Truth Or Dare

Truth Or Dare
Rencana #End



Pagi ini kira kembali menunggu renan di gerbang sekolah. Dia sudah mempersiapkan diri untuk kembali melancarkan aksinya. Pegal sudah pasti kira rasakan karena dia sudah berdiri sejak pagi hari sekali. Tas sekolahnya pun masih tergendong di punggungnya. Dia sengaja melakukan ini agar dia tidak melewatkan kedatangan renan.


Kira kembali menarik sudut bibirnya saat dirasa senyumannya mulai menciut. Meski gigi sudah terasa kering tapi senyuman harus tetap dipertahankan. Rahma dan diba bertugas memberi kode kalau renan sudah akan masuk ke gerbang sekolah. Beberapa kali kira sempat melotot kepada teman sekelasnya yang sempat menggodanya.


" Kalau targetmu ternyata orang yang super cuek maka kamu harus selalu memberikan senyummu yang paling manis untuk doi."


Ingin sekali kira mengumpat membaca itu di sebuah artikel. Kenapa disetiap artikel yang kira baca selalu mengharuskannya untuk melakukan hal baik kepada renan, tidakkah pembuat artikel itu mengerti kalau renan itu selalu membuatnya kesal. Bahkan saat dia menceritakan itu kepada Rahma dan diba mereka malah tertawa mengejek kira, karena apa yang pernah kira tolak mentah-mentah nyatanya harus dia lakukan sekarang.


" Katanya nggak mau kasih senyuman ke sembarang orang termasuk kak renan tapi nyatanya sekarang Lo lakuin juga."


Begitulah ejekan dua temannya kira-kira. Tapi mau tidak mau kira harus melakukannya. Kira melihat diba sudah memberi kode lewat acungan jempolnya. Dia pun mulai bersiap-siap, kira berdehem pelan agar suaranya tidak terdengar serak. Senyumnya yang beberapa saat lalu memudar kembali dia paksakan mengembang agar terlihat lebih manis meski gigi sudah terasa sangat kering.


Saat renan memasuki gerbang, kira sudah menatapnya berharap renan juga balik menatapnya sambil tersenyum sangat manis. Tapi yang terjadi justru renan melewati kira begitu saja seolah tidak melihat apapun. Tetap berjalan cuek dengan kedua tangan dia masukkan ke dalam saku celana. Kira tidak menyerah, buru-buru dia menyusul renan hingga berjalan disebelah cowok itu.


" Morning kak, hari ini cerah banget ya, secerah wajah kakak apalagi kalau mau balas senyuman aku pasti tambah ganteng."


Renan tidak merespon. Dia malah tambah mempercepat laju jalannya membuat kira kembali tertinggal. Kira sudah sangat geram dengan sikap cuek renan sampai-sampai dia mengepalkan kedua tangannya di depan wajahnya sendiri. Kira kembali berdecak lalu berlari mengejar renan, kali ini bukan cuma menyamai langkah cowok itu tapi kira memberanikan diri menghadang langkah renan. Tapi cowok itu tetap tidak mau berhenti yang akhirnya memaksa kira untuk berjalan mundur agar tidak ditabrak oleh renan.


" Kak, udah sarapan? Pasti udah dong ya, tapi kok nggak mau balas senyuman aku sih?" Kata kira masih dengan senyumannya.


Renan tetap tidak tergoyahkan, dia terus berjalan seolah tidak ada penghalang di depannya. Renan makin melebarkan langkahnya membuat kira juga ikut kewalahan untuk berjalan mundur dengan cepat.


" Kak, biar tambah semangat belajarnya, inget senyuman aku ya," kata kira lagi.


Nafas kira mulai tersengal. Lelah rasanya karena terus berjalan mundur. Senyumnya juga sudah tidak mengembang sempurna tapi Renan tidak bereaksi apapun.


" Kak...sto..p...Kak...capek," kira hampir kehilangan suaranya karena nafasnya yang tidak beraturan.  Hingga akhirnya renan berhenti berjalan lalu menatap kira.


Meski nafasnya belum teratur tapi kira memaksakan dirinya untuk menatap renan sambil tersenyum. Akhirnya renan berhenti juga, mungkin saja ada rasa tidak tega juga melihat kira yang sepertinya sudah kelelahan. Secuek cueknya renan, pasti cowok itu juga masih punya rasa kasihan terhadap kaum perempuan yang lemah. Dan berharap kali ini renan setidaknya mau membalas senyum kira. Itulah perkiraan kirania saat ini.


" Senyum murahan yang ditujukan untuk semua orang. Jangan berharap gue mau balas senyum Lo itu. Kalau mau cari perhatian gue tuh ngaca dulu!"


Tapi semuanya salah, renan tetaplah renan yang tidak punya hati dan selalu mengungkapkan apa yang ada dipikirannya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Dan mungkin akan selalu begitu.


" Aduh!"


Demi menghindari renan yang akan melewatinya, kira sedikit menyingkir tapi yang terjadi dia malah tersandung sebuah pot hingga kira terjatuh dengan posisi duduk.


" Dasar cowok somppt."


Mulut kira dibekap oleh seseorang dan selanjutnya dia merasakan kalau tangannya ditarik agar berdiri.


" Kamu nggak papa ra?"


Kira membulatkan matanya lalu segera menepis tangan Roni yang masih memegang lengannya. Dalam hati kira mengumpat. Kenapa sekarang urusannya bertambah, Bukan cuma dengan kak renan melainkan dengan Roni si cowok culun satu sekolah.


" Aku mau bilang makasih sama kamu karena kemarin kamu udah puji aku ganteng," ucap Roni dengan malu malu. Ini adalah untuk pertama kalinya dia berbicara dengan cewek. Karena semua cewek satu sekolah itu cenderung menjauhinya.


Kira tersenyum tidak minat kepada Roni. " Iya sama sama Ron, nih gue punya roti buat Lo, belum sarapan kan?" Kira memasukkan roti itu ke mulut Roni hingga penuh dan tidak bisa berbicara.


" Dimakan sampai habis jangan disisain kalau perlu sama plastiknya sekalian. Bye roni," kira melesat pergi meninggalkan Roni sebelum cowok itu berbicara yang aneh aneh.


Dalam keadaan mulut penuh roti yang masih berusaha Roni kunyah perlahan, dia menyempatkan diri melambaikan tangan kepada kira.


***


Gelak tawa Rahma dan diba masih terus memenuhi ruang kelas yang sepi. Sedangkan kira hanya bisa cemberut mendengar mereka terus tertawa tanpa henti-hentinya.


" Nggak dapet kak renan Roni pun jadi Ra, sikat aja, kayaknya dia suka deh sama lo apalagi setelah Lo Sebut ganteng," celetuk Rahma.


" Udah dong ketawanya, Lo berdua bukan temen gue ya," kesal kira.


" Oke..oke," diba menarik nafas dan menghembuskan nafasnya perlahan untuk meredakan tawanya. " Sekarang cara apa lagi yang mau Lo coba, kue buat kak renan udah Lo kasih ke si Roni terus sekarang gimana?"


" Gimana kalau Lo temenin kak renan belajar di perpustakaan, siapa tau dengan cara itu bisa sedikit ngebantu jalan Lo ke depannya," celetuk diba.


Kira menegakkan punggungnya. " Gue inget!"


" Cara kedua yaitu kasih perhatian Lo untuk si doi, buat dia terkesan dengan perhatian kecil yang Lo berikan."


Cara yang diba sebutkan sama dengan cara yang kira baca di artikel. Mungkin dia memang harus mencoba cara yang kedua ini. Meski dalam hatinya dia sudah sangat bosan mencoba berbagai cara tapi hasilnya selalu sama yaitu kegagalan. Tapi untuk menghasilkan sesuatu yang baik memng memerlukan berkali-kali percobaan bukan?


***


Berbekal informasi dari detektif diba, kira akhirnya berhasil menemukan renan di perpustakaan. Dengan langkah mengendap-endap dengan separuh wajahnya kira tutupi dengan buku agar tidak langsung diusir renan, kira duduk disebelah cowok itu dengan perlahan. Dibalik buku kira melirik renan yang masih tampak serius dengan apa yang ada didepannya. Perlahan kira menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan renan.


Kira menoleh lalu menurunkan buku yang menutupi wajahnya hingga matanya terlihat. " Siang kak renan," katanya pelan namun masih mampu di dengar oleh renan.


Renan menoleh lalu melotot. " Lo," ucapnya sedikit keras dan penuh penekanan.


Kira memposisikan jari telunjuknya di depan bibir. " Jangan berisik kak, nanti malah diusir sama petugas perpustakaan lho."


Renan kembali menatap buku didepannya. " Ngapain Lo disini?"


" Mau nemenin kakak belajar biar tambah semangat."


" Berisik. Pergi Lo!"


Tak dipungkiri kira masih merasa kesal dengan perlakuan renan tadi pagi, tapi kira hanya bisa menunjukkan kekesalannya dibalik buku. Dia tidak mau membuat renan semakin jauh untuk dia gapai kalau kira secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka ataupun rasa kesalnya terhadap sikap renan yang begitu cuek dan dingin. Setelah dirasa emosinya yang sempat terpancing oleh ucapan renan tadi sedikit menurun, kira kembali menatap cowok itu.


" Serius banget belajarnya, belajar apa sih?" Kira sedikit memajukan kepalanya untuk melihat buku yang sedang renan baca.


" Bisa diem nggak Lo!"


Kira menarik mundur kepalanya masih dengan senyumannya. " Bisa tapi aku boleh kenalan dulu nggak?"


Meski ucapan renan mengakibatkan senyumnya memudar tapi kira masih tertantang untuk terus mengganggu renan. Berbeda dengan renan yang justru sudah merasa sangat kesal dengan tingkah kira yang terus mengganggunya seharian ini. Renan sudah tidak tahan lagi. Dia menutup bukunya dengan keras lalu menatap tajam kira.


" Lo nggak punya kegiatan lain selain ganggu hidup gue?"


Kira menggeleng dua kali. " Untuk sekarang nggak ada."


Renan berdecak lalu kembali membuka bukunya. Ingin sekali rasanya dia segera pergi meninggalkan perpustakaan tapi, karena ada beberapa hal yang belum dia catat dan itu sangat penting, akhirnya membuat renan berusaha bertahan berada di dekat kira untuk beberapa saat lagi. Waktu mencatat terasa lebih lama terlebih lagi ada saja yang kira lakukan u tuk mengganggu renan. Entah kira ikut membaca tulisan renan dengan cukup keras, atau ikut melihat buku yang sedang renan baca hingga menghalangi pandangannya. Dan hingga puncaknya, kira menarik paksa buku yang sedang dipakai renan untuk menuliskan berbagai catatan saat cowok itu tengah membuka lembaran buku paket.


" Lo mau ngapain buku gue?"


Renan hendak berusaha merebut tapi teguran dari petugas perpustakaan yang kebetulan sedang lewat membuat cowok itu akhirnya bungkam. Entah sudah berapa kali decakan yang kira dengar dari.mulut renan tapi nyatanya kira hanya merespon dengan cengiran tidak bersalahnya.


Renan hanya bisa melirik bukunya yang sedang dicorat-coret oleh kira.


" Kak, mungkin aku dimata kakak hanya sebuah titik hitam yang nggak ada artinya tapi mulai sekarang titik hitam itu akan menjadi coretan pena yang akan mewarnai kehidupan kakak," kira menggeser buku renan kembali setelah dia menuliskan  nama panjangnya.


" Karena setiap kata itu berawal dari sebuah titik hitam. Mau coba?" Kira mengulurkan tangannya ke hadapan renan. " Kita bisa memulainya dari sebuah perkenalan."


Renan menepis pelan tangan kira lalu membereskan semua bukunya. " Lo udah ganggu hidup gue dan gue nggak akan ngebiarin gitu aja orang yang udah ganggu ketenangan hidup gue. Jadi, siap-siap aja kalau hidup Lo juga nggak bakal tenang."


Kira menegang di tempatnya. Nyalinya sedikit menciut. Sepertinya renan tidak main-main dengan kata-katanya kali ini. Apalagi tatapannya itu sangat mengerikan bagi kira. Benarkah setelah ini hidup kira tidak akan tenang?


Renan bangkit lalu keluar dari perpustakaan. Kira memejamkan matanya mencoba mengatur nafasnya agar dirinya lebih merasa tenang. Dia juga mensugesti dirinya untuk tidak terlalu menganggap kata-kata renan barusan. Dan tidak menjadi takut oleh ancaman renan.


" Dasar cowok sombong. Dia pikir dia siapa pake ngancem gue segala. Sebenernya dia cowok tulen apa bukan sih bisanya cuma ngancem," kira bergidig. " Amit-amit kalau gue sampe suka sama dia. Gue yakin, cewek satu sekolah akan ilfeel sama dia kalau udah tau sifatnya yang asli. Menang tampang doang tapi hati dan perasaannya udah mati," omel kira sepanjang dia berjalan hingga berbelok keluar dari perpustakaan.


Kira hendak kembali menumpahkan semua kekesalannya, tapi seseorang yang baru saja melewatinya membuat kira kehilangan kata-kata. Dia sampai menghentikan laju jalannya karena jantungnya yang berdetak kencang. Rasa takutnya kembali muncul. Mungkinkah renan mendengar semua umpatan kira dan benarkah setelah ini hidup kira benar-benar tidak akan tenang?