Travelers 2: A Medicine For Gibran

Travelers 2: A Medicine For Gibran
BAB 9 - KERETA KENCANA YANG BESAR



Berdasarkan informasi yang aku dapatkan dari buku kendaraan yang ditunggangi dewa\-dewi, kereta kencana Andromeda merupakan kereta paling mewah yang pernah dibuat oleh bangsa kurcaci. Kereta itu berbentuk dokar, bedanya kereta Andromeda terbuat dari emas dan campuran perak. Di sisi tiang kereta beroda empat yang ditarik oleh sepasang kuda putih bersayap terdapat lampu gantung yang akan menerangi seisi bumi apabila ditaruh di daratan.



Namun sayangnya, informasi yang ada di dalam buku ternyata salah besar—atau mungkin aku yang salah membayangkan. Kereta kencana Andromeda merupakan kereta teraneh yang pernah aku lihat. Benda bercahaya itu berbentuk seperti bus yang ditarik oleh kumpulan cahaya yang disatukan. Tali kekangnya pun terbuat dari cahaya—yang jelas\-jelas itu akan membutakan apabila kalian melihatnya secara langsung.



Dari pintu bus yang terbuka, berdirilah sesosok perempuan cantik dengan gaun merah menyala dan syal berwarna senada dengan gaunnya. Mata birunya langsung menatap padaku dengan tatapan tajam, lebih tajam daripada tatapan Yang Mulia Ratu kalau sedang marah. Perempuan itu menghampiriku dengan berjalan, ah tidak, mungkin melayang lebih tepatnya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan berkibar\-kibar tertiup angin yang datangnya entah dari mana.



Tepat ketika perempuan itu berdiri di hadapanku, Annabelle mengulurkan tangannya. “Salam kenal, aku Annabelle,” katanya semanis madu. “Gadis pengendali es? Eh? Dewi Zalphine pasti sangat berbaik hati saat menemui diriku di kandungan ibuku, sehingga ia mau memberikan sedikit kekuatan dewinya padaku.”



“Ya, aku tahu. Apakah aku juga harus mengangkatmu sebagai Dewi Es, seperti aku mengangkat Sannir? Aku Andromeda, dan di antara kalian bertiga—” Ucapannya terputus, tetapi tatapannya masih terarah padaku, “—siapa yang berani\-beraninya memberikan izin pada kedua gadis gila itu untuk meminta bantuan padaku?”



Kami bertiga saling bertukar pandang. Annabelle dengan tatapan paniknya dan Anjelie dengan tatapan santainya. Tanggapan mereka bertolak belakang, tetapi aku tahu apa yang harus aku lakukan.



“Aku, Dewi Andromeda yang terhormat,” kataku menundukkan kepala. “Kami membutuhkan tumpangan menuju kediamannya Yvett demi membangkitkan—” Sebelum aku menuntaskan seluruh perkataanku, Annabelle membungkamku terlebih dahulu menggunakan sapu tangannya. Aku meronta\-ronta, memintanya agar melepaskan sapu tangan itu dari mulutku, tetapi rupanya es di kulit tangannya benar\-benar dingin sehingga aku tak berani meronta\-ronta lebih jauh lagi.



“Ah? Maaf. Membangkitkan apa? Mungkin aku salah dengar atau memang dasarnya kalian ingin membangkitkan seorang manusia?” Andromeda menodong kami dengan kecurigaannya yang terbukti benar. Namun tentu saja, tidak ada di antara kami bertiga yang mau menjawab jujur jika kami belum siap dipanggang menggunakan petir dahsyatnya.



“Mem\-membangkitkan apa? Mungkin engkau salah dengar,” kata Annabelle gugup. Aku mulai merasakan bagaimana dinginnya sapu tangan di mulutku ini. Kuduga, Annabelle pasti tengah bertahan mati\-matian supaya dia tidak membekukan sapu tangan pemberian dari Roberto itu. Pemuda penempa besi itu pasti marah besar ketika benda pemberiannya membeku tanpa bisa dicairkan kembali.



“Mungkin juga,” kata Andromeda. “Aku sudah tiga ribu tahun tidak membersihkan telingaku. Korek telinga buatan manusia benar\-benar menyakiti gendang telingaku yang lembut!” serunya menggebu\-gebu. Kemudian dia mengarahkan tatapannya pada kendaraan bus di sebelah halte bus. “Kalian membutuhkan tumpangan ke Yvett, kan? Aku akan mengantarkan kalian berenam ke sana,” lanjutnya.



Dia mengajak kami bertiga masuk ke dalam bus.



Setibanya di dalam bus tersebut, pandangan buruk tentang bus sekolah seketika lenyap dari pikiranku. Bagian interior bus ini jauh lebih berkelas daripada bus manapun yang ada di dunia. Tidak ada kursi\-kursi penumpang yang menyesakkan, serta tiang gantung supaya orang yang berdiri bisa meletakkan tangan mereka di sana sekaligus sebagai alat penyeimbangan.


Yang ada di dalam bus ini adalah rak-rak buku maha besar, sebuah minibar dengan bartendernya, hingga lima set lengkap ranjang tingkat di mana sebuah ranjang tingkat telah diisi oleh dua orang manusia yang sedang tertidur pulas.


Tunggu dulu ... benar! Mereka adalah dua orang gadis yang sejak tadi kutunggu\-tunggu kedatangannya.



“Kurang ajar,” semburku. Aku nyaris saja merangsek maju ke depan guna memaki\-maki kedua gadis itu seandainya Annabelle tidak menahan pergelangan tanganku. “Aku menunggunya dengan lelah dan kepanasan, sementara mereka asyik tidur di sini!?”



“Bukan itu maksud mereka, Viona,” ujar Andromeda dari belakang tubuhku. Kontan amarahku mereda mendengar kata\-kata sang dewi. “Mereka berdua pasti akan baik\-baik saja ketika memanggil dewa yang paling muda, semisal Sannir. Namun saat mereka memanggilku, dewi paling tua di antara delapan belas dewi, maka mereka akan membutuhkan energi yang sangat banyak—jika mereka kehabisan energi saat memanggil diriku, maka mereka bisa saja meninggal dunia,” jelasnya.



Aku dan Annabelle saling berpandangan. “Memangnya harus separah itu ya? Aku baru tahu jika manusia memanggil dewa kuno akan menyebabkan manusia tersebut akan meninggal dunia apabila kehabisan energinya,” kata Annabelle.




Kemudian perempuan cantik bergaun putih itu mengajak kami naik ke lantai dua menggunakan tangga yang letaknya ada di samping pintu bus. Saat menaiki tangga, aku bisa mendengarkan lagu\-lagu klasik yang berasal dari lantai yang sedang kami tuju. Wewangian bunga yang sangat menyengat pun juga tercium oleh kami. Bahkan Annabelle mengatakan kalau dia mual karena terlalu banyak menghirup aroma wangi tersebut.



“Sabar saja,” kataku sekecil mungkin agar Andromeda tak mendengar. “Dewi yang satu ini pasti sangat menggemari bunga. Menurut buku yang aku baca, beragam bunga Dunia Atas ada di dalam kereta kencana ini, tetapi aku tak terlalu yakin sih,” kataku.



Tiba\-tiba Andromeda membalikkan badannya. Kami tersentak lalu menatap dewi tersebut dengan tegang, takut jika dia mengetahui kalau kami sedang membual tentang dirinya. Namun tampaknya wajah dewi itu baik\-baik saja—pertanda kalau dia tak mendengar apa\-apa.



“Selamat datang di ruangan istimewaku. Biasanya aku tak pernah menunjukkan ruangan ini pada tamu\-tamu manusiaku yang sedang tersasar atau menumpang. Namun karena salah satu di antara kalian—” Andromeda memutuskan kata\-katanya saat melempar tatapan aneh padaku. “—ada yang merupakan keturunan langsung dariku, maka akan kutunjukkan ruangan ini sebagai bonus.”



“Silakan membaca buku atau melakukan hal apapun sepuas kalian. Aku akan mengantarkan kalian ke tempat Yvett,”


Andromeda berjalan mendahuluiku, membiarkan kami membatu di anak tangga sembari termenung mendengarkan kata-katanya tadi. Ada hal yang sedikit aneh pada dewi yang satu itu. Dia terkesan ... terpaksa? Mungkin sedikit tidak rela ketika ada seorang manusia yang mengetahui letak ruang istimewanya.


Sejatinya ruangan yang dimaksud ‘istimewa’ oleh Andromeda tak lain adalah sebuah ruangan biasa. Tidak ada yang istimewa dari ruangan ini, kecuali air mancur dalam ruangan yang berada di tengah. Rak\-rak buku pun berjajar menjadi dinding sedangkan kulihat lampion\-lampion indah menempel di setiap tiang penyangga bus.



Aku sendiri melupakan kalau tempat ini merupakan kendaraan berjalan, bukan rumah maupun hotel mewah yang tidak bisa bergerak ke mana\-mana.



Aku jadi iri melihat kehidupan mewah dewi yang satu itu.



“Mau membaca buku?” tanya Anjelie pada kami. Dia mengarahkan pandangannya pada rak\-rak buku besar dengan terpukau. “Kabarnya Andromeda memiliki ragam jenis buku yang berbeda\-beda! Ada buku pantun, buku ilmu pengetahuan, buku ilmu dan hukum alam, hingga buku masak.”



Annabelle terlihat tidak senang mendengarnya. “Maksudmu apa?” tanya gadis itu. “Kau sedang menyindirku yang tidak bisa masak atau bagaimana? Mentang\-mentang kau bisa memasak lobster kesukaan Roberto—sedangkan aku tidak—lantas kau ingin menyombongkan diri!?”



Aku memasang wajah konyol. Kututupi kedua telinga menggunakan telapak tangan sambil menatap ke arah lain. Mulai lagi deh, pertengkaran kedua gadis aneh yang takkan pernah selesai.



Namun reaksi Anjelie sederhana, yakni senyuman terulas di bibir tipisnya. Tangannya menunjuk ke salah satu tiang yang ditempeli oleh papan besi peringatan. “Lihat itu. Papan itu memberitahu kita kalau ini adalah ruang perpustakaan. Oleh karena itu, kita tidak boleh berisik atau membuat onar di sini,” ujarnya. Akhirnya aku paham mengapa dia hanya tersenyum saat amarah Annabelle mulai menyelimuti kami.



Anjelie berdehem, memecah keheningan di antara kami bertiga. “Jika kalian mau membaca, ayo ikuti aku. Ada informasi penting yang harus aku cari di perpustakaan dunia!”


***


Bersambung