Unrequited Love

Unrequited Love
DIA BAKAL CEMBURU ENGGAK YA?



Kedua anakku lelaki, walau aku juga punya anak asuh perempuan, wajar bila aku merasa sangat senang ketika mempunyai cucu perempuan pertama dan kemungkinan cucu perempuan satu-satunya. ~Prasojo Wibisono~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


‘Emang dia bakal cemburu bila aku bersama yang lain?’ Arie jadi nyengir sendiri karena pikirannya terlalu jauh menduga Vella bakal cemburu padanya.


“Oke Kak. Aku senang berkenalan dengan banyak teman,” sahut Vella tanpa ragu.


“Eh. Koq baju pesanan Kakak enggak diambil sekalian?” tanya Vella curiga.


“Tadi pagi sudah diambil sama drivernya ibu. Sekalian ibu ambil baju pesanannya,” sahut Arie. Sebenarnya dia sendiri yang pagi tadi mengambil. Dia tak ingin Vella batal menggunakan baju pesanannya bila gadis itu tahu Arie memesan pasangan baju adat miliknya.


“Kak Serena kuliah dimana Kak?” tanya Vella.


“Dia sudah selesai. Dia  ambil D3 sekretaris dan sekarang sudah bekerja menjadi sekretarisnya wakil CEO. Dan sepertinya bossnya naksir berat sama dia. Kemarin Kakak kerumahnya. Abahnya sepertinya setuju dan tidak melarang hubungan mereka,” sahut Arie.


Memang kemarin Arie mengingatkan kembali Serena akan acara hari Jumat malam di sekolah mereka. Dan Arie sempat ngobrol dengan abahnya Serena. Sepertinya lelaki paruh baya itu akan mulai menguak rahasia yang selama ini dia tutupi pada Serena. Karena dia melihat Serena sudah punya calon pendamping yang terlihat dia sukai dan dia nilai cocok dengan putrinya kelak.


“Wah senang ya. Sudah tamat kuliah dan bekerja pula. Aku juga ingin bekerja. Enggak ingin diam di rumah seperti mama. Aku pengen seperti eyang putri yang tetap bekerja,” Vella mengemukakan angan-angannya.


“Semua itu pilihan. Ibu Kakak juga tetap bekerja, tapi dia enggak melupakan kodratnya sebagai ibu. Dan perempuan yang tidak bekerja di kantor juga tak bisa dianggap ringan pekerjaannya. Dia tugasnya malah lebih berat dari perempuan kantoran. Itu kata ibuku,” sahut Arie bijak.


“Iya Kak. Dua kakak iparku juga berhenti kerja. Dan mereka bilang lebih berat berperan jadi full mother dari pada saat mereka masih bekerja di kantor,” Vella mengingat Nungki dan Rita. Dua perempuan tangguh istri kakak-kakaknya.


***


Prasojo Wibisono dan istrinya Nungky Gumilar Wibisono baru mendarat pagi ini di bandara Jakarta. Mereka dari Semarang. Sejak kelahiran cucu perempuannya satu bulan lalu pasangan suami istri ini belum kembali pulang ke Kutoarjo.


Satu minggu pertama tentu mereka mempersiapkan aqeqah bagi cucu perempuan mereka. Dan selanjutnya mereka menikmati menjadi eyang dari cucu perempuan pertama dan kemungkinan cucu perempuan satu-satunya karena sesuai perjanjian Seto telah menjalani operasi vasektomi. Sedang Nungki sudah tak ingin mendapat momongan lagi.


Pras dan Nungky lama di Semarang juga karena menemani Rita saat Seto harus dioperasi vasektomi. Seto menjalani operasi di minggu kedua kelahiran putrinya, mumpung kedua orang tuanya bisa full menemani Rita mengasuh bayi mereka.


Malam nanti Pras dan Nungky akan mendampingi anak bungsu mereka Novella Moralleta Wibisono dalam pesta perpisahan SMA. Karena Endro masih di Singapore dan lokasi sekolah Vella memang lebih dekat dengan rumah Bagas. Maka dari bandara mereka langsung menuju rumah Bagas.


Yang menjemput Pras dan Nungky ke bandara SOETA adalah driver Endro. Keponakannya itu yang sengaja menyiapkan mobil dan driver agar paman dan bibinya tidak repot selama di Jakarta. Bagas hanya ada satu mobil sehingga tak bisa memfasilitasi kedua orang tuanya.


