Truth Or Dare

Truth Or Dare
14. Black Rose Festival



Kehidupan Gavi setelah mendapati skors satu bulan tidak mendapatkan perubahan yang signifikan. Sebagai pengangguran, tidak banyak hal yang Gavi lakukan di rumah. Beberapa kali ia bertemu dengan alvyn untuk sekadar berbincang dan nongkrong di tepi danau. Sedangkan sejak kejadian itu, Gavi masih belum sempat bertemu dengan Kilik. Lelaki itu sepertinya sudah tidak mau berteman dengan Gavi karena responsnya ketika Gavi dan Alvyn kerumahnya.


Di bulan Agustus. Saat bulan purnama merah mulai menampakan diri, seluruh warga Light Vampo akan melaksanakan satu festival perdamaian yang biasa disebut dengan Black Rose Festival. Acara ini biasanya dilaksanakan setiap setahun sekali bertepatan di perbatasan hutan Dark Vampo.


Tidak ada alasan untuk Gavi hadir setiap tahunya. Ia tidak terlalu suka berada di acara itu, karena biasanya banyak petinggi wilayah yang hadir dan acara berjalan terlalu kaku. Pada malam bulan merah biasanya Gavi menghabiskan waktu untuk tidur dan bermimpi indah.


Malam itu menjadi malam yang menarik bagi dirinya untuk hadir di acara Festival Black Rose. Gavi penasaran dengan rumor terkait petinggi wilayah yang sempat gempar di wilayah Vampire. Ia memutuskan untuk pergi dengan Alvyn.


Berjalan seorang diri dalam kegelapan malam, Gavi harap Alvyn ada di rumahnya.


“Ada orang di rumah?” Gavi mengetuk rumah Alvyn. Namun tidak ada jawaban.


“Alvyn! Kau di dalam?” teriak Gavi.


Karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Alvyn yang entah ada di dalam atau tidak, Gavi sekonyong-konyong bejalan menjauh dan melanjutkan perjalanan ke festival seorang diri.


Sialan.


Sesampainya di depan gerbang taman Dark Vampo, Gavi berdiri tegak sebelum melangkah masuk. Ia melihat banyak sekali warga yang datang menghadiri acara. Anak-anak bermain berlarian, banyak penjual camilan, ada remaja-remaja nakal, orang tua, semua ada.


Gavi perlahan masuk ke taman, ia mengedarkan pandangannya. Sepertinya acara belum dimulai. Gavi bergumam.


“Gavi!” panggil seseorang.


Gavi menoleh dan mendapati seorang anak kecil berusia tujuh tahun. “Aztel? Kau sendiri?” Gavi menatap anak yang sedang memakan gulali darah itu.


Aztel adalah keponakan Gavi. Terkenal dikalangan keluarga besar Gavi sebagai anak nakal yang suka membuat onar. Namun meski begitu, Azter adalah anak yang cerdas. Hal ini dibuktikan dengan pencapaian dirinya untuk mendapatkan gulali tersebut. Seseorang baru bisa mendapatkan gulali darah ketika bisa memecahkan teka-teki dari Tuan Amor di penjual gulali gembrot.


“Hmmm, aku dengan ibu,” ujar Aztel mendekat.


“Di mana ibumu?” tanya Gavi.


Aztel menunjuk ke sebuah kerumunan. Dalam hati Gavi memang terbesit pikiran untuk pergi ke sana.


Gavi bergegas meninggalkan Aztel sendirian dengan gulalinya. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat seseorang tidak asing sedang duduk di barisan paling depan guna menonton pertunjukan utama.


Sepertinya tidak asing. Apakah itu ... Lea?


Bersamaan dengan pikiran Gavi, gadis itu menengok ke arah kiri. Gavi benar-benar terkejut melihat Lea yang duduk di samping Mr. Harry, seorang petinggi ras Vampire di bidang ekonomi dan bisnis. Tanpa pikir panjang, Gavi langsung mendekat.


“L-lea?” Gavi menepuk pundak gadis itu perlahan.


Lea menoleh dan terkejut menatap wajah Gavi. “Gavi?” Matanya mulai berkaca-kaca.


“Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana bisa?” Gavi segera duduk di samping Lea dengan canggung.


“Ceritanya panjang,” ujar Lea yang kini matanya mulai mengeluarkan air mata.


Akhirnya setelah sekian lama, itu adalah percakapan pertama antara Gavi dan Lea. Sebenarnya Gavi teringat kembali kenangan-kenangan kurang mengenakan ketika ia ada di wilayah Human. Gavi ingat bagaimana dirinya ditampar oleh tangan mulus Lea, sampai ia ingat surat misterius Lea yang diberikan padanya. Namun, melihat Lea yang murung, Gavi merasa kasihan juga.


“Jika kau mau bercerita aku siap menjadi pendengar yang baik untukmu, Lea.” Senyuman canggung masih tersirat dari wajah pucat Gavi.


