Truth Or Dare

Truth Or Dare
Renan



Kira menoleh menatap Rahma. " Gue," tunjuknya pada diri sendiri. " Punya pacar kayak dia," kira menunjuk ke depan arah berlalunya renan. " No...no..no," kira menggoyangkan jarinya ke samping.


" Kalau Lo mau nyerah masih ada waktu kok," ucap Rahma mengompori.


Kalau menyerah juga tidak langsung membuat hidup kira jadi tenang. Dia malah akan jadi pesuruh kedua temannya selama sebulan. Itu sudah menjadi kesepakatan mereka bertiga. Lagi pula kira sudah mencoba sejauh ini jadi tidak ada kata menyerah dalam kamusnya.


" Nggak! Gue nggak akan nyerah, karena gue udah tertantang untuk bisa buat cowok sombong itu jadi sadar dan wujudin keinginan gue."


" Sekarang tergantung lo-nya sendiri, udah siap belum terima segala kemungkinan yang akan terjadi termasuk kata-kata kak renan yang udah 100 persen bakal bikin Lo nyesek," tantang diba.


Tidak dipungkiri beberapa kata-kata renan memang sempat membuat nyali kira menciut dan dirinya down hingga berniat tidak akan melanjutkan kembali misi ini.


Kira menggeleng. " Gue akan buktiin kalau gue bisa," ucapnya penuh semangat. " Renan bukan sulit ditaklukan hanya saja gue belum dapet cara buat naklukin dia. Tunggu aja!"


" Nah, itu baru namanya kirania yang gue kenal. Tapi gue masih ragu kalau Lo bisa selesaikan misi itu dengan tepat waktu."


" Why not?"


" Udah banyak cara yang coba buat kenalan sama kak renan, tapi dia masih tetap aja cuek sama lo. Dan Lo tau kan kalau satu-satunya cewek yang deket sama kak renan ya cuma kak Gita. Misi kenalan Lo terancam makin lama Ra," diba mulai menakut-nakuti kira.


" Lo jangan bikin gue down lagi dong, tapi gue yakin gue pasti bisa tanpa harus merubah apapun dari diri gue."


" Ouh ya," kompak Rahma dan diba meremehkan.


" Ish, Lo berdua tuh ngeselin," kira langsung memiting leher kedua sahabatnya sambil membawa mereka masuk ke dalam sekolah.


***


Suasana koridor sudah sangat sepi karena bel masuk baru saja berbunyi, tapi dengan mental baja seadanya yang kira miliki, dia tengah berjalan sendirian di koridor kelas 12 tepatnya dijajaran kelas renan. Kira terus memegang erat botol air mineral yang ada ditangannya dengan mulut terus berkomat Kamit agar aksinya ini tidak ketahuan guru.


Kira berinisiatif untuk menemui renan dan memberinya botol air mineral agar renan tersentuh oleh perhatian kira. Waktu istirahat kelas renan memang sedikit telat karena waktu olahraga sedikit di perpanjang oleh guru olahraga. Seluruh penjuru kantin sudah kira jelajahi hanya untuk menemukan renan tapi kantin lebih dominan oleh teman sekelas renan. Dan akhirnya kira pergi menemui cowok itu dikelasnya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Belum sempat kira masuk ke dalam kelas cowok itu, renan sudah lebih dulu keluar dari dalam, sepertinya dia hendak pergi menyusul teman-temannya ke kantin.


" Hai kak," sapa kira sambil menatap renan lalu tersenyum. " Aku bawain kakak minum biar nggak dehidrasi, pasti capek abis olahraga," katanya lagi kali ini sambil mengangkat botol air ditangannya.


" Kalau ada yang perhatian kenapa kakak harus jauh-jauh pergi ke kantin," kira mengulurkan botol air itu ke hadapan renan tapi Renan hanya menanggapinya dengan sebelah alis terangkat.


Merasa tidak mempan untuk mengusir kira dengan hanya mendiamkannya kali ini renan menatap kira begitu dingin dan tajam berharap sekarang juga cewek itu segera menyingkir dari hadapannya.


" Jangan natap aku kayak gitu kak, kita baru mau kenalan loh, nanti kakak udah suka duluan Sama aku."


Respon kira sungguh diluar dugaan renan. Dia cukup salut keberanian kira yang tidak pernah pudar berbeda dengan cewek lain yang langsung kabur ketika mendapat satu kali gertakan dari renan.


" Kayaknya Lo jadi cewek kurang kerjaan banget, kalau mau jadi cewek gatel cari cowok lain jangan sama gue," tembak renan. " Makanya ngaca dulu dan inget lagi kata-kata gue, Lo itu nggak lebih dari sebuah titik hitam yang nggak ada artinya di mata gue dan nggak akan pernah menarik perhatian gue," tambahnya lagi.


