Travelers 2: A Medicine For Gibran

Travelers 2: A Medicine For Gibran
BAB 5 - BERKUNJUNG KE RUMAH PENYIHIR



Bagiku, perjalanan kali ini lebih menantang dibandingkan perjalananku ke Dunia Orang Mati. Kenapa demikian? Pertama, aku mulai berinteraksi pada orang-orang Indonesiania yang terkesan pekerja keras dan terburu-buru. Jalan mereka bahkan lebih cepat daripada kami. Yang kedua, cuaca panas tengah melanda negeri makmur yang terdiri atas banyak suku bangsa.


 


Yang ketiga? Jelas, ini soal makanan. Aku harus bisa menahan rasa lapar sebab orang Indonesiania tahu bagaimana cara makan yang enak\-enak.


Kupandangi ketiga teman\-temanku itu. Wajah mereka mengisyaratkan lelah, kantuk, dan rasa ingin makan yang sangat kuat—kecuali Silvanna tentunya. Sebagai anggota pengawal kerajaan, dia sudah terlatih untuk menghadapi kondisi seperti ini. Jadi yang dia lakukan saat ini adalah memeriksa sebagian kantung celananya yang penuh oleh makanan ringan yang sempat ia selamatkan dari tas besar bekunya.


“Kalian lapar? Mau makan dahulu?” tawarku. Seberkas sinar kebahagiaan dan kelegaan karena akan mengisi perut mewarnai mata mereka. Namun tak lama kemudian, wajah mereka mengerut lagi bagaikan buntalan lemak domba.


“Kenapa? Tidak mau makan?”


“Memangnya kau ingin membelanjakan kami menggunakan apa? Kita bahkan tidak membawa persediaan makanan atau uang Indonesiania, kan? Uang Indiana tidak akan berlaku di negeri ini,” ujar Anjelie.


Silvanna hendak membantah, tetapi aku menahan lengannya. Dia benar, sahutku melalui gerak bibir—untungnya gadis itu paham dan mengurungkan niatnya. Aku kembali menghadapkan pandanganku pada Anjelie dan Annabelle yang telah tertunduk lesu karena kelaparan.


Di tengah kebuntuan kami, aku mendengar suara wanita dari belakang. “Kalian benar, kalian memang tidak punya apa\-apa lagi untuk makan. Tapi aku punya,” kata suara tersebut. Sontak kami semua menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang perempuan—sebaya dengan kami—tengah mengulurkan tangannya. Di genggaman itu, terdapat lima buah roti lapis khas yang dibungkus menggunakan bungkus kertas.


Dia tertawa pelan. “Maaf. Indonesiania tengah mengadakan event kurangi sampah plastik. Jadi aku menggunakan kertas sebagai gantinya,” lanjutnya. Beberapa detik yang aneh, kami terpaksa terpana akan paras perempuan ini. Dia kelihatan seperti ..., ah perempuan yang aku temui tadi pagi. Bukan, maksudku, dia adalah perempuan tadi pagi! Perempuan yang sama yang menyelamatkan Annabelle dari pingsannya.


Aku yakin seratus persen!


“Kau siapa?” Pertanyaan Silvanna mewakili kami semua. Si perempuan itu terkekeh lalu melepaskan topi hitam penyihirnya. Wajah putih pucatnya mengingatkanku pada jasad Gibran yang masih terbaring di dipan kerajaan.


“Aku?” Perempuan itu menunjuk dirinya sendiri. “Aku siapa? Oh ya, kita belum berkenalan ya, aku lupa,” dia kembali terkekeh. Kami memandanginya dengan penasaran sekaligus kesal. Pembawaan aura yang ada pada perempuan ini terlalu santai—dan kami tidak memiliki waktu sepanjang hari untuk mendengarkan kekehannya.


 


“Namaku Sarah Eleanor Abigail Muller, biasa dipanggil Sarah atau Eleana kalau kalian berkenan?” katanya memperkenalkan diri. Dia membungkuk sambil meletakkan kedua tangan di belakang tubuh, persis seperti bagaimana cara hormatnya orang Japanesia yang sering kubaca bukunya di perpustakaan kerajaan.


 


Tunggu, katanya apa? Namanya Sarah? Sarah Eleanor Abigail Muller? Sarah yang itu—yang kata si tabib merupakan satu\-satunya manusia yang pernah membangkitkan seseorang dari kematian!? Mengingat hal itu, aku langsung menangkap kedua bahunya agar dia tak melarikan diri. Kupandangi dia dengan tatapan melotot dan membuatnya sedikit keheranan.


“Eh—kenapa?” tanya Annabelle.


“Dia!” ujarku setengah membentak pada Annabelle. “Dia gadis tabib yang aku cari! Dia gadis tabib yang direkomendasikan oleh tabib Trafalgar! Dia orang yang selama ini—harusnya—ada di Indiana dan menyembuhkan Gibran!” lanjutku menggebu\-gebu.


