TWISTED FAKE TIME

TWISTED FAKE TIME
Ch 2 : Pertandingan part 1



Pagi menyinari pemandangan indah di seluruh kekaisaran Voreioton, banyak murid dan guru-guru di akademi yang belum bangun di pagi hari. Setz berkeliling sambil melihat seluruh bangunan akademi, dan duduk di kursi taman untuk beristirahat sejenak sambil memberi makan ikan-ikan di kolam.


“Apakah aku bangun terlalu pagi? Semua orang di akademi ini kemana? Oh ya, aku lupa ternyata aku beda ras sama mereka. Ya Tuhan kenapa jantungku berdegup kencang jika aku bersama Killian? A–aku tidak merasakan hal seperti ini,” Setz melemparkan makanan ke kolam.


Setz sedang asik menikmati waktu sendiri dengan memberikan makanan ke dalam kolam, seseorang menarik rambutnya dengan kuat.


“Argh sakit. Lepaskan.” Setz tidak tahan rambutnya di tarik kencang.


“Kamu wanita penggoda menjauhlah dari pangeran Killian! Aku harap kamu harus tahu bahwa kamu itu wanita yang sangat memuakan. Kamu tidak pantas bersama pangeran Killian dan jangan berharap lebih dari itu. Jika kamu dekat-dekat dengan pangeran maupun para osis di akademi ini, kamu akan tahu akibatnya.” Seorang wanita berambut biru berbisik dengan nada mengancam.


Setz menganggukkan kepala, dan gadis berambut biru melepaskan tangannya dari rambut Setz sambil meninggalkannya sendirian di kolam.


“Benar aku tidak akan cocok dengan keturunan bangsawan, apakah aku bisa melarikan diri dari pangeran?”


Setz merenungkan yang dikatakan gadis yang menarik rambutnya seketika air mata mengalir deras di kedua pipi, tiba-tiba alarm akademi berbunyi semua murid keluar dari gedung asrama. Killian sedang menunggu seorang gadis yang dicintai keluar dari gedung asrama Putri.


“Kok dia lama ya?” Killian sudah berdiri lama di depan pintu masuk asrama Putri.


“Pagi Pangeran,” sapa semua anak-anak di asrama Putri.


Killian hanya menganggukkan kepala sambil menunggu seseorang keluar dari asrama.


“Pagi pangeran, apakah anda mencari seseorang?” tanya salah satu gadis berambut merah.


“Ah, apakah kalian kenal gadis bernama Setz?” jawab Killian kepada gadis berambut merah.


“Oh Setz? Bukannya dia tadi tidak ada di kamar ya?”


“Ha, iya dia tadi tidak ada di dalam kamar,”


“Ah, kalian teman sekamar Setz? Bagaimana bisa dia tidak ada di dalam kamar?”


“Maaf kami tidak tahu pangeran,” jawab berlima sambil menundukkan kepala.


“Sial,” Killian mencari gadis yang dari tadi dia tunggu.


Killian mendobrak pintu ruang pribadi kakak tertua.


“Kak.”


“Bagaimana seorang pangeran tidak tahu tata krama?”


“Sudah lupakan itu, apakah kakak melakukan sesuatu kepada Setz?”


“Setz? Siapa dia?”


“Jawab pertanyaan aku, Kak! Di mana kakak menyembunyikan Setz?”


“Kamu yang jawab pertanyaan kakak terlebih dahulu, Killian.”


“Kak.”


“Huh, aku tidak tahu siapa Setz dan aku tidak menyembunyikan gadis bernama Setz itu. Apa lagi yang kamu ingin katakan?” ucap kakak tertua kepada Killian.


Killian tidak menjawab pertanyaan kakak tertuanya, dia kembali mencari Setz di sekeliling akademi sambil berdoa semoga Setz tidak bertemu dengan Ibunya.


“Aku mohon semoga kamu baik-baik saja, dan aku mohon kamu tidak akan bertemu dengan wanita tua yang menyebalkan itu.”


Di sisi lain, Setz berjalan menuju kamar kecil sebelum kembali ke kelas. Setz sudah tahu hal ini bisa terjadi dan dirinya tidak ingin kabur dari siapapun. Setz ingin kehidupan nya kembali normal seperti yang lain.


“Ah, keadaan aku kacau sekali,” Setz segera merapikan penampilan dan keluar dari kamar kecil.


Semua orang di akademi tatapan nya sama seperti pertama kalinya dirinya masuk ke akademi.


“Setz!” seseorang teriak memanggil namanya dari kejauhan, Setz mengabaikan panggilan tersebut.


“Setz!” seseorang yang memanggil namanya sudah berdiri di depannya dengan sekejap mata membuat Setz terkejut.


“Huh? Bagaimana bisa?” Setz tidak tau harus berkata apa tiba-tiba air matanya yang sedari di tahan kini deras mengalir di kedua pipi.


“Setz, kamu kenapa?” Killian terkejut gadis nya tiba-tiba menangis.


Setz langsung kabur tapi Killian dengan cepat menggengam tangan sambil menarik ke dalam pelukannya. Setz mendorong tubuh dan tangan dari pangeran dengan sekuat tenaga dan mencoba melarikan supaya tidak bertemu dengan pangeran.


“Setz! Tunggu!” Killian mengejar Setz.


Setz berhenti di sebuah ruangan dengan kehabisan napas akibat melarikan diri dari pangeran. Setz melirik ke sekeliling ruangan untuk melihat apakah pangeran mengejar dirinya, dan berbalik badan menutup pintu ruangan.


“Setz?”


“Argh, Ah, bagaimana? Bagaimana pangeran bisa kesini?” Setz terkejut pangeran sudah di ruangan yang sama dengannya.


“Kamu kenapa tidak berkata jika kamu sudah keluar dari asrama? Dan apakah kamu menjauh dariku?” tanya Killian memegang bahu Setz.


“Aku mohon kita jangan bertemu lagi, aku mohon kita tidak mengenal satu sama lain. Aku—“


Killian menarik tubuh Setz dengan mengangkat dagu gadis di dekapannya dengan perlahan-lahan mendekati wajahnya ke wajah gadis yang mencoba memalingkan pandangannya.


“Emghm, Pangeran.”


“Shut diam.” Pangeran menutup bibir milik Setz dengan menutup mata.


Pangeran melepaskan bibirnya dari bibir Setz. Mereka berdua kehabisan napas sebelum menyusun satu per satu yang ingin dikatakan.


“Aku berharap kamu jangan melarikan diri dariku, jika kamu melarikan diri lagi aku akan melakukan lebih dari ini. Aku mohon kamu berkata tidak akan meninggalkan diriku, Setz.” Killian menaruh kepalanya di bahu Setz.


Setz tidak menjawab perkataan pangeran. Killian ingin membuat kontrak di tubuh Setz tapi dia tidak bodoh untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dengan melawan aura liarnya yang berkata lain untuk memiliki Setz menjadi miliknya untuk selamanya.


“Sudah ayo kita ke kelas,” Killian menggengam tangan Setz dengan erat.


Selama perjalanan menuju kelas Setz tidak mengatakan satu kata pun, Killian curiga kenapa Setz tidak mengatakan apapun tapi mungkin saja Setz terkejut dengan sikap egois nya.


Akhir pekan telah tiba Setz berjalan menuju kereta kuda yang sudah terparkir di halaman akademi, seseorang sudah berdiri sambil menunggu kedatangan Setz.


Setz hanya mengangguk mengiyakan sapaan pengawal pribadinya.


“Setz, kamu benar-benar akan datang ke acara kegiatan olahraga nanti malam?” tanya Killian seketika sudah berada di samping Setz.


“Aku tidak tahu bisa datang atau tidak, tapi aku akan berusaha untuk datang ke acara itu,” jawab Setz sebelum masuk ke kereta kuda berlambang keluarga Sakamaki.


“Baiklah aku akan menunggu kamu untuk datang ke lapangan NightBall,” ucap Killian memegang pergelangan tangan Setz.


Setz menaiki kereta kuda dibantu Killian dengan menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan pangeran Killian.


Kereta kuda meninggalkan akademi, Setz menikmati pemandangan kota Privilege sambil menutup mata. Seketika kejadian bersama Killian membuat Setz terkejut dan wajahnya merah meroda.


