
" Ra, sebenernya Lo mau ngapain sih, udah nyuruh Dateng pagi-pagi sekarang nyuruh bawa buku sebanyak ini," kesal rahma.
Bukan tanpa alasan Rahma begitu kesal. Bayangkan saja, sejak pukul 4 subuh kira sudah mengirim. Pesan Line kepada Rahma dan diba secara beruntun hanya untuk menyuruh mereka agar datang pagi-pagi sekali. Sampai di sekolah, kira kembali menyuruh kedua temannya itu untuk membawakan buku paket yang jumlahnya 7 buku dengan masing-masing buku tebalnya hampir 5cm.
" Kalau dia nggak mau diajak kenalan baik-baik, gue yakin dia masih punya hati untuk nolong cewek yang lemah," ucap kira sangat yakin.
" Maksud Lo apa?" Tanya diba.
Kira diam tidak menjawab. Dia menghiraukan pertanyaan-pertanyaan bingung yang dilontarkan Rahma dan diba kepadanya. Kini ketiganya sedang berada dikoridor utama sekolah. Hari memang masih sangat pagi. Bahkan belum banyak murid yang datang. Dan yang sedang dilakukan kira adalah menunggu targetnya datang. Rencana ini sudah kira pikirkan matang-matang sejak semalam. Bahkan dia sudah membayangkan berbagai hal yang akan terjadi termasuk sebuha ending yang manis.
Cara ini masih sama, cara yang dia dapat dari sebuah artikel. Tapi di artikel tersebut tertulis kalau cara ini sangat ampuh. Kira juga sengaja melibatkan dua temannya, selain karena buruh bantuan mereka, kira juga membuktikan kalau renan mau bersimpati padanya hingga akhirnya dia mau berkenalan dengan kira. Renan bukan susah untuk ditaklukan hanya perlu taktik jitu saja untuk mendekatinya.
" Ra, sebenernya Lo mau ngapain sih, gue pegel nih," keluh Rahma. Dia memindahkan sebagian buku ditangannya ke tangan diba.
" Eh ma, Lo gila ya, berat tau," kesal diba sambil mencoba menyeimbangkan semua buku yang kini berada ditangannya.
Sedangkan kira masih terus fokus menatap ke arah gerbang agar dia tidak melewatkan kedatangan renan. Dan penantian pun tidak berakhir sia-sia, dan setelah beberapa saat menunggu, renan pun datang. Kira segera menyuruh kedua temannya untuk bersembunyi sambil mengambil alih semua buku yang ada di tangan diba.
Mereka yang masih belum mengerti apa yang akan kira lakukan akhirnya hanya menurut saja. Hanya satu ucapan terakhir kita yang masih mereka ingat sebelum cewek itu pergi.
" Jangan lupa rekam moment lanka yang sebentar lagi terjadi."
Oleh karena itu, Rahma sudah bersiap dengan kamera ponselnya.
Kira mulai berjalan berlawanan arus dengan renan. Matanya lurus menatap ke depan. Dan drama pun dimulai. Dia berpura-pura mencoba menyeimbangkan buku yang ada ditangannya dengan langkah kalau yang dibuat sempoyongan. Begitu dia dan renan hampir berpapasan, kira sengaja menjatuhkan diri hingga semua buku jatuh dan berserakan di lantai. Kira mulai mengaduh sambil memegangi lututnya.
Kira sudah besar kepala, menyangka renan akan berjongkok dihadapannya, membantunya memunguti semua buku lalu mengulurkan tangannya membantu kira berdiri. Namun yang terjadi justru sangat berbeda jauh dari khayalan kira. Renan berjalan melewatinya begitu saja bahkan ada salah satu buku yang sempat tertendang oleh renan dan terlempar jauh.
Ditempatnya kira sudah kesal bukan main. Kalau tidak mau menolong bisakah renan tidak usah menendang bukunya. Pada buku saja renan tidak peduli apalagi dengan orang lain, cowok itu seperti robot yang tidak memiliki perasaan. Dan yang tambah membuat kira geram terhadap renan adalah buku yang renan rendang itu buku hasil kira meminjam dari perpustakaan. Dia sengaja memilih buku yang berukuran tebal. Meski awalnya petugas perpustakaan tidak mengizinkan karena itu adalah buku tebal yang memang sangat diperhatikan dan disimpan khusus karena mudah rusak dan bagiannya mudah copot. Tapi akhirnya berkat kata-kata gombal kira akhirnya petugas mengizinkan dengan satu catatan agar kira menjaga buku itu baik-baik.
Dan tadi buku itu ditendang oleh renan hingga terlempar membentur tembok. Kira tidak tau jadinya buku itu sekarang. Kalau covernya sampai lecet atau bagiannya ada yang copot bisa-bisa kira langsung kena omel plus kena denda. Kira hanya bisa menatap punggung renan dengan tatapan kesal. Sikap cuek renan sudah keterlaluan. Tidakkah cowok itu punya hati atau hatinya memang udah lama mati.
Hanya untuk sekedar berbalik menatap kira tidak cowok itu lakukan. Kalau tidak mau membantu setidaknya renan bisa mengucapkan kata maaf karena sudah menendang buku kira. Mungkin selain hati, rasa simpatinya juga sudah mati.
Kira berusaha mengabaikan berbagai tatapan yang diberikan kepadanya. Hari sudah semakin siang dan banyak murid yang berdatangan. Kira langsung saja jadi bahan tontonan dan tertawaan, ditambah lagi gelak tawa Rahma dan diba yang terdengar jelas oleh kira. Teman macam apa yang hanya bisa menertawakan tanpa membantu disaat temannya yang lain mendapat kesulitan.
Kira memunguti bukunya dengan kesal.
" Sini Ra, aku bantu."
Suara itu membuat kira mendongak sambil menyelipkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Kira menatap orang itu tanpa minat lalu kembali melanjutkan kegiatannya menumpuk buku yang tinggal satu. Kira kembali menatap Roni sambil memaksakan senyumnya. Cowok berkacamata yang kini tengah berjongkok dihadapannya sambil tersenyum.
" Lo mau bantu gue?" tanya kira lembut.
Roni mengangguk antusias sambil menggaruk sebuah tompel yang ada diwajahnya.
" Kalau gitu siniin tangan Lo," kita mengambil semua buku lalu menatanya diatas tangan Roni. " Tolong kembaliin semua buku ini ke perpustakaan ya, atas nama gue. Lo tau kan nama gue?"
" Kirania kan?" Tanya Roni mematikan.
" Pinter," puji kira. "Makasih lho sebelumnya Roni ganteng," ucapnya lagi tapi setelah itu dia memalingkan wajah sambil menjulurkan lidah.
Setelah itu kira berdiri karena ada sebuah pertanggungjawaban yang harus kira minta pada seseorang. Saat hendak melangkah, panggilan dari roni membuat kira kembali menoleh.
" Setelah gue kembaliin buku ini, kita boleh tukeran nomor HP nggak?" Tanyanya malu-malu.
Kira tertawa hambar. " Lo kembaliin dulu bukunya, masalah nomor HP mah gampang, nanti gue pikirin lagi. Bye roni," kira segera berlari meninggalkan Roni sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Roni ikut membalas lambaian tangan kira membuat semua buku yang ada ditangannya kembali jatuh dan berserakan di lantai.
Kira terus berlari kembali mengejar renan, cowok itu belum sampai di kelasnya karena tadi kira melihat langkah renan sempat dihentikan oleh seorang guru dan mereka berbincang cukup lama. Dan benar saja guru itu baru meninggalkan renan dan kini renan hendak kbali melangkah.
" Kak renan!" Teriak kira.
Dengan malas renan berbalik badan dan kini dirinya dan kira saling berhadapan. Renan berdiri dihadapan kira dengan cueknya bahkan enggan menatap gadis itu. Sedangkan kira sudah menatap renan dengan tatapan marah sambil berkacak pinggang.
" Kakak nggak ada niat buat minta maaf?"
Renan akhirnya menatap kita dengan sebelah alis terangkat. " Gue nggak punya kesalahan."
Kira melotot. Apa renan pikir menendang bukunya adalah sebuah kebenaran.
" Ouh buku ya."
" Cepet minta maaf," desak kira.
" Lo yang jatuhin buku kenapa gue yang harus minta maaf. Seharusnya Lo introspeksi diri, kalau nggak bisa bawa buku banyak ya, jangan maksain. Ini itu sebenarnya salah Lo sendiri. Lo yang nggak mikir pake otak. Dasar cewek bodoh. Atau Lo sengaja lakuin itu untuk cari perhatian cowok. Ck, murahan. Kalau mau cari perhatian gue itu ngaca dulu, karena di mata gue Lo itu nggak lebih dari sebuah titik hitam yang nggak ada artinya," tandas renan.
Kira membelalakkan matanya. Tidak percaya renan berbicara panjang lebar kepada kira. Tapi sekalinya ngomong langsung nusuk ke hati. Tapi yang diucapkan renan ada benarnya juga karena tujuan kira memang untuk mencari perhatian cowok itu. Kira mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Nyalinya sedikit menciut mendengar kata-kata renan tapi dia segera menggelengkan kepalanya. Dia meyakinkan dirinya untuk tidak terpengaruh oleh omongan renan.
