
Apabila kalian bertanya soal apakah sakit mendarat di atas salju dengan kecepatan tinggi dan tanpa menggunakan alat pengaman sama sekali? Maka jawabanku adalah tidak, tidak ada rasa sakit sama sekali. Bahkan aku sangsi kalau kekuasaan Dewi Metallica bisa mencabut nyawaku ketika aku mendarat dengan amat keras.
Mendarat di atas salju benar\-benar seperti mendaratkan bokongmu di sofa yang sangat empuk, begitu enak dan nyaman. Setidaknya aku bisa bernapas lega kalau Andromeda benar\-benar menepati janjinya pada kami.
Kami berdua memandang takjub ke arah depan. Tak jauh dari keberadaan kami, aku dan Annabelle melihat sebuah istana megah berwarna emas menyala dengan hiasan\-hiasan lampu yang tidak dinyalakan. Di sekeliling istana tersebut, ada jalan lebar membelah danau, di mana pinggiran jalan itu dipenuhi oleh para pedagang yang menjajakan dagangannya. Segelintir rakyat kelas atas pun ada di jalan tersebut sembari melihat\-lihat isi dagangan para pedagang.
Alias pasarnya berada tepat di depan istana! Hal itu jelas saja mengingatkanku pada kerajaan Indianapolis sendiri. Aku jadi terbayang bagaimana keadaan Indianapolis hari ini. Pasti pihak kerajaan tengah dibuat pusing karena larinya sang anak bersama salah satu pengawal terbaik kerajaan dan dua gadis muda yang masih mempelajari kekuatan diri mereka sendiri.
“Ini seperti ... Indiana dalam kondisi siang?” ujar Annabelle sama terpukaunya. “Bukan. Ini bahkan lebih indah daripada Indianapolis! Bagaimana bisa ada kerajaan indah dan menawan seperti ini di dunia!?” tanyanya tak percaya.
Aku berdeham agar memecah kekaguman Annabelle. “Ehem ... ingat si kecil Yvett? Dia telah berkorban banyak untuk Metallica. Pastilah kerajaan mereka menawan seperti ini,” kataku.
Mendengar nama itu, Annabelle menjadi murung. Mungkin dalam benaknya dia tak pernah memercayai kalau seorang dewi sekejam dan sekelam Metallica mau bekerja sama dengan manusia—walaupun imbalannya terlihat menggiurkan bagi sebagian dewa\-dewi. Darah binatang yang suci, aku tidak tahu apanya yang menggiurkan, tetapi mitosnya sih begitu.
Sialnya lagi, aku lupa menanyakan hal tersebut pada Andromeda.
“Apakah kau mau berjalan ke sana?” tanya Annabelle. Aku melihat pancaran penuh permohonan dari mata gadis itu. Dia tampak menginginkan melihat kerajaan tersebut lebih dekat.
Aku menolehkan kepalaku ke atas, masih menanti kedatangan dua orang lagi yang tak muncul\-muncul batang hidungnya. Aku bergerak gelisah, tak tahan lagi jika harus mendengar rengekan Annabelle. “Duh! Tunggu yang lain dulu, ya? Kita kan janjinya berlima. Masa pergi hanya berdua? Lagipula kita berdua tidak ada yang tahu rute kerajaan ini kecuali Sarah seorang,” kataku ikut memohon.
Annabelle mendelik sebal. “Ayolah! Menunggu mereka kan lamanya bukan main—karena mereka pasti sedang berbincang\-bincang dulu dengan Dewi Andromeda. Apalagi Silvanna, salah satu keturunan langsung dari Andromeda,” katanya.
“Sebentar saja, please,” rengek Annabelle. Aku menghela napas pasrahku. Puppy eyes yang ditampakkan oleh gadis berambut hitam itu membuatku tidak tega menolak permintaannya. Dia melonjak kegirangan tatkala aku menganggukkan kepala, lalu berlari penuh semangat menyusuri jalan lebar yang disesaki oleh para rakyat Hindiana itu.
Aku mengikuti Annabelle dari belakang. Aku melihat bagaimana riangnya gadis itu sembari sesekali menanyakan harga dari barang yang sedang dijual. Berkali\-kali juga dia berhenti sebab menyaksikan aksi\-aksi lucu dan menegangkan seperti menyelamatkan bebek dari rantai yang sedang dipanaskan, hingga pada sebuah pertunjukan sulap ala bangsa Jermania masa lampau—begitulah yang aku lihat di brosurnya.
Setelah puas melihat\-lihat, akhirnya kami sampai juga di depan istana maha besar itu. Dari tempat kami berdiri, istana tersebut terlihat lebih megah, lebih mewah, dan lebih eksotis dibandingkan ketika kami sedang berada dalam ketinggian. Di sisi kanan\-kiri pintu masuk ada dua orang penjaga dengan zirah besi dan tombak tajamnya. Sekilas mereka mengingatkanku pada kejadian di mana aku disangka gembel pertama kali oleh pengawal baru kerajaan Indianapolis.
Itu merupakan peristiwa paling menyedihkan dalam hidupku—setelah kejadian kematian Ibunda dan Gibran tentunya.
“Mereka mirip seperti Sean dan Alexandro menurutku,” bisik Annabelle. Aku mengabaikan gadis itu, lalu melanjutkan langkah kami yang sempat tertunda akibat mengagumi istana megah ini. Kudengarkan suara langkah kaki tergesa\-gesa Annabelle yang memanggil\-manggil namaku.
“Viona, tunggu dong!”
Setibanya kami di depan pintu, kedua pengawal itu langsung menghadang kami seperti peristiwa yang pernah aku alami dulu. Bahkan salah satu dari mereka mengacungkan tombaknya tepat di hadapanku sembari berkata dengan suara yang amat berat, “Apa kehendakmu mengunjungi istana? Tuan putri sedang tidak ingin menerima tamu siapapun, termasuk anggota kerajaan dari negeri seberang.”
Aku terhenyak mendengar kata\-kata dari pengawal tersebut. Tahu darimana dia kalau aku merupakan seorang anggota kerajaan? Apakah penampilanku benar\-benar mirip seperti anggota kerajaan—dan tidak dapat disembunyikan—walaupun aku telah menggunakan kaus putih dan celana jins serta sandal butut yang dipinjamkan Sarah kepadaku?
“Wah ..., maaf sekali mengganggu acara tuan\-tuan,” Annabelle menyela. Dia menggeser sedikit tombak tersebut dari wajahku, tetapi sang pengawal tetap bersikeras dan mengarahkannya kembali padaku. “Kami datang dalam damai, salam dari Indianapolis, kota seribu cahaya dalam kegelapan malam. Maksud kami datang ke sini—”
Seorang pengawal yang lainnya memotong pembicaraan Annabelle. “Tunggu, Indianapolis? Indiana yang itu?” tanyanya. Dari nada suaranya, aku menduga pengawal tersebut tak akan percaya kalau salah satu anggota kerajaan Indiana datang berkunjung ke sini. “Kami belum pernah menerima tamu dari Indianapolis sejak dua puluh tahun yang lalu. Hubungan diplomatik antara Hindiana dengan Indianapolis pun dinilai buruk, jadi tidak ada alasan anggota kerajaan Indianapolis datang ke sini kecuali—”
Setelah berkata demikian, sang pengawal yang satunya ikut mengacungkan tombaknya padaku. Kini telah ada dua tombak tajam yang ingin mengancam hidupku. Kulirik pada Annabelle yang sedang berkeringat dingin sambil memandang lurus pada tombak itu. Mungkin dalam pikirannya, dia tak mau membiarkanku meninggal terlebih dahulu sebelum kami menemukan ramuan itu dan membuatnya bicara pertama kali pada Gibran, seperti cita\-citanya selama ini.
“Ehm ... harap tenang ya, tuan\-tuan. Sebenarnya kami datang ke sini dalam damai kok!” ujar Annabelle. Dia sedikit panik, tetapi dia menyembunyikannya dalam sebuah senyuman tipis. “Kami hanya mau bertemu dengan putri Yvett. Ada urusan penting dengan Dewi Metallica dan hanya Yvett yang tahu bagaimana cara menemui dewi yang satu itu,” sambungnya.
Tampaknya alasan Annabelle diterima oleh kedua pengawal kerajaan itu. Buktinya todongan senjata mereka mulai mengendur seiring bunyi decitan pintu kerajaan yang terbuka. Kulihat lagi ekspresi senang di wajah Annabelle—mungkin karena dia merasa kalau dia telah menyelamatkan nyawaku hari ini.
Sembari membungkukkan badan, salah satu pengawal tersebut berkata, “Silakan masuk. Tuan Putri Yvett menunggu kedatangan kalian berdua di dalam.”
***
Di sepanjang karpet itu pula, terdapat barisan pengawal berzirah besi sembari memegang tombak di tangan kirinya. Saat pintu masuk terbuka, otomatis mereka semua menoleh pada kami berdua dan memandangi penuh arti, mungkin penasaran siapakah dua bocah cantik yang sedang berdiri di depan pintu sembari menganga lebar karena takjub akan bagian dalam dari istana nan makmur ini.
Annabelle merapatkan tubuhnya padaku. “Ini benar\-benar membuat jantungku berdegub kencang, ya,” bisiknya. Aku menganggukkan kepalaku pelan, menyetujui apa yang baru saja ia bicarakan. “Bahkan lebih daripada saat Roberto menyatakan cintanya padaku,” sambungnya.
Salah seorang pengawal yang paling dekat dengan pintu berjalan menghampiri kami. Ketika ia berjalan, bunyi decitan khas pintu rusak terdengar olehku, menyebabkan aku harus menutupi telingaku menggunakan tangan apabila tidak ingin tuli. Rupanya bukan aku saja yang merasa seperti itu. Buktinya Annabelle juga mengikuti apa yang aku lakukan.
“Siapa kalian, dan apa mau kalian?” tanyanya dengan suara kaku seperti robot.
Saat aku ingin menjawab, suara decitan lain yang berasal dari belakang kami ikut berbunyi. Aku terpaksa menutup telingaku lagi, dan melihat siapakah orang yang menimbulkan suara berisik ini. Ternyata dia adalah salah satu penjaga di luar istana yang sempat menodongkan tombak tajamnya padaku.
“Dia Putri Viona, asalnya dari Indianapolis. Dia datang dalam damai bersama teman sebayanya, Annabelle Isaac, si gadis pengendali es, anugerah dari Dewi Zalphine. Tujuan mereka datang ke sini untuk menemui Tuan Putri Yvett dalam rangka mencari tahu bagaimana cara memanggil Dewi Metallica,” kata pengawal tersebut.
Pengawal yang berdiri di depan kami mengangguk\-angguk paham, lalu mengarahkan pandangannya pada kami berdua. Walaupun tertutupi helm zirahnya, aku masih bisa merasakan hawa dingin nan menakutkan yang dipancarkan oleh mata cokelat tersebut. “Silakan ikut aku, Putri Viona dan Putri Annabelle. Aku akan menuntun kalian menemui raja kami terlebih dahulu sebelum mendapatkan izin mendatangi kamar Yang Mulia Yvett,” katanya.
Annabelle tersenyum lebar tatkala pengawal itu berjalan menjauhi kami. kami menyusuri karpet hitam itu, mengikuti langkah sang pengawal yang semakin lama semakin cepat. Sembari menikmati bagaimana berjalan di atas karpet hitam dan disaksikan oleh barisan pengawal berbaju besi, Annabelle mengepakkan tangannya ke atas dan bawah, meniru burung yang sedang terbang bebas di langit lepas.
“Berhenti bersikap norak, Anna!” desisku, tetapi Annabelle tidak mau mendengar. Dia terus bersikap seperti itu hingga dia menabrak seseorang, mengakibatkan mereka berdua jatuh. Lebih parahnya lagi, Annabelle sedang menindih pemuda yang kutaksir umurnya tak jauh dari kami.
Salah! Pemuda itu pasti bukan pemuda biasa. Dinilai dari pakaiannya, aku menebak kalau Annabelle sedang menindih seorang pangeran dari kerajaan Hindiana!
Matilah kami. Annabelle benar\-benar berniat menabuh genderang perang di antara kedua kerajaan yang tidak memiliki hubungan diplomatik.
“Aduh,” desis Annabelle sembari memegangi dahinya yang sempat beradu melawan dahi sang pangeran. Matanya membulat tatkala dia menyadari seorang pemuda tampan berpakaian merah\-emas khas kerajaan tengah mengerang karena ditindih oleh gadis berambut hitam itu.
“E—eh, maaf, maaf, aku tidak sengaja menabrakmu,” ujarnya. Cepat\-cepat Annabelle mengulurkan tangannya, dan membantu pemuda tersebut berdiri. Gadis itu membersihkan baju bagian belakang pemuda itu dengan raut wajah ketakutan. “Sekali lagi aku minta maaf. Aku terlalu senang sehingga tidak memperhatikan langkahku,” lanjutnya.
Pemuda itu mendengus, lalu menatap Annabelle dari atas hingga bawah, persis seperti apa yang dilakukan oleh pengawal di depan pintu istana terhadap kami. Kemudian dengan senyum miring, dia berkata, “Tidak apa\-apa. Istana Hindiana memang indah—siapapun yang baru pertama kali berkunjung ke sini pasti merasa takjub akan keindahannya, dan lupa dengan langkah kakinya.”
Pipi Annabelle memerah. Pandangan pemuda itu beralih padaku, lalu dia tersenyum kecil sambil mengulurkan tangannya. “Aku Pangeran Leonardo, atau kalian bisa memanggilku Leo. Senang bertemu dengan kalian, Putri Viona dan Putri Annabelle,” katanya. Aku menerima jabatan tangannya sambil berusaha membalas senyuman itu. Ternyata lumayan sulit juga untuk tersenyum di saat hati tengah berduka akibat kehilangan sesosok orang yang dicintai.
“Jadi ... apa yang membawa Putri Viona datang ke kerajaan kami?”
Aku menunjuk pada seorang pengawal yang sedang berdiri di depan kami, tak jauh dari tempat kami berbincang dengan Leo. “Dia akan membawa kami pada Raja sebelum menemui Putri Yvett. Kami datang dalam rangka mencari tahu bagaimana cara memanggil Dewi Metallica,” jawabku.
“Tunggu dulu!” sergah Annabelle. Gadis itu memegangi pergelangan tangan Leo dengan kuat sambil melempar tatapan penuh selidik. “Sejak tadi kami belum memperkenalkan diri—alih\-alih malah membuatku tersipu malu—lalu kau mengenal kami darimana? Dari para pengawal atau ...?”
“Ramalan,” jawab Leo.
Dahi kami berdua mengerut, bingung dengan jawaban dari pemuda tersebut. Ramalan apa? Apakah Leo merupakan keturunan dari Dewi Irish? Kalau begitu ada kemungkinan Leo dan Sarah merupakan saudara jauh, bukan?
Leo menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan, aku bukan keturunan Dewi Irish. Aku punya sebuah kitab kuno milik bangsa Hindiana dulu. Aku membaca\-baca isinya, dan di kitab tersebut terdapat sebuah ramalan yang kira\-kira berbunyi seperti ini: *Gibran, sang penakluk monster abadi, telah tiada. Jasa tiada taranya menggantungkan ia dalam gelapnya ambang kematian. Lima serangkai dari Indiana bergerak menuju selatan, hanya untuk menyelamatkan Sang Terkasih dan Pemimpin dari cengkraman Naina nan terkutuk*,” jelas Leo.
Aku tergugu diam berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Leo. Jelas ada yang tidak beres dengan kalimat tersebut dan aku yakin sekali kalau aku mendengar nama Naina dalam ‘ramalan’ yang disebutkan oleh pemuda itu.
“Oke, sejauh ini aku masih belum paham apa kaitannya kau mengenali nama kami dengan ramalan yang baru saja kau sebutkan, tetapi yang pasti—” Annabelle sengaja memotong ucapannya. Tatapannya teralih pada tempat pengawal pemandu kami berdiri tadi. Di sana telah hadir seorang pria berjanggut putih dan berpakaian rapi khas seperti Leo, “—Yang Mulia telah hadir di sini. Mari kita temui beliau dan menyampaikan maksud kedatangan kita ke Hindiana. Semoga Sarah dan yang lainnya bisa menyusul tepat waktu.”
***
Bersambung