Dan lagi Bagas kerja. Tak bisa membolos.


“Eyaaaaang,” pekik Bayu dan Bima putra Bagas ketika Prasojo dan Nungky tiba. Bayu sudah pulang dari sekolah karena saat ini sudah hampir waktu makan siang. Bandara ke rumah Bagas memang butuh waktu lumayan lama.


Pras menggendong Bayu dan Nungky menggendong Bima. Mereka juga kangen dua cucu anaknya Bagas ini. “Cucu Eyang berat bangeeeeet. Pasti maemnya pada pinter ya?” Nungky menciumi Bima yang makin gembil pipinya.


“Aku udah enggak pernah disuapin Eyang,” Bayu langsung memamerkan kalau dirinya bukan anak kecil seperti Bima adiknya.


“Pastilah. Anak sudah sekolah kan bukan kayak adik Bima. Pasti maemnya juga banyak kan?” sahut Nungky. Entah mengapa Bayu selalu iri pada Bima dan tak pernah mau kalah pada adik nya yang selisih usianya empat tahun.


“Assalamu’alaykum Ma, Pa,” Nungki menyambut kedua mertuanya. Dia baru selesai memasang sprei baru untuk kedua mertuanya beristirahat.


“Wa’alaykum salam,” sahut Nungky dan Pras. Mereka menerima salim yang menantunya berikan.


***


Tapi anak OSIS mempunyai seksi konsumsi dan dokumentasi sendiri. Khusus untuk panitia. Sehingga semua kegiatan mereka sejak awal pembentukan panitia selalu ada dokumentasinya. Ini tentu berguna untuk laporan kegiatan.


Jam tiga sore Vella dan beberapa teman pulang. Mereka harus stan by di sekolah pukul 18.00. Karena undangan akan mulai datang pukul 19.00.


Ada beberapa teman yang tidak pulang. Mereka langsung dandan dan berganti pakaian di sekolah karena rumah mereka jauh. Sore adalah jam macet bagi kota Jakarta. Mereka bisa terlambat balik ke sekolah bila harus pulang terlebih dahulu.


Pagi tadi saat berangkat ke sekolah Vella sudah membawa koper. Dia menyuruh sopir mengantarkannya ke rumah Bagas. Bukan dia tak mau mengantar. Kalau dia mengantar, Bima bisa menangis tak ingin langsung ditinggal. Dan itu akan mengganggu jadwalnya. Maka Vella hanya menyuruh sopir saja. Dia sudah memberitahu pada Nungki agar kakak iparnya tidak menduga yang tidak baik pada dirinya.


“Ateeeeeeeeeeeeee,” pekik Bima yang melihat Vella turun dari ojek online.


“Assalamu’alaykum gantengnya Ate,” Vella mengangkat si gembil Bima dan menciuminya. Vella melihat salah satu mobil daddynya sudah ada dirumah Bagas. Padahal barusan dia juga meminta seorang sopir lain untuk segera ke rumah Bagas karena dia tak mau naik taksi online saat sudah dandan cantik nanti.


“Assalamu’alaykum Ma, Pa, Mbak,” Vella mengucap salam.


“Kangeeeeeeeen Ma,” Vella memeluk Nungky walau masih menggendong Bima. Bocah gendut ini mana mau turun bila sudah dengan tantenya itu.


“Mama juga kangen,” sahut Nungky sambil mengecup lembut putrinya yang sampai saat ini dia belum tahu siapa ayah biologisnya.


“Hallo Pa, tambah ganteng aja Papaku ini,” Vella memeluk erat Prasojo.


“Anak Papa udah mau lulus SMA aja,” Pras mencium kening Vella dengan lembut.


“Masa mau segede Bima terus Pa?” jawab Vella.


“Eh mas Bayu dimana nih?” tanya Vella. Dia tak melihat keponakannya yang besar. Yang biasanya tak mau kalah dengan Bima.


“Dia lagi pup. Tadi eyang bawain bandeng presto dan dia suka banget jadi makannya banyak,” sahut Nungki kakak ipar Vella.


“Aku dibawain lumpia enggak Ma?” tanya Vella. Dia paling suka lumpia khas Semarang yang berisi rebung itu.


“Bawa banyaaaak De. Enggak usah takut,” sahut Nungki.


\==================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA  YOK!



\=====================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta