
“Brengs*k! Lepaskan aku! Aku akan memberikan kalian pelajaran. Cepat lepaskan aku!” Setz memberontak dengan sekuat tenaga mencoba melarikan diri dari sekelompok berjubah hitam.
“Diam! Jangan mencoba untuk melarikan diri dari kami. Dasar gadis murahan.” ucap ketua berjubah hitam menatap tajam ke Setz.
Tubuh Setz bergemetar dengan menahan air mata, sekelompok berjubah hitam berhenti di depan gua dengan pengawal yang menjaga tempat itu. Mereka langsung membawa Setz ke tempat gelap, dan dingin perlahan-lahan cahaya lilin menerangi gua yang begitu indah membuat Setz ingin mengambil harta karun di gua tersebut.
‘Apa gua ini berisi harta karun? Aku akan mencari kesempatan untuk mengambil harta karun di gua ini dan menjualnya di pasar lokal. Lumayan uang menjual harta karun yang aku dapat dari gua ini untuk beriventasi dengan membangun toko di Ibukota.’
Mereka berhenti di sebuah pintu segera mereka masuk ke ruangan yang cukup luas di lihat, ada sebuah bayangan yang duduk di kursi sedang dari tadi menunggu kedatangan perwakilan sekelompok berjubah hitam yang menculik seorang gadis.
“Yang mulia, kami sudah membawa gadis yang anda perintahkan,” ketua berjubah hitam bertekuk lutut menghadap seseorang yang sudah menunggu kedatangan nya.
“Kalian semua keluar kecuali gadis itu. Aku ingin berbicara berdua dengannya, dan jangan sampai seseorang menguping pembicaraan aku dengan gadis itu. Apa kalian mengerti?” perintah atasan berjubah hitam dengan menunjuk ke arah Setz.
“Kami mematuhi perintah dari anda, Yang mulia. Kami permisi terlebih dahulu,” jawab perwakilan ketua berjubah hitam dan semua orang di ruangan mulai keluar untuk mematuhi perintah atasan nya.
“Kemarilah,” ucap seseorang dengan nada tinggi.
Setz merasa aura dari orang yang duduk di kursi semakin dingin, perlahan-lahan Setz mematuhi perintah orang yang di depannya dengan ketakutan.
Clek!
Petikan jari dari orang yang duduk di kursi membuat ruangan menjadi terang menampakkan wujud orang yang sedang duduk di kursi membuat Setz terpukau dengan wajah tampan nan rupawan namun memberikan sedikit aura mematikan.
“Setz sudah lama kita tidak bertemu, aku sangat senang bertemu denganmu lagi. Aku merindukan dirimu, Setz.” Seseorang memeluk tubuh Setz dengan erat dengan memegang dagu gadis yang sedang berekspresi kebingungan.
“Kamu? Kamu siapa? Kenapa kamu bisa tau namaku?” tanya Setz kepada seseorang di depan nya dengan berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
Pemuda itu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah gadis yang berusaha melarikan diri darinya. Suasana di ruangan cukup meraih para prajurit berjubah hitam terkejut mendengar suara ketawa seseorang di ruangan yang mereka tinggalkan.
“Kamu lucu sekali, Setz. Aku pangeran kedua dari kekaisaran Bizantium yang merupakan keturunan asli kaum serigala. Dan kamu merupakan Putri kedua dari kekaisaran Sakamaki yang merupakan darah campuran vampir dan manusia. Ibumu bernama Yui Komori dan Ayahmu bernama Ayato Sakamaki. Kamu merupakan calon permaisuri dari pangeran keempat kaum serigala tetapi kamu memiliki aroma dari vampir di tubuhmu,”
“Apa maksud anda Yang mulia? Saya tidak mengerti. Saya merupakan keturunan manusia tidak ada berkaitan dengan bangsa vampir maupun bangsa serigala seperti anda, Yang mulia. Lepaskan saya!” Setz berontak dari rantai di kedua tangan dan kakinya.
“Dasar gadis keras kepala.”
Pangeran kedua turun dari kursi melangkah kaki menuju gadis yang sedang berjuang melepaskan diri dari rantai, Pangeran mengangkat dagu gadis tersebut sambil memeriksa dari sudut pandangnya.
“Glen.”
“Ya, Yang mulia. Anda memanggil hamba?”
“Bawa gadis ini ke paviliun bagian selatan dekat kamar pangeran keempat, dan segera suruh pelayan untuk membersihkan badan gadis tersebut. Sisanya suruh pengawal memperketat pengawasan di paviliun jangan sampai ada seseorang mata-mata dari keluarga Duke Devonshire.”
Tangan kanan pangeran kedua menyuruh seseorang membawa gadis tersebut ke paviliun Bizantium yang terletak perbatasan dengan daerah pantai, kereta sudah menunggu kedatangan mereka dan meninggalkan tempat persembunyian bangsa serigala. Setz duduk terdiam di kereta kuda dengan diam-diam mencari cara untuk terbebas dari pengawasan pengawal bangsa serigala.
‘Bagaimana ini? Aku tidak tau apakah ada jalan keluar dari kediaman Bizantium? Aku pengen tau siapa pangeran keempat dari bangsa serigala dan aku akan mencoba negosiasi untuk bisa keluar dari kediaman keluarga Bizantium. Hmm, ide bagus aku akan mencoba hal seperti itu.’
Kereta kuda berhenti di halaman paviliun Bizantium, pangeran yang satu kereta kuda dengan Setz turun dari kereta kuda. Glen membantu Setz untuk turun dari kereta kuda dan menyuruh kepala pelayan untuk membantu Setz.
“Kepala palayan persiapkan kebutuhan nona Setz dan suruh pelayan untuk membersihkan tubuhnya, setelah itu bawa gadis ini ke ruang makan malam bersama dengan pangeran keempat, saya permisi.”
Glen melepaskan tali rantai di tangan dan kakinya serta melepaskan penutup mata tanpa satu katapun Glen meninggalkan kediaman paviliun bagian selatan. Kepala pelayan menuntun Setz menuju kamar yang sudah di siapkan dengan menyuruh empat orang pelayan wanita untuk mempersiapkan perlengkapan wanita yang di bawa pangeran kedua.
“Bolehkah aku bertanya kepada salah satu dari kalian?” ucap Setz menatap para pelayan dari cermin.
“Maaf Nona, anda tidak boleh berkata formal kepada kami. Baiklah kami akan menjawab pertanyaan dari anda tetapi kami memberikan sedikit dari yang anda tanyakan, selebihnya anda bisa bertanya kepada tangan kanan pangeran kedua saja. Bagaimana?” jawab pelayan berambut biru tua menyisir rambut Setz dengan tenang.
‘Sial*n! Aku ingin mendapatkan informasi lebih tentang bangsa serigala, aku akan mencari cara untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang bangsa vampir dan aku akan segera kabur dari kastil Bizantium.’
“Baiklah, aku setuju dengan perkataan kamu–“
“Nama saya Derlian, Nona.” Pelayan berambut biru tua mengalihkan pembicaraan Setz.
“Derlian, aku setuju dengan perkataanmu. Aku ingin bertanya nama dari pangeran keempat itu siapa? Apa tujuan pangeran kedua menculik aku? Mengapa pangeran kedua memaksa aku untuk menikah dengan pangeran keempat? Dan, apakah diantara pelayan di kediaman ini memiliki pola matahari di telapak tangan yang menandakan bahwa kalian akan menjadi pengantin roh?” Setz berdiri dari kursi melangkah ke ranjang dengan berlipat tangan sambil menunggu jawaban dari keempat pelayan.
Setz masih menunggu jawaban keempat pelayan dengan ekspresi datar, beberapa saat kemudian salah satu dari mereka tiba-tiba bertepuk tangan membuat Setz sedikit mengangkat senyum kecil di bibirnya.
“Hahaha… Anda bodoh sekali nona. Saya akan menjawab pertanyaan bodoh anda namun saya ingin anda bertransaksi dengan saya dengan menjadikan saya calon permaisuri pangeran keempat, maka saya dengan senang hati menjawab pertanyaan yang anda katakan. Bagaimana menurut anda, Nona muda?” pelayan berambut pendek melangkah maju dengan mengangkat dagu gadis yang duduk di tepi ranjang sambil tersenyum misterius.
Setz menganggukkan kepala sambil berjabat tangan dengan pelayan di depan nya, “Baik akan saya terima negoisasi anda,” Setz memberikan kode kepada kedua pelayan yang sedang bingung untuk keluar dari kamar.
“Silakan kamu menjawab, jika jawaban kamu tidak sesuai yang aku inginkan aku ingin kompensasi atas jawabanmu. Aku akan memberikan kamu 5 kali lipat dari gajimu di kediaman ini, aku akan memberikan surat nikah resmi dari Yang mulia kaisar kepadamu. Dan aku ingin kamu jangan memberitahu siapapun soal ini, paham?” Setz mendekati pelayan tersebut dengan berbisik di telinga nya sambil tersenyum.
Pelayan tersebut menelan luda mendengar ucapan dari gadis di depan nya, menyusun kata-kata sebelum memberitahu kepada gadis yang sedang menunggu jawaban darinya.
“Sebelum saya menjawab saya akan menambah persyaratan di secarik kertas dan jika anda setuju dengan persyaratan yang saya tambahkan silahkan tanda tangan, saya akan menunggu kabar dari anda, Nona.”
“Silakan! Saya pikir itu tidak masalah.”
“Nama pangeran keempat– Argh!”
Seketika pelayan tersebut merasakan sakit luar biasa dari tubuhnya, Setz membantu pelayan tersebut tetapi tubuhnya terlempar seseorang memegang tubuhnya supaya tidak mengenai meja dengan menahan sakit akibat kayu tumpul di sisi meja.