
Hari di mana pesta perpisahan pun tiba. Semua mahasiswa Magicology sangat sibuk dengan persiapan masing-masing. Bahkan panitia acara tidak sempat tidur sejak sehari yang lalu. Gavi, Alvyn, dan Kilik turut menyiapkan acara tersebut meski sudah dilarang oleh Leo.
Siang itu sepertinya cukup tidak bersahabat. Awan hitam menutupi pundi-pundi langit yang tersedia. Tidak ada matahari yang menyinari untuk sekadar memberikan semangat pada remaja dewasa yang kurang dari tiga hari lagi melaksanakan liburan musim panas.
“Apa yang akan kau lakukan setelah kembali ke wilayahmu, Gav?” tanya Leo yang saat itu sedang membantu Gavi mengangkat patung kelelawar.
“Entah, kau? Musim panas ini?” Gavi bertanya balik karena dirinya malas untuk menjelaskan.
“Aku akan bertemu Lea dan bertanya padanya masalah apa yang sebenarnya sedang menimpanya.” Leo sedikit memiringkan kepalanya. “Aku tidak sempat berbicara dengannya pada hari di mana ia pindah, itu sangat tiba-tiba.”
“Bahkan Allecia pun tidak mengetahuinya?” Gavi masih penasaran perihal menghilangnya Lea.
Leo menggeleng. “Tidak tahu, sejak Lea pergi sikap Allecia menjadi sedikit berbeda. Seperti ada satu hal yang ia sembunyikan.”
“Kau tahu? Allecia adalah tipe orang yang pandai menyembunyikan perasaan.” Alvyn mendekat dan bergabung mengangkan patung besar itu dengan kedua temannya. “Dia memakai topeng yang sangat tebal di balik sifatnya yang ceria itu. Lihat.”
Gavi, Alvyn, dan Leo melihat ke arah Allecia yang sibuk mengobrol sambil mengecat character board bersama Kilik. Sesekali Allecia tertawa kemudian sedetik setelah itu mukanya menjadi muram. Ketiga lelaki pembawa patung itu memikirkan hal yang sama. Apakah Allecia ada sangkut pautnya dengan perginya Lea secara mendadak. Allecia sebagai seseorang yang dianggap sahabat paling dekat dengan Lea, terlalu cepat tidak sedih atas kehilangan Lea.
Berjuta tetesan air mulai turun secara beirringan dari balik awan yang sudah menampungnya selama mungkin. Persiapan untuk acara perpisahan sedikit lagi selesai. Gavi, Alvyn, Kilik, dan Leo kembali ke asrama untuk mempersiapkan diri.
Gavi memilih untuk mengenakan jas merah tajam dengan perpaduan kemeja hitam dan sepatu mengkilap. Rambut pendeknya disisir dengan rapi dan klimis, ujungnya diikat menggunakan karet hitam. Bahkan teman Vampire-nya pun baru melihat tampilan Gavi yang seperti ini.
“Gav, kau rapi sekali.” Alvyn menatap Gavi dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Bahkan aku baru melihatmu berpenampilan seperti ini,” ujar Kilik menyambungkan kalimat Alvyn.
“Haha, ini jas pemberian ayahku. Apakah aku terlihat aneh?” Gavi sebenarnya tidak percaya diri dengan pakaiannya ini. “Pertama kalinya aku menggunakannya.”
“Itu sangat bagus. Sayangnya aku tidak punya,” kata Alvyn seraya mengangkat setelan miliknya. “Ini ... aku pakai setelah hadiah darimu, Gav.”
Setelan itu berwarna ungu gelap. Alvyn selalu menggunakannya ketika ada sesuatu yang penting. Dirinya sangat suka dengan setelan itu, menurutnya itu adalah setelan terbaik yang ia punya. Gavi tersenyum lebar melihat syukur yang tersirat dari wajah Alvyn.
Sedangkan Kilik, dirinya menggunakan setelan berwarna hitam. Tidak macam-macam, tetapi agak mirip dengan setelan renda milik Profesor Vincent. Bedanya milik Kilik masih enak dipandang.
Ketiganya melangkah secara bersamaan di bawah rintik gerimis yang mengenai payung menuju ke aula program studi Magicology. Leo sudah menunggu mereka di depan pintu masuk. Pakaian Leo sama merahnya dengan Gavi. Dengan senyuman khasnya, Leo mempersilakan ketiganya masuk.
Di dalam aula sudah banyak yang datang. Detik-detik acara akan dimulai.
“Hai, Cia,” sapa Kilik. “Wah, gaunmu cantik sekali.” Lelaki itu bergabung bersama Allecia dan beberapa teman yang lain, sedangkan Gavi dan Alvyn tetap berjalan menuju patung kelelawar yang tadi siang mereka angkat.
Sesampainya di depan patung itu keduanya menatap tajam ke arah patung yang mengeluarkan asap dari mulutnya. Patung kelelawar tersebut menjadi simbol perpisahan mereka dengan ras Vampire juga sebagai penghangat ruangan.
Acara dibuka oleh seseorang bernama Andra yang menjadi master of ceremony acara tersebut. Lelaki bertubuh gempal itu membawakan acara dengan sangat lucu. Seolah kata yang keluar dari mulutnya itu tidak akan habis.
Pesta akan dimulai dengan sambutan presiden mahasiswa, kemudian hiburan, dan terakhir ada sesi kilas balik yang biasanya akan mengharu biru. Sesi kilas balik tersebut berisikan tentang klip dari dokumen rahasia yang sudah dibuat oleh panitia sejak awal semester. Mereka akan menonton semua dokumentasi itu sambil ditemani minuman yang aman. Leo bersikeras bahwa alkohol tidak boleh masuk ke dalam acara itu.
Setelah sambutan dari Leo yang diakhiri dengan Gavi yang tiba-tiba dipanggil untuk mengucapkan se patah dua patah kata. Gavi yang dipanggil namanya enggan untuk maju karena ia tidak tahu apa yang akan ia sampaikan. Namun, semua mata tertuju padanya ketika sorot lampu tembak juga ikut menyotot dirinya.
Gavi berjalan sambil berpikir dan mengutuk.
“Leo, sialan!”
Setelah sampai di depan dan berdiri di samping Leo. Sesegera mungkin microphone diberikan padanya. Gavi menggenggamnya dengan erat berusaha untuk tidak gugup.
“B-baik. Hai semua, aku ... Gavi.” Terlihat dengan jelas Gavi mengalami demam panggung. Ia melihat Alvyn mencoba menenangkannya dari kejauhan dengan mengangguk dengan pelan. “Seperti yang kalian ketahui ....” Gavi berhenti di kalimat itu dan melihat seseorang yang baru datang.
Lea dengan gaun merah datang dan berkontak mata langsung dengan Gavi. Senyuman tersirat di wajahnya yang sangat cantik. Gavi membalas senyumannya dan semua gugup yang ia rasakan akhirnya hilang.
“Seperti yang kalian ketahui, kita telah melewati semester ini dengan cukup baik. Kami mahasiswa pertukaran pelajar dari Juvenile Academy merasa bangga dan senang bisa menjadi bagian dari program studi Magicology kampus ini. Bersama dengan kalian, kami diterima dengan sangat baik. Kami ucapkan terima kasih. Kini ... waktunya kami berpamitan untuk kembali ke wilayah ras kami, ras Vampire, terima kasih untuk semuanya. Semoga kita bisa kembali bertemu di lain waktu.”
Tepat setelah Gavi berpidato itu, ia mendapati Lea berlari keluar aula sambil menangis. Gavi menyadari itu dan mengejarnya. “Lea! Tunggu!”
Semuanya bertuju pada Gavi yang berlari keluar aula. Alvyn, Kilik, Leo, dan Allecia mengejar di belakangnya. Di luar hujan sedang deras.
Gavi meraih tangan wanita bergaun merah itu. “Lea? Ada apa?”
Satu tamparan yang membuat hati Gavi sangat sakit mendarat di pipinya. Teman-teman yang mengejar Gavi melihat kejadian itu langsung terdiam, Gavi pun demikian. Lea menampar Gavi dengan sangat keras. Ia memberikan secarik kertas yang sudah diremasnya pada Gavi, kemudian berlari sambil menangis.
Gavi terdiam dan membuka kertas tersebut. Namun, belum sempat ia melihatnya suara ledakan keras berasal dari aula terdengar. Api berkobar dengan sangat cepat. Aula Magicology mengalami kebakaran. Gavi, Alvyn, Kilik, Leo, dan Allecia terkejut dan langsung kembali berlari untuk menyelamatkan teman-teman yang lain.
“Bagaimana itu bisa terjadi?” teriak Gavi.
“Cepat, selamatkan semuanya!” perintah Leo.
“Semua! Ke arah sini!” teriak Alvyn sambil meraih tangan-tangan yang penuh luka bakar.
Di bawah derasnya hujan, api justru semakin besar. Para mahasiswa mencoba untuk saling menyelamatkan. Karena kericuhan ini seluruh warga kampus pun terbangun dan mengevakuasi orang-orang yang ada di dalam.
Kejadian ini sangat cepat sehingga banyak sekali korban yang berjatuhan. Tenaga medis dari rumah sakit luar sudah ditelpon dan pemadam kebakaran sudah dipanggil. Di tengah kericuhan itu, Gavi, Alvyn, Kilik, Leo, dan Allecia diperintah untuk menghadap kepala kampus di ruang rektor. Hanya mereka yang tidak terkena luka sedikit pun dan menjadi saksi.
“Ini adalah ulah Gavi.”