Travelers 2: A Medicine For Gibran

Travelers 2: A Medicine For Gibran
BAB 3 - PELARIAN TENGAH MALAM



Tengah malam merupakan waktu yang cocok untuk pergi, baik itu kepergian yang diantarkan oleh pihak keluarga atau tidak (alias kabur). Malam yang indah ini, aku sudah siap dengan pelbagai peralatan yang akan aku bawa, seperti linggis—aku tak tahu apa gunanya, tapi Silvanna memaksaku—bola Kristal ajaib pemberian sang tabib, dan sebuah botol kecil kosong yang rencananya akan kuisikan dengan ramuan yang aku incar itu.


 


“Siap?” tanya Silvanna. Dia melirik ke bingkai jendela, tempat di mana tertambatnya tali tambang agar kami bisa turun dari kamarku yang berada di lantai dua istana. “Apa rencana kita kali ini, Yang Mulia?” tanyanya lagi. Kupanggul backpack berisikan peralatan yang tak begitu banyak sambil mengelus dada, meninggalkan bekas keringat di baju kaus merah yang kini kupakai.


“Apa tidak ada jalan keluar selain tali tambang yang tertambat ini?” Aku berusaha memastikan. Namun seperti biasa, Silvanna menggeleng dan menghancurkan harapanku untuk turun dengan selamat.


Dia tersenyum. “Hanya ini jalan satu\-satunya. Kita turun dari sini, lalu memanjat pagar—” Dia memotong ucapannya dan menunjuk ke arah pagar tinggi, “—lalu kita pergi lewat hutan. Apa Yang Mulia sudah memberitahukan titik temu kita kepada Annabelle dan Anjelie?”


Aku mengangguk cepat. “Sudah. Harusnya mereka sudah sampai sekarang—mungkin sambil makan cemilan atau membakar beberapa batang pohon barangkali? Yang penting saat ini adalah bagaimana caranya kita turun dengan selamat, itu saja,” kataku.


Silvanna mengangguk. Dia kembali melongokkan kepalanya ke bawah bingkai jendela guna memastikan keadaan di bawah sana. Setelah dirasa sepi, akhirnya dia mengajakku menuruni tali yang—diklaim olehnya—sangat kuat untuk dituruni oleh dua orang gadis berusia 24 tahun.


“Pelan\-pelan,” katanya. “Ada beberapa penjaga yang ditugaskan oleh Yang Mulia Ratu memiliki pendengaran yang hebat. Aku ragu kalau dia takkan mendengar apabila kita membuat keributan sedikit pun.”


“Tidak apa\-apa. Kau kan ahli bela diri. Kau pasti bisa menghajar mereka semua dengan satu tangan tanpa bantuanku,” ujarku. Pipinya mendadak memerah, lalu dia memalingkan wajahnya dariku.


Kami turun menggunakan tali dengan senyap. Tidak ada suara apapun yang terdengar kecuali suara angin ribut, kicauan burung malam, hingga suara musik disko yang kelihatannya berasal dari ruang kamar Ayahanda dan Ibunda. Rupanya menjelang tengah malam seperti ini, mereka belum tidur sama sekali.


**HAP**! Kaki\-kakiku berhasil menapak tanah. Aku menarik backpack ke atas bahu untuk memanggulnya, sedangkan Silvanna memegangi senter. Gadis itu bak robot berjalan yang tidak memiliki limit energi. Walaupun menggendong tas berat di punggung serta senter, dia tampak tegar\-tegar saja—lain sekali dengan diriku.


Kami berjalan menuju pagar kayu yang tingginya melebihi tingginya Silvanna. Gadis itu meletakkan tas besarnya di atas tanah, dan aku mengikuti apa yang dia lakukan. Beberapa detik kemudian, dia merogoh sebuah benda misterius dari kantung celana pendeknya.


 


Setelah dapat, dia mengguncang-guncangkan sebuah tongkat kayu kecil dengan cepat. Hebatnya, tongkat itu memanjang menjadi tombak kayu dengan ujung besinya yang tajam, tombak yang sering kali ia bawa ke mana-mana demi menjaga diri, sekaligus alat penyerangan yang takkan bisa dideteksi oleh para penjaga kerajaan lain—sebab mereka akan mengira kalau Silvanna adalah gadis pengembala domba yang diajak masuk oleh salah satu pangeran tampan.


 


“Aku sudah berjanji untuk tidak melakukan hal ini lagi, tetapi tampaknya aku mirip seperti Roberto,” katanya.


“Maksudmu?” tanyaku agar dia memperjelas maksud dari kata\-katanya.


“Roberto sering kali melanggar janjinya pada Annabelle, seperti membelikan ia serbuk bunga untuk dibekukan, atau memasang api hangat ketika sedang musim dingin—Annabelle benci jika dia harus menjadi es mengkilat yang sering kali dijilat\-jilat oleh anjing milik Pak Robenson,” jelasnya.


Aku termangu diam mendengarnya. Pikiranku teralihkan karena gedoran keras tombak milik Silvanna pada pagar kayu ini. Pikirku, gadis ahli bela diri ini pasti sedang memancing keributan dengan beberapa penjaga istana yang kelihatannya masih segar\-bugar karena meminum secangkir kopi hangat dari warung Ibu Tyas.


Dia berhasil membuka salah satu papan penyusun pagar. Dengan keahliannya, dia melemparkan tas besar beserta backpack ku ke dalam lubang cukup besar itu sambil memperhatikan situasi. “Raja Lucas pasti akan memarahi para penjaga karena aku merusak pagarnya. Pagar ini memiliki harga yang fantastik, sekitar 200INR per papannya. Yang Mulia harusnya membayarku untuk hal itu,” katanya.


Aku terkekeh. Aku masuk lewat lubang itu dan disusul Silvanna dari belakang. Setelah kami berdua berada di luar pagar istana, kami segera bergegas merapikan barang bawaan, lalu lari secepat mungkin ke dalam hutan, meninggalkan kerajaan Indiana yang tampaknya ramai karena merasa ada penyusup yang baru saja merusak papan\-papan pagar di halaman belakang.


 


***


Mungkin aku sekarang tengah mengalami apa yang dialami oleh Gibran beserta monster bermata satu dan sang pemandu jelajah itu ketika mereka sedang dalam misi menyelamatkan Agata. Bedanya, di sini bulannya berwarna putih kekuningan serta langitnya gelap, tidak seperti di Dunia Orang Mati. Memang dunia yang aneh.


 


Pokoknya, jangan singgung aku mengenai dunia itu atau aku akan membakar wajah kalian dengan kekuatan api Anjelie.


Hutan ini gelap. Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa mengeluhkan kakiku yang lecet karena menggunakan sandal jepit, menahan beban berat pada punggungku, sedangkan Silvanna masih tetap berjalan seperti biasa—meskipun tas bawaannya terlihat lebih berat dibandingkan milikku. Lain kali, aku harus ikut gadis itu latihan bela diri agar kuat berjalan membawa beban.


“Kita sudah sampai?” tanyaku dengan napas terengah\-engah. Kulihat gelengan di kepala, pertanda kalau dia tidak menyetujui pertanyaanku. Aku mendesah pasrah dan dengan langkah terseok\-seok, aku mengikutinya secepat yang aku bisa—