
" Sip sekarang kita buat gulungan kertasnya dulu, 2 dare, 2 truth," titah diba.
Sejujurnya kira sedikit merasa tegang karena dari dulu setiap bermain ini dia pasti selalu menatap dare atau truth yang tidak menyenangkan. Tapi kali ini dia berpikir kalau ini hanyalah sebuah permainan agar mereka semua termotivasi untuk belajar lebih giat dan mendapat nilai tinggi besok.
" Sip, sekarang siapa dulu yang mau ambil?" Tanya Rahma sembari menyodorkan mangkuk yang berisi 4 gulungan kertas kecil.
" Gue dulu deh," diba mengambil asal satu gulungan kertas itu. " Gue dapet dare," katanya.
" Bohong lo," Rahma menarik paksa kertas yang ada ditangan diba. Dia merasa tidak percaya karena diba tidak menunjukkan ekspresi gembira bahkan lebih terkesan datar saja.
" Eh serius diba beneran dapet dare."
Mendengar itu diba langsung tersenyum lebar selebar-lebarnya.
Rahma meremas kertas itu dan membuangnya asal. "Sekarang giliran gue."
Tinggal satu kesempatan lagi untukĀ mendapatkan dare. Rahma memperhatikan satu persatu kertas didalam mangkuk. Tak lupa dia juga mulai mengira-ngira mana kertas yang berisi dare. Dia tidak mau mendapatkan truth yang mungkin akan membuatnya malu.
" Buruan pilih, lama deh," desak diba.
Rahma akhirnya mengambil asal. Wajahnya langsung cemberut ketika melihat huruf pertama pada kertas yang dia ambil.
Diba langsung membekap mulut Rahma ketika cewek itu hendak membuka mulutnya. " Gue udah tau lebih baik Lo jangan ngomong daripada telinga gue jadi bermasalah."
Perhatian diba langsung beralih pada kira yang sedari tadi hanya tertawa. Mengerti arti tatapan diba, kira segera mengambil asal satu kertas dan dibukanya dengan santai.
" Dapet apa Ra?" Rahma penasaran. Dia tidak bisa membaca raut wajah kira apakah senang atau bingung.
" Gue dapet dare," katanya pelan.
" Jadi kita udah sepakat. Tapi tetap harus berusaha maksimal buat ulangan besok, karena nilai bukan main-main. Jadi nggak boleh ada yang curang khusunya buat gue sama lo Ra, bukan berarti karena misi dare kita sengaja agar nilainya paling rendah," kata diba memperingatkan.
" Oke, siapa yang nilainya paling rendah itu yang akan jalanin sesuai dengan apa yang udah kita pilih," tambah Rahma.
***
Ketukan dari pintu kamarnya membuat kira bangun dari lamunan panjangnya. " Masuk," ucapnya.
Pintu terbuka dan menampilkan sosok keyra-adik kecilnya yang tengah berjalan masuk sambil memeluk sebuah buku.
" Keyra boleh tidur disini nggak?" Tanyanya.
Kira tersenyum. " Boleh dong."
Keyra langsung naik ke atas tempat tidur dan memposisikan tubuhnya miring agar lebih mudah untuk memeluk bukunya. Kira menyelimuti adiknya sambil berbisik. " Selamat malam."
Deringan ponsel di atas nakas membuat perhatian kira teralihkan. Ada panggilan VC dari Rahma, kira segera mengambil ponselnya dan sedikit menjauh dari keyra agar tidak mengganggu tidurnya.
" Kenapa?" Tanya kira langsung saat sudah melihat wajah Rahma.
"Kita udah putusin sesuatu."
" Putusin apa?
" Kita bakal kasih hadiah buat Lo kalau Lo berhasil selesaikan tantangan dengan baik."
Diba mengambil alih ponsel Rahma. " Kalau gue yang berhasil, Lo berdua harus ngelayanin gue dan kalau Rahma yang menang, Lo sama gue harus beliin parfum paling terkenal di Paris. Tadinya sih gitu, tapi berhubung Lo yang kalah dan harus selesaikan misi dare Lo jadi itu udah nggak berlaku buat gue sama Rahma."
Mendengarnya kira langsung melotot. " Rahma gila ya, itu sih namanya meras temen."
" Yang menang kan raja. Lagian udah nggak jadi juga."
" Kalau gue nanti bisa selesaikan misi itu gimana?" Kira jadi ikut tertantang.
" Apa yang Lo minta dari kita, apapun kita turutin."
Kira diam. Sebenarnya ada satu keinginan yang belum bisa kira wujudkan selama ini. Atau mungkin tidak akan bisa kira wujudkan meski dalam hatinya dia sangat ingin mewujudkannya. Jika lewat ini kira memiliki kesempatan itu, maka kira akan mengutarakan keinginannya yang tidak diketahui sahabatnya bahkan papanya sendiri pun tidak tau.
" Ra, bilang aja apa mau Lo, gue yakin keinginan Lo itu nggak lebih mahal dari harga parfum yang Rahma minta."
Kira terkekeh. " Sorry, tadi gue cuma lagi mastiin kalau keyra nggak kebangun karena suara cempreng Rahma."
" Asem Lo," kesal rahma yang baru saja kembali muncul di layar ponsel.
" Jadi apa mau Lo, bilang aja, supaya Lo makin semangat ngejalanin dare-nya?"
Kira menggigit bibir bawahnya. Dia sedikit ragu untuk mengatakannya. Tapi kalau ini adalah satu-satunya jalan kenapa tidak kira coba. Meski dalam hati dia tidak pernah yakin bisa menyelesaikan misi itu dengan target renando tapi kira akan mencobanya. Semuanya demi orang yang paling kira sayang.