Unrequited Love

Unrequited Love
KAMU SUDAH MEMBUNUHKU!



Mama dan eyang selalu mengajarkanku jangan pernah mau jadi orang ketiga dalam sebuah hubungan. Posisikan dirimu bila pasanganmu yang direbut oleh orang lain.


Jadi saat ini aku pun tak mau jadi orang ketiga dalam hubungan kak Arie dan kak Serena. Aku memilih mundur sebelum langkahku terlalu jauh. ~Serena~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Bapak, silakan saya antar Bapak ke tempat yang sudah disediakan,” seorang panitia memandu Firza untuk duduk ditempat tamu VIP.


“Kamu sudah membunuhku!” bisik Arie pada Serena.


“Ya elaaaah. Kita kan biasa pura-pura gini,” sahut Serena sambil mereka berjalan menuju lokasi undangan alumni.


“Aku enggak masalah dengan bossmu. Tapi kamu sudah membunuh kesempatanku mendapatkan Vella. Dia mendengar pengakuanmu dan langsung pias. Rasanya aku pengen langsung kamu kubur aja sekarang,” keluh Arie. Dia sungguh tak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Vella.


‘Jadi mereka pacaran sejak SMP? Padahal kak Arie ngakunya mereka hanya sahabat. Aku tak mau jadi pelakor. Sejak saat ini aku akan menjauh dari kak Arie.’ Vella langsung memblokir nomor Arie juga semua sosial media lelaki itu.


‘Benar aku belum merasa mencintainya. Dan aku juga enggak punya niat untuk jadi kekasihnya. Tapi yang pasti aku enggak akan mau jadi orang ketiga. Aku bukan cemburu. Hanya sekali lagi enggak ingin jadi orang ketiga,’ batin Vella sambil masuk ke lokasi acara karena dia sudah dipanggil untuk masuk.


Berkali-kali dia memberitahu kalau dirinya tidak cemburu pada Serena. Entah siapa yang ingin dia buat untuk percaya kalau dia tak cemburu. Sedang memeang rasa itu yang dia alami saat ini. SAKIT KARENA MERASA DITIPU!


“Lebay ah,” sahut Serena lalu dia bercipika cipiki dengan sesama alumni yang dia kenal dan terlibat obrolan.


“Lihaaaat. Kamu enak bilang lebay. Tapi sekarang aku enggak bisa hubungi nomor dia untuk ngejelasin. Nomorku sudah dia blokir!” runtuk Arie kesal.


“Gilaaaaaa, cepet banget dia beraksi,” Serena melihat Arie sangat terpuruk. Dia sama sekali tak berniat membuat suasana kacau seperti ini. Dia hanya ingin membuat Firza tahu kalau dia punya pacar. Just it. Tak mengira akan mendapat side effect tak terduga. Dia harus menjernihkan keadaan ini.


Acara sudah dimulai beberapa saat lalu. Dimulai dengan salam selamat datang bagi semua yang hadir, lalu pembacaan doa dan rangkaian kata sambutan. Mulai sambutan ketua panitia yang kali ini kebetulan merangkap sebagai ketua OSIS. Sambutan Kepala sekolah, sambutan ketua PMOG dan saat ini panggung dipersilakan untuk perwakilan donatur yang diwakili oleh Firza.


“Selamat malam, asslamu’alaykum dan salam sejahtera bagi kita semua. Sebenarnya yang harus berdiri disini adalah boss saya. Saya hanya diminta untuk mewakili beliau yang masih berada diluar pulau. Tadi beliau hanya menyampaikan agar kita semua sebagai generasi muda menikmati kesempatan yang ada dengan mengisi dengan kegiatan positive. Jauhi narkoba, drunk dan sejenisnya juga premanisme. Karena itu tak akan berguna untuk masa depan kalian nantinya,” Firza berpidato tanpa teks dan tanpa persiapan.


“Saya rasa hanya itu. Karena bukan kapasitas saya untuk menasihati kalian semua. Karena saya hanya seorang suruhan. Terima kasih. Selamat malam dan wassalamua’laykum,” Firza langsung menunduk hormat dan balik badan untuk turun dari panggung. Dia menghampiri kepala sekolah untuk pamit.