Wajah Annabelle, Anjelie, serta perempuan bernama Sarah itu terkejut bukan main. Kedua temanku saling berpandangan, sementara itu Sarah kembali membuka genggaman tangan di mana ada beberapa bungkus roti lapis di sana.


“Jadi dia orangnya!?” tanya Anjelie dan Annabelle bersamaan. Mereka menatap Sarah dari atas hingga bawah, mungkin menilai penampilan sang penyihir yang ‘terlalu’ nyentrik sehingga bisa menarik perhatian orang lain. “Kukira dia seorang tabib—”


“Dia memang tabib,” sela Silvanna. Aku beralih pada gadis itu. Ternyata Silvanna juga sedang menilai penampilan Sarah. “Namun ada garis keturunan penyihir dalam darahnya. Neanderthal? Apalah sebutannya. Pokoknya, salah satu nenek moyang gadis ini pernah melakukan perkawinan dengan salah satu penyihir Neanderthal yang paling terkenal pada zaman dulu. Siapa namanya? Aku tidak tahu. Yang pasti ketika penyihir Neanderthal dan manusia biasa dikawinkan, maka akan menghasilkan keturunan yang berbahaya,” jelasnya.


Pandangan kami bertiga beralih lagi pada Sarah yang sedang memakan sebungkus roti lapis yang ia bawa. Makannya sangat berantakan. Banyak remah roti dan sisa selai di sudut bibirnya, tetapi dia tidak menyadari hal itu. Barulah saat kami memperhatikan dirinya, Sarah malah tersenyum lebar menampakkan barisan gigi putihnya.


“Maaf, aku terlalu lapar,” katanya.


Anjelie mendengus. “Jadi kau ini penyihir atau tabib? Apakah yang diceritakan Silvanna ada benarnya?”


“Siapa Silvanna?”


Annabelle menunjuk Silvanna yang berdiri di sebelahku. “Dia. Gadis pengawal kerajaan yang memiliki—lumayan—banyak ilmu pengetahuan tentang sihir dan tabib,” jawabnya.


Mata Sarah berbinar. Dia melupakan sisa roti yang tinggal setengah itu, lalu menangkupkan sebelah tangannya di pipi. “Oh ya!? Penyihir Neanderthal ya? Kok kau bisa tahu? Aku diceritakan oleh ibuku kalau aku memiliki darah penyihir dari nenek moyangku. Ibu juga sering bercerita kalau nenek moyangku berasal dari Skotlandiana, sementara kakek moyangku berasal dari Jermania. Mereka dipertemukan 20 tahun sebelum nenek moyangku dibakar karena ketahuan sebagai seorang penyihir.”


“Oh ya?” Silvanna tampak meragukannya. “Untuk apa penyihir ada di Skotlandiana? Bukankah negeri yang satu itu sangat melarang adanya penyihir dan prakteknya di tengah masyarakat?”


“Nenekku ke Skotlandiana dalam rangka menjemput nenek buyutnya pindah ke Kanadiana, tetapi nenek moyangku malah bertemu dengan pasangannya. Kemudian beliau memutuskan untuk menetap di sana sambil mengamati kondisi Skotlandiana—jaga\-jaga kalau warga Skotlandiana mengetahui nenekku penyihir, maka ia akan segera pindah.”


Sarah menggeleng. “Tidak,” jawabnya. “Nenekku berhasil melahirkan seorang anak yang hebat, yang digadang\-gadang sebagai ahli sihir dari Yunania, namanya Cassandra. Nenek Cassandra merupakan satu\-satunya ahli sihir yang berhasil membangkitkan kembali manusia dari kematiannya—tetapi itu telah beribu tahun lalu, dan sekarang tentu saja nenekku sudah meninggal.”


“Lalu, kenapa kau menjawab tidak? Padahal nenek moyangmu memiliki anak yang bisa membangkitkan manusia dari kematian, itu merupakan kemampuan yang tidak dimiliki oleh siapapun, termasuk Dewi Naina sekali pun!” kata Anjelie.


Sarah menatap lurus pada Anjelie. Gadis penyihir itu tersenyum, tetapi senyumnya seolah\-olah misterius. Ada sinar kesedihan yang terpancar dari matanya, seolah\-olah dia memberitahukan kami kalau kisah nenek moyangnya benar\-benar menyedihkan. “Yah ... karena saat Nenek Cassandra menginjak usia 15 tahun, beliau harus menyaksikan ibu kandungnya sendiri dibakar hidup\-hidup di alun\-alun kota Skotlandiana karena kecurigaan mereka terkait keluarga penyihir.”


"Siapa namanya?”


Sarah tersenyum semakin lebar, tetapi air mata mengalir deras hingga ke pipinya. Aku memegangi tangan gadis itu, berusaha menguatkan mentalnya yang sedang turun, tetapi dia ikut memegangi pergelangan tanganku, memberitahu kalau dia baik\-baik saja.


“Namanya adalah Maggie Wall Muller, si penyihir Neanderthal asal Jermania yang sangat terkenal itu.”


 


***


Aku tidak tahu siapa Maggie Wall Muller, si penyihir terkuat di bumi asal Jermania yang sangat terkenal itu. Namun yang pasti, mendengar nama sang penyihir saja membuatku merinding setengah mati, seolah-olah nama tersebut akan menghantui dan menakut-nakuti orang yang mendengarkannya.


 


Kini aku, Sarah, dan Silvanna sedang dalam sebuah kendaraan roda tiga yang menghasilkan suara yang amat berisik dari belakang knalpotnya. Sedangkan Annabelle dan Anjelie berada di kendaraan lain yang mengikuti kami dari belakang. Asyik juga menaiki kendaraan yang satu ini, meskipun namanya sangat susah dieja.


 


Sarah menjelaskan kalau nama kendaraan ini adalah bajaj, tetapi rupanya lidah orang Indonesiania dengan Indiana berbeda sangat jauh. Dengarkan saja bagaimana Silvanna mengucapkan kata bajaj dengan logat Indiana—dijamin seratus persen, kau akan tertawa melihat upaya Silvanna menyelesaikan satu kata itu saja.


 


“Kenapa kendaraan ini diciptakan? Maksudku, suaranya saja sangat bising dan mengganggu kenyamanan orang lain,” tanya Silvanna. Sarah menatap gadis itu per sekian detik, lalu tersenyum lebar. Menurutku, Sarah merupakan satu\-satunya tabib sekaligus penyihir perempuan yang sering kali melemparkan senyumnya pada kami—setidaknya itulah yang aku saksikan selama beberapa jam aku bersama dirinya.


“Entah ya?” Sarah beralih ke kaca depan. “Ini sudah ada semenjak zaman kemerdekaan Indonesiania dari kolonial.”


“Maksudnya?”


Sarah mendecih. “Abaikan saja. Tidak ada gunanya kalian tahu hal itu, yang pasti kendaraan ini merupakan sumber penghasilan yang lumayan menguntungkan—meskipun sekarang telah ada angkutan umum yang jauh lebih efisien dan tidak berisik,” katanya cuek.


Kami menghabiskan perjalanan dengan diam sambil menikmati betapa panasnya Indonesiania. Sarah juga menjelaskan kalau sekarang sedang musim panas, pantas saja. Soalnya Indiana sedang musim dingin, dan aku merindukan bagaimana melihat tanaman padi yang mati perlahan karena suhu yang mencekam.


Lima menit, tak terasa kami telah memasuki komplek perumahan yang cukup rindang pohonnya. Jarak dari satu rumah ke rumah lainnya pun terlihat berjauhan, seolah\-olah tengah bermusuhan dan tidak ingin berdekatan. Kendaraan roda tiga ini mulai berhenti di sebuah rumah cukup besar yang jaraknya lumayan jauh dari gerbang masuk perumahan.


Setelah turun dan membayar ongkos, Sarah mengajak kami berempat untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Dia merogoh kantung baju terusan hitam miliknya, lalu mengeluarkan setangkai kunci dengan manik\-manik berbentuk tengkorak yang tergantung indah di sana.


“Rumah siapa ini?” tanya Anjelie. Kuedarkan pandanganku mengelilingi teras rumah yang cukup besar ini, begitu nyaman dan asri. Halaman depannya dipenuhi rerumputan hijau, pohon besar yang kutebak adalah pohon mangga, pagar putih ukuran sedang yang bagian atasnya membentuk kerucut, hingga kotak pos merah di samping gerbang masuk rumah yang dicat dengan warna merah terang dan bertuliskan Kotak Surat Muller.


“Ini rumahku,” jawab Sarah. Gadis itu memasukkan kunci ke dalam lubang kunci pintu, lalu memutar gagang pintu sehingga pintu putih tersebut terbuka lebar. Aroma daun mint dan udara dingin langsung menyambut kedatangan kami di depan pintu. “Orang tuaku sedang pergi, kira\-kira seminggu lagi baru kembali. Ada proyek penting yang harus mereka kerjakan—dan untungnya, aku diberi akses masuk\-keluar rumah tanpa adanya peraturan,” katanya sedikit gembira.


“Oh ya? Memang apa asiknya? Bukankah kau akan merasa sendirian dan kesepian jika tidak ada orang tua di rumahmu?” tanyaku. “Aku sudah mengembara selama hampir tiga tahun dan aku merasa kesepian tuh.”


“Semua orang memiliki tingkat kesepiannya masing\-masing,” Sarah tersenyum. Dia menarik pergelangan tanganku lalu menarikku ke dalam dan diikuti teman\-temanku dari belakang.


 


“Sekarang masuklah sebelum ada pengawal Naina yang datang ke sini dan menangkap kalian semua.”


***


Bersambung