
Mereka bertiga menyusuri jalanan. Dari matahari yang masih ada diatas kepala hingga sampai matahari redup di ujung barat. Senja mulai tiba, langit menjadi kelabu, membawa perasaan mistis pada diri Farhan.
Dia takut bahwa apa yang dia takutkan akan menjadi kenyataan. Bagaimana jika zombie itu bisa berlari di malam hari? Kemana mereka akan sembunyi jika itu terjadi? Satu fakta yang Farhan ketahui adalah bahwa mereka akan lebih mudah tergigit oleh zombie jika zombie itu bisa berlari. Jantungnya berdegup kencang, dia takut.
"Kau tak mau kita istirahat dulu, Rey?" tanya Farhan pada Rey dihadapannya.
Rey menggeleng mantap, kemudian menatap langit yang mulai gelap.
"Apa karena ini mau malam, Farhan?" tanya Rey menyindir, membuat Farhan segan untuk menjawab.
"Tapi bila itu benar? Bagaimana?"
Rey menghentikan langkahnya, menghela napas. Dia berbalik dan menatap kedua mata Farhan.
"Duh, duh, Farhan. Dengar, itu. Tak. Akan. Terjadi," tegas Rey.
"Ayolah, Rey. Mattius mengatakan yang sejujurnya. Zombie-zombie akan mulai agresif, bisa berlari, mungkin bisa memanjat? Atau menaiki mobil? Atau, memegang senjata atau parang yang tajam? Itu gila, Rey. Sebaiknya kita sembunyi saja dulu."
Mattius menengahi kedua sahabat yang tengah berseteru. Mattius menepuk pundak Farhan, lantas berkata.
"Itu terlalu berlebihan, kawan. Mana ada zombie yang bisa menaiki mobil atau memegang senjata. Aku bahkan mulai curiga jika zombienya apa benar-benar bisa berlari?"
"Lihat, 'kan? Dia saja mengatakan tidak. Ayo, kita harus bergegas."
Farhan menunduk lesu karena pendapatnya tak dipedulikan. Dia ... tentu takut, tapi perasaan takutnya adalah benar adanya. Dia berkata karena ada fakta! Bagaimana jika di malam hari zombie benar-benar bisa berlari? Oke, Rey akan bisa selamat karena larinya cepat. Tapi dia? Dia yang akan pertama mati.
Farhan terus berjalan mengikuti langkah Matt dan Rey. Tapi, dadanya teramat sesak sekali. Sangat sesak akan rasa takut.
"Umm, Rey," panggil Mattius. "kita tak mungkin terus berjalan hingga pagi, bukan? Itu sedikit mustahil, loh."
"Memangnya seberapa jauh?"
"Jika kalian mengingat saat masuk ke daerah sini, ada simpang empat dan kalian mengambil jalan lurus untuk dapat sampai ke sini. Nah, di salah satu belokan itu, ada Desa Ujung Tebing. Dan, jaraknya dari sini ke simpang empat cukup jauh dan itu belum menghitung jarak simpang empat ke Desa Ujung Tebing."
Rey mengangguk paham. "Jika kita teruskan sampai jam sembilan baru beristirahat, apa kita bisa sampai ke simpang empat?"
Matt menghitung jarak dari tempat mereka berpijak ke simpang empat. Dia bergumam-gumam.
"Mungkin."
Dan tak terasa, mereka terus berjalan hingga memasuki sebuah kawasan perumahan. Di kiri dan kanan jalanan, terdapat banyak rumah-rumah warga dan juga beberapa kedai yang masih terbuka. Namun, baik rumah dan kedai yang ada, semuanya hening. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Sesosok bayangan terlintas di pandangan samar Rey. Rey menoleh ke arah bayangan tadi lewat, lantas menajamkan pandangannya.
"Kau sedang melihat apa?" tanya Mattius ikut-ikutan melihat ke arah yang sama.
"Apa ada orang di desa ini atau tadi itu adalah zombie?"
"Zombie! Mana zombie!" seru Farhan terperanjat.
Rey memukul perut Farhan pelan, tapi bagi Farhan itu membuat napasnya terhenti satu-dua detik.
"Uhh ...."
"Jangan berisik, kita tak sendiri disini. Ayo kita lanjut aja," kata Rey, tak memperdulikan lebih lanjut bayangan tadi.
Rey dan Mattius telah melangkah jauh, tapi Farhan masih tertinggal. Perutnya terasa sakit dan napasnya berhenti, dia berhenti sekejap dan menarik napas untuk menenangkan diri. Becanda Rey selalu tak lucu.
Derap suara kaki tersangkut di pendengaran Farhan. Farhan segera menoleh pada asal suara dan menjadi ketakutan.
"Zombie-zombienya!" seru Farhan keras menunjuk zombie yang datang kepadanya.
Mattius dan Rey berputar balik dengan cepat untuk menolong Farhan yang gemetaran. Satu zombie menerjang Farhan, namun ditendang oleh Rey. Zombie itu terhempas ke aspal, Mattius mencabut pisaunya lalu menikam dalam-dalam kepala si zombie. Dia mencabut pisau itu, tangannya tak gemetaran sedikitpun walau baru saja menusuk kepala yang-dulunya-manusia.
"Hei, Rey. Kau lihat 'kan, zombienya berlari!"
Zombie-zombie itu, bertekad mengunyah Rey dan kawan-kawan!
"Ya sudah, ayo lari!"
