
" jadi gimana Ra hasil pencarian info Lo hari ini?" Tanya diba santai sambil memindahkan keripik kentang kesukaannya dari dalam kemasan ke dalam mulutnya.
Kira menghela nafas gusar sambil menyandarkan punggungnya pada sofa. " Kayaknya bakal sulit deh, soalnya dia, aduh gimana ya, pokoknya gitu deh," kira menggaruk kepalanya bingung bagaimana harus menjelaskan.
" Gitu gimana maksud Lo?" Tanya Rahma penasaran.
" Gue nggak nyangka ternyata aslinya dia kayak gitu."
" Ra, kalau ngomong yang jelas dong, gue sama Rahma jadi ikutan bingung kalau gitu."
Kira sendiri masih bingung harus mulai menjelaskan darimana. Dan bukan tanpa alasan juga kira akhirnya menyanggupi misi ini karena dua temannya juga menyanggupi permintaan kira. Kira hanya ingin membuat keyra-orang yang dia sayang bahagia. Kira tau selama ini keyra tidak pernah meminta apapun kepada kira, tapi kira sebenernya tau keinginan keyra. meski kira tidak bisa mengusahakan keinginan terbesarnya karena itu masih terasa sulit baginya namun kira akan memulainya dari keinginan yang sepele. Dan kira ingin memberikan kejutan ini tepat di hari ulang tahun keyra yang akan jatuh dua bulan lagi dari sekarang. Tentu ini membuat kira tidak punya banyak waktu dan dia harus cepat-cepat menyelesaikannya tepat waktu.
" Jadi?" Tanya Rahma dan diba bersamaan.
" Jadi gini-"
" Hai kak renan," sapa seorang gadis kepada renan yang sedang duduk di bangku depan kelasnya.
Renan menatap gadis itu dengan sebelah alisnya terangkat.
" Boleh foto bareng?" Tanya gadis itu.
Raka yang duduk tepat disebelah renan akhirnya menyenggol lengan renan karena temannya itu tidak mengeluarkan reaksi apapun selain menatap sekilas gadis di depannya.
" Diajak foto tuh," katanya.
Aldi memetik gitarnya hingga berbunyi jreng jreng. " Artis masa kini mah beda."
Sedangkan itu masih menatap renan dengan menggigit bibir bawahnya.
" Boleh," jawab renan sambil menatap gadis didepannya itu.
" Kita Selfi ya, kak," katanya.
Renan berdiri dari duduknya. " Biar temen gue yang fotoin."
Degan sigap raka ikut berdiri dari duduknya. " Biar gue aja yang jadi fotografer kalian," katanya menawarkan diri sambil menerima ponsel yang diulurkan oleh gadis manis didepannya ini.
Aldi juga tak mau kalah. Dia sudah meletakkan gitarnya dan berdiri di samping raka. " Biar gue yang arahin gaya kalian, supaya fotonya makin bagus, jangan lupa, nanti cetak yang banyak ya," katanya sambil menaik-turunkan alisnya.
Renan sudah berdiri disamping gadis itu menghadap kamera. Sedangkan gadis itu tersenyum malu-malu sambil sesekali menunduk karena salah tingkah, ada rasa deg-degan juga karena bisa sedekat ini dengan renan.
3 jepretan foto berhasil diambil raka. Dia lalu mengembalikan ponsel ditangannya kepada gadis itu.
" Makasih kak," ucapnya.
Renan hanya tersenyum sangat tipis lalu kembali duduk ditempatnya. Tetapi gadis itu masih setia ditempatnya dan belum ada tanda-tanda akan melangkah pergi.
Raka ikut menatap gadis itu lagi. " Kenapa, fotonya kurang banyak?" Tanya raka pada akhirnya.
Gadis itu menggeleng lalu mengulurkan tangannya ke hadapan renan. " Aku ayu kak."
Tapi beberapa detik berlalu renan belum membalas uluran tangan ayu. Bahkan menatap pun tidak.
" Namaku ayu kak," ulangnya lagi masih dengan senyuman yang masih mengembang.
Renan yang mulai kesal dengan tingkah laku gadis didepannya ini langsung berdiri menatapnya tajam. Ayu yang juga tak kalah kaget dengan gerakan renan yang tiba-tiba reflek bergerak mundur. Renan terus melangkah maju membuat ayu juga ikut mundur hingga punggungnya menabrak tembok. Renan sedikit membungkukkan badannya mensejajarkan wajahnya dengan ayu.
" Gura rasa Lo udah kenal gue dan gue nggak perlu kenalan sama lo, cukup Lo yang tau gue," tandasnya.
Ayu menegang ditempatnya. Bahkan ponselnya dia genggam dengan sangat erat untuk menyalurkan rasa takutnya. Ucapan renan begitu menusuk ke telinganya. Dan setelah mengatakan itu renan melangkah pergi meninggalkan ayu diikuti oleh raka dan aldi dibelakangnya.
" Selamat menikmati fotonya," ucap Aldi sebelum menghilang di balik tembok.
Kira yang sedari tadi memperhatikan mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh juga ikut merasa kesal dengan perlakuan renan kepada ayu. Hingga tak sadar dia sampai ikut mengumpat.
" Dasar cowok sombong."
" Dan Lo tau apa yang terjadi setelah itu?" Tanya kira sambil menatap dua temannya.
Rahma dan diba saling pandang sebentar kalau kompak menggeleng.
" Yang ayu dapat bukan foto dirinya dan renan melainkan foto Aldi dan raka dengan pose muka datar," kata kira menggebu-gebu.
Rahma dan diba langsung terbahak keras, tapi itu tidak berlangsung lama karena kira segera memperingatkan sahabatan itu untuk tidak tertawa keras. Tawa mereka bisa saja membangunkan keyra yang sedang tertidur pulas disofa dengan menjadikan pahanya sebagai bantalan.
" Sombong banget tuh cowok," katanya lagi dengan nada kesal.
" Terus info apalagi yang Lo dapet Ra?" Tanya Rahma.
Kira menjentikkan jarinya. " Dia itu pelit. Fix, dia itu paling pelit pake banget."
" Pelit gimana, gue sering lihat dia traktir teman-temannya di kantin," sanggah Rahma.
" Itu sih cuma pencitraan aja kali biar bisa dibilang baik."
" Emang apa yang Lo lihat, sampai-sampai Lo langsung ngejudge dia itu pelit?" Kali ini diba yang bertanya.
" Lo bayangin aja Dib, ada temennya dia yang nyamperin renan cuma mau tanya gimana cara ngerjain soal dan si renan malah nyoret buku temennya dengan tanda tangannya yang gede banget. Pelit banget kan, apa susahnya coba cuma ngasih tau cara ngerjain soal. Ilmu kan buat dibagi bukan buat disimpan sendiri," ucap kira makin penuh nafsu apalagi ketika kejadian itu kembali teringat olehnya.
Rahma dan diba kembali tertawa tapi kali ini lebih pelan. " Gokil tuh kak renan, mintanya apa dikasihnya apa. Kalau gue yang gitu gue bakal minta dipeluk ah," celetuk Rahma.
" Gokil apanya, blagu iya," sindir kira.
" Terus sekarang Lo mau gimana, lanjut atau nggak?" Tanya diba memastikan.
Kira menunduk menatap keyra yang terlelap di pangkuannya. Tangannya terulur untuk mengelus rambut panjang keyra. Jika kira mundur otomatis dia akan gagal membahagiakan keyra. Tadi saja sewaktu kira dan keyra baru saja sampai di rumah diba, keyra langsung bercerita dengan sangat antusias tentang keinginannya. Dan jika kira gagal makan dia kan snagat merasa bersalah bukan hanya kepada keyra tapi kepada dirinya sendiri karena tidak bisa mempergunakan senyum di wajah keyra.
" jadi gimana Ra hasil pencarian info Lo hari ini?" Tanya diba santai sambil memindahkan keripik kentang kesukaannya dari dalam kemasan ke dalam mulutnya.
Kira menghela nafas gusar sambil menyandarkan punggungnya pada sofa. " Kayaknya bakal sulit deh, soalnya dia, aduh gimana ya, pokoknya gitu deh," kira menggaruk kepalanya bingung bagaimana harus menjelaskan.
" Gitu gimana maksud Lo?" Tanya Rahma penasaran.
" Gue nggak nyangka ternyata aslinya dia kayak gitu."
" Ra, kalau ngomong yang jelas dong, gue sama Rahma jadi ikutan bingung kalau gitu."
Kira sendiri masih bingung harus mulai menjelaskan darimana. Dan bukan tanpa alasan juga kira akhirnya menyanggupi misi ini karena dua temannya juga menyanggupi permintaan kira. Kira hanya ingin membuat keyra-orang yang dia sayang bahagia. Kira tau selama ini keyra tidak pernah meminta apapun kepada kira, tapi kira sebenernya tau keinginan keyra. meski kira tidak bisa mengusahakan keinginan terbesarnya karena itu masih terasa sulit baginya namun kira akan memulainya dari keinginan yang sepele. Dan kira ingin memberikan kejutan ini tepat di hari ulang tahun keyra yang akan jatuh dua bulan lagi dari sekarang. Tentu ini membuat kira tidak punya banyak waktu dan dia harus cepat-cepat menyelesaikannya tepat waktu.
" Jadi?" Tanya Rahma dan diba bersamaan.
" Jadi gini-"
" Hai kak renan," sapa seorang gadis kepada renan yang sedang duduk di bangku depan kelasnya.
Renan menatap gadis itu dengan sebelah alisnya terangkat.
" Boleh foto bareng?" Tanya gadis itu.
Raka yang duduk tepat disebelah renan akhirnya menyenggol lengan renan karena temannya itu tidak mengeluarkan reaksi apapun selain menatap sekilas gadis di depannya.
" Diajak foto tuh," katanya.
Aldi memetik gitarnya hingga berbunyi jreng jreng. " Artis masa kini mah beda."
Sedangkan itu masih menatap renan dengan menggigit bibir bawahnya.
" Boleh," jawab renan sambil menatap gadis didepannya itu.
" Kita Selfi ya, kak," katanya.
Renan berdiri dari duduknya. " Biar temen gue yang fotoin."
Degan sigap raka ikut berdiri dari duduknya. " Biar gue aja yang jadi fotografer kalian," katanya menawarkan diri sambil menerima ponsel yang diulurkan oleh gadis manis didepannya ini.
Aldi juga tak mau kalah. Dia sudah meletakkan gitarnya dan berdiri di samping raka. " Biar gue yang arahin gaya kalian, supaya fotonya makin bagus, jangan lupa, nanti cetak yang banyak ya," katanya sambil menaik-turunkan alisnya.
Renan sudah berdiri disamping gadis itu menghadap kamera. Sedangkan gadis itu tersenyum malu-malu sambil sesekali menunduk karena salah tingkah, ada rasa deg-degan juga karena bisa sedekat ini dengan renan.
3 jepretan foto berhasil diambil raka. Dia lalu mengembalikan ponsel ditangannya kepada gadis itu.
" Makasih kak," ucapnya.
Renan hanya tersenyum sangat tipis lalu kembali duduk ditempatnya. Tetapi gadis itu masih setia ditempatnya dan belum ada tanda-tanda akan melangkah pergi.
Raka ikut menatap gadis itu lagi. " Kenapa, fotonya kurang banyak?" Tanya raka pada akhirnya.
Gadis itu menggeleng lalu mengulurkan tangannya ke hadapan renan. " Aku ayu kak."
Tapi beberapa detik berlalu renan belum membalas uluran tangan ayu. Bahkan menatap pun tidak.
" Namaku ayu kak," ulangnya lagi masih dengan senyuman yang masih mengembang.
Renan yang mulai kesal dengan tingkah laku gadis didepannya ini langsung berdiri menatapnya tajam. Ayu yang juga tak kalah kaget dengan gerakan renan yang tiba-tiba reflek bergerak mundur. Renan terus melangkah maju membuat ayu juga ikut mundur hingga punggungnya menabrak tembok. Renan sedikit membungkukkan badannya mensejajarkan wajahnya dengan ayu.
" Gura rasa Lo udah kenal gue dan gue nggak perlu kenalan sama lo, cukup Lo yang tau gue," tandasnya.
Ayu menegang ditempatnya. Bahkan ponselnya dia genggam dengan sangat erat untuk menyalurkan rasa takutnya. Ucapan renan begitu menusuk ke telinganya. Dan setelah mengatakan itu renan melangkah pergi meninggalkan ayu diikuti oleh raka dan aldi dibelakangnya.
" Selamat menikmati fotonya," ucap Aldi sebelum menghilang di balik tembok.
Kira yang sedari tadi memperhatikan mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh juga ikut merasa kesal dengan perlakuan renan kepada ayu. Hingga tak sadar dia sampai ikut mengumpat.
" Dasar cowok sombong."
" Dan Lo tau apa yang terjadi setelah itu?" Tanya kira sambil menatap dua temannya.
Rahma dan diba saling pandang sebentar kalau kompak menggeleng.
" Yang ayu dapat bukan foto dirinya dan renan melainkan foto Aldi dan raka dengan pose muka datar," kata kira menggebu-gebu.
Rahma dan diba langsung terbahak keras, tapi itu tidak berlangsung lama karena kira segera memperingatkan sahabatan itu untuk tidak tertawa keras. Tawa mereka bisa saja membangunkan keyra yang sedang tertidur pulas disofa dengan menjadikan pahanya sebagai bantalan.
" Sombong banget tuh cowok," katanya lagi dengan nada kesal.
" Terus info apalagi yang Lo dapet Ra?" Tanya Rahma.
Kira menjentikkan jarinya. " Dia itu pelit. Fix, dia itu paling pelit pake banget."
" Pelit gimana, gue sering lihat dia traktir teman-temannya di kantin," sanggah Rahma.
" Itu sih cuma pencitraan aja kali biar bisa dibilang baik."
" Emang apa yang Lo lihat, sampai-sampai Lo langsung ngejudge dia itu pelit?" Kali ini diba yang bertanya.
" Lo bayangin aja Dib, ada temennya dia yang nyamperin renan cuma mau tanya gimana cara ngerjain soal dan si renan malah nyoret buku temennya dengan tanda tangannya yang gede banget. Pelit banget kan, apa susahnya coba cuma ngasih tau cara ngerjain soal. Ilmu kan buat dibagi bukan buat disimpan sendiri," ucap kira makin penuh nafsu apalagi ketika kejadian itu kembali teringat olehnya.
Rahma dan diba kembali tertawa tapi kali ini lebih pelan. " Gokil tuh kak renan, mintanya apa dikasihnya apa. Kalau gue yang gitu gue bakal minta dipeluk ah," celetuk Rahma.
" Gokil apanya, blagu iya," sindir kira.
" Terus sekarang Lo mau gimana, lanjut atau nggak?" Tanya diba memastikan.
Kira menunduk menatap keyra yang terlelap di pangkuannya. Tangannya terulur untuk mengelus rambut panjang keyra. Jika kira mundur otomatis dia akan gagal membahagiakan keyra. Tadi saja sewaktu kira dan keyra baru saja sampai di rumah diba, keyra langsung bercerita dengan sangat antusias tentang keinginannya. Dan jika kira gagal makan dia kan snagat merasa bersalah bukan hanya kepada keyra tapi kepada dirinya sendiri karena tidak bisa mempergunakan senyum di wajah keyra.
" Gue akan tetep usaha. Gue nggak mau nyerah gitu aja sebelum gue sendiri nyoba buat deketin dia," ucap kira.
***
Kira tengah berjalan di lorong kelas. Matanya fokus menatap buku dan tangannya sibuk menuliskan informasi yang baru saja dia dapat dari para tukang gosip di kelasnya tentang renan. Bahkan kira sampai melupakan keberadaan dua temannya yang sejak tadi berjalan disampingnya. Bahkan tali sepatu yang sejak tadi lepas kira biarkan begitu saja seolah tidak peduli.
Dan akibat dari keteledorannya sendiri, kira pun terjatuh karena sebelah sepatunya menginjak tali sepatunya sendiri yang terlepas. Jadilah kira jatuh menelungkup di lantai. Beru tung suasana lorong yang sudah sepi membuat kira terbebas dari bahan tertawaan para murid.
" Aduh, pake jatoh segala sih," kesalnya.
Mata kira langsung terarah ke depan untuk mencari bukunya yang terlempar. Bukannya menemukan bukunya kira justru melihat sepasang sepatu yang berhenti tepat beberapa Senti di depan wajahnya. Kira segera bangkit sambil menepuk tangannya untuk menghilangkan debu yang menempel lalu setelahnya dia mendongak untuk melihat pemilik si sepatu yang tidak sopan itu.
" Kalau punya sepatu tuh dijaga jangan-"
Ucapan kira terhenti ketika matanya menangkap sosok renan yang kini tengah berdiri di depannya. Dia juga menunduk untuk melihat sepatu itu. Matanya langsung membulat karena kaget melihat sepatu itu adalah milik renan.
Dengan segera kira membungkuk untuk mengambil bukunya tapi renan lebih cepat membungkuk dan mengambil sesuatu yang tadi melayang hingga terjatuh tepat disebelah sepatunya. Renan menatap kira sebentar sambil mengangkat sebuah kertas yang baru saja dia ambil. Renan sempat menatap heran kertas yang ada ditangannya karena sudah sangat kusut bekas di remas.
Kira sudah memiliki firasat buruk tentang kertas yang ada di tangan renan. Apalagi kini cowok itu bersiap membaiknya untuk melihat isinya. Dan mungkin saja dalam hitungan detik renan akan langsung....
" Hahahaha," renan tertawa keras dan kira sudah menduga itu. "Soal gampang kayak gini aja lo cuma bisa dapat nilai segini? Gue yakin guru ngasih waktu lo 1 jam untuk ngerjain ini. Kalau gue cuma butuh waktu beberapa menit buat soal kayak gini," ucapnya penuh nada kesombongan.
" Asah lagi otak lo biar pinter kalau perlu kepala Lo sekalian Lo asah biar makin cemerlang," tambahnya lagi. Setelah itu renan melemparkan kertas ulangan kira ke wajah cewek itu dan pergi melewati kita begitu saja tanpa ada kata maaf yang terucap.
Kira sudah mengepalkan tangannya begitu kuat. Renan sudah meremehkannya. Dan kira tidak terima akan hal itu. Nilai ulangan nya tidak terlalu jelek sebenarnya. Selisih angka antara kira dan juga dua temannya juga hanya terpaut satu angka dan kira juga tidak harus remidial. Tapi dari perkataan renan tadi, cowok itu seolah-olah menganggap kira adalah orang yang sangat bodoh.
Berkali kali kira menghentakkan kakinya di lantai dengan kedua tangan yang terkepal di depan wajahnya. Dia merasa sangat geram.
" Dasar cowok sombong. Cuma cewek bodoh yang tergila-gila sama lo!" Teriak kira meski tidak akan bisa terdengar oleh renan yang sudah pergi entah kemana.
" Woi!" Rahma dan diba menepuk pundak kira.
Kira terus saja menatap ke arah berlalunya renan dengan mata yang berapi-api.
" Lo berdua jadi saksi. Catat di otak kalian kalau perlu di rekam apa yang akan gue ucapin. Ngerti!" Ucap kira dengan suara tinggi.
Meski awalnya sedikit bingung dengan sikap kira, tapi akhirnya diba mengangguk juga. Dia langsung menyenggol Rahma yang memang sedang memegang ponsel. Rahma pun dengan cepat mengubah ponsel yang tadi sedang menampilkan kamera menjadi record.
" Gue, kirania Khanza Pratista, dengan ini bertekad akan menuntaskan misi gue. Demi harga diri gue yang udah diinjak-injak oleh seorang renando abrisam," ucap kira dengan tegas dan lantang.
Rahma dan diba kaget melihat kira yang seperti berapi-api.
" Ra Lo sadar kan?" Tanya diba setelah mata kira menatap kerahnya dan Rahma.
" Ra, semuanya udah gue record jadi Lo nggak perlu ulang lagi kata-kata Lo tadi, kalau Lo lupa Lo bisa dengerin lagi," kata Rahma.
" Emang gue tadi ngomong apaan?" Tanya kira seperti orang linglung.
" Lo mau tuntasin misi Lo demi harga diri Lo yang diinjak kak renan," kata diba mengulang ucapan kira.
" Beneran Lo record ma?" Tanya kira.
" Kan Lo yang nyuruh," jawabnya enteng.
Kira hanya bisa menepuk pelan dahinya sambil menghela nafas pasrah.