Until Medan

Until Medan
Farhan



Rey mengejar sang gadis keluar, diikuti oleh Farhan. Seorang gadis tengah duduk diatas motor dan tergesa-gesa untuk menyalakan motor yang tak kunjung menyala. Rey menaruh tangannya pada pundak si gadis dan menatapnya tajam.


"Mau kemana!"


----


Sang gadis meronta menjauhkan tangan Rey dari pundaknya. Dia mengengkol motor tergesa-gesa.


"Hei, kita harus pergi bersama-sama," beritahu Rey pada si gadis, namun si gadis tak mempedulikan. Rey menoleh pada Farhan yang baru keluar dari rumah. "Farhan, ayo cepatlah. Tutup juga pintu belakangnya—Hei!"


Sang gadis yang berhasil menyalakan motor langsung menarik gas, membuat sepeda motor maju ke depan. Rey yang menyadari dia akan ditinggalkan menarik kerah baju sang gadis dan menahannya kuat-kuat.


"Kau mau meninggalkan kami?!"


Sepeda motor terangkat, ban belakangnya terus berputar –putar namun motornya hanya melaju di tempat. Sang gadis tanpa sengaja menarik kuat gas, membuat mesin motor menderu keras. Namun, sang gadis terjatuh dari motor akibat ditarik oleh Rey. Motor melaju ke depan dan terpelanting kehilangan keseimbangan beberapa detik kemudian.


Sang gadis mengerang akibat punggungnya yang menghantam tanah. Lehernya juga sakit dan ada bekas merah akibat Rey menarik kerahnya. Sang gadis membuka mata dan melihat Rey berjalan mendatangi motornya yang terjatuh.


"Kau anak laknat!" seru sang gadis menarik Rey dan menghentikannya. Rey berbalik dan menatapnya marah.


"Kau mau cari masalah disini? Minggirlah, ada urusan penting yang harus kulakukan!"


"Lah?" sang gadis mendorong dada Rey. Rey termundur. "Kau baru saja menjatuhkanku dari motor dan kau yang sok jago sekarang? Brengsek."


Sang gadis menampar pipi Rey dengan keras, sangat keras hingga menimbulkan bunyi memilukan. Rey terpatung menatap tanah. Dia baru saja ditampar. Ditampar oleh seorang wanita?


"Pelacur!" Rey mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk membalas tamparan sang gadis, namun Farhan menerjang Rey dan mendorongnya menjauh dari sang gadis.


"Lepas, Farhan! Duh, duh. Berani kau menamparku! Hei. Sini, dasar pelacur!"


Mata sang gadis berbinar-binar dikatain pelacur. Dia mendatangi Rey yang ditahan oleh Farhan dan menampar wajah Rey berulang-ulang kali.


"Apa kau bilang? Ibumu tak mengajarimu, ha?!


Rey merasakan wajahnya merah, kepalanya memanas. Hidungnya nyeri akibat tamparan-tamparan sang gadis dan terlebih lagi, sialnya, dia tak bisa melawan karena Farhan menghalanginya.


"Minggir kau dulu!" Rey meninju perut Farhan dengan kuat. Farhan tak bisa bernapas sekejap, dadanya sesak. Lalu Rey mendorong sahabatnya itu ke sembarang tempat, menjauhkannya agar tak menjadi penghalang.


Kini, Rey menatap sang gadis yang berani menampar dirinya, berulang-ulang kali, terasa perih pula. Rey melangkah cepat menghampirinya, dia akan membalas tamparan ini!


"Kau jangan lakukan, Rey! Berhentilah, tahan sedikit emosimu. Kita harus segera pergi dari sini, ada Anggi yang menunggu kita! Kita harus pergi dari sini sebelum zombie datang, Rey." seru Farhan menghentikan langkah Rey.


Rey menatap sang gadis yang tengah menatapnya marah. Tangan Rey sudah mengepal dan dia ingin sekali meninju wajah sok gadis ini, tapi dia urungkan. Dia menarik napas dalam-dalam, lantas berbalik ke arah motor yang terjatuh.


Dia mendirikan motor itu lantas naik mengendarainya.


"Ayo, Farhan," panggil Rey.


"Buat ranselmu di depan, kami sempit."


"Kami?" ucap Rey terkejut.


Saat Rey menoleh kebelakang, dia melihat sahabatnya itu menyuruh sang gadis untuk naik ke atas motor. Sang gadis tentu tak mau, tapi suara gedoran dari pintu belakang muncul memaksanya naik.


Rey malah tak berpikiran untuk membawa sang gadis itu kabur. Sang gadis ingin pergi kabur seorang diri, bahkan, dia juga menampar Rey dengan keras, dan sekarang dia akan membawa sang gadis kabur?


Dengan terpaksa agar waktu tak terbuang lebih banyak, Rey menaruh ranselnya ke depannya, lalu membiarkan sang gadis naik. Lalu, Farhan duduk di yang paling belakang. Wajah Rey merah, marah. Dia menarik gas kuat-kuat, melampiaskan amarahnya yang melanda pada tarikan gas motor. Motor menduru, mereka melaju.


Mereka pergi meninggalkan zombie-zombie yang berhasil mendobrak pintu belakang. Rey membawa motor dengan baik, melewati berbagai lubang yang ada lalu secepat mungkin membawa motor kembali ke jalanan.


Motor tak stabil dan bergoyang-goyang. Farhan yang berada di paling belakang, nyaris terjatuh lantas segera memeluk Rey dengan keras. Namun, memeluk Rey juga berarti memeluk sang gadis yang berada ditengah-tengah mereka.


Sang gadis menggigit giginya kesal.


"Rey," panggil Farhan pelan. "Disana itu ... Mattius."


Rey menelan ludahnya melihat gerombolan zombie yang mengejar Mattius tak henti-henti. Mattius turun keluar dari aspal dan membawa zombie berlari kesana kemari. Beberapa kali Mattius terpelanting jatuh, namun dia segera bangkit berdiri.


"Zombie sialan! Baru juga selamat dari kalian, malah dikejar lagi!" seru Mattius, yang samar-samar dapat didengar oleh Rey dan Farhan.


Mattius menendang zombie-zombie yang mengejarnya dan memanfaatkan dataran tinggi yang dia pijak sebaik mungkin. Zombie-zombie yang berlari ke arahnya, berjatuhan dan menabrak zombie lain. Satu zombie yang dia tendang, menabrak tiga zombie yang lain dan membawanya jatuh menggelinding bersamanya.


Namun, perlahan-lahan zombie mulai mengerumuninya dari berbagai arah. Dataran tinggi tak lagi menjadi efektif. Kali ini dia memutuskan untuk berlari kencang masuk ke dalam hutan.


"Semoga dia baik-baik saja," kata Rey.


Farhan tak merespon. Dia menunduk dan menyandarkan kepalanya di punggung sang gadis. Selamat dari gerombolan zombie berlari dengan jumlah sebanyak itu? Farhan tak berharap banyak. Kisah tentang Mattius, berakhir disini.


Dalam keheningan itu, sang gadis berseru kencang mengalahkan suara motor. Rey menjadi terkejut dan tak sengaja menabrak batu yang lumayan besar.


Tangan Farhan yang memegang naju Rey tak sengaja menyentuh dada sang gadis. Farhan tak merasakannya karena dia sedang lesu dan bersedih atas kematian Mattius.


"Hei, jangan main pegang-pegang!" seru sang gadis lagi.


"Diamlah kau disana. Jangan gerak-gerak, nanti kita jatuh!" bentak Rey.


"Kau tak punya sopan santun, ha! Kau baru saja mencuri motorku, dasar pencuri!"


Rey menggerakkan kepalanya menatap sang gadis namun kedua tangannya tetap fokus mengendarai.


"Terus, maumu apa?" tanya Rey kesal sekali.


"Ini lagi, temanmu main sandar-sandar aja."


"Farhan, jauhkan kepalamu dari 'nona' ini," ejek Rey biar masalah tak jelas ini selesai!


Farhan menjauhkan wajahnya dari sang gadis. Dia mendongak menatap Rey yang sedang berdebat dengan sang gadis. Lalu, Farhan melihat ke depan, ke kejauhan. Di depan Rey ada sebuah mobil yang terparkir di tengah jalan dan Rey akan menabraknya!


"Perhatikan depan, bodoh!" seru sang gadis.


"Rey, awas menabrak!" tambah Farhan.


Rey cepat-cepat menoleh ke depan dan melihat sebuah mobil ada di hadapannya. Rey menginjak rem kaki serta menarik rem tangan dengan keras secara bersamaan, namun motor oleng dan nyaris jatuh, mengharuskan Rey melepas kedua rem itu.


Rey membanting setir dan berbelok mencoba menghindari mobil itu. Rey berhasil menghindar, namun Rey tak menyadari kedua penumpangnya sedang 'berperang'.


Saat Rey menginjak rem mendadak, Farhan terseret maju dan menempel lekat pada sang gadis. Sang gadis dapat merasakan Farhan sangat lekat, dan ditambah kepala Farhan menempel di pundaknya dengan wajah menghadap lehernya.


Saat Rey membelok dengan mendadak, wajah Farhan otomatis bergerak tanpa dia bisa kendalikan. Dan, wajah Farhan yang bergerak adalah menuju leher sang gadis.


Sang gadis geli mendapati bibir dan napas Farhan di lehernya. Dia berteriak keras dan melayangkan tamparan dari depan, melesat telak menuju wajah Farhan.


"Keparat mesum!"


Kepala Farhan terhempas kebelakang dan wajahnya pedas akibat tamparan sang gadis.


"Bhuah!"


Farhan nyaris terjatuh, namun dia dapat bertahan karena tak melepas pegangannya pada baju Rey. Namun, lagi-lagi Farhan secara tak sengaja menyentuh dada sang gadis berulang kali.


"Kyaa!" sang gadis berseru keras sambil melayangkan tamparan tak terarah pada kedua tangan Farhan.


"Jangan dipukul tanganku!"


"Kalian jangan ribut dibelakang sana! Nanti kita jatuh."|


Rey oleng kekiri dan kekanan, kehilangan keseimbangan yang sejak tadi dia pertahankan. Motor masih belum jatuh, namun sudah nyaris jatuh. Namun, sang gadis belum berhenti menyerang Farhan dibelakang sana.


Sang gadis menyikut selangkangan Farhan dengan keras. Napas Farhan terhenti, dunianya serasa berhenti. Tangan Farhan yang mencengkram baju Rey melemah dan dia oleng ke kanan. Otomatis Rey yang membawa motor yang merasakan beban semakin berat ke kanan, juga ikut oleng ke kanan.


Ban depan motor menabrak dinding pembatas jalan yang entah kenapa ada disana! Mereka bertiga terlempar jatuh dari motor dan terpelanting kesana kemari.


Rey terbang ke rerumputan dan jatuh berguling-guling, badannya sakit.


Sang gadis terjerembab tak jauh dari motor dengan wajah menghadap rerumputan, dia tak terluka.


Farhan sangat disayangkan, menabrak batu cadas besar dengan tubuhnya. Dada Farhan adalah yang pertama menghantam batu besar itu, dia tak bergerak.


Rey bangkit dan duduk, dia mencari-cari sekitar atau sesuatu ... atau entahlah. Kepalanya pusing. Kejadian yang begitu tiba-tiba ini membuat persepsinya jadi kacau. Namun, perlahan-lahan rasa pusing itu hilang dan dia telah sadar sepenuhnya.


Dia dapat melihat sang gadis terjerembab di tanah dan mulai bangkit untuk duduk. Dia menggengam tangan kesal dan menaruh marah padanya, karena akibat gadis itulah mereka terjatuh seperti ini.


Rey bergerak ke arah gadis itu.


"Sial kau! Kau mau kita mati?"


Namun sang gadis itu tiba-tiba menunjuk ke suatu arah. Rey menoleh, dan melihat Farhan tergeletak tak bergerak.


Jantung Rey terpacu akibat melihat batu besar disisi Farhan. Apakah Farhan menghantam batu itu saat terjatuh?


Rey membalik tubuh Farhan dan menatap Farhan tak sadarkan diri. Rey mengawaskan ransel Farhan yang mengganggu lalu dia menaruh tangannya pada dada Farhan, memeriksa jantungnya.


Tak berdetak.