Travelers 2: A Medicine For Gibran

Travelers 2: A Medicine For Gibran
BAB 1 - EFEK KESEDIHAN DALAM KERAJAAN



Biar kuambil secangkir teh dalam angan


Terpijar cahaya saat kau sedang berjalan


Terpaksa aku menunggu lama di taman


Karena kehadiranmu yang amat lamban


 


Aku menyusuri jalan setapak berbatu menuju tempat tinggalku berada. Di sepanjang jalan ini, banyak warga yang menatapku dengan tatapan aneh—antara bingung, sedih, dan bertanya-tanya—sambil menggigit-gigiti kuku mereka. Bahkan beberapa di antara mereka mengekoriku sejak tadi.


Aku tertunduk lesu. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya aku sampai di depan kerajaan. Kerajaan Indiana berkilauan berkat lampu-lampu yang memancarkan cahaya emas dan oranye. Jendela-jendela pun tampak terang dan kerlap-kerlip, sepertinya Raja Lucas sedang memboyong para tamunya ke dalam kamar kerja untuk menghabiskan isi beberapa buah botol anggur merah sambil menandatangani berkas upeti damai.


Di depan pintu, aku diadang menggunakan tombak oleh dua orang pengawal berpakaian serba hitam. Mereka pengawalku dan aku yakin sekali kalau mereka takkan mengenali putri cantik nan kumuh sepertiku. Salah satu dari mereka membuka topeng besi itu dan berbicara kasar padaku.


 


“Gembel tidak dipersilahkan untuk masuk! Ada keperluan apa kau hingga datang ke mari!?” tanyanya setengah membentak.


 


Aku beringsut mundur. Aku mengernyitkan dahi ketika menyadari kalau pengawal yang membentakku adalah pengawal baru. Wajahnya terlihat asing di mataku. Matanya berkilat-kilat biru, bernafsu untuk membunuh para gembel yang berusaha mendekati wilayah kerajaan. Rambut cepak pirangnya mengingatkanku pada Amreta, si gadis misterius dari Indonesiania.


“Kita harus menahannya! Yang Mulia Ratu pasti akan memecat kita apabila membiarkan gembel ini berada di wilayah kerajaan!” ujar si pengawal yang satunya. Si pengawal tadi mengangguk cepat. Mereka berdua segera menyegel tanganku menggunakan borgol ajaib yang tembus pandang. Kupandangi kedua pengawal itu dengan tatapan sedih, tak percaya kalau ternyata aku bisa ditangkap di wilayahku sendiri.


Kabar buruk, bukan? Aku sudah mengelana ke sana dan ke mari untuk mencari obat penyembuhan Gibran, malangnya saat pulang aku malah dijadikan tahanan karena disangka sebagai seorang gembel yang baru saja selesai dari kegiatan memungut sampah.


Benar-benar menyedihkan.


“Ayo ikut kami, dan jangan mencoba untuk membantah, Gembel!”


Kami berjalan melewati pintu nan kokoh itu. Ketika baru sampai di langkah pertamaku, teriakan menggelegar datang dari arah singgasana kerajaan. Di sana ada Yang Mulia Ratu Ezkiell VII yang sedang kalang\-kabut. Sedari tadi, beliau hanya bisa berteriak tak jelas sambil sesekali mengusir para tabib yang dinilai tidak bisa menyembuhkan Gibran.


Aku jadi kasihan pada jasad Gibran yang tertidur di dekat kaki beliau dan para tabib yang mengelilinginya. Mereka pasti lelah mendengar segala ocehan Yang Mulia Ratu sejak pagi tadi.


“Ah! Vionaku—” Begitu melihat aku datang, ekspresi Yang Mulia Ratu malah semakin mendung. Tatapan marah beliau lemparkan persis ke dua pengawal di samping kanan-kiriku. Sekilas kulihat bagaimana mereka bergetar ngeri, tetapi sebagai pengawal baru yang tidak ingin mendapatkan cap sebagai ‘Pengawal yang takut pada tatapan Yang Mulia Ratu’, mereka berusaha membiasakan diri.


“Apa yang kalian perbuat—”


“Yang Mulia Ratu!” Seorang pengawal tak bertopeng menyela. “Kami menemukan gembel ini di—”


“—G-gembel!?”


“—depan pintu istana! Karena sesuai KAHI—Kitab Aturan Hukum Istana—tidak diperkenankan seorang gembel atau pemulung untuk datang ke istana dalam rangka membuat kotor, meminta-minta, atau memulung sampah—”


Ratu Ezkiell VIII semakin mengamuk. Beliau turun dari singgasana kecil yang terletak di samping singgasana Ayah sambil memaki-maki. “Kau pikir anakku gembel!? Sembarangan! Biar kucincang tubuh kalian berdua, lalu kuberikan pada harimau kelaparan sebagai hadiah pemberkatan harta warisan pada calon pewaris!”


Sekarang aku bisa merasakan aura ketakutan dari kedua pengawal di sebelahku ini. Ratu Ezkiell VIII merangsek maju hendak melaksanakan kata-katanya barusan, tetapi kedua pengawal ini langsung melarikan diri menuju pos jaganya. Aku menangkap tangan Ratu dan tersenyum lembut.


Kuusap keringat yang mengalir dari pelipis—membuatnya terlihat lebih tua sepuluh tahun. Make upnya sudah luntur, tetapi kecantikannya tak pernah tergantikan. Aku tersenyum padanya, dan beliau juga tersenyum padaku.


 


“Maafkan kedua pengawal konyol itu, Sayang. Mereka baru saja direkrut oleh Hanabi tadi pagi, menggantikan Sean dan Alexandro yang mendadak harus berhenti karena Selandiana yang diserang oleh pembunuh wanita,” kata Ratu. Aku tersenyum semakin lebar. Kupeluk tubuh ringkih yang telah dimakan usia itu, aroma khas kayu manis langsung menyergap indra penciumanku.


 


Yang Mulia Ratu ikut memelukku. Kami berpelukan cukup lama hingga Himelton—penasihat kerajaan—berdiri di samping Yang Mulia Ratu. Dia menepuk pundak Yang Mulia Ratu sambil melempar senyum. “Maaf, Yang Mulia Ratu. Ada hal mengenai calon pewaris tahta kerajaan yang harus dibahas bersama Raja Lucas,” katanya.


Kata-kata barusan membuat pelukan kami terlepas. Ratu Ezkiell mengusap air mata yang mengalir di pipi, lalu ikut pergi bersama Himelton, meninggalkan aku bersama para tabib dan jasad Gibran yang semakin memucat.


Kuhampiri pemuda yang kacamatanya telah kusimpan baik-baik. Nikmat sekali tidurnya, saking damai sampai-sampai tidak mempedulikan bagaimana keadaan orang-orang di sekitarnya yang sangat panik karena harus mencarikan tabib yang bisa membangunkannya kembali.


Aku duduk di bawah dengan kaki selonjoran sambil memandangi Gibran yang asyik terlelap dalam ‘tidur siang’nya. Kuelus-elus lengan pucat itu dengan perlahan, lalu kucium telapak tangannya. Dingin dan kasar adalah dua hal yang menyambut tatkala bibirku bersentuhan dengan kulitnya.


 


Genggamanku pada pergelangan tangannya semakin erat. Tak terasa air mata telah turun ke pipi. Sakit rasanya ketika mengetahui orang yang kau sukai tengah berbaring di dipan dengan wajah pucat dan dikelilingi para tabib yang berusaha menyembuhkan dia dari kematian. Memang melanggar hukum kematian, tetapi Yang Mulia Ratu pasti akan melaknat siapapun yang berani membantah perintahnya.


Akibatnya kini para rakyat dan anggota kerajaan tengah dipusingkan dengan kondisi pemuda yang satu ini. Aku menoleh pada seorang tabib yang kebetulan duduk di belakangku.


“Bagaimana kondisinya? Ada kemajuan atau tidak?” tanyaku. Namun dia hanya menggelengkan kepalanya dan membuatku langsung patah semangat. Telah hampir tiga tahun aku mengembara untuk mencarikan tabib yang bisa melepaskan Gibran dari kematian, tetapi tak ada satu pun yang bisa melakukannya.


 


*Haruskah aku menyerah*?


“Tapi saya punya kenalan. Dia seorang tabib hebat dari sebuah negeri yang makmur. Namanya Sarah Eleanor, seorang gadis seusia Anda yang menjadi tabib luar biasa di sana. Dengar-dengar dia pernah membangkitkan seseorang dari kematiannya, tetapi itu masih desas-desus saja. Kalau Anda mau—”


Mendengar kata-kata itu, aku langsung menarik kerah bajunya. Bisa kurasakan para tabib yang hadir terkesiap kaget karena tindakanku. Aku semakin mendekatkan wajahku pada tabib yang satu ini—walau dia sebenarnya sudah berontak sambil mengatakan ini tidak benar, Yang Mulia. Tolong kembalilah pada alam kesadaran Anda. Kita berada di ruang tengah kerajaan!


“Di mana Sarah?” tanyaku dengan nada bergetar. “Di mana gadis tabib yang luar biasa itu!? Akan kujelajahi samudra, gurun pasir, hutan lebat, hingga angkasa luar untuk kedua kalinya agar bisa bertemu dengannya! Katakan padaku di mana dia tinggal?!”


Tak terasa pipiku memanas lagi. Aku merasa bagaikan makhluk lemah yang terpuruk ke dasar jurang akibat kehilangan seseorang. Aku melepaskan tarikanku dan terkulai lemas di atas lantai. Para tabib mulai mendekatiku dengan penasaran, mungkin merasa heran mengapa aku bisa selemas dan seemosional itu. Beberapa di antara mereka bahkan tidak bisa berdiri secara tenang. Berkali-kali mereka mendendangkan senandung penenang yang sering kali aku dengarkan.


Setelah aku selesai minum, sang tabib menaruh kembali gelas ke atas nampan yang dibawa oleh pelayanku. Kemudian ia membantuku untuk bersandar di dipan tempat Gibran berbaring tak bernyawa. “Ada satu hal yang harus Anda persiapkan sebelum bertemu dengan tabib yang satu ini,” katanya.


Aku menegakkan bahuku. “Apa?” tanyaku cepat. “Apalagi yang harus kupersiapkan!? Setelah tiga tahun, ternyata aku belum mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk bertemu dengannya?”


“Anda sabar dahulu,” katanya menenangkanku. Dia menyarankan aku agar menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan pelan. Aku menuruti saran tersebut, dan hatiku menjadi tenang lagi karenanya. “Saya memperhatikan Anda selama tiga tahun ini. Anda sudah berkeliling dunia, saya yakin. Namun Anda belum mempersiapkan sesuatu, yaitu kesabaran Anda sendiri. Anda sering berteriak marah apabila Gibran benar-benar tidak bisa disembuhkan oleh para tabib. Anda sangat emosional, dan para masyarakat resah karena tidak bisa melihat rekahan senyum Anda di setiap Minggu pagi—”


“Langsung pada intinya saja!”


“Baik, Yang Mulia. Saya akan mempersingkatnya. Yang harus Anda lakukan adalah menguasai amarah Anda, dan tenang, lebih tenang daripada perpustakaan, karena Sarah adalah gadis keras kepala yang sangat sulit untuk ditaklukan.”


 


***


Terkadang bagi manusia, menahan emosi adalah hal yang paling sulit dilakukan daripada menahan rasa cinta pada seseorang. Ya, itu benar, dan aku sangat menyetujuinya.


 


Hari sudah beranjak fajar ketika aku sedang berjalan di alun-alun kerajaan. Seperti biasa, suasana pagi di alun-alun depan kerajaan Indiana tidak pernah sepi. Selalu saja ramai. Ada yang berjualan, ada yang bermain petak umpet, hingga para ibu yang sering kali bergosip sambil berbelanja. Kalau kau sedang insomnia dan butuh jalan-jalan sebentar, maka tempat ini akan cocok untukmu.


“Selamat pagi, Putri Viona.”


Ketika aku sedang melihat-lihat sekumpulan pria yang sedang berjudi, seseorang memanggil namaku. Aku tersentak dan mencari-cari ke sekeliling siapakah gerangan. Tepat dua detik setelahnya, wajah seorang gadis cantik berambut hitam muncul di depan mataku.


Bibir gadis itu tersenyum. Kendati demikian sangat berbeda dibandingkan matanya yang membengkak. Biar aku tebak, dia habis menangis. “Akhirnya aku menemukanmu juga. Semalam aku mendengar kabar mengenai kepulanganmu ke Indiana dengan tangan kosong lagi hati hampa. Saat aku ingin keluar rumah, ibuku malah melarangku. Katanya aku harus mempelajari teknik mencairkan seseorang sebelum boleh berkeliaran bebas,” katanya.


“Kau habis menangis ya?” tanyaku mengabaikan ceritanya. Beberapa detik yang singkat, dia tampak terpukul dengan pertanyaanku. Namun dasarnya rubah licik yang memiliki banyak ekspresi wajah, dia memasang senyuman simpul dan mengarahkan pandanganku ke tempat para pria sedang berjudi. “Jawab pertanyaanku, Bocah Konyol. Ini pasti gara-gara Roberto, ya!?”


Dia berkilah. “Mana ada! Roberto sangat baik padaku ketika kau tidak ada di sini. Dia berlaku lembut. Oh Roberto, saking lembut sifatnya hingga mengalahkan kain sutera yang ada di rumahku!” serunya. Aku mencibirnya. Jika bukan pacarnya—Roberto—maka satu-satunya tersangka atas kejadian ‘mata bengkak’ ini pastilah berhubungan dengan salah satu orang tuanya.


Itu pasti ayahnya!


Aku menghela napas kesal. “Lama-kelamaan aku akan mengadukan tindakan kekerasan ayahmu pada PTKI. Tindakannya sudah di luar batas tahu tidak?! Aku—” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, penyihir es ini telah membungkamku menggunakan telapak tangannya yang dingin. Seketika aku menggigil dan nyaris saja beku seandainya dia tak segera menarik tangannya.


“Maaf.”


“Aku—”


Dia memperingatiku lewat tatapan. Aku jadi terdiam lagi. “Tidak apa-apa, Viona. Aku tahu engkau mengkhawatirkan aku. Tapi aku tidak apa-apa kok! Jangan laporkan ayahku pada PTKI—runyam urusannya, dan aku tak mau membuat ibuku stress karena memikirkan suaminya di penjara,” katanya selembut mungkin.


Aku menyerah. Kupandangi si gadis berambut hitam ini lalu mendesah sebal. Aku heran dengan kebaikan hatinya. Bagaimana bisa selama 12 tahun menerima siksaan fisik dan batin dari ayahnya, tetapi dia tetap tidak mau melaporkan tindakan keji itu pada PTKI? Lain kali, aku akan membawanya diam-diam ke tabib untuk mencuci bersih otak gadis ini.


“Omong-omong soal tabib, apakah kau sudah menemukannya?” tanyanya. Aku terdiam membatu dan dia menyadarinya. “Maaf, aku kira kau sudah menemukannya. Ternyata perjalanan selama tiga tahun tampak begitu melelahkan—apalagi jika kau belum menemukan apa yang sedang kau cari.”


“Aku hampir menemukannya,” sahutku kecil. Kini di matanya, terpancar aura senang nan mendalam. Mungkin karena dia berharap agar sang tabib bisa membangkitkan Gibran dari kematiannya dan berbicara langsung pada pemuda itu—dia bercita-cita untuk menjadi perempuan dari kalangan rakyat biasa yang pertama kali berbicara pada calon pemimpin Indiana itu.


“Tapi?” tagihnya.


“Aku butuh persiapan mental. Jika satu kali aku gagal, maka tabib itu takkan bisa aku jumpai lagi. Kalau aku gagal bertemu dengannya, maka Gibran takkan bisa dibangunkan kembali,” kataku lesu. Dia terdiam, lalu menepuk-nepuk tangannya di belakang bahuku.


Aku tahu niatnya untuk menghibur, akan tetapi ... dia malah meledekku dengan kata-kata payah itu. “Oh ayolah, Putri Viona si pecundang abadi. Aku telah menyaksikan kau mengalahkan raksasa Eternal melalui kamera pengawas Indiana yang terpasang di balik jubah kerajaanmu! Kau pasti lebih hebat daripada yang aku duga—kau pantas untuk menemukan si tabib luar biasa itu sekarang juga!”


“Aku tidak mengalahkannya sendirian!” teriakku. “Gibran yang mengalahkannya! Bahkan dia rela mati untuk menyelamatkan teman-teman sintingnya itu, dan membuatku menderita selama tiga tahun lebih! Bagiku, aku hanyalah seorang perempuan payah dari kerajaan yang besar!”


Gadis itu masih saja diam, tetapi tepukannya di bahuku semakin kencang. Dari pelupuk matanya, aku melihat setetes air mata, lalu mengalir ke pipinya yang tembam. Aku bereaksi. Aku memeluknya sambil mengusap punggungnya. “Maaf. Reaksiku terlalu berlebihan. Benar kata tabib itu, akibat kematian Gibran, aku jadi emosional,” kataku.


“Tidak!” bantahnya. Dia mengusap-usap pipiku dengan lembut, mungkin selembut perlakuan Roberto padanya. “Tidak benar apa kata tabib, Sayang. Ikuti apa kata hatimu, jika hatimu berkata kau baik, maka seluruh jiwamu akan baik juga,” ujarnya.


 


Kemudian ia membawaku ke dalam pelukan nan menenangkan. Hatiku semakin menghangat karena perlakuan gadis ini. entah darimana ia belajar menenangkan orang, yang pasti dia berhasil menjadi orang ketiga yang memiliki pelukan hangat setelah Ibuku dan Gibran.


 


“Kau mirip seperti ibuku,” ujarku.


Dia malah tertawa keras. Pelukan kami terlepas seketika karena dia harus memegangi perutnya agar tidak menjadi es. “Aku tak sehebat ibu kandungmu, Viona. Omong-omong, sudahkah bertemu dengannya akhir-akhir ini? Kau bisa saja meminta bantuan dan nasihat padanya mengenai ‘emosional’ yang dibicarakan oleh tabib itu.”


Aku tergugu diam. “Tidak. Terakhir kali aku bertemu ibuku ... tiga tahun lalu. Tepatnya saat beliau memberikan lentera penunjuk jalan pada Adam menuju sarang Eternal. Kau harusnya tahu bagaimana payahnya si Adam karena menghilangkan lentera yang berisikan eksistensi jiwa ibuku,” jelasku.


“Mungkin karena hilangnya lentera tersebut, kau jadi tidak bisa bertemu dengan ibumu, ya?” terkanya.


Aku menggeleng cepat. “Tidak juga. Aku saja yang terlalu sibuk mencari obat untuk Gibran sampai-sampai melupakan ibuku sendiri,” kataku. Dia menggeleng-gelengkan kepala, lalu tertawa riang. Tampaknya di fajar yang indah ini, bukan aku seorang yang baru saja dihibur hatinya. Ternyata gadis ini juga sama.


Aku melirik jam tanganku dan mendesah kecewa. Aku tersenyum meminta pengertiannya. “Maafkan aku, Anna. Aku harus kembali. Yang Mulia Ratu pasti akan mencari diriku agar aku ikut dalam pengadilan ‘emosional’ sang tabib,” kataku.


 


Gadis es bernama Annabelle itu mengangguk cepat. “Pergilah, Viona. Berusahalah dalam mencari tabib itu, agar aku bisa bercakap langsung dengan calon kakak iparku untuk yang pertama kalinya dalam hidupku.”


***


Bersambung