Unrequited Love

Unrequited Love
PACAR SAYA SEJAK KAMI SMP



Ketika persiapan yang sudah kita lakukan lama harus terhempas karena kecerobohan seseorang, itu rasanya kita ingin tenggelam ke dalam bumi ~Ashoery Rustamaji~


DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Asyiiik. Eh Mbak jadi kan ngedandanin aku?” tanya Vella. Nungki memang pandai merias wajah orang lain.


“Asiiyaaaap. Yang penting bayarannya bisa buat jajan satu bulan,” goda Nungki.


“Iya, nanti aku minta mas Bagas yang bayar,” Vella tertawa menjawab godaan Nungki.


“Ihh. Sama juga bo’ong.”


Jam setengah enam Vella berangkat lebih dulu dari mama dan papanya diantar sopir pribadinya. Dia bertugas menyambut tamu para alumni. Dia yang menjaga buku tamu khusus untuk alumni. Selain juga bertanggung jawab terhadap beberapa acara.


“Vellaaaaaaaaaaaaa, keren banget bajumu,” hampir semua teman memuji penampilannya yang hanya berias make up wajah sederhana. Tapi baju adat pilihannya memang memukau untuk dia kenakan.


Semua panitia sudah berkumpul di ruang guru. Mereka melakukan doa bersama saat tepat pukul enam sore. Mereka berdoa agar acara mereka lancar dan tak ada kendala apa pun. Para pembina OSIS bangga akan tanggung jawab anak-anak asuhannya.


“Kita foto bersama dulu. Baik dengan tustel panitia mau pun dengan tustel sekolah. Di ruang ini juga di atas panggung ya,” seorang guru pembina OSIS meminta anak asuhan berfoto bersama.


Para guru tak ada yang tahu sebelumnya, kalau panitia memprakarsai menggunakan baju adat dari seluruh nusantara. Suatu sikap yang patut diapresiasi. Para guru dan pembina OSIS kaget dan sangat bangga melihat penampilan para panitia malam ini.


“Iya. Wajib tuh kita foto bareng. Karena ini proyek besar kita,” Sugeng seorang panitia pun setuju dengan usulan pembina OSIS tadi.


Jangankan seusia mereka. Yang tua saja sekarang hobby foto kan karena ada sosial media. Maka semua pun semangat ber foto ria sebelum riasan wajah mereka berubah karena lelah dan pakaian mereka kusut. Selesai berfoto rame-rame, tentu panggung menjadi lokasi foto untuk masing-masing membuat foto pribadi.


“Siap-siap. Kita ke pos masing-masing ya. Sudah setengah tujuh. Pasti banyak undangan yang datang sebelum waktunya,” ketua OSIS yang juga merangkap sebagai ketua panita perpisahan meminta semua stan by di posnya. Saat awal pembentukan panitia, beberapa kali KETOS tak mau merangkap jabatan sebagai ketua panitia, tapi teman-teman tak mau bergabung bila bukan dia yang jadi ketua panitia. Maka terpaksa dia menjabat dua tugas.


***


“Waaaaaaah. Ternyata para alumni juga menggunakan pakaian adat. Pasti kak Arie nih yang mbocorin dress code panitia ke para alumni,” tanpa sadar Vella menggumam saat melihat beberapa alumni yang datang dengan mengenakan pakaian adat.


‘ihhh. Kenapa dia jadi couple ama aku?’ Vella terkejut melihat Arie yang datang berdua dengan gadis cantik dengan body seksi walau big size. Enggak over weight banget. Tapi bukan yang sintal. Besar tapi tetap seksi. Aaah sulit diberi definisi. Pokoknya sangat cantik. Wajahnya perpaduan Arab China.


“Hallo Vella, kenalin ini sahabatku yang kemarin Kakak ceritain ke kamu,” Arie tersenyum manis pada Vella yang masih terpaku melihat pakaian yang Arie kenakan.


“Vella Kak,” dengan ramah Vella menyambut uluran tangan Serena.


“Serena,” sahut perempuan cantik berbusana kebaya dan kain Betawi, suku dari miminya.


“Wah rupanya kalian couple ya. Dari tadi aku lagi mikir koq tumben Arie pilih baju super keren. Ternyata karena pasangan denganmu,” lanjut Serena kagum.