“Astaga kenapa tiba-tiba kejadian itu muncul? Aku benar-benar tidak percaya melakukan itu untuk pertama kalinya? Ah, tidak! Aku benar-benar tidak ingin mengingat hal itu.” Setz teriak dengan kedua tangan menutupi rona di wajahnya.


Setz sudah tiba di kekaisaran Ghrelin, turun dari kereta kuda.


“Selamat datang nona Setz, senang bertemu dengan Anda, salam kenal saya Baron Aflex Ghrelin.” ucap Aflex menjulurkan tangan ke Setz.


“Senang bertemu dengan anda, Tuan. Terima kasih atas undangan anda,” balas Setz.


“Mari ikut saya, Nona,”


Setz memasuki paviliun Baron, semua orang-orang di paviliun berbisik satu sama lain dengan tatapan hal yang sama seperti pertama kali masuk ke akademi.


“Silakan di minum nona, saya ingin mendiskusikan satu hal tentang perhiasan emas di wilayah Selatan. Apakah menurut nona pribadi tempat itu sesuai dengan harga yang akan di lelang?” tanya Baron Aflex menunggu jawaban dari gadis di depannya.


Setz meneguk sedikit teh dengan melirik ke arah pria tua yang menatap tajam ke arahnya.


“Perhiasan di daerah itu sangat jarang orang datang ke sana, pasti Anda sudah tau tentang rumor daerah itu? Kedatangan saya ke kediaman Ghrelin untuk meminta barang itu, apakah sudah ada?” jawab Setz. baron Aflex hanya terdiam dengan menyuruh ajudannya membawa barang yang di minta Setz.


Tak selang berapa lama ajudan baron Aflex membawa sebuah peti sambil memberikan peti itu kepada tuannya. Baron Aflex menaruh peti di depan gadis yang datang kediamannya.


“Ini yang anda minta nona?”


Setz menggunakan sapu tangannya dan membuka peti yang dibawakan oleh ajudan Aflex, peti tersebut berisi sebuah kalung dengan batu Ruby.


“Ini palsu,” ucap Setz menjauhkan kota peti yang berisi barang tidak sesuai keinginannya.


“Tidak mungkin? Saya sudah membawanya sesuai yang anda minta nona, mana mungkin ini palsu?” Baron terkejut dengan reaksi Setz.


Setz bangkit dari kursi sebelum pergi Setz mengingatkan sesuatu ke Baron.


“Saya benar-benar kecewa dengan anda, Tuan, saya tidak akan ikut kontribusi atas peperangan yang anda katakan. Saya benar-benar kecewa,” Setz langsung keluar dari kediaman Baron.


“Anda ingin ke mana nona?”


“Tolong antarkan saya ke kuil,”


“Baik Nona.”


Selama perjalanan Setz terdiam memandangi langit yang cerah terlintas pikiran yang tidak ingin Setz ingat, tidak tahu kenapa hatinya merasa ada sesuatu yang membuat nya ingin segera kembali ke pelukan hangat dari pemuda yang sudah menggoyahkan hatinya.


“Selamat datang nona Setz,” ucap biarawati memberi salam kepada gadis yang turun dari kereta kuda.


Setz menyalami tangan biarawati, mereka berdua berjalan sekeliling kuil sambil membahas mengenai kondisi orang-orang yang di rawat di dalam kuil.


“Bagaimana keadaan pasien sekarang?”


“Kami sudah berusaha untuk menyembuhkan pasien, para pendeta sudah berusaha untuk mencoba berbagai cara tapi tidak berhasil untuk memberikan perawatan terbaik bagi pasien di sini, Nona. Saya berharap seseorang keturunan Dewi langit bisa membantu kami.” kata Biarawati berdoa dengan memandangi langit-langit kuil Suci.


Setz menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan mana maupun kekuatan penyembuhan, namun Setz tidak pernah berhenti untuk mencoba segala cara menyembuhkan orang di kuil.


“Saya berharap seperti itu, saya permisi terlebih dahulu,” Setz meninggalkan biarawati yang sedang berdoa.


