Unrequited Love

Unrequited Love
KALIAN SEDANG SAHUR?



Kalau tahu rasanya sakit karena dicubit, ya jangan mencubit orang lain ~Novella Moralleta~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


‘Kami baru saja on the way ke rumah Bagas. Vella mendapat beasiswa di fakultas Kedokteran UNDIP dan di fakultas Hukum UGM,’ Prasojo mengirim pesan itu untuk Endro, Kamila dan Seto. Bagas nanti dia ceritakan secara langsung saja.


‘Aku akan sarankan dia ke Paris, seperti yang Ibu bilang. Tapi ya terserah anake, maunya kemana,’ balas Endro yang memang juga baru tiba di apartementnya di Singapore. Walau berkata terserah anaknya, sejujurnya Endro menginginkan Vella jauh dari dirinya agar putrinya melihat sosok pria lain yang kemungkinan bisa dicintai oleh gadis kecil itu.


Sedang Kamila tak menjawab karena sudah terlelap.


‘Dia memang pintar. Tapi kalau buat kedokteran rasanya dia enggak cocok. Anake kan susah tertib waktu,’ balas Seto yang sedang menemani istrinya memberi ASI pada putri mereka.


Sedang sosok yang menjadi tokoh utama malah bingung sendiri. Vella masih disekolah bersama semua panitia. Sedang membereskan semua alat yang tak boleh sembarangan ditinggal karena itu inventaris sekolah.


“Kamu akan ambil yang mana Vella?” tanya Puji yang juga mendapat beasiswa di IPB.


“Aku enggak tahu. Pengennya di UI, tapi keterimanya di UNDIP dan UGM. Sedang nenekku maunya aku di Paris ambil kuliah mode aja,” sahut Vella sambil melipat taplak milik sekolah.


“Kalau banyak pilihan begitu, seperti biasa aja Kak Vella,  tanya di dua per tiga malam. Karena yang menurut kita baik belum tentu terbaik menurut Allah.” Amrul sie rohis dari OSIS memberi saran untuk Vella.


Vella pulang ke rumah Bagas. Karena mama dan papanya masih disana. Kedua orang tuanya tahu dia pasti pulang tengah malam karena masih harus bertanggung jawab dengan tugas kepanitiaannya.


‘Aku enggak nyangka dia begitu,’ gumam Vella dalam hati sambil melihat foto dirinya dan Serena bertiga dengan Arie. Lalu dirinya dan Arie dalam beberapa pose.


Sudah hampir subuh dan Serena masih belum bisa tidur. Dia keluar kamar dan mencari sesuatu yang bisa dia makan. Ada puding milik keponakannya karena dicetak di tempat-tempat plastik berbagai bentuk. Ada setup jambu dan ada beberapa lauk. Akhirnya dia memilih lumpia Semarang. Dia ambil empat buah lalu dia goreng.


“Ngapain kamu?” tanya Nungky sang mama yang keluar ingin minum.


“Enggak bisa tidur, jadi perut kerasa lapar Ma,” sahut Vella sambil membalik lumpianya.


“Acaramu sukses. Prestasimu bagus, ada apa lagi sehingga kamu enggak bisa tidur?” tanya Nungky. Dia tahu putrinya sedang galau.


“Bingung Ma. Mau ambil kuliah dimana. Pengen di UI malah enggak tembus,” sahut Vella. Walau sebenarnya yang mengganggu pikirannya bukan itu.


“Tinggal daftar di UI pakai jalur biasa. Gampang kan?” sahut Nungky ringan.


“Enggak lah Ma. Itu artinya aku nutup satu peluang orang. Kalau sudah punya yang jalur khusus, harusnya jangan ikut jalur biasa, agar tidak mengurangi kesempatan orang lain,” sahut Vella sok bijak.


“Eyang Kamila kan minta kamu di Paris. Apa itu enggak ingin kamu pikirkan? Kalau Mama bilang kedokteran bukan bidangmu. Kamu terlalu easy going. Sedang di kedokteran wajib serius karena akan berpengaruh pada jiwa pasien,” Nungky coba membuka obrolan lebih dalam.


“Pengen juga di Paris. Biar bisa merasakan jauh dari keluarga,” sahut Vella ringan. Disana tak ada sanak family. Tentu dia harus mandiri.


“Kalau soal pilihan, mending tanya eyangmu aja. Dia kan yang berkecimpung di dunia pendidikan. Pasti pandangannya lebih baik,” Nungky akhirnya ikut makan lumpia yang digoreng Vella.


“Iya Ma. Besok aku telepon ke eyang,” sahut Vella.


“Kalian sedang sahur?” goda Pras. Dia bangun karena hendak salat Fajri. Yaitu salat sunah sebelum salat Subuh.


“Ha ha ha, aku kelaperan, eh Mama ikut ngemil gorenganku Pa,” sahut Vella.


Setelah lumpianya habis Vella dan Nungky juga bersiap salat.


“Ma, habis salat nanti aku mau tidur ya. Kasih tau mas Bagas. Biasanya dia ribut kalau aku bangun siang,” Vella menitip pesan pada mamanya. Mereka lalu salat berjamaah dengan Prasojo sebagai imam salat Subuh pagi ini.


***


Sejak pulang tadi Arie membatasi bicara pada Serena. Dia sangat kecewa. Moment yang dia tunggu hampir tiga bulan hancur karena pengakuan bohong sahabatnya. Dia tak ada harapan karena saat pesta usai Vella selalu dekat dengan orang tuanya atau panitia. Tak mau dia ajak bicara.


“Maafin gue ya Bang. Kasih aja nomor Vella nanti gue yang jelasin kedia. Gue yakin dia mau ngerti koq,” Serena sekali lagi minta maaf pada Arie. Entah sudah yang keberapa kali karena Arie tak menggubrisnya.


Bahkan barusan Arie tidak turun mengantarkannya dan menyerahkannya pada mimi atau abahnya seperti biasa. Arie pun tak masuk ke halamannya yang super luas. Akibatnya Serena jalan cukup jauh dari gerbang rumahnya kedalam.


Pagi ini Arie menuju rumah Vella. Beberapa kali kemarin dia mengantar Vella jadi dia sudah tahu rumah gadis itu.


“Non enggak pulang sejak kemarin. Masih menginap di rumah kakaknya. Mungkin langsung ikut pulang ke Kutoarjo atau nyusul ke Singapore,” sahut satpam rumah. Sang satpam sudah mengenal wajah pemuda ini karena dalam satu minggu ini beberapa kali mengantar majikan kecilnya.


“Bisa tahu alamat kakaknya?” tanya Arie penasaran.


“Wah kami enggak tahu Den,” sahut si satpam sopan. Sebenarnya bisa saja dia tanya pada drivernya Vella. Tapi dia takut kesalahan. Dia pikir pasti ada yang tidak beres. Kan kalau sedang tidak ada masalah, bisa tanya ke ponsel non Vella langsung!


“Baiklah. Tolong kalau Vella pulang, katakan Arie mencarinya,” pesan Arie sebelum dia pamit.


“Injih Den. Akan saya sampaikan pada non Vella, bila dia sudah pulang kembali,” tentu satpam mengangguk dengan sopan.


Arie pun meninggalkan rumah itu dengan penuh kekecewaan.


‘Aku akan menunggunya di sekolah saat aku ada jam kosong kuliah,’ Arie bertekad dalam hatinya. Arie bingung. Sekarang di kampus sedang akhir semester. Banyak tugas dan ujian. Dia tak mau membolos dan membuat nilai mata kuliahnya turun.


‘Sebel. Sekarang baru hari Sabtu. Hari Senin masih lama. Aku tahu dia ada jadwal ke sekolah di hari Senin untuk urusan beasiswanya,’ pikir Arie.


Arie galau hendak kemana di hari Sabtu pagi ini. Akhirnya dia memutuskan kembali ke rumah. Ingin bermain dengan Frina dan Frani saja. Kedua adiknya hari Sabtu pasti di rumah bersama kedua orang tuanya.


Ternyata dirumah pun Arie merasakan ‘kekosongan’. dia merasa hampa walau bisa tertawa dengan kedua adik tersayangnya.


“Bang, ke toko buku yok,” ajak Frina pada abangnya yang sedang asyik membaca di gazebo belakang rumah mereka.


\============================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL TELL LAURA I LOVE HER   YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta