Truth Or Dare

Truth Or Dare
11. The Truth



Pagi itu hari pertama ujian akhir semester untuk porgam studi Magicology di Normal Alexandria University. Gavi mendatangi Allecia untuk menanyakan keberadaan Lea, karena dirinya sudah hampir seminggu tidak bertemu dengan gadis itu.


“Allecia, kau melihat Lea? Apakah dia baik-baik saja?” Gavi mendekati Allecia yang sedang duduk sendiri di pojok ruangan. “Beberapa hari ini aku tidak melihatnya.”


“Entah, aku pun.” Jawaban singkat dari wanita rambut merah jambu itu membuat Gavi kebingungan.


“Hah? Biasanya selalu bersamamu.” Gavi duduk di depan Allecia dan tidak mendapat pencerahan apa pun darinya.


Tidak lama kemudian ujian pun dimulai. Dalam waktu tiga puluh menit saja mereka harus menyelesaikan soal mata kuliah Simbol sebanyak enam puluh soal. Tidak perlu waktu yang lama bagi Gavi untuk menjawabnya. Namun, ketidak fokusan Gavi membuatnya kehabisan waktu. Matanya masih mengedar mencari Lea di seisi ruangan, tetapi nihil.


“Leo, kau liat Lea?” Gavi bertanya pada Leo yang berjalan melewati mejanya.


“Sudah lama dia pindah, entah aku tidak ada informasi.” Leo pun tidak terlalu memberikan jawaban yang detail untuk Gavi.


Setidaknya Gavi tahu kalau Lea pindah kampus, tetapi sangat janggal kalau dia pindah di akhir semester. Lelaki itu mulai bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Alvyn dan Kilik. Gavi menanyakan hal yang sama pada mereka, jelas jawaban temannya tidak membantu sama sekali.


Entah bagaimana Gavi merasa hari itu semua orang menjadi murung, termasuk kedua temannya. Gavi berpikir awalnya karena ini adalah hari pertama ujian akhir, tetapi ketika melihat soal-soalnya ia tidak mendapatkan korelasi antara suasana murung dengan soal yang masih bisa dijawab dengan baik itu.


Gavi berjalan kembali menuju kamar beriringan dengan Alvyn dan Kilik. Pikirannya masih tidak karuan.


“Gav, sudah mau akhir semester, kau masih belum bisa memecahkan kasus Bailey,” ujar Kilik seraya duduk dan merogoh pil merahnya.


“Bukankah ide buruk jika aku mengungkapkan identitasku? Otomatis identitas kalian juga terungkap, kan?” Gavi memastikan.


“Iya, benar. Tidak masalah, lagi pula ini sudah di akhir, kan?” Alvyn dengan entengnya menyuarakan hal tersebut.


“Hmmm, tetapi tetap saja aturan dari Profesor Vincent kita tidak boleh mengungkapkan identitas kita.” Gavi mengecek ke kolong kasurnya melihat Choco yang masih tidur menggantung.


Alvyn menimpali, “Aku yakin teman-teman akan menerima kita.”


“Biar kupikirkan lagi,” ujar Gavi.


-----ooo-----


Ujian akhir semester pun selesai. Selama itu juga Gavi tidak melihat Lea, informasi yang paling jauh adalah pernyataan dari Leo. Setelah penutupan sesi ujian, Gavi berjalan menuju depan kelas dan berdiri tegak di samping meja dosen.


Gavi menarik napas panjang. “Baiklah. Aku tahu, selama ini kalian mendapati kejanggalan dari diriku, Alvyn, Kilik, bahkan Bailey. Kulit kami sangat pucat, penampilan kami agak berbeda dari kalian. Bailey merupakan korban dari pertaruhan bangsa kami. Benar, kami adalah ras Vampire, dan ras kami memiliki pertaruhan dengan bawang putih. Aku harap kalian bisa menerima kami.”


Tidak ada yang bergeming setelah Gavi berbicara seperti itu, semua mahasiswa di kelas itu kembali melakukan aktivitasnya. Gavi melongo karena tidak ada satu pun mahasiswa yang kaget dengan fakta sebenarnya. Alvyn dan Kilik pun keheranan.


“Kami sudah tahu, Gav.” Tiba-tiba Leo bangun dari duduknya dan menghampiri Gavi ke depan. “Sejak kejadian bawang putih itu, kami sudah menduganya.”


“Oh, ya? Bagaimana kalian tahu?” tanya Kilik.


“Rumor terkait dunia paralel antara ras Human dengan ras Fantasy itu sudah menjadi perbincangan umum di kampus kita. Alasan kampus ini memiliki program studi Magicology adalah karena kami percaya akan hal itu.” Leo menjelaskan dengan santai sambil tersenyum.


“Kemudian, orang jahat mana yang membuat Bailey terluka?” Alvyn mengernyitkan dahinya.


“Aku? Kau tidak usah menuduh, ya.” Tidak terima dengan tuduhan itu, Alvyn menggebrak mejanya.


“Sudahlah, lagi pula tidak ada penjahat yang mau mengaku.” Leo memalingkan pandangannya menuju Gavi. “Ingat ucapanku.” Ia berbisik.


“Yah ... tidak seru jika kalian tidak kaget, astaga.” Kilik mencoba mencairkan suasana.


“Leo, bagaimana kalau kita mengadakan pesta perpisahan dengan Gavi, Alvyn, dan Kilik sebelum mereka kembali ke wilayah mereka?” Allecia yang sedari tadi murung akhirnya menyuarakan usulan.


“Ide bagus. Gav, kalian kapan kambali ke ...?” Leo mengangkat kedua alisnya


“Juvenile Academy? Hmmm, sekitar seminggu dari sekarang.” Bahu Gavi ikut menaik secara otomatis.


Pengakuan Gavi ternyata mendapat respon positif dari semua teman sekelas. Gavi melihat semua wajah yang menatapnya masih sama dengan mimik muka sebelum dirinya mengungkapkan identitas.


Rencana terkait pesta perpisahan ketiga Vampire itu akan dilaksanakan sekaligus dengan pesta akhir semester. Persiapan mulai dari pembentukan panitia agar terorganisir sampai dekorasi akan dimulai pada hari itu juga. Tiga hari sebelum Gavi dan kedua temannya kembali ke wilayah ras Vampire, acara itu akan dilaksanakan. Semua mahasiswa Magicology sangat antusias.


“Vyn, kenapa Leo kukuh kalau kau yang menaruh bawang putih di tas Bailey?” Gavi yang sebenarnya tidak enak untuk menanyakan hal itu lagi pun tetap penasaran.


“Leo memang tidak suka padaku, jadi bagaimana cara dia supaya aku dan kau menjadi musuh dia akan lakukan.” Alvyn membereskan pakaiannya yang satu per satu dimasukkan ke dalam koper.


“Hmmm, kalian ada masalah sebelumnya?” tanya Kilik.


“Entahlah, yang paling penting adalah sebentar lagi aku berpisah dengan orang itu,” seru Alvyn seraya menguap.


Gavi tidak bisa menaruh kecurigaan pada Alvyn, karena pernyataan itu benar-benar tidak ada bukti.


Pintu kamar asrama mereka diketuk. Ketika Kilik membukanya ia mendapati Leo yang berdiri dengan senyuman manisnya. Leo membawakan sebuah lecana untuk ketiga Vampire pertukaran pelajar itu pakai di malam puncak pesta.


“Bagusnya konsep gothic atau light yang ingin kalian usulkan? Boleh aku masuk?” Leo berjalan masuk ke kamar setelah dipersilakan oleh Gavi.


“Kami menyerahkan semua itu pada panitia acara.” Gavi menutup pintu kamar setelah Leo duduk di pinggiran kasurnya.


“Lagi pula kami bukan bintang tamu, kan.” Alvyn masih sibuk dengan serba-serbi pakaiannya yang sangat banyak tanpa melihat ke arah Leo.


“Sebenarnya ini survey, semua orang aku tanya, jadi suara terbanyak itulah konsep yang akan kami angkat,” jelas Leo sambil melihat ke sekitar ruangan.


Gavi yang tidak nyaman karena Leo terus mengedarkan pandangannya pun segera berkata. “Kami memilih konsep light, karena sebelum kami pulang ke wilayah Vampire yang sangat gelap, kami harus menikmati cahaya yang terang. Oh, ya, Leo. Kami akan menemui kepala asrama sebentar lagi, jika tidak keberatan silakan.” Pintu yang baru Gavi tutup, kembali ia buka.


“Oke, light, ya?” Leo berjalan menuju pintu.


Acungan jempol dari Gavi menandakan setuju.


Setelah Leo benar-benar pergi menjauh, Gavi kembali menutup pintu. “Entah aku tidak nyaman dengan keberadaan dia di kamar kita.”


“Sama.” Alvyn dan Kilik tidak ada satu detik menimpali secara bersamaan.