
Rey dan Farhan telah berjalan cukup lama. Gapura mereka tinggalkan sejauh 2 jam berjalan kaki. Rey nampak lelah, begitujuga dengan Farhan.
"Kau tak punya air minum lagi, Rey?"
Rey memegang botol minuman yang seharusnya berisi air. Itu tadinya memang berisi air, setidaknya satu jam yang lalu sebelum mereka berdua menghabiskannya.
Tengah hari telah lewat. Hari mulai siang. Terik matahari menambah rasa lelah yang diterima Rey dan Farhan akibat berjalan begitu lamanya.
"Desa kosong lagi ...."
Di bawah lereng sana ada sebuah desa. Ini bukanlah desa pertama yang Rey dan Farhan jumpai. Masih banyak desa lain yang telah mereka lewati. Namun, semuanya kosong sama seperti desa satu ini. Tak ada orang, hanya zombie yang berkeliaran menggantikan penduduk desa.
"Kau haus?" kata Rey. Rey menatap botol kosong di tangannya lalu menoleh pada desa.
Farhan turut menoleh desa itu. Ada zombie yang dia lihat berkerumun di suatu tempat. Kacamata Farhan terhinggap debu, dia melepas dan mengelapnya sebelum mengenakannya kembali.
"Kau sedang memikirkan apa, Rey?"
Farhan was-was. Dia menduga-duga apa yang ada di benak Rey saat ini. Dugaannya adalah turun ke desa di bawah lereng itu dan mencari sesuatu untuk diminum. Tapi, disana 'kan banyak zombie. Itu tidak aman.
"Desanya mungkin ada botol air atau galon air. Orang-orang desa juga butuh minum dan pasti ada minuman yang tersisa di desa itu. Jadi, ayo kita turun."
Farhan menjadi pucat.
"Menurutku itu tidak aman, Rey. Kau lihat banyak zombie bergerombol." Farhan menunjuk desa itu. Rey mengangguk-angguk. "Kau ingat peringatan mereka? Jangan sampai tergigit!"
"Diamlah, Farhan!" Rey menggosok keningnya. Farhan yang mempercayai peringatan si penculik membuat Rey begitu kesal. "Duh, duh, kau harus berhenti percaya omongan orang lain, Farhan. Apalagi jika dia adalah musuh. Aku sejak tadi memikirkan bahwa mereka hanya mempermainkan kita tanpa berkeinginan mengembalikan Anggi. Lihatlah di gapura hanya ada seorang idiot dan temannya. Kenapa penculik itu tidak ada disana jika bukan dia hanya mempermainkan kita?"
"Tapi kita tetap berusaha, bukan? Kita tetap pergi ke gapura karena itu satu-satunya petunjuk kita. Kumohon padamu untuk berjaga-jaga, jangan sampai tergigit!"
Rey melirik Farhan. Lagi-lagi mengatakan jangan sampai tergigit. Memangnya dia mau digigit sembarangan orang apa?
"Dasar. Kau kira aku akan membiarkan aku digigit? Aku bahkan tak mau mereka menyentuh, bodoh."
Rey berlalu menuruni lereng setelah mengatakan itu. Farhan mengangkat tangannya untuk menghentikan Rey, tapi dia tahu itu akan percuma saja. Tak punya pilihan lain dia mengikuti Rey menuruni lereng.
Desa ini tidak begitu luas dengan sawah-sawah yang membentang begitu lebarnya. Erangan zombie mengusik telinga Rey ketika dirinya menginjakkan kaki di desa. Rey menyadari ada gerombolan zombie di depan sana namun dia memilih mengacuhkannya. Dia memasuki salah satu rumah desa dan segera disambut ruang tamu sederhana.
"Ayo, Farhan."
Farhan tersentak melihat gerombolan zombie yang mengerang-erang berkumpul mengepung sesuatu. Dia berlari tergesa-gesa menyusul Rey masuk kerumah.
"Banyak zombie bergerombol disana, Rey. Kita harus senyap agar tak ketahuan."
"Duh, duh. Yang bicara berisik kau loh, Farhan."
Farhan tertawa canggung. Mereka bersama-sama menyusuri ruang tamu yang diterangi oleh cahaya matahari. Ada kursi, meja dan segala macam furnitur sederhana dapat mereka lihat. Farhan larut menatap sebuah kayu yang terukir cantik.
Saat Farhan selesai melihat kursi itu, dia sudah kehilangan Rey. Dia mencari arah mana yang Rey ambil dan melihat sebuah jalan ke ruang lainnya. Dia ketakutan ditinggal sendiri dan lantas bergegas menyusul sosok Rey yang tiba-tiba menghilang. Langkah kakinya berisik.
"Kau yang berisik, Farhan ...."
Farhan kembali tertawa canggung. Dia jujur merasa iri pada Rey yang dapat selalu bersikap santai dalam kondisi apapun. Zombie ada diluar sana dan erangan zombie itu nyaring dan jelas-jelas tak mengenakkan untuk di dengar oleh telinga. Dan lihatlah Rey saat ini, Rey mengambil sebuah gelas dan meneguk air yang ada di dalamnya.
"Itu mungkin beracun ...."
Rey bernapas lega setelah menghabiskan segelas air yang asalnya entah darimana. Rey bergerak mencari asal air dan menemukan satu kendi tempat asal air yang dia minum.
"Duh, duh." "Daripada kau bengong disana dan gak ada kerjaan, Lebih baik kau isi botol-botol ini."
Rey mengeluarkan beberapa botol kosong dari tasnya. Farhan bergerak mendekati Rey dan menggantikan posisi Rey. Dia mengisi botol yang kosong satu persatu.
Farhan meneguk habis botol pertama yang dia isi. Tenggorokannya segar dan dirinya tiba-tiba bersemangat.
"Kau membawa botol kosong di tasmu, 'kan?" tanya Rey sambil mengintip gerombolan dari jendela.
"Ya."
"Kau mau kemana?!" Farhan melompat ketika mendengar Rey 'keluar sebentar'.
Rey menggoyangkan tangannya ke jendela. "Keluar, berarti keluar dari rumah ini. Sebelum kau ketakutan, tenang saja. Aku hanya nongkrong melihat-lihat."
Farhan menggeleng tak percaya saat Rey meninggalkannya seorang diri di rumah orang asing. Sambil waspada melihat kiri-kanan Farhan mengisi botol satu persatu. Satu saja suara terdengar di telinga Farhan maka dia terperanjat dan berubah waspada.
Disisi lain Rey memandang gerombolan zombie di depannya. Dia mengambil jarak yang cukup jauh dan aman dari zombie itu. Dia melihat-lihat desa namun sepertinya semua zombie yang ada hanya berkumpul mengelilingi sesuatu entah apa.
Rey mengintip kedalam jendela dan melihat Farhan sebentar lagi selesai mengisi botol kosong. Dia terpikirkan ide gila entah darimana lalu berteriak.
"Hey, mayat!"
Namun tak ada satu zombie yang menoleh padanya. Apa zombienya tuli? Atau zombienya tak bisa mendengar teriakannya akibat erangan mereka yang begitu kuat dan bergema? Rey kembali berteriak tapi kali ini mengejek fisik zombie itu. Rasis.
"Lamban sekali kalian. Apa yang mengubah kalian menjadi jelek seperti ini?! Apa karena tergigit, hah! Jawab, goblok."
Rey tertawa puas mengolok-olok zombie itu. Beberapa waktu kemudian Farhan datang dengan gopoh dan panik sambil membawa botol minuman di tangannya.
"Ada apa? Ada apa?!"
Rey meliriknya. "Sini, sini. Kurasa zombie tuli, Farhan. Kau coba maki atau katakan sesuatu pada mereka. Mereka gabakal dengar."
Farhan menggeleng menolak ajakan Rey. Dia berjalan kebelakang Rey dan memasukkan botol-botol minuman ke ransel sahabatnya.
"Darimana kau tahu mereka tuli? Jika kau salah, kita bisa dikejar-kejar oleh zombie sebanyak itu."
Hendak Farhan menanyakan, "Kau tak takut apa?" Tapi Farhan sadari jawabannya sangat jelas. Rey tak kenal dengan apa itu yang namanya rasa takut.
"Aku berteriak tadi dan mereka tetap gak menoleh. Jikapun aku salah, mereka lamban dan hanya bisa berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Bahkan kita bisa berjalan lebih cepat dari mereka."
"Tapi, kan ... tetap saja."
Rey merangkul sahabatnya yang penakut itu. Dia akan membuat sahabatnya ini lebih berani.
"Teriak, Farhan. Teriakkan apa yang ada dipikiranmu sekarang. Teriaklah!"
Farhan menatap Rey kesal karena sudah berhasil membujuknya. Farhan menggeleng dan menarik napasnya dalam-dalam sebelum meledakkan isi hatinya.
"Anggi! Aku dan Rey akan datang menolongmu! Apapun yang terjadi, kita bertiga akan kembali ke Medan dan kembali tertawa. Zombie seperti ini, siapapun itu, atau apapun yang akan kita hadapi kita takkan kalah karena kita adalah yang terhebat!"
Farhan tersenyum lega. Rey menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. Memang benar mereka terhebat. Tak akan ada yang mampu membendung mereka bertiga. Mereka pasti takkan terkalahkan!
"Tentu saja. Kita takkan kalah dan Anggi akan kita bawa pulang."
Setelah teriakan Farhan, dua zombie perlahan menoleh ke arah mereka. Zombie itu perlahan berjalan mendekati Rey dan Farhan.
"Katamu zombienya tuli!" Senyuman lega dari wajah Farhan berubah menjadi kepanikan.
Rey menggaruk wajahnya. "Ah, ternyata aku salah."
"Jangan katakan kau masih mau disini."
Rey merangkul sahabatnya itu. "Tentu tidak, ayo kita pergi."
Baru beberapa langkah mereka dari tempat, sebuah teriakan menghentikan langkah kaki mereka. Rey dan Farhan saling tatap dengan sangat terkejut. Suara itu adalah suara manusia meminta tolong.
"Sepertinya zombie-zombienya tak mau enyah dari sini jika kalian hanya berteriak. Ayolah, lakukan hal yang lain dan tolong keluarkan aku dari sini. Tubuhku sudah mulai kaku."
Rey berbalik menatap arah suara. Arah suaranya persis berasal dari tengah-tengah kerumunan zombie.
"Rey ... kau mendengarnya?"
"Aku yakin tak ada zombie yang bisa berbicara, bukan? Jika iya, berarti itu manusia."