Truth Or Dare

Truth Or Dare
10. Cupid Bagian 2



Suasana di lingkungan Normal Alexandria University setiap harinya selalu ramai, sistem asrama yang diberlakukan oleh pihak kampus menjadikan mahasiswanya lebih fokus berkegiatan di dalam kampus. Meskipun libur, sebenarnya tidak ada yang benar-benar menganggur di lingkungan kampus tersebut, kecuali libur panjang semacam liburan semester. Kampus seluas puluhan hektar ini selalu produktif.


Gavi, Alvyn, dan Kilik kembali ke asrama seraya berlari, hujan yang cukup deras melanda. Ketiganya melewatkan makan siang.


“Vyn, kau dekat dengan Allecia, kan?” tanya Gavi seraya mengeringkan rambunya dengan handuk. “Tolong tanyakan padanya, hari apa saja Lea pergi ke perkampungan ceri.”


“Akhir pekan, aku sudah tahu itu,” jawab Alvyn enteng seraya membuka seluruh pakaiannya dan berganti.


Gavi mengernyitkan dahinya. “Bagaimana kau tahu?”


“Ketika aku melakukan pelatihan di club atletik cabang lari, aku selalu melihat Lea berjalan kaki menuju perkampungan ceri dan itu selalu terjadi sekitar hari sabtu atau minggu.” Alvyn tahu betul terkait aktivitas Lea di akhir pekan.


Gavi yang mendengar hal itu sedikit skeptis karena ia berpikir sejak kapan Alvyn ikut club atletik. Alvyn adalah tipe orang pemalas, meskipun badan dia bagus, tetapi dirinya tidak pernah olahraga. Gavi sendiri tahu betul soal Alvyn karena mereka sudah bersahabat sejak kecil.


Gavi memastikan pada Kilik terkait kebenaran Alvyn mengikuti club. Jawaban Kilik membuat Gavi semakin keheranan, benar ternyata Alvyn ikut club atletik. Tidak ingin berlarut memikirkan itu, Gavi segera merebakan dirinya di kasur kemudian terlelap.


“Vyn, coba lihat mataku, agak perih.” Tiba-tiba Kilik mengarahkan wajahnya ke Alvyn.


“Astaga, tidur ... kau harus tidur, Kilik. Kau tidak bisa terus meminum pil itu untuk menutupi mata aslimu.” Alvyn yang sasah sambil menggoyang-goyangkan tubuh Gavi. "Gav, bangun, Gav. Lihat Kilik!"


Gavi yang baru memejamkan matanya lima detik itu langsung tersentak. “Kilik! Kau, sial ... di mana kau simpan Choco?” Lelaki itu melihat ke seisi ruangan.


Kilik menujuk ke arah kolong tempat tidurnya. Gavi langsung loncat dan meraih sangkar kotak berisikan Choco yang tertidur.


“Cepat, kau harus tidur, Kilik.” Gavi mengeluarkan Choco dan meletakannya di depan Kilik.


“Transpo!” Kilik mengusap Choco kemudian tertidur.


“Meskipun Choco bangun dan berisik, ini lebih baik dari pada mata teman kita copot,” ujar Alvyn seraya memposisikan Kilik berbaring di tempat tidurnya.


Sebenarnya beberapa minggu yang lalu Choco sudah bangun dari tidurnya, tetapi Kilik terus menerus mentransfer kekuatannya untuk membuat kelelawar cerewet itu tidur. Jadi, sebagai gantinya dialah yang tidak tidur selama lebih dari tiga bulan ini.


Kondisi mata Kilik yang sebenarnya adalah sangat merah, mengeluarkan darah, dan bola matanya hampir keluar. Alasan setiap hari Kilik meminum pil merah miliknya untuk menetralisir pertaruhannya.


“Lihat, si bodoh itu akhirnya tidur seperti mayat.” Gavi mengatakan itu sambil mengelus-elus Choco dengan lembut.


-----oo-----


Tugas yang menumpuk menjadikan gadis ambisius ini semangat. Dirinya tidak henti membaca buku di perpustakaan. Tempat itu untungnya buka untuk setiap hari penuh. Mau bagaimanapun Lea tetaplah manusia yang memiliki rasa lelah, sehingga dia pergi ke tempat peristirahaan perpustakaan.


Lea berjalan dengan santai sambil membawa buku sakunya. Setelah memesan kopi, Lea mencari tempat duduk di samping jendela. Melihat ke arah luar dan mendapati tiga laki-laki yang berlarian di bawah derasnya hujan.


Lea sedikit menyunggingkan bibirnya, sebelum seseorang menggebrak meja di depannya.


“Lea! Lea! Tolong! Leo menggila!” Allecia berteriak sasah memecah keheningan perpustakaan, semua mata tertuju padanya.


“Jangan berisik, bodoh.” Lea mengisyaratkan Allecia menggunakan tangannya.


Allecia mengecilkan volume suaranya. “Leo menggila.”


Setelah kalimat itu, Leo pun muncul di cafetaria perpustakaan. Allecia menjerit, lagi-lagi mata tertuju padanya.


“Ish, kalau mau bermain jangan di perpustakaan.” Lea mencubit kecil Allecia yang berusaha bersembunyi di belakang kursi Lea.


Leo duduk di depan Lea dan tersenyum. “Entahlah, Allecia sepertinya suka padaku.”


Keriuhan ini masih ada hubungannya dengan perkataan Allecia yang menuduh Leo bukan pacar Lea. Pria itu mengancam Allecia untuk di cat rambutnya menjadi warna hitam. Allecia yang parno, lari menemui Lea untuk meminta pertolongan. Hal itulah yang melatar belakangi drama ini.


“Kau diam, atau aku akan pindah kamar.” Lea mengancam Allecia yang masih menggoyang-goyangkan kursi yang diduduki sahabatnya.


Mendengar itu sontak Allecia kaget. “Kalian berdua ... suka mengancam.” Kemudian Allecia antri untuk pesan kopi.


“Cia, aku satu,” kata Leo.


“Apa ini?” Leo merebut buku saku milik Lea yang terletak di meja.


Tidak sempat untuk merebutnya, Lea hanya bisa pasrah ketika Leo membaca isi buku yang sudah ditandai itu.


“Gavi? Gavi Fledermoyz?” tanya Leo, Lea tidak menjawab. “Jangan bilang kau suka pada mayat hidup itu.”


Lea tidak bergeming, dirinya sesekali melihat hujan di kaca dan menyeruput kopi susu panas yang masih mengepul asap dari gelas. Leo membanting buku saku itu ke meja kemudian pergi. Lelaki itu terlihat sangat marah melihat fakta nama Gavi tertulis di buku saku milik Lea.


Hubungan Lea dengan Leo sebenarnya tidak lebih dari sekadar saudara sepupu. Namun, karena sejak duduk di bangku sekolah dasar Leo sudah berada di samping Lea, menjaga Lea, menghibur Lea, ia merasa dirinya memiliki hak istimewa atas hubungannya dengan gadis pintar itu. Leo selalu mengatakan kalau Lea adalah pacarnya adalah suatu tindakan dirinya untuk menjaga Lea. Leo tahu hidup Lea tidak berjalan dengan baik, maka dari itu dirinyalah yang merasa harus menjaga Lea.


Berbeda dengan Lea. Ia tidak pernah meminta Leo atau siapa pun menjaganya. Memang sejak kecil, Lea selalu bermain bersama Leo, tetapi ia hanya merasa hubungannya dengan Leo adalah sebatas kerabat dekat saja, tidak lebih. Bukannya Lea memanfaatkan Leo, tetapi Leo yang terobsesi dengan Lea.


“Leo kenapa?” tanya Allecia membawa dua gelas kopi dan duduk di tempat Leo tadi.


“Biasalah, dia marah,” ujar Lea seraya mengambil buku sakunya dan membukanya.


Allecia melihat apa yang tertulis di sana. “Sebenarnya perasaanmu pada Leo bagaimana?”


“Sudah kubilang Leo hanyalah sepupuku.” Lea mengangkat kedua bahunya.


“Tapi, Leo menganggapmu lebih, kau harus bicarakan ini dengannya.” Kali ini perkataan Allecia memang ada benarnya.


“Harus kubicarakan apa?” tanya Lea.


“Aku tahu kalau kau dan Leo adalah sepupu jauh, Leo suka padamu, Lea. Dia bercerita padaku kalau dirinya bahkan kuliah di kampus ini karenamu, dia rela untuk tidak bergabung dengan militer karena harus menjagamu di kampus ini.” Allecia menjelaskan panjang lebar.


“Aku tidak pernah memintanya untuk membuntutiku, Cia. Lagi pula seseorang yang kuinginkan bukan dia.” Lea menatap tulisan yang tertera di buku itu.


“Oke, kutarik kata-kataku pada malam aku mengatakan kalau Gavi adalah lelaki sempurna.” Allecia menarik napas panjang. “Gavi adalah seorang Vampire, kau tahu? Alasan tangan Bailey terbakar karena menyentuh bawang putih, itu karena ras Vampire tidak tahan terhadap bawang.”


Mendengar penjelasan dari Allecia, Lea tidak percaya. “Kau pasti tahu itu dari Leo, kan? Dia sudah beberapa kali mengatakan itu padaku, itu hanya asumsinya saja, tidak ada bukti konkrit.”


“Ayolah, Lea. Ibumu ....” Belum selesai Allecia berbicara, Lea langsung bangkit dari duduknya.


“Berhenti membicarakan ibuku!” Lea marah, wajahnya memerah, ia segera pergi dari tempat itu. “Aku akan urus perpindahan kamarku hari ini juga.”


Allecia tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa menangis.


Lea segera membereskan peralatannya di meja belajar perpustakaan kemudian bergegas pergi ke kantor kepala asrama. Miss Eva masih menyambut Lea dengan hangat.


“Lea, sudah petang, ada apa kemari?” tanya Miss Eva yang saat itu berpenampilan sangat cantik seperti biasanya. Perawakan kurus tinggi, mengenakan setelan jas ketat berwarna merah. “Silakan duduk.”


“Tawaran Amabelle untuk pertukaran kamar, aku yang ambil.” Lea yang masih berdiri tidak basa-basi.


“Oh? Kau bertengkar dengan Allecia?” Dengan bibir merahnya, Miss Eva tersenyum sambil memiringkan kepalanya.


“Tidak, saya tidak nyaman saja,” jelas Lea.


“Tunggu sebentar, ya.” Miss Eva mengambil handphone-nya. “Halo.”


“Iya, halo. Miss Eva?” Terdengar suara perempuan di seberang sana.


“Sekarang, datanglah ke ruangan saya, ya. Saya tunggu.” Telepon itu segera dimatikan. “Allecia terdengar sesenggukan. Kau tunggu di sini, ya.”


Lea yang sudah kepalang di ruangan Miss Eva tidak bisa pergi begitu saja. Sampai akhirnya Allecia datang dan duduk di samping Lea. Keduanya tidak ada yang bergeming.


“Benar, kalian sedang ada masalah rupanya.” Miss Eva kembali tersenyum dan melihat kedua mahasiswanya secara bergantian.


“Agh!” Allecia menjerit.