" Tapi tetep aja kakak salah, udah tau ada buku didepannya pake di tendang segala berati kakak juga bodoh," ucap kira tak mau kalah.
" Jadi Lo tetap Keukeh maksa gue buat minta maaf?"
Kira mengangguk mantap.
" Oke, gue akan minta maaf..." Kira sudah tersenyum karena ucapannya berhasil menggertak renan. " Bukan sama lo tapi sama buku yang tadi gue tendang."
Mata kira kembali membulat. Dia menjadi bingung, sebenarnya siapa yang bodoh disini, dirinya atau renan. Cowok itu berniat meminta maaf kepada sebuah buku, memangnya buku bisa bicara.
Lama kira bergulat dengan pikirannya sendiri hingga tak sadar renan sudah kembali berbalik berjalan menjauh dari kira. Hingga tibalah Rahma dan diba di samping kira yang akhirnya menyadarkan cewek itu dari pikiran anehnya.
" Ra, jadi ini cara yang Lo bilang bakal 100 persen berhasil tapi nyatanya Gatot nih," kata diba yang langsung membuat kira menatapnya.
" Sumpah tuh cowok nggak punya hati kali ya, terus yang lebih parah dia ngatain gue cewek bodoh tapi nyatanya dia lebih bodoh dari gue," kesal kira.
" Tapi nggak papa Ra, yang penting Lo udah sedikit ada kemajuan, Lo udah berhasil buat kak renan ngomong panjang sama lo meski kata-katanya lumayan nylekit," kata diba.
" Lo mah, gue lagi sebel nih."
" Lagian Lo sih, gue kan udah pernah bilang kalau kak renan itu beda."
" Tapi gue kira cara ini tuh udah yang paling ampuh."
" Baca artikel lagi?" Tebak diba.
" Jangan sebel sebel gitu Ra, yang penting tadi gue udah rekam pas adegan kak renan ngacangin Lo," celetuk Rahma.
Bukannya menenangkan ucapan rahma justru makin membuat kira merasa kesal. Kira memang menyuruh Rahma merekamnya tapi bukan kejadian seperti tadi yang harus Rahma rekam. Apalagi kini cewek itu terus memperhatikan Vidio di ponselnya sambil tertawa sendirian.
" Buktinya Roni aja mau nolongin gue dib," kira kembali menatap diba, karena hanya diba satu-satunya orang yang bisa kira ajak bicara serius.
" Lo samain Roni sama kak renan Ra," diba tertawa karena pemikiran kira yang menurutnya tidak masuk akal. Cowok ganteng dan pintar disamakan dengan cowok culun yang semua orang juga sudah bisa membedakan dengan jelas.
" Perbedaan mereka itu terlalu jauh, antara langit dan bumi. Ra, Lo itu terlalu menyamaratakan semua cowok. Coba deh Lo buka pikiran Lo dan inget selalu kata kata gue kalau kak renan itu beda," tambah diba.
" Dasar kak renannya aja yang nggak punya hati," apapun perkataan diba yang ada di otak kira hanyalah renan seorang cowok yang nyebelin dan ngeselin.
Rahma, cewek itu terus memutar Vidio yang tadi dia rekam dengan keras. Dia menirukan gaya dan ucapan kira saat mengeluh sakit pada lututnya. Diba yang juga belum melihat dan penasaran akhirnya ikut menonton bersama Rahma.
" Terus gue harus gimana?" Teriak kira yang tidak langsung mendapat respon dari dua temannya.
" Ish, Lo berdua tuh-"
" Tenang aja Ra, masih banyak cara yang bisa Lo coba, jangan stuck di satu cara yang gagal terus coba sampai Lo berhasil," ucap diba tanpa menatap Kira.
"Baru kenalan aja udah gini banget dan gue masih punya 6 misi Dib."
" Masih ada waktu dan banyak cara."
Rahma terus memutar Vidio itu berulang-ulang hingga tak terhitung sudah berapa kali. Kira berbalik berjalan ke kelas dengan kesal diikuti Rahma dan diba yang berjalan tak jauh di belakang kira.
Sampai di kelas, senyum jahil Rahma pun keluar saat melihat kira duduk di bangkunya dengan muka cemberut. " Dib, Dib gimana tadi?"
" Aduh, kaki aku sakit," kompak mereka menirukan suara kira.
" Hari ini Lo berdua boleh ngatain gue sepuas Lo, tapi trik selanjutnya gue jamin berhasil," kata kira sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
" Uww, atut."