Travelers 2: A Medicine For Gibran

Travelers 2: A Medicine For Gibran
BAB 10 - ANDROMEDA MENGETAHUI RAHASIAKU!



Aku, Annabelle, dan Anjelie berjalan menyusuri rak-rak buku yang besar itu. Sesekali kami berhenti pada salah satu bagian rak buku bertuliskan Dewa-dewi Hindiana yang sangat besar di papan tanda lalu mendesah sebal tatkala buku yang dimaksud tidak kunjung ditemukan.


Annabelle mengerang frustrasi. “Argh! Memangnya buku apa sih yang kita cari? Sudah hampir lima belas menit kita mengelilingi perpustakaan ini, tetapi buku yang kau maksud tidak ditemukan sama sekali!” katanya pada Anjelie.



“Jelas saja kita tidak menemukannya. Anjelie tak memberitahukan buku apa yang sedang ia cari,” sindirku sambil menatap gadis itu. “Andai saja dia memberitahukannya pada kami, pasti kami akan berpencar agar menemukan buku tersebut dengan cepat.”



Gadis berambut pirang itu cuek\-bebek dan berjalan meninggalkan kami. Kupandangi Annabelle, gadis berambut cokelat itu terus\-terusan mengerang marah karena kakinya sudah pegal diajak berkeliling perpustakaan.



“Apa?” tanyaku saat Annabelle memandangiku tanpa berkedip. “Bukan salahku. Aku juga tidak tahu buku apa yang sedang dia cari. Mungkin kau tahu sesuatu—”



“Bukan!” potong Annabelle dengan cepat. Kemudian dia mengarahkan tatapannya pada lokasi terakhir Anjelie berdiri. “Kau tahu? Dia menjadi aneh semenjak naik ke kereta kencana Andromeda. Mungkin sejenis sihir, atau apa? Memang sih aku tidak bisa membaca rune sihir. Namun huruf penyusun Dunia Bawah itu terlihat mengelilingi Anjelie dengan aneh,” jelasnya.



Aku dan Annabelle terdiam sejenak sembari memikirkan kemungkinan yang sedang terjadi pada si gadis pengendali api itu. Mungkin dia sedang sakit perut? Atau sedang dalam masa menstruasi? Aku tidak tahu. Yang jelas sikap Anjelie menjadi sangat pendiam dan kalem.



Apakah karena peraturan di dalam perpustakaan tidak boleh berisik? Satu hal lagi, sejak kapan Anjelie menaati peraturan yang berlaku di suatu area?



“Jadi kita harus bagaimana sekarang?” tanya Annabelle padaku. “Haruskah kita ikut mencari buku yang dimaksud Anjelie? Jika iya, pasti mustahil ditemukan—sebab nama bukunya saja kita tak tahu.”



Aku mengamati sekeliling rak\-rak buku. Sebenarnya aku juga bingung dengan hal yang akan kami lakukan sekarang. Namun membiarkan Anjelie mencari sebuah buku misterius sendirian, tentulah tidak etis, apalagi aku adalah calon pewaris kerajaan. Etika merupakan salah satu hal yang sering diajarkan Yang Mulia Ratu kepadaku.



“Kita bantu cari,” kataku serius. Kutatap Annabelle yang sedang menahan rasa penasarannya. “Kau ke utara, aku ke selatan. Biarkan Anjelie ke barat sendirian. Jika kau menemukan sebuah buku berkaitan dengan dewa\-dewi Hindiana, kumpulkan lalu kita letakkan di meja sana agar kita bisa membaca seluruh isinya,” lanjutku sambil menunjuk pada meja tepat di samping tangga menuju lantai satu.



Annabelle mengangguk paham. Setelah memastikan kalau segala perintahku ia pahami, kami berdua segera beranjak pergi dari titik kumpul itu menuju arah masing\-masing, dan berharap kalau sesuatu yang kami temukan takkan mengecewakan hati.



Awas saja, Anjelie akan kupinta pertanggung jawabannya karena telah menjebak kami dalam kesulitan.


***


Arah selatan seperti apa yang kujanjikan ternyata tak pernah menjadi arah selatan yang sebenarnya. Langkah kakiku malah menuntunku pada satu arah, yakni arah utara yang kukira merupakan arah perginya Annabelle mencari buku.


Harusnya saat ini aku mencari alasan yang tepat seandainya aku bertemu dengan Annabelle di tengah jalan. Dia pasti takkan menoleransi saat melihat kehadiranku di wilayah pencariannya. Itu karena dia adalah seseorang yang memegang teguh pada pendirian atau janji yang telah dibuat sebelumnya.



Aku menyusuri jalan setapak, beberapa belokan ke kiri dan kanan hingga dua kali menemukan jalan buntu. Aku mulai menduga kalau aku sedang berjalan di dalam labirin dan ternyata dugaanku tidak sepenuhnya salah. Tempat yang sedang kujelajahi ini mirip seperti lokasi labirin yang sering kubaca di buku cerita, bedanya dinding labirin ini terbuat dari rak\-rak buku yang tinggi, bukan semak\-semak.



“Memangnya apa yang sedang aku harapkan?” tanyaku pada diri sendiri. “Mendapatkan buku tersebut lalu menaruhnya di meja sesuai perjanjian? Memecahkan teka\-teki labirin di buku dongeng saja aku tidak bisa! Bagaimana dengan labirin asli seperti ini?”



Di saat fokus mencari buku sekaligus jalan keluar, sebuah suara berbisik di dalam pikiranku. Suaranya halus, sangat halus, saking halusnya hampir membuatku tertidur pulas dalam labirin tak berujung ini. Suaranya milik seorang wanita, dan persis seperti suara yang aku dengar saat melihat Sarah dan Silvanna melayang di udara.



*Tenang saja, Anakku*, kata suara tersebut. *Buku tersebut sudah pasti kau ketahui. Kau adalah anak dari seorang ibu yang amat tangguh. Saking tangguhnya hingga dia rela mengorbankan nyawanya padaku agar kau selalu berada dalam keselamatan. Tenang saja, aku akan membantumu apabila kau berada dalam kesesatan*.



“Bahkan kau sendiri menyesatkan aku,” geramku.



Suara itu tertawa keras. *Hahaha, takkan pernah bisa kusesatkan dirimu, tepatnya setelah kedua peri idiot itu pergi dari sisimu karena membiarkan aku mengusir kedudukan mereka. Setelah kepergian mereka, hanya akulah satu\-satunya sumber petunjukmu*.



Aku mencibir. “Petunjuk apanya? Kau hanya menyusahkan aku saja. Buktikan kalau kau satu\-satunya petunjuk bagiku,” kataku.



*Cih! Dasar bocah tengik. Apa kau sengaja memancingku agar aku memberitahu informasi secara gratis*?



“Lebih baik kau pergi saja, biarkan kedua peri itu kembali ke sisiku. Walaupun mereka tidak bisa menolongku, setidaknya kehadiran mereka takkan mengganggu misi pencarianku,” sindirku.



Aku bisa merasakan bagaimana murkanya sang pemilik suara. Telingaku berdenging dan panas, sementara itu serangan pusing mulai menyerang area pikiranku. Namun bukan Viona namanya kalau tumbang dengan mudah. Aku memutuskan untuk berhenti sebentar dan bersandar di dinding labirin sembari menunggu redanya nyeri dalam kepalaku.



*Tunggu saja kau, bocah tengik. Aku akan mencincangmu ketika kau tiba di markasku. Oh ya, seseorang memberitahuku kalau kau harus mencari sebuah buku rahasia milik Andromeda yang disembunyikan di rak kiri atas, letaknya tak jauh dari tempatmu sekarang. Baiklah, kau harus membayar informasi tentang itu juga. Aku akan menagih bayarannya saat waktunya telah tiba. Selamat mencari, Penjelajah*!



Pusing di kepalaku lenyap bersamaan dengan suara perempuan tersebut. Aku langsung berdiri tegap, lalu melemparkan pandanganku ke sekeliling labirin yang masih utuh, merasakan hal yang aneh karena labirin ini terasa lebih kecil daripada sebelumnya.



“Ada apa sebenarnya?” tanyaku dalam hati. Aku melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Sambil berjalan, aku mengecek kuku\-kuku kakiku yang warnanya sudah menjadi normal kembali, pertanda kalau khasiat penambah energi milik keluarga Amirah telah sirna. Jadi aku harus berhati\-hati dan menjaga pola tidur sehat agar tidak terlalu lelah.



Namun, kurasa tiga tahun mengembara sudah melatihku agar tidak mudah letih. Aku yakin dengan hal itu.



Beberapa langkah setelah melewati macam\-macam belokan, akhirnya aku sampai di sebuah jalan buntu—lagi. Aku mendesah kesal, lalu duduk selonjoran di atas lantai dengan menahan perasaan marah. Anjelie dan buku rahasia itu benar\-benar menguras emosiku hari ini, dan aku berjanji tuk memarahi gadis berambut cokelat itu begitu buku tersebut berhasil aku temukan.




Dialah si dewi kuno, Andromeda. Dewi yang meninggalkan kami karena berjanji akan mengantarkan kami pada tempat kediaman Yvett, sang putri kerajaan yang membuat perjanjian dengan Metallica—serius, saat memikirkan Yvett, aku jadi berpikiran apakah aku bisa menjadi dirinya.



Namun melihat perangai dewi yang satu ini, aku segera menarik pikiranku tadi.



“Ah, Dewi,” Aku berdiri sambil mengusap\-usap celana bagian belakang. “Aku sedang beristirahat. Labirin ini benar\-benar menguras energiku,” lanjutku.



Kulihat Andromeda mengerutkan keningnya, seolah\-olah merasa bingung dengan jawaban yang baru saja aku lontarkan atas pertanyaannya. Dia melihat sekeliling kami, mungkin mencoba memeriksa apakah labirin yang aku katakan benar\-benar menguras energiku—seperti kataku—atau tidak.



“Tunggu,” Andromeda memegangi dahiku. “Kau tidak sakit, kan? Kelihatannya kau baik\-baik saja, tetapi ucapanmu mengisyaratkan kalau kau baru saja terbentur benda keras dan hilang akal,” katanya.



Kini giliran aku yang mengerutkan keningku. Dalam hati, aku mendongkol penuh kesal. Memangnya apa yang sedang dipikirkan oleh Dewi yang satu ini? Dia tidak buta, kan? Mungkinkah terlalu sering mengeluarkan petir saat hujan bisa membuat daya lihatnya berkurang?



“Tentu saja aku tidak buta. Yang ada kau itu,” cibir Andromeda.



Aku terkesiap. “Kau bisa membaca pikiranku!?” tanyaku.



Andromeda menggeleng cepat. Dia menutup kedua mataku menggunakan sebelah telapak tangan halusnya. Ketika dia menjauhkan telapak tangannya, aku bisa melihat bahwa sejatinya aku tak lagi berada di labirin. Aku berada di meja tempat perjanjian antara aku dan Annabelle untuk bertemu dan membaca buku yang telah kami kumpulkan.



“Kupikir sihir Irish benar\-benar memengaruhimu,” Andromeda mendesah. Kemudian ia melambaikan tangannya kepada seorang pelayan yang sedang duduk di kursi dekat bartender. “Dia benar\-benar ahli sihir yang luar biasa bertalenta. Harusnya aku tak mengajari sebuah teknik sihir padanya—tetapi dia memintanya padaku secara paksa.”



Andromeda menerima segelas minuman air. Setelah mengucapkan terima kasih, perempuan bergaun merah dan berambut pirang itu memberikan gelasnya padaku. “Minumlah. Ini bisa menangkal kejahilan Irish padamu, walaupun aku masih belum menemukan siapakah perempuan yang sering berbisik dalam pikiranmu,” katanya.



“Tunggu!” Aku meletakkan gelas itu di atas meja. “Kau tahu darimana kalau aku sedang memikirkan tentangmu? Kemudian suara perempuan dalam pikiranku? Kau ini mata\-mata atau apa!?”



“Loh? Kau tidak tahu? Memangnya gadis misterius itu tidak memberitahukan padamu?”



Aku mengerutkan dahiku lagi. “Memberitahu soal apa? Soal hubunganmu dengan Irish yang kurang baik?” tanyaku.



Andromeda mendesah sebal. Tangannya terangkat ke atas sambil menggoyang\-goyangkan jari\-jemarinya yang lentik. Tak lama kemudian, sebuah buku aneh dengan sampul merah menyala dan memiliki foto wanita cantik di sampul tersebut datang melayang. Aku benar\-benar terkesiap dibuat oleh dewi yang satu ini.



“Ini, fakta tentangku yang sedang kalian cari,” ujar Andromeda. Aku terhenyak untuk beberapa saat yang cukup lama. Dalam benakku, aku mengutuk Anjelie habis\-habisan karena gadis itu mencari buku rahasia milik Andromeda.



“Apa bagusnya buku itu? Memangnya Anjelie berencana membongkar kelemahan Andromeda agar bisa mengancam dewi itu? Bukankah sama saja dia mencari mati?” batinku bertanya\-tanya.



Andromeda menghela napas. “Banyak sekali keturunan Irish mencari\-cari buku ini. Entah itu mencari petunjuk di mana letak patung sang dewi, atau sebagai ancaman agar aku mau menunjukkan lokasi patung Irish. Mungkin salah satu temanmu termasuk ke dalam golongan orang seperti itu,” katanya.



“Kau belum menjawab pertanyaanku!” kataku.



Andromeda memiringkan kepalanya. “Maksudmu? Pertanyaan yang mana? Bisakah kau mengulangi pertanyaannya?” pintanya.



Aku mendengus sebal. Kutatap serius mata hitam itu, menunjukkan padanya kalau aku sedang serius mengenai masalah yang akan kami bahas. “Aku bertanya padamu, darimana kau tahu kalau aku sedang memikirkanmu? Bagaimana juga kau bisa tahu kalau ada suara perempuan yang berbisik\-bisik dalam pikiranku?” tanyaku lagi.



Andromeda mengangguk\-anggukkan kepalanya, dan tersenyum lebar. Dia meletakkan buku di atas meja, lalu menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. **W****US**! Seketika buku di atas meja tadi lenyap tak terlihat, meninggalkan sedikit asap berwarna abu\-abu pekat.



“Eh?”



“Nah mengenai pertanyaanmu, aku tidak bisa menjawabnya,” Andromeda tertawa saat menyaksikan wajah mendidihku. “Namun kalau kau ingin mengetahuinya, silakan tanyakan kepada si pemilik suara, dia selalu mengintaimu di manapun kau berada,” sambungnya.



Aku mendecakkan lidah karena merasa kecewa berkat jawaban yang dilontarkan oleh sang dewi.



“Tenang saja. Akan ada saatnya kau mengetahui siapakah perempuan itu, Viona. Yang terpenting sekarang adalah kita sudah mendekati kediamannya Yvett, putri raja yang sedang kalian cari\-cari. Bersiaplah sebelum terjun menuju jurang penuh cahaya.”


***


Bersambung