“Pasti kak Arie sengaja Kak. Kan aku diantar ama dia saat ke butik,” Vella malu menjawab pernyataan Serena.


“Ayok kalian foto berdua dulu,” pinta Serena. Dia tahu Arie pasti ingin melakukan foto berdua dengan Vella.


Maka Arie dan Vella pun melakukan beberapa gaya. Ada yang bertiga dengan Serena tapi lebih banyak yang berdua. Semua menggunakan ponsel Arie tapi ada juga yang menggunakan kamera sekolah dan panitia.


Arie langsung mengirim foto-foto itu ke ponsel Vella. Dia berharap Vella langsung mempostingnya di media sosial gadis itu.


Vella mengenakan KABAYA NONA atau baju Salele atau cele dari Maluku atau Ambon. Kebaya berwarna putih dari bahan brokat dengan renda khas dari Maluku, dipadu dengan kain merah di bagian leher hingga pundak dan sarung merah cerah khas Ambon.


Dan Arie memakai yang untuk lelaki Ambon. Kemeja atau baniang putih, celana putih dengan jas merah khas Ambon bukan jas biasa ya. Dan tak lupa mengenakan ikat kain merah dipinggang.


Arie yang tadi dituduh oleh Vella hanya tersenyum tanpa rasa bersalah. “Dari pada Kakak bingung mikir, akhirnya mending Kakak pesan sama denganmu aja,” jawab Arie.


“Baru dapat ide setelah lama mikir di rumah,” kilah Arie. Tentu dia tak ingin gadis yang dia suka marah padanya.


“Terima kasih Kak. Foto-fotonya sudah masuk. Ya sudah sekarang silakan masuk Kak. Biar tamu lain bisa masuk,” jawab Vella.  Dia mengucap terima kasih foto yang dikirm dari ponsel Arie sudah masuk ke ponselnya.


Jalur semua undangan memang dipisah. Alumni dan para orang tua serta tamu selain orang tua terpisah dalam tiga jalur yang berbeda. Ini dibuat oleh panitia agar pengantar tamu enggak bingung mengantarkan tamu ke tempat duduk yang tersedia.


“Vella, nanti aku minta nomor ponselmu ke Abang ya. Kita ngobrol,” bisik Serena.


“Abang?” Vella menjawab bingung.


“Owh. Aku dan adik-adiknya Arie panggil dia ABANG,” sahut Serena.


“Owh iya Kak. Tanya kak Arie aja nomor ku,” sahut Vella ramah.


***


Firza berangkat ogah-ogahan ke pesta perpisahan sebuah SMA. Tadi pas dia sudah pulang kantor Faisal menugaskannya untuk mewakili dirinya. Faisal memang donatur di sekolah favorite itu. Dia masih berada di Solok di kota kelahirannya. Dia dan istri sedang menghadiri pesta adat kerabatnya.


Saat turun dari mobil tak sengaja Firza melihat Serena dan kekasihnya sedang mengisi daftar tamu dalam lajur alumni. Dia sendiri harus masuk lajur undangan umum. Yang dipisahkan oleh lajur khusus orang tua siswa kelas 12 dan PMOG.


“Rene!” panggil Firza setelah selesai mengisi daftar tamu.


‘Dia makin cantik dengan baju adat Betawi yang dia kenakan.’ batin Firza. Pemuda itu berjalan menghampiri Serena.


“Abang!” sahut Serena kaget melihat Firza dengan gagahnya datang ke pesta ini.


“Kenapa?” sahut Arie yang mengira dia dipanggil Serena. Arie berbalik badan dan melihat Serena sedang menatap bossnya.


“Ini pacarmu yang masih mahasiswa itu?” tanya Firza.


“Iya Pak. Kenalkan. Ini pacar saya sejak kami SMP dulu,” sahut Serena.


Vella diam membatu mendengar pengakuan Serena. Sedang Arie bingung karena dia melihat raut wajah Vella yang langsung berubah mendengar pengakuan Serena.


“Firza.” lelaki mapan ini dengan percaya dirinya mengulurkan tangan pada Arie.


“Arie.” sahut Arie dengan gugup. Dia berdiri di dua sisi yang sangat berat.


\========================================================


 Mau ngebayangin pakaian adat yang Vella dan Arie kenakan malam ini?


ini visual baju cele dan baniang dari Maluku



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta