."


Lalu satu remaja tersisa yang belum diperkenalkan adalah Farhan. Dia memakai jaket yang nyaris sama seperti Rey.. Yang membedakannya adalah, Farhan memakai jaket dengan kerudung kepala sementara Rey tidak.


Farhan memimpin rombongan untuk menuruni gunung, dia yang memakai kacamata bulat membuatnya nampak menjadi yang tercerdas diantara kedua temannya.


"Banyak binatang yang bisa diburu, Gi. Makan itu aja, kan enak."


Tentu si gadis menggeleng dan merasa jijik. Tak pernah dia bayangkan untuk memakan binatang-binatang yang ada di areal pegunungan yang biasanya binatang itu adalah ular atau binatang lain yang lebih menjijikkan daripada ular.


Farhan tersentak, pundaknya dipukul pelan oleh Rey.


"Banyak omong kosong, sok kau," ejek Rey. "Mi instan warnanya aneh dikit aja, kau langsung ga mau makan. Hoo!"


Farhan tertawa, dia tak melawan Rey, membuat suasana kembali hening, senyap. Sampai kebawah gunung, mereka tetap diam.


Sesampainya di bawah, Rey melihat-lihat posko Awal, sebuah warung yang biasanya selalu buka untuk menjadi tempat membeli keperluan mendaki.


"Duh, duh. Kok sepi?" Rey memasukkan kepalanya lewat jendela kayu kedai, di dalam kosong melompong. "Biasanya ada ibu-ibu yang jaga kedai, bapak-bapak juga sering main catur di sini."


"Mungkin libur kali," balas Farhan.


Rey berpikiran keras tentang hal ini. Libur? Bukankah tempat wisata seperti ini tidak akan bisa libur selain karena diliburkan paksa oleh pemerintah akibat suatu bencana? Rey memperhatikan gunung yang baru mereka daki dan mereka selama dua minggu di sana tidak pernah sama sekali menemui bencana alam seperti longsor dan semacamnya. Namun Rey tidak mengetahui bila bencana yang membuat posko ini diliburkan adalah sebuah bencana yang beribu-ribu kali lipat dari longsor semata. Sebuah bencana aneh mahadahsyat yang lebih tepatnya disebut awal mula kiamat.


Anggi membiarkan kedua sahabatnya menyusuri sekitar sementara dia seorang diri menatap jalanan aspal, menatap gunung-gunung, menatap yang namanya keindahan alam. Dirinya berhenti menikmati pemandangan ketika sebuah mobil truk sejenis pickup muncul dari sisi jalan.


"Gaiss," panggil Anggi. "ada mobil datang."


Rey segera menoleh ke arah jalan.


"Untung ada orang, kita bisa menumpang. Duh, duh, ga kebayang buat jalan kaki ke Medan."


"Lebay, ahh."


Anggi mendekati Farhan, sementara Rey berlari ke pinggir jalan untuk mencegat mobil pickup yang memiliki lecet dan bengkok parah diberbagai sisi. Terlihat seperti rongsokan berjalan.


"Farhan," kata Anggi, Farhan menjawab dengan dehaman kecil. "Udah seminggu ga ada pendaki lain. Kedai juga tutup. Apa wisata di tempat ini dihentikan untuk sementara waktu, hmm?"


"He? Gimana?"


"Maksudnya, jika terjadi bencana di tempat wisata, biasanya tempat wisata itu ditutup, gitu."


"Menurutku masuk akal. Tapi ga tahu juga."


Farhan kemudian pergi mengikuti langkah Rey untuk mencegat mobil dan meninggalkan Anggi yang merasa tidak enak hati.


"Hoi! Disini, bang!" Rey berteriak sambil melambaikan tangan dengan semangatnya, mobil pickup mulai melambat.


Anggi memperhatikan dengan seksama saat mobil itu memilih berhenti cukup jauh dari Rey, seperti menjaga jarak. Lima orang warga setempat kemudian turun, mereka masing-masing membawa parang yang merah entah bercak karena apa. Itu membuat Anggi khawatir.


"Gaiss, perasaanku ga enak."


Namun Rey dan Farhan tak terlalu mendengarkannya. Farhan biasa saja, sampai dia melihat ada bercak merah yang jelas-jelas adalah darah pada parang orang-orang itu.


"Rey, ada yang ga beres, nih."


"Halo, bang." Rey melangkah maju, tak memedulikan omongan Farhan maupun Anggi. "Kami pendaki yang ngekamp di gunung ini. Kami lihat, kedai tutup dan kendaraan sewa yang biasanya ada di kawasan kedai juga tidak ada. Telepon kami bertiga juga mati total dan ga bisa menghubungi siapapun. Apa kami bisa numpang mobil abang untuk ke desa sekitar? Atau jika abang mau kami bakalan membayar untuk upah bila abang mau mengantar kami ke kota terdekat."


"He?" Pria berkulit legam dan berambut panjang meladeni Rey. "Kalian mau naik mobil kami?"


"Iya," jawab Rey. Rey melirik parang pria itu dan menyadari ada darah tertempel disana. Rey tersenyum ramah dan dia memberanikan diri bertanya. "ngomong-ngomong, itu darah apa, ya, Bang?"


"Mana?" Si pria menatap parangnya yang memiliki bercak darah segar. Dia menunjukkannya pada Rey. "Maksudmu, ini?"


"Iya, bang. Abang habis nyembelih kerbau?"


Awalnya, si pria diam, lalu kemudian tersenyum, senyuman yang menyembunyikan sesuatu.


"Kerbau? Ini kepala orang yang kusembelih!"


"Haha, duh, duh. Kerbau kok punya nama."


Orang itu merungut heran, tak mengerti.


"Kau bicara apa?"


"Orang. Itu nama kerbaunya, 'kan?"


Orang itu melirik ke empat rekannya, hening. Pertama-tama satu orang tertawa, kemudian diikuti oleh yang lain. Saat ini, lima orang itu tertawa terbahak-bahak, hingga bahkan si pria hitam nyaris menangis.


"Anak ini lucu," katanya. "Kerbau ya kerbau. Orang ya ..., orang. Haha."


Jantung Rey langsung terpacu, keringat dingin keluar dari pori-pori wajahnya. Tempat ini sepi, sunyi, di area pegunungan pula. Tak ada yang akan tahu jika terjadi sebuah kecelakaan maupun pembunuhan. Dan sekarang, Rey takut sebentar lagi akan terjadi sebuah pembunuhan.


"Rey, Rey." Farhan menghampiri Rey, menarik-narik sahabatnya itu. Anggi mengikuti dari belakang. "Cabut aja, yuk."


"Eh, mau kemana?" orang itu bicara. Dia menampakkan parang berdarahnya, lagi, membuat Rey, maupun Farhan dan Anggi semakin keringat dingin. "Yuk, main."


Rey tahu pada detik ini dia harus siap menjaga diri.


"Farhan, pisau mana pisau." Rey mengulurkan tangan, menunggu pisau dari Farhan. Melihat pisau yang tak kunjung tiba dan Farhan yang mulai gemetaran, Rey berteriak lebih kuat. "Pisaunya, Farhan, cepat! Kita harus jaga diri."


Farhan mengangguk, kali ini dia sangat ketakutan dan gemetaran. Tangannya cepat mengambil pisau dari tas dan memberikannya pada Rey. Dirinya tak pernah menyangka akan berhadap-hadapan dengan situasi hidup dan mati seperti saat ini.


"Jangan macam-macam!" Rey memang bernyali tinggi, pemberani, penekat dan mudah marah. Namun, di hadapan lima orang dewasa dan bersenjata pula, Rey tak lebih dari sebuah bahan tertawaan.


"Uhh, seram sekali."


"Rey, tenanglah," Anggi berbicara, dia sudah menyusul Farhan. "Kita cari jalan damai saja."


Rey terkejut melihat Anggi yang berjalan di depannya, dia terkena serangan jantung mendadak.


"Gi, mundur sini! Bahaya."


Anggi menoleh. "Sabar, Rey. Gak bakalan terjadi apa-apa."


Lima orang pria menatap Anggi dengan keheranan. Gadis bodoh mana yang berani berdiri dihadapan lima pria dengan parang? Tidak ada, terkecuali Anggi si bodoh.


"Kami akan bayar, kok, bang. Ada hape, ada kompor. Semua barang kami untuk abang, gimana? Lepaskan saja kami dan takkan diperlukan pertikaian. Tak harus ada yang mati, bang."


Itu ... tentu membuat mereka kembali tertawa. Rey mengutuk Anggi yang bertindak sembrono, Farhan gemetaran di tempat. Ini kondisi hidup mati, jika bukan pihak Rey yang mati, maka pihak orang-orang itu yang bakalan mati! Rey takkan tinggal diam.


Rey mendengar suara, dia menengok ke atas tebing. Dari sana turun menggelinding lusinan orang bagaikan longsor manusia.


"Gi, awas!" Rey berteriak, dia melompat ke depan hendak menarik Anggi untuk menjauhkannya dari longsor manusia. Namun, Farhan menarik Rey membuat Rey memaki Farhan dengan keras. Seorang manusia mendarat keras di tempat dimana Rey tadinya berpijak.


Rey menelan ludah kala melihat seonggok tubuh yang ada di depan matanya. Aspal basah karena darah mayat orang itu dan beberapa longsor manusia menyusul jatuh dengan menabrak keras aspal. Aspal bermandikan darah dan mayat


"Nyaris saja," gumam Farhan mual melihat darah yang begitu banyaknya.


Longsor manusia masih terjadi, mereka berjatuhan dari atas, suara tubuh yang pecah saat menabrak aspal begitu menakutkan. Anggi yang penakut, dibuat tak bisa bergerak. Di atas sana, Anggi menatap satu manusia yang dipastikan akan jatuh menabraknya, dia mencoba kabur, tapi, dia hanya tak memiliki keberanian untuk menggerakkan kaki. Disitulah, datang pria hitam menariknya ke dekapannya.


Jantung Rey semakin berdegup cepat saat melihat orang itu menarik Anggi. Dia tak akan membiarkannya, kekhawatirannya adalah Anggi seorang!


"Woi! Lepaskan Anggi!" Rey marah, suaranya sampai terdengar serak.


"Pergi sana, bocah-bocah!" peringatinya. "Menjauh dari sini. Awas, kalian jangan sampai tergigit. Temui aku di gapura masuk, aku akan menunggumu, lae!"


Tentu ... Rey tak bisa pergi, tidak tanpa Anggi. Dia tak akan membuat Anggi dalam situasi yang berbahaya.


"Lepaskan Anggi dulu, makanya!" Dia maju menerobos manusia yang jatuh. Namun, kaki dan nyalinya menjadi ciut saat bertatap mata dengan manusia yang nyaris tak berwajah. Dia tak takut, hanya syok melihat manusia yang seharusnya sudah mati karena wajahnya telah retak-retak tiba-tiba dapat bergerak.


"Apa-apaan ini ...?"


"Pergi sana, jangan sampai tergigit!" beritahu pria hitam itu, dia sedang menaiki pickup bersama Anggi yang gemetaran, sedang menangis.


Hati Rey tak tega, dia sangat marah, *** pisau dengan erat adalah pelampiasan yang bisa dia lakukan.


"Rey, orang-orang yang jatuh ini ... mereka seharusnya sudah mati."


"Aku tahu! Tapi kenapa mereka bisa bergerak lagi?" Rey kalap, dia menoleh pada mobil yang mulai dinyalakan. "Hei, kalian! Jangan berani menyentuh Anggi! Jangan macam-macam padanya! Aku akan datang ke gapura, tunggu saja!"


Bukannya maju, Rey malah semakin mundur. Yang seharusnya sudah mati, saat ini berdiri di hadapan Rey dan Farhan. Mayat itu berbaris membentuk tembok tak tertembus.


"Terserahmu saja!" jawab si pria hitam. Mobil di jalankan dan mulai menjauh dari Rey dan Farhan. "Satu lagi, ketika malam, sembunyilah di tempat yang aman! Jangan pernah keluar!"


Dengan itu, mobil pergi membawa Anggi. Lima orang bersama satu gadis, bersama Anggi. Rey tak bisa menerimanya, dirinya takkan pernah tenang. Begitu juga dengan Farhan yang perlahan mundur menarik baju Rey. Beberapa lusin mayat masih berjatuhan dari tebing. Mereka mengikuti Rey dan Farhan.


Rey marah sekali, matanya sampai berair. Dia bersumpah, akan membuat orang itu menyesal jika terjadi sesuatu pada Anggi. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Anggi, seorang gadis yang dicintainya.