Sinar matahari kini tertutup awan sepertinya akan turun hujan, Setz melewati perjalanan perbatasan pasar Helly Near tidak sengaja dirinya melihat toko kue dan segera dirinya ikut berbaris di antrean pelanggan kue.


“Ah, aku membeli kue terlalu banyak. Ah sayang sekali jika tidak ada yang menghabiskan kue yang aku beli,” Setz mengangkat bungkus kue dengan sedikit wajah cemberut.


“Oh ya, sekarang jam berapa? Semoga aku tidak telat,” Setz segera menaiki kereta kuda meninggalkan perbatasan kota.


Kereta kuda berhenti di halaman akademi, Setz turun dari kereta kuda tiba-tiba seseorang sudah menunggu kedatangannya segera Setz memegang tangan seorang pemuda.


“Hati-hati turun nya, aku senang kamu tidak terlambat ke festival olahraga,”


Killian memegang telapak tangan Setz dengan lembut menuju lapangan olahraga di gedung H. Semua murid-murid terus-menerus membicarakan ketua osis di akademi.


Ya. “Killian” yang sering menjadi bahan gosipan satu akademi karena memiliki kekasih beda ras. Killian adalah ketua osis dan perwakilan dari akademi Night Brow. Killian murid tampan yang memiliki mata dengan berwarna ungu, berambut hitam pekat dengan memiliki zona V di area wajah memiliki kulit seputih salju namun Killian tidak terlalu banyak berbicara. Killian menjadi pria yang memikat hati wanita memiliki julukan Ksatria Cinta.


“P-pangeran apakah anda bisa melepaskan genggaman tangan? Sepertinya semua murid di sini tidak suka aku bersama anda,  Pangeran. Aku tidak suka kamu seperti ini, dan tolong lepaskan tanganmu dariku.” Setz sudah berusaha melepaskan genggaman Killian.


“Tenang saja dan lupakan tatapan mereka yang memuakan. Aku memohon kamu jangan menghilang dari hadapanku lagi. Kamu duduk di kursi ini,” ucap Killian menarik tangan Setz ke kursi sebelah tempat duduknya.


Setz langsung duduk disamping pemuda yang selalu memegang erat tangannya, tatapan dari murid membuat Setz merasa seperti di tikam dari belakang. Killian kembali menatap tajam ke arah murid yang tadi menatap ke arah Setz.


“Pangeran apakah kegiatan ini selalu menjadi ekstrakurikuler wajib di ikutin?” tanya Setz mengubah topik pembicaraan.


“Tidak wajib, tapi ekstrakulikuler ini merupakan budaya di akademi pada setiap malam pada akhir pekan. Selain ekstrakulikuler basket ini banyak ekstrakurikuler yang bisa di ikuti siswa di akademi di sini. Apakah kamu ikut ekstrakurikuler?” tanya Killian memberikan minuman yang sudah di buka tutupnya kepada Setz.


“Aku tidak tau mau ikut ekstrakurikuler apa? Aku sebenarnya malas ikut ekstrakurikuler, tapi karena peraturan akademi mewajibkan untuk ikut ekstrakurikuler jadinya aku ingin masuk ekstrakurikuler bola voli, aku tidak diterima di ekstrakurikuler bola boli karena masalah tinggi badan aku yang tidak sesuai dengan persyaratan nya jadinya aku tidak bisa ikut ekstrakurikuler," Setz meminum air dengan melihat kegiatan bola basket bersama Killian.


Killian sedikit terkejut dengan alasan yang diberikan Setz akan tetapi beda ras membuat Killian harus belajar untuk memperdalam pemahaman tentang perbedaan yang begitu ketat.


“Aku pergi dulu ya, kamu di sini sambil menonton pertandingan aku dan jangan pergi dari tempat ini sebelum aku kembali ke sini setelah selesai pertandingan. Mengerti?” Killian berdiri dengan mengelus lembut kepala Setz sebelum ke pertandingan di mulai.


Setz menggangguk-angguk kepala sebagai jawaban, Killian turun dari kursi penonton menuju ke lapangan untuk memenangkan pertandingan basket bersama timnya.


Bersambung…


Happy Reading~