
Suasana malam itu sangat kaos. Terlihat dari jendela ruang rektor semua orang mencoba menyelamatkan para mahasiswa Magicology yang menjadi korban pengeboman dan kebakaran itu. Lebih dari lima ambulance datang untuk evakuasi.
Profesor Pablo yang juga basah kuyup karena datang ke tempat kejadian perkara pun menatap kecewa satu per satu mahasiswa yang dipanggil untuk menghadapnya.
“Ceritakan kronologisnya,” katanya dengan tegas. Tidak ada yang bergeming, kelimanya masih dalam keadaan terkejut. “Siapa pun.”
“Baik, jadi begini, Profesor.” Gavi memberanikan diri untuk mulai menjelaskan.
Namun, Leo segera memotongnya dan ikut berkata. “Biar aku yang menjelaskan.” Leo meyakinkan Gavi dengan anggukan. “Begini, Profesor. Kejadian rincinya kami tidak tahu apa penyebab dari ledakan itu terjadi. Sulutan api pun kami tidak mengetahuinya berasal dari mana karena kami berlima sedang ada di luar aula saat itu. Namun, saya yakin dari bau asap kebakaran tersebut masalah utamanya adalah patung kelelawar yang dibuat oleh Gavi dan kawan-kawannya sebagai objek pemanas ruangan.”
Mendengar hipotesis itu Gavi memelotot dan mecona menyela Leo. “Hey! apa maks ....”
“Tidak sopan kau menyela pembicaraanku, ya?” Nada bicara Leo yang meninggi membuat Gavi, Alvyn, dan Kilik muak. “Mengapa saya yakin? Profesor, mereka bertiga adalah ras Vampire. Seperti yang kita ketahui bahwa hubungan ras Vampire dan manusia tidak akan pernah baik, ini sesuai dengan pernyataan para ahli di buku sejarah. Profesor bisa mengeceknya. Kedatangan mereka ke sini untuk menghancurkan citra kampus ini. Profesor, kau sama sekali tidak curiga pada mereka?”
Geram dengan pernyataan Leo, akhirnya Gavi mendaratkan satu pukulan di pipi presiden mahasiswa itu. Tubuh Gavi dengan cepat di hadang oleh Alvyn dan Kilik. Leo yang tersungkur segera dibangunkan oleh Allecia.
“Hey! Kalian tidak sopan, ya!” Profesor Pablo sangat marah dengan kelakuan mahasiswanya ini. “Allecia, bawa Leo ke luar minta suster untuk obati dia dan kalian bertiga tetap di sini.”
Leo dengan mulutnya yang berdarah tertatih-tatih dibawa oleh Allecia keluar ruangan. Kedua lengan Gavi masih digenggam erat oleh kedua temannya.
“Duduk,” perintah Profesor Pablo. “Berikan saya nomor pihak Juvenile Academy.”
Kilik yang hapal dengan nomor telpon Profesor Vincent, memberikannya secara verbal. Percakapan yang sangat intens terjadi antara Profesor Pablo dan Profesor Vincent.
...-----ooo-----...
Gavi, Alvyn, dan Kilik kembali ke asrama untuk berkemas. Mereka akan dipulangkan malam itu juga. Hal ini membuat ketiganya di keluarkan dari Normal Alexandria University secara tidak hormat. Profesor Vincent akan datang menjemput mereka dua jam lagi.
“Leo, anak itu, benar-benar ba**sat!” Gavi membanting pintu kamar dan memukulnya.
Alvyn yang se dari tadi mencoba untuk menahan emosinya pun akhirnya meledak. “Tolol! Anak tolol! Dia pikir dia siapa, huh? Lihat saja, akan kupatahkan kepalanya.”
“Sudah, sudah, mau bagaimana lagi. Kita harus berkemas sebelum Profesor Vincent datang.” Kilik yang berurai air mata mengeluarkan kopernya yang sudah rapi.
“Kalau begini, nasib kita di Juvenile Academy bagaimana? Kita jelas akan di keluarkan!” Kini Choco yang menjadi korban teriakan Gavi.
Kekecewaan Gavi, Alvyn, dan Kilik benar-benar tercurahkan malam itu, dengan suara petir yang menyambar-nyambar membuat suasana semakin mendukung. Sampai akhirnya pintu kamar mereka diketuk. Gavi membukanya dan sesuai dugaan itu adalah Profesor Vincent bersama beberapa staf dari Normal Alexandria University.
Ketiganya mengikuti langkah Profesor Vincent dari belakang tanpa bergeming. Muka masam Profesor jelas tergambar dan kekecewaan pun terlukis di atasnya. Gavi, Alvyn, dan Kilik pun dibawa pulang ke wilayah ras Vampire.
...-----ooo-----...
Gavi melangkah dengan penuh penyesalan seraya membawa kopernya. Ia pulang ke rumah dengan perasaan yang kacau.
"Rasanya aku ingin menangis, agh aku kecewa!"
“Ibu ....” Tangisan Gavi tidak terbendung. Dirinya menangis sejadi-jadinya.
Sang ibu yang kaget ketika melihat kondisi anaknya yang kacau segera lari menghampiri dan memeluknya. “Nak!”
Gavi dibawa masuk. Sang ibu tidak bertanya apa-apa sampai tangisan Gavi mereda. Gavi sudah dewasa, tetapi ketika dirinya benar-benar merasa kecewa, tangisan akan keluar secara otomatis dari dirinya. Lelaki yang tukang marah itu terlihat seperti anak kecil ketika menangis. Cukup lama sampai akhirnya mereda.
Ibu Gavi memberikan teh hangat untuk anaknya. “Minumlah, agar kau rileks.” Gavi segera menengguknya. “Jadi, kau mau bercerita pada ibu?”
Gavi menceritakan seluruh kejadian yang menimpanya beberapa jam yang lalu. Bagaimana dirinya mendapatkan fitnah dari Leo, cacian dari Profesor Vincent, dan surat skors selama satu tahun dari pihak Juvenile Academy. Ibunya sangat sedih mendengar itu semua. Ia tidak tahu informasi apa pun dari Choco karena kelelawar itu selalu dikurung oleh Gavi.
Ayah Gavi tidak ada di rumah, seperti biasa pria itu menjalankan tugas untuk mengajar bahasa lintas wilayah.
Ibu Gavi sama sekali tidak berniat memarahi Gavi, ia sangat bersyukur karena anaknya bisa kembali pulang dengan selamat tanpa luka sedikit pun. Ibu Gavi mencoba tegar dan menghibur Gavi.
“Baguslah, kau tidak perlu bersekolah dan bisa membantu ibu setiap hari.” Jelas lelucon itu tidak membuat suasana kembali membaik. Senyuman dari sang ibu justru membuat Gavi kembali mengeluarkan air matanya.
“Ibu ... maafkan aku, aku tidak bisa menjadi mahasiswa yang baik. Aku banyak melanggar peraturan, aku salah, Bu. Aku minta maaf.” Kini hanya ucapan itulah yang bisa keluar dari mulut Gavi.
“Sudah, sudah. Tidak apa-apa. Meskipun ras Vampire serba sempurna, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk kita melakukan kesalahan. Itu wajar, apalagi kau sebagai seorang Vampire remaja menuju dewasa.” Perkataan sang ibu membuat Gavi terenyuh dan merasa damai.
“Tunggu, mengapa badanmu basah semua? Di luar langit sangat hitam cerah.” Baru menyadari anaknya basah kuyup, Ibu Gavi menyuruhnya untuk segera mandi sebelum terserah flu.
Selesai mandi, Gavi masuk ke dalam kamarnya dan duduk termenung. Pikirannya mulai menerka-nerka dengan semua kejadian yang ada.
“Oh, di mana gumpalan kertas yang diberikan Lea?” Gavi segera mencari-cari barang yang dimaksud, tetapi ia tidak menemukannya. “Ah, sial. Hilang.” Gavi kembali duduk di kursi meja belajarnya. “Menambah pikiran saja. Pasti jatuh di kampus.”
Tidak berlarut dengan itu, pikiran Gavi kembali bergelut. Ia memikirkan kenapa Leo bisa menjadikannya umpan, kenapa Lea datang kemudian pergi setelah Gavi berpidato, dan apa sebenarnya yang ada di gumpalan kertas yang diberikan Lea.
Sebenarnya dari awal Gavi dan teman-temannya datang di wilayah Human, semua kejadian terasa janggal. Gavi berpikir bahwa dirinya justru menjadi pembawa sial untuk semua kejadian yang menimpanya dan teman-temannya. Dalam lamunnya Gavi kemudian menyadari bahwa jendela kamarnya ada yang mengetuk.
Gavi melangkah mendekat dan membukanya. “Alvyn?” Ia mempersilakan sahabatnya itu untuk masuk.
“Kau perlu tahu ini.” Alvyn memberikan gumpalan kertas yang sebenarnya Gavi cari-cari dari tadi.
“Dari mana kau dapat?” tanya Gavi.
“Ini terjatuh ketika kau ribut dengan Leo. Aku mengambilnya dan baru ingat ketika aku sampai di rumah. Karena penasaran aku membukanya, coba kau lihat,” jelas Alvyn seraya duduk di tempat semula Gavi duduk.
Gavi membuka gumpalan kertas itu. “Lea?” Ia sangat terkejut.
Alvyn mengangguk. “Benar, gadis itu berniat membunuh kita.”