Truth Or Dare

Truth Or Dare
Rencana



Kira terus menatap lurus ke depan. Pandangannya terus tertuju pada setiap gerak gerik targetnya. Tangannya sudah mengepal. Tatapannya tajam seperti ingin membunuh. Jika bisa terlihat pun, mungkin kepala kira sudah mengeluarkan asap. Kira masih merasa kesal karena dia diremehkan begitu saja oleh renan kemarin.


Ternyata nilai 87 belum bisa dikategorikan dengan nilai orang yang pintar dan renan menganggap kira adalah seorang cewek bodoh. Meski pada akhirnya kira tetap kalah dari dua temannya karena nilainya paling rendah. Tapi bukan berarti dengan mudahnya renan langsung  mencap kira sebagai cewek bodoh. Dan yang lebih membuat kira kesal, Rahma dan diba juga ikut tertawa terbahak-bahak setelah kira menceritakan hal yang membuatnya seperti orang kerasukan kemarin.


Rahma dan diba yang sedari tadi berdiri di belakang kira hanya bisa diam memperhatikan. Entah apa yang akan kira lakukan tapi semoga ini tidak akan mencelakai renan.


" Emmm Ra, Lo mau ngapain?" Tanya Rahma pelan.


Kira sedikit merenggangkan jari dan juga lehernya. " Gue cuma mau kenalan," jawabnya.


" Lo nggak mau ngajak kak renan berantem kan?" Kali ini diba yang mencoba bertanya.


" Gue cuma mau kenalan aja, main-main gitu sebentar," jawab kira lagi masih dengan nada santainya.


" Tapi kok Lo kayak mau ngajak kak renan berantem sih?" Tanya Rahma lagi.


Kira berbalik menghadap kedua temannya. " Gue nggak akan ngelakuin atau ngapa-ngapain aset sekolah kok, Lo berdua tenang aja. Gue juga nggak mau kali cari gara-gara sama cewek satu sekolah kalau gue sampe buat muka renan yang sok kegantengan itu lecet."


" Kalau niat Lo cuma mau kenalan gayanya jangan kayak gini lah." Diba membuka kepalan tangan kira lalu menarik kedua sudut bibir kira hingga membentuk sebuah lengkungan senyum.


Diba sedikit mundur sambil memperhatikan kira. " Nah kalau kayak gini gue percaya kalau niat Lo itu cuma mau kenalan."


" Tapi sayangnya gue nggak bisa kasih senyum gue ke sembarang orang."


Kira kembali pada gayanya semula membuat Rahma dan diba hanya bisa geleng-geleng kepala. Kalau orang emosi memang susah untuk diajak bicara baik-baik. Kira berbalik kembali menatap targetnya. Rasa kesalnya makin bertambah ketika dia melihat renan tengah tertawa. Perlahan kira menggerakkan kakinya agar melangkah maju namun kembali tertahan karena bahunya ditarik Rahma dan diba.


" Lo janji kan Ra nggak akan buat kak renan luka?" Tanya Rahma lagi memastikan.


Kira menghela nafasnya. " Gue janji sama lo berdua," jawabnya sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya.


Setelah tangan Rahma dan diba turun dari pundaknya, kira kembali melanjutkan langkahnya untuk mendekati renan yang sudah terkunci oleh matanya. Rahma dan diba memutuskan untuk mengamati dari jauh saja. Kira kalau sudah marah terkadang memang suka nekad. Mereka hanya berharap kira tidak akan mendapat masalah setelah apa yang dia lakukan hari ini.


Kira terus berjalan dengan langkah tegasnya bahkan bunyi sepatunya terdengar begitu keras. Semakin dekat kira dengan tergetnya semakin jelas pula dia mendengar tawa renan bersama kedua temannya. Hanya tinggal beberapa meter lagi kira hampir mendekati renan. Dan beberapa pasang mata juga ada yang memperhatikannya karena tingkah kira yang menurutnya aneh.


Pandangan renan, raka dan aldi juga sudah tertuju pada kira. Tawa mereka sudah berhenti akibat derap langkah kira. Mata kira terus fokus menatap renan begitupun renan yang juga menatap kira dengan kedua alisnya terangkat.


" Gue pikir ada tentara masuk sekolah," celetuk Aldi.


Kira tak peduli itu. Tangan kanannya yang masih mengepal kuat mulai terangkat bersiap akan meninju renan. Beberapa yang melihat mulai memekik begitu juga rahma dan diba yang teriakannya terdengar jelas ditelinga kira. Kira mulai tersenyum miring. Mengumpulkan tenaga berniat meninju muka sok kegantengan renan.


Semua kekuatan kira tumpukan pada tangan kanannya. Dan satu pukulan melesat ke wajah renan tanpa hambatan hingga akhirnya pukulan itu berhenti tepat di depan wajah renan yang sedang menutup matanya.


" Boleh kenalan kak?" Katanya dengan kepalan tangan yang sudah terbuka dan senyum kira yang mengembang.


"  Gila, gue pikir ada yang berani mukul renan beneran," celetuk Aldi sambil mengelus dadanya.


Perlahan renan membuka matanya. Lalu menepis tangan kira yang masih berada di depan wajahnya. Mereka yang tadi sempat menghentikan kegiatannya kini telah kembali melakukannya sambil berdecak karena ulah kira.


Tangan kira masih melayang di udara menunggu agar renan menjabatnya.


" Namaku kirania Khanza Pratista, kelas 11 ips 1, boleh kenalan kak?"


Kira melebarkan matanya ketika melihat ada pergerakan dari tangan renan. Perlahan tangan itu mulai terangkat. Dalam hati kira sudah merasa sombong. Cuma butuh cara anti mainstream dan sedikit gertakan, maka dengan mudah kira bisa berkenalan dengan renan dan menyelesaikan misi pertama. Gayanya aja yang sok cool tapi baru dapet sedikit gertakan sudah takut.


Tapi renan terus mengangkat tangannya hingga terulur ke samping bahu kira bahkan tangan renan juga sempat menabrak bahu kira cukup keras membuat kira terdorong ke samping dan hampir kehilangan keseimbangan. Kira melotot karena ada tangan orang lain yang renan jabat. Kira menatap telapak tangannya tidak percaya.


" Lo apa kabar ta?" Tanya renan pada orang yang sedang dia jabat tangannya.


" Gue baik. Lo semua disini apa kabar?" Tanya gadis itu yang bukan hanya ditujukan untuk renan saja melainkan untuk raka dan aldi yang kini sudah bergantian menjabat tangan gadis itu.


" Kalau kita sih selalu baik ta," jawab Aldi.


" Oke deh, kalau gitu gue pergi temuin guru dulu ada urusan bentar, nanti kita ngobrol lagi," ucapnya sambil berlalu tapi saat melewati renan tangan gadis itu terulur untuk mencubit hidung renan seraya berkata. " Gue kangen lo."


Kira berdiri dihadapan renan sambil berkacak pinggang. " Kakak harus minta maaf!"


Renan melipat tangannya di dada sambil menatap kira.


" Ya, kakak harus minta maaf karena tadi udah dorong aku terus yang minta kenalan juga aku tapi-"


Ucapan kira terhenti karena renan menarik tengkuknya hingga wajah kira berhadapan dengan renan. " Gue nggak minat kenalan sama cewek kayak lo."


" Nan, anak orang pengen kenalan malah Lo cuekin aja," teriak Aldi.


Namun renan terus saja melangkah cuek dengan kedua tangan dia masukkan ke dalam saku celana. Aldi ikut beranjak dari duduknya lalu menatap kira.


" Kasian banget anak orang, sini biar gue yang salamin," Aldi menarik tangan Kira untuk berjabat tangan dengannya.


" Lo juga rak," teriak Aldi pada raka yang masih duduk.


Raka yang sedang duduk juga ikut bangkit dan menjabat tangan kira. Setelah itu raka dan aldi pergi menyusul renan.


Kira berbalik menatap punggung tiga cowok itu yang berjalan belum terlalu jauh. Kini renan menjadi orang yang begitu menyebalkan untuk kira. Kalau semua cewek disekolah memuja renan maka kini akan ada satu cewek yang secara terang-terangan tidak suka kepada renan. Kirania Khanza Pratista.


" Dasar cowok...so...emmmp."


mulut kira segera di bekap dan dibawa ke balik tembok oleh kedua sahabatnya. Diba segera mengintip dan benar saja renan sudah berbalik untuk melihat orang yang baru saja berteriak. Diba terus mengamati hingga renan dan dua temannya benar benar melangkah pergi hingga tak terlihat lagi baru setelah itu diba memberi kode agar rahma melepas bekapannya pada mulut kira.


" Lo... berdua mau....bunuh...Gue ya," ucap kira sambil mengatur nafasnya.


" Lo yang mau bunuh diri tadi," kata diba.


" Ra, lho hampir buat gue jantungan tau nggak, Lo kenalan pake cara macem apa sih? Aneh banget," keluh Rahma.


" Lho, bukannya cowok itu tertarik sama cewek yang galak-galak gitu ya, gue pikir bakal berhasil," jawab kira sambil menyandarkan punggungnya pada tembok.


" Tau darimana?"


" Menurut artikel yang gue baca sih gitu."


" Kalau di artikel itu kan menurut cowok pada umumnya dan Lo jangan samain sama kak renan, dia itu beda Ra," ucap diba sedikit gemas.


" Apanya yang beda sih, paling bedanya cuma di kepintarannya doang."


" Yang jelas Ra, sekarang Lo dalam masalah besar," kata Rahma menakut-nakuti.


"Hah," kira menegakkan punggungnya sambil menatap Rahma takut. " Kok bisa, memangnya gue ngapain dia?"


"Karena tadi Lo udah ganggu dia bahkan bikin dia kesel. Lo tau, kak renan itu paling nggak suka diusik. Dia itu ramah cuma kalau diatas podium aja. Setelah dia udah nggak diatas podium jangan harap Lo bisa kenalan sama dia," kata Rahma horor.


" Sesombong itukah dia?"


" Kan gue tadi udah bilang kalau kak renan itu beda."


" Iya beda banget sampe nggak bisa ngehargai gue yang udah ngajak kenalan baik-baik," kesal kira.


" Eh Ra, tapi sumpah tadi gue ngakak pas lihat muka Lo yang abis dicuekin kak renan," Rahma dan diba kbali tertawa mengingat kejadian tadi.


" Asem Lo pada." Kira berjalan meninggalkan dua temannya yang masih terbahak.


Dalam hati nyali kira bukannya menciut. Dia malah makin tertantang untuk tuk menyelesaikan itu. Setiap orang pasti punya titik lemahnya dan kira yakin renan bukanlah yang tidak memiliki kekurangan hanya belum terlihat saja. Pasti ada satu hal yang bisa meruntuhkan cowok itu dalam sekejap. Seperti kira yang begitu lemah jika itu menyangkut orang yang paling dia sayang.


" Terus rencana Lo selanjutnya apa?" Tanya diba yang sudah berjalan disamping kira.


" Gue udah siapin rencana kedua dan gue yakin pasti kali ini nggak bakal gagal," ucap kira penuh keyakinan.


" Berapa persen Lo yakin dengan rencana Lo ini?"


" 50 persen gue yakin berhasil."


" Ouh," respon Rahma dan diba datar sambil mempercepat jalan mereka hingga kini kira yang tertinggal.


" Eh, kok respon Lo gitu sih?"


" 50 persen itu belum bisa dibilang berhasil kalau 100 persen baru Lo boleh sombong. Tapi gue yakin yang akan jadi 100 persen itu adalah kegagalan Lo bukan keberhasilan Lo," kata diba meremehkan.


" Maka dari itu gue butuh bantuan Lo buat ngelewatin peluang keberhasilan gue jadi 100 persen," kira merangkul sahabatnya itu.


Rahma dan diba hanya saling pandang sebentar. Ada rasa khawatir dan takut yang tiba-tiba menyelinap. Mereka tidak mau dilibatkan dengan rencana alay atau rencana aneh kira.