“Kau lihat wanita itu?” tunjuk Lea pada seseorang yang sedang mengbrol asik dengan istri petinggi ras lainnya. “Itu adalah ibuku. Seharusnya kau sudah tahu juga terkait rumor yang sempat beredar dari keluarga petinggi ras Vampire, kan?” Gavi masih tidak merespons, ia benar-benar mendengarkan Lea dengan saksama. “Ya, begitulah, Ibuku menikan dengan Mr. Harry.”


“Kau tahu? Betapa sulitnya berada di posisiku. Ayahku meninggalkan kami ketika adikku masih bayi, ibuku menjadi pecandu narkoba dan sempat ditahan menjadi narapidana, adikku tidak ada yang mengurusnya dan terpaksa tinggal di panti asuhan perkampungan ceri, dan sekarang? Ibuku malah menikah dengan seseorang yang sudah jelas rasnya berbeda dengan kami.” Tangis Lea pecah di saat itu juga. Semua pandangan tertuju ke arah Lea.


“Nak, ada apa?” Ibu Lea menghampiri anaknya yang menangis tersedu-sedu.


Lea tidak menjawab untuk itu Gavi yang menanggapinya. “Eh, tidak ada masalah nyonya. Saya Gavi, teman dekat Lea ketika di Normal Alexandria University. Kami sedang bernostalgia, tetapi sepertinya Lea terbawa suasana.” Gavi mencoba dengan tenang menjelaskan dan memberikan senyuman.


“Sabar ya, Sayangku.” Ibu Lea tidak sepeduli itu pada anaknya, karena setelah mengucapkan kalimat itu, ia langsung pergi dan kembali mengobrol dengan wanita karir lainnya.


“Lea, ikut aku.” Gavi menarik tangan Lea dan menjauh dari kerumunan di sana.


Gavi berniat menghibur Lea, karena dirinya tidak tahu apa yang musti dilakukan selain menghibur Lea. Ia akan membawa Lea berkeliling festival agar perasaan Lea tidak terlalu tegang.


Gavi mengajak Lea untuk naik satu wahana di festival tersebut yakni bianglala. Duduk berhadapan, agar bisa berbincang dengan serius.


“Maafkan aku, Gav. Ketika aku menamparmu itu karena aku sakit hati. Ternyata orang yang aku suka dengan orang yang akan menjadi ayahku adalah seorang Vampire. Aku tidak menyangka akan hal itu. Aku minta maaf.”


Perkataan Lea itu membuat senyum manis yang sebelumnya tersirat di wajah Gavi memudar dengan cepat. Gavi tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan sepatah katapun tidak bisa keluar dari ucapannya.


“Kau sudah membaca suratku, kan?” tanya Lea heran ketika melihat respons Gavi yang di luar dugaan.


“Surat?” Gavi masih kikuk.


“Ya, aku menyatakan perasaanku padamu di surat itu. Aku juga menggambar wajahmu di sana, kau tidak membacanya?” Lea mengerutkan dahinya.


“Bukankah itu surat skema peledakan bom?” Dengan polosnya Gavi mengutarakan kalimat yang membuat Lea semakin terheran-heran.


“Bom? Jelas itu mukamu, Gav.” Terdengar dari nada bicaranya Lea menjadi sedikit bad mood.


Gavi menjadi sangat kebingungan. “Eh ... sebenarnya aku kehilangan kertas itu, ketika aku sedang mencarinya, ternyata surat itu ada di tangan Alvyn, dan aku buka itu isinya skema bom.” Lelaki kikuk itu mencoba menjelaskan pada Lea.


“Kau tidak curiga pada Alvyn?” tanya Lea menyipitkan matanya.


“Hmmm, Alvyn mendapatkan kertas itu ketika aku menjatuhkannya.” Gavi kembali berpikir semua kejadian yang telah terjadi.


Perbincangan menarik antara Gavi dan Lea di bianglala berlangsung cukup lama. Bianglala itu tidak memutar seperti pada umumnya, melainkan melayang di udara secara acak dengan waktu yang ditentukan oleh penumpang sendiri.


Gavi dan Lea memutuskan untuk turun dari benda melayang itu setelah acara di Festival Black Rose berada di acara puncak dan penutupan. Keduanya berjalan ke depan panggung, pertunjukan aksi Vampire dari berbagai jenis dan kekuatan ditampilkan.


Malam itu menjadi malam yang sangat bahagia untuk Gavi. Akhirnya ia memutuskan untuk berteman dekat dengan Lea. Keduanya merencanakan untuk bertemu kembali esok harinya. Gavi pulang ke rumah dengan senyuman yang paling lebar.


“Ada yang membuat perasaanmu bergejolak, Nak?” tanya sang ibu secara tiba-tiba, ketika Gavi melangkah menuju dapur.


“Haha, tidak, Bu. Hanya saja orang yang aku suka ternyata suka padaku juga.” Secara gamblang Gavi mengatakan hal tersebut pada ibunya.


“Coba, coba, ceritakan pada ibu.” Wanita yang tadinya sedang memotong cabai itu langsung memalingkan badan dan duduk tepat di hadapan anaknya yang sedang minum.


“Entahlah ....” Gavi hampir tersedak melihat perlakuan ibunya.