Kira sudah membulatkan matanya dan tanpa sadar mulutnya juga ikut terbuka. Dia sungguh terkejut dengan ucapan pedas renan. Mungkin ini yang renan sebut tidak akan membuat hiudp kira tenang. Pertama dengan membuat mental kira menjadi down oleh kata-kata pedasnya. Meski amarahnya mulai sedikit terpancing tapi kira berusaha untuk terlihat biasa saja dan mulai sekarang dia harus menjadi cewek tahan banting.


Renan mencondongkan badannya ke arah kira hingga wajah mereka kini saling berhadapan dengan jarak yang begitu tipis, Kemudian berbisik dengan suara penuh pelan tapi begitu menusuk ke hati dan telinga kira


" Murahan. Gue sama sekali nggak tertarik sama cewek kayak Lo. Kalau Lo mau kenalan sama gue, Lo cukup tau tentang gue tapi gue nggak minat utuk tau tentang lo. Paham?"


Kira sudah mengatupkan rahangnya rapat-rapat, bersiap menumpahkan semua amarah yang kini sudah berada di ubun-ubun kepala. Ingin sekali rasanya kira berteriak memberi pembelaan atas ucapan renan yang mengatakan kalau dirinya murahan. Tapi kira kembali teringat ucapan diba tadi pagi kalau kira Memang harus menguatkan hati untuk ini dan mengingat juga tujuannya mendekati renan.


Renan tidak peduli dengan perubahan ekspresi wajah kira yang terlihat begitu marah. Dia kembali menegakkan tubuhnya lalu melangkah melewati kira sambil menabrak bahu cewek itu hingga botol air yang sedari tadi dia pegang jatuh begitu saja dan menggelinding.


Kira berbalik menatap punggung renan dengan mata berapi-api. Tangannya sudah mengepal kuat. Dia juga sempat menghentakkan kakinya demi sedikit menyalurkan rasa kesalnya. Ingin sekali kira berteriak sekencang-kencangnya mengeluarkan semua umpatannya untuk renan tapi itu sama saja akan menambah masalah kira dengan guru BK. Seumur hidupnya, belum pernah kira bertemu dengan cowok sombong seperti renan.


Merasa kekesalannya masih memuncak kira menatap apa saja disekitarnya yang akan dia jadikan pelampiasan agar amarahnya tersalurkan. Hingga matanya menangkap botol air miliknya yang airnya sudah tumpah. Kira mengambilnya lalu meremasnya sekuat tenaga hingga botol itu tak berbentuk lagi. Masih merasa kesal, kira berniat melemparnya ke arah punggung renan yang belum terlalu jauh melangkah dari hadapannya.


" Dasar cowok sombong," gumamnya pelan sambil mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melempar botol itu dengan harapan lemparannya tepat mengenai kepala renan agar cowok itu amnesia dan sifat sombongnya hilang.


Kira tersenyum puas meski botol itu terlempar hanya mengenai kaki renan tapi lumayan rasa kesal kira sedikit tersalurkan. Dia berbalik pergi hendak kembali ke kelas sambil mendengarkan musik, tapi kira kehilangan headshet nya yang dia simpan disaku baju. Kira berbalik untuk mencari benda putih itu yang mungkin saja terjatuh dan benar saja benda itu tergeletak di lantai tempatnya tadi memungut botol air mineral.


Kira hendak melangkah untuk mengambil headshet-nya tapi melihat pergerakan renan yang sepertinya akan berbalik juga kira mengurungkan niatnya untuk melangkah dan lebih memilih untuk bersembunyi di balik tembok. Kira makin merapatkan tubuhnya pada tembok ketika mendengar derap langkah kaki yang kian mendekat. Jarak headshet dan tempat persembunyian kira hanya sekitar beberapa Senti, dan kemungkinan besar renan bisa langsung menemukan kira dan masalah mereka akan tambah panjang.


Kira makin menggigit bibirnya kuat ketika mengintip dari balik tembok dan melihat renan tengah memungut headshet-nya. Cowok itu celingukan, sebelah tangannya sedang meremas botol yang tadi mengenai kakinya. Kira kembali bersembunyi ketika renan mulai menatap curiga ke balik tembok. Langkahnya pelan namun masih terdengar jelas oleh kira. Bahkan kini hanya menoleh saja kira sudah bisa melihat ujung sepatu renan serta jari cowok itu yang memegang pinggir tembok dan yang bisa kira lakukan sekarang hanyalah menutup mata pasrah pada apapun yang akan terjadi.


"Renan!"