Rey menarik tangan Farhan dan membantunya berlari. Rey mengeluarkan segenap tenaganya dan tak peduli dengan zombie yang mengejar mereka. Dia fokus berlari!
"Kau lihat, 'kan, zombienya berlari!" oceh Farhan disela-sela mereka berlari dari kejaran zombie.
Rey mengumpat dalam hati, bisa-bisanya Farhan mengajaknya berdebat dalam kondisi seperti ini.
"Iya, iya. Aku salah," sindir Rey kesal. "puas?"
Farhan tak terkekeh atau tersenyum, kondisi menakutkan ini membuat bibirnya tiba-tiba menjadi kering. Apalagi erangan memekakkan dari zombie itu terus-menerus menyerang telinganya. Farhan dalam ketakutan total!
Mattius yang berada di belakang Rey sesekali menoleh ke kiri dan ke kanan. Dia dari waktu ke waktu memperhatikan zombie-zombie yang ada di perumahan ini, semakin lama semakin bertambah banyak. Dari selusin zombie yang mengejar mereka, kini ada puluhan dan semakin bertambah. Terus berlari bukan ide yang cemerlang. Dan, Rey juga tahu itu. Tapi, apa yang harus mereka lakukan?
"Rey, kita tak bisa lomba lari dari zombie ini," beritahu Mattius. Satu zombie nyaris menangkap Mattius, tapi dia menyikut zombie itu, membuat zombie itu terjatuh.
"Jadi? Apa kita diam dan pasrah bahwa kita akan mati?!"
"Maksudku, kita harus sembunyi! Kita pasti mati jika berlari tanpa arah begini, kawan."
Rey mengotak-atik akal dan pikirannya. Berulang kali dia bergumam, "Sembunyi. Sembunyi. Sembunyi." Tapi , gumamannya diakhiri dengan kata. "Tapi dimana?"
Saat kedua kaki dan napas Rey mulai mencapai batasnya, Rey tahu dia harus segera memilih tempat sembunyi. Dia mencari sebuah rumah yang kira-kira pas baginya. Di kanannya, ada sebuah kedai terbuka, lebar, dan memiliki pintu ruko. Tapi masalahnya menutup pintu ruko itu akan membutuhkan waktu yang tak sedikit dan ada kemungkinan zombie menangkap mereka sebelum pintu ruko tertutup. Dia menggeleng.
Di kirinya, ada sebuah rumah biasa dan sederhana. Pintunya terbuat dari kayu, atapnya terbuat dari dedaunan dan dindingnya terbuat dari batu. Tapi masalahnya bagaimana jika pintu itu terkunci? Dia pasti mati tertangkap para zombie jika pintu itu benar-benar terkunci.
Rey menarik napasnya. Kiri atau kanan?! serunya dalam hati.
Kiri!
Rey menggenggam erat tangan Farhan lantas berbelok ke rumah sederhana di kirinya. Dia menendang pintu itu dan pintunya terbuka, tak terkunci. Rey bersorak dalam hati dan mendorong Farhan masuk. Saat dia menoleh kebelakang dan hendak menarik Mattius masuk, dia terkejut pemuda itu berlari keras dengan memejamkan kedua matanya.
"Mattius!" teriak Rey memanggilnya.
Mattius tersentak dan membuka mata, tapi Rey dan Farhan yang tadinya berlari di hadapannya sudah tak ada. Mattius mencari mereka dan melihat Rey ada di sebuah rumah melambai-lambaikan tangannya menyuruhnya kesana.
Mattius ingin! Tapi zombie-zombie yang mengejarnya tak akan membiarkannya berlari ke rumah itu. Tiga detik Mattius habiskan untuk berpikir sambil berlari, Rey mulai menutup pintu.
Zombie-zombie mulai mendekati Rey, mencoba masuk. Tapi Rey menendang zombie itu dan segera membanting pintu hingga tertutup, meninggalkan Mattius dengan terpaksa diluar sana.
Rey mundur perlahan-lahan. Zombie-zombie diluar sana menggedor-gedor pintu rumah ini hingga bergetar. Jika terus-terusan digedor dan didorong, maka pintunya akan rusak!
"Farhan! Apa ada pintu belakang disini? Pintu depan ini takkan bertahan lama, kita harus segera pergi."
Rey berbalik untuk menanyakan Farhan lebih lanjut apa ada pintu belakang dirumah ini, namun dia malah mendapati Farhan bertatapan dengan seorang gadis berkulit hitam. Gadis itu, atau wanita itu, menatap Farhan dengan takut, dan begitu juga dengan Farhan yang juga menatapnya dengan takut.
"Rey, ada orang disini."
Sang gadis yang baru menyadari ada dua laki-laki bersamanya, segera berlari keluar lewat pintu belakang. Dia melompat keluar dan hening, lalu beberapa detik kemudian samar-samar ditelinga Farhan terdengar suara sepeda motor diengkol.
"Dia sedang mengengkol motor?"
Rey bersorak girang, itu adalah jalan keluar mereka dari tempat ini!
"Kita akan kabur dari sini, Farhan! Hentikan dia."
Rey mengejar sang gadis keluar, diikuti oleh Farhan. Seorang gadis tengah duduk diatas motor dan tergesa-gesa untuk menyalakan motor yang tak kunjung menyala. Rey menaruh tangannya pada pundak si gadis dan menatapnya tajam.
"Mau kemana!"