Unrequited Love

Unrequited Love
PENILAIAN FAISAL DAN SUSY UNTUK SERENA



Kadang sering kita menilai kurang tepat, seperti yang aku lakukan pada sekretaris pilihan putraku. Ternyata sekretarisnya sangat potensial. Untung selama ini aku selalu bersikap baik padanya. ~Faisal Triaspratiaksa~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Hiroshi-san. Faisaru-sandesu. Kare wa watashitachi no ofisu no CEOdesu.” Serena memperkenalkan pak Faisal pada Hiroshi.


“Kare to hanasu ni wa, watashi no gengo o tsukau koto ga dekimasu ka, soretomo eigo o tsukau koto ga dekimasu ka?” tanya Mr Hiroshi sopan. [ artinya = untuk bicara dengan beliau bisa menggunakan bahasa saya atau menggunakan bahasa inggris? ]


“Eigo nomi o shiyō shite kudasai,” balas Serena. Dan semua yang duduk satu meja dengan Faisal hanya bisa bengong. [ artinya = menggunakan  bahasa inggris saja tuan ]


Sedang bu Susy yang duduk di meja lain dengan para istri rekanan Faisal memperhatikan semua tingkah laku Serena. Tatapannya tak pernah lepas dari Serena. Dia ingin menilai calon menantunya itu lebih saksama.


“Ma, maaf pegangin sebentar. Aku nemani Serena,” Firza menitipkan dua piring yang dia ambil lalu dia letakkan didepan mamanya lalu dia menuju ke meja pak Faisal.


“Salam kenal pak Faisal. Saya pernah bertemu dengan pasangan hebat yang anda miliki. Mereka sangat solid dan kami dari Singapore dan Jepang kagum terhadap wakil CEO anda dan Serena,” Hiroshi langsung memuji kinerja Serena dan Firza.


“Anda menilai terlalu tinggi Mr Hiroshi,” Firza langsung menjawab dan dia meletakkan tangan kirinya di pinggang Serena dan tangan kanannya dia ulurkan untuk bersalaman dengan lelaki asal Jepang itu.


“Itu kenyataannya Mr Firza. Bahasa Mandarin dan bahasa Arab Serena juga sangat hebat selain bahasa inggrisnya tentu saja,” puji Hiroshi jujur. Dan Faisal baru tahu kehebatan Serena yang selama ini belum dia ketahui.


“Kami tinggal ya Pa,” Firza mengajak Serena pamit dari meja itu. Lalu duduk di meja yang kosong. Bukan di meja yang berisi empat gadis teman barunya tadi. Tentu sebelumnya Firza mengambil dua piring yang dia titip dimeja mamanya.


Acara seremonial dimulai, tepuk tangan membahana setiap ada yang selesai memberi sambutan selesai berpidato.


“Kita mau makan malam disini atau diluar aja?” tanya Firza. Sejak tadi mereka hanya ngemil dimsum yang Firza ambil sebelum sambutan.


“Malas keliling cari resto. Udah makan disini aja ya?” Serena menjawab santai. Lagi mereka pakai sopir. Kasihan sopir bila mereka turun makan di resto.


“Ya enggak perlu cari resto. Kita makan di rumah makan hotel ini aja,” jawab Firza.


“Emang kamu kenapa kalau makan disini?” tanya Serena.


“Malas aja antri,” sahut Firza. Lelaki ini memang paling malas dengan keramaian. Di german pun hanya sedikit teman yang bisa mengenalnya lebih dari sekedar say hello.


“Jangan begitu. Ini kesempatan ngobrol dengan rekanan atau calon rekanan.  Mindsetmu harus diubah,” Serena menasehati bossnya.


“Baik nyonya Firza,” goda Firza.


“Abang ih ngeselin,” Serena mencubit perut Firza gemas. Dan Firza tentu nyengir kesakitan. Semua itu terlihat tak sengaja oleh Faisal.


‘Ternyata Mama benar, mereka bukan hanya Boss dan sekretaris,’ batin Faisal.  ‘Dengan kemampuan Serena seperti itu, walau jika sesudah mereka menikah Serena tak aktiv di kantor, tentu saat negosiasi dia selalu bisa mendampingi Yudhi. Aku tak akan lagi menjodohkan Yudhi dengan anak perempuan rekanananku yang belum tentu Yudhi sukai.’


***


Endro  langsung terbang ke Singapore. Dia memang ada sedikit bisnis sejak kuliah dulu dinegeri kecil nan kaya raya itu. Selain dia memang rutin ziarah kemakam istrinya. Sebenarnya baru minggu depan dia akan berangkat. Tapi tetiba rekanannya meminta mereka bertemu besok. Sehingga malam ini Endro  langsung meluncur. Soal pakaian dia tak perlu bingung karena dia masih memiliki tempat tinggal disana. Kalau ke Singapore dia tak butuh bawa pakaian.


“Kamu enggak bisa datang diacara perpisahan Vella, Ndro?” tanya paman Pras.


“Mboten. Lha niki kulo teng bandara bade budal teng Singapore je,” sahut Endro . Pras memang mendengar back ground Endro di bandara. Dia sebenarnya ingin memaksa keponakannya datang di perpisahan Vella karena dia masih betah di Semarang melihat cucu perempuannya. [ Mboten. Lha niki kulo teng bandara bade budal teng Singapore je = tidak bisa, ini saya sedang di bandara, akan berangkat ke Singapore ].


“Oh yo wis. Ati-ati,” jawab Pras. [ Oh yo wis. Ati-ati = oh ya sudah. Hati-hati ].


***


Vella pulang dari butik dengan puas. Dia akan mengambil baju adat yang dipilihnya tiga hari lagi karena dibuat baru sesuai dengan ukuran tubuhnya.


“Mbak, inget ya. Pesanan saya jangan dipajang di etalase kalau sudah selesai dibuat. Saya enggak ingin teman-teman saya lihat sebelum hari H. Nanti enggak surprise!” pesan Vella berkali-kali tadi sebelum meninggalkan butik. Dia tentu tak ingin teman-teman panitia tahu baju adat apa yang hendak dia gunakan minggu depan.


“Saya ukur badan saja. Modelnya nanti saya beritahu belakangan. Dan milik saya juga tak boleh ada yang lihat sebelum saya ambil,” Arie sengaja tidak memesan model didepan Vella. Dia tak ingin gadis itu tahu kalau dia memesan baju pasangan dengan Vella.


“Baik Kak. Nanti kami perhatikan semua yang Kakak berdua katakan barusan,” sahut pegawai yang meladeni Vella dan Arie siang ini.


“Terima kasih ya Kak Arie. Aku puas banget milihnya. Semoga besok hasilnya memuaskan,” Vella senang dia bisa memilih baju adat sepuasnya.


“Sama-sama. Itu juga karena ibuku berlangganan disini jadi tahu. Kan sekarang kalau upacara kenegaraan sering diminta menggunakan baju daerah. Jadi ibu berlangganan disini,” balas Arie jujur. Memang seperti itu keadaannya.


“Owh iya juga ya Kak. Presiden yang sekarang memang sering meminta dress code seperti itu. Beberapa kali aku lihat di TV,” sahut Vella. Dia tahu ibunya Arie adalah seorang wakil rakyat di DPR.


***


“Besok seriusan enggak mau dijemput?” tanya Arie pada Vella. Saat ini mereka baru saja mengambil baju pesanan Vella di butik yang khusus menyediakan baju adat seluruh Indonesia.


Pakaian yang Vella pesan tentu dicoba dulu apakah pas sesuai dengan yang diinginkan oleh gadis itu. Dan Vella puas dengan hasil yang dia dapatkan.


“Enggak Kak. Aku dari siang sudah ada di sekolah. Jadi nanti sebelum maghrib aku kabur sebentar. Lalu datang sudah rapi pakai baju adat. Kebetulan rumah kakakku enggak jauh dari sekolahan,” sahut Vella.


“Ok. Kakak akan menjemput Serena. Dia sahabat Kakak sejak SMP. Kamu pasti akan suka ngobrol dengannya,” Arie membuka prolog soal Serena. Dia tak ingin Vella salah paham lalu cemburu.


\============================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Sa******lam manis dari Sedayu\~Yogyakarta