Truth Or Dare

Truth Or Dare
Prolog



" mohon perhatian semuanya, tolong jangan bubar dulu karena gue punya pengumuman penting," ucap gibran sang ketua osis.


Semua murid yang masih berada di lapangan terpaksa harus berdiam diri sebentar setelah upacara. Meski tak sedikit yang mengeluh karena ingin segera kembali ke dalam kelas. Matahari sudah mulai terik, beberapa murid juga sudah melepas topi dan menjadikannya sebagai kipas sambil menunggu pengumuman yang akan diumumkan oleh ketua osis.


" Oke teman-teman, pagi ini gue mau ngumumin sebuah kabar gembira terutama buat sekolah Kita. Murid kebanggaan sekolah kembali memenangkan olimpiade matematika tingkat provinsi, kita sambut pahlawan sekolah kita, renando abrisam!"


Gemuruh tepuk tangan mengiringi kedatangan renando yang langsung naik ke atas podium mini. Ciri khas renando adalah mukanya yang sering terlihat cuek serta kedua tangan yang sering dia masukkan ke dalam saku celana selalu membuat para siswi merasa meleleh melihatnya.


Dengan bangga gibran menyerahkan piala kepada renan dan memberikan mic-nya agar renan menyampaikan beberapa patah kata.


" Gue disini mau ngucapin terima kasih buat semuanya yang udah dukung gue dan anak-anak olimpiade yang lain. Gue seneng banget bisa buat bangga sekolah apalagi kalau teman-teman semua bisa menjadikan ini sebagai motivasi agar terus bisa membanggakan sekolah...."


Tapi dengan seseorang yang kini berdiri cukup jauh dari kerumunan itu. Dia hanya menatap renan malas sambil memutar bola matanya. Menurutnya hal seperti ini sudah terlalu sering diberitakan dan itu membosankan. Sudah cukup berita ini terpajang di Mading sekolah tidak perlu lagi diumumkan seperti ini. Toh, semua murid kebanyakan juga sudah tau. Dia makin bosan lagi saat temannya juga ikut berkerumun, padahal tadi mereka sudah mengeluh kepanasan.


Mereka ikut berdesakan agar bisa berdiri di oaling depan dan busa bertatapan langsung dengan seorang Renan. Bahkan kini salah satu temannya sedang melambaikan tangan ke arahnya, menyuruh untuk ikut mendekat. Tapi dia hanya menggelengkan kepala sambil berucap ' bosan'. Setelah itu dia kembali memasang headshet di kedua telinganya lalu pergi meninggalkan lapangan juga temannya.


Kepergian orang itu dari lapangan tidak luput dari perhatian renan. Dia mencatat sudah tiga kali orang yang selalu memakai headshet itu selalu pergi begitu saja disaat semua murid satu sekolah tengah mengerumuni renan.


" Gadis yang sama," gumam renan pelan setelah selesai menyelesaikan sedikit kata-kata nya lalu turun dari podium.