“Lho. Koq cepat-cepat Pak. Acara sama sekali belum dimulai,” kepala sekolah tentu tak enak karena belum masuk ke acara lain. Baru pembukaan dan tamu kehormatan sudah pamit saja.


Saat itu Firza melihat Arie ada diatas panggung untuk memberi sambutan sebagai perwakilan alumni dan sebagai mantan ketua OSIS di zaman dia sekolah dulu.


“Yang penting sebagai wakil dari pak Faisal, saya sudah mengerjakan tugas yang beliau berikan,” sahut Firza datar. Dia tak ingin stay dilokasi yang tak ada kepentingan dengannya. Firza langsung melarikan mobilnya meninggalkan sekolah itu.


Firza hanya tersenyum mengejek. Dia tahu Serena menipunya. Karena terlihat jelas Arie tak siap ketika disebut sebagai kekasih gadis itu. Kalau Arie memang benar kekasih Serena, pasti saat bersalaman dan berkenalan, lelaki muda itu akan penuh percaya diri.


Serena tak sepenuhnya bisa tenang. Sejak tadi Arie sama sekali tak lagi duduk didekatnya. Memang tadi karena Arie harus berpidato. Tapi sesudah pdato pun sahabatnya itu sama sekali tak mau lagi duduk disebelahnya.


Dari atas panggung Arie melihat Vella sedang bisik-bisik dengan ketua OSIS adik kelasnya. Dan dia lihat pula sang ketua OSIS yang manggut-manggut.


“Setelah segala macam sambutan, sekarang kita refreshing sedikit dulu ya. Tak lupa silakan dicicipi snack yang sudah kami sediakan,” sang MC menyiratkan acara hiburan akan segera dimulai.


“Acara pertama ini akan dipandu oleh kak Vella dan Kak Helmi dari kelas 12 yang bersiap meninggalkan sekolah kita. Waktu dan tempat kami persilakan untuk kak Helmi dan kak Vella.” MC memanggil Vella dari kelas IPA dan Helmi dari kelas IPS.


“Selamat malam Bapak Ibu, Om Tante dan semua undangan terhormat. Perkenalkan nama saya Vella saya perwakilan dari jurusan IPA,” Vella membuka kalimatnya.


“Dan saya Helmi, saya mewakili teman-teman dar IPS,” sambung lelaki cukup manis disebelah Vella. Helmi menggunakan baju adat dari Minang daerah asalnya. Warnanya merah sehingga cocok dengan baju yang Vella gunakan. Lalu keduanya bergandeng tangan dan maju selangkah.


“Kami, mengucapkan beribu terima kasih terhadap bimbingan para guru yang dengan susah payah mengajar kami. Agar kami bisa mengerti suatu pelajaran baru,” lanjut Helmi.


“Kami yang transisi dari putih biru, masih gamang dengan dunia putih abu-abu, mendapat tangan yang mau dan teguh membimbing kami tanpa mengenal lelah,” Vella melanjutkan kalimat Helmi.


“Sebagai anak. Kali ini izinkan kami meminta pada Bapak dan Ibu guru memberi kami kenangan yang tak akan mungkin kami lupakan,” Helmi pun mengambil alih kalimat berikut.


“Kami mohon semua Guru mau memberikan kami kenangan terindah yang sangat kami inginkan ini,” lanjut Vella sambil menatap Helmi dan mereka saling melempar senyum. Memang mereka sengaja melanjutkan kalimat dari lawab bicaranya sesuai konsep yang mereka lakukan saat latihan selama ini.


Cukup lama keduanya diam dan akhirnya mereka maju selangkah lagi tanpa bergandengan tangan. Lalu kembali berpandangan dan saling mengangguk. “Kami ingin semua guru naik kepanggung untuk memberi support pada Kepala Sekolah yang akan bernyanyi bagi kami putra putrinya,” Helmi dan Vella mengucap kalimat ini bersamaan.


Dan tepuk tangan meriah dari semua yang hadir langsung membahana mendengar todongan dari para calon lulusan SMA ini.


Kepala Sekolah tak bisa mundur. Karena sekarang semua guru menyuruhnya untuk naik ke panggung. Siswa anggota band sekolah sudah siap diposisi masing-masing.


“Kalian tuh yaaa. Bikin saya enggak bisa menghindar,” kepala sekolah menyambut mike yang diberikan untuknya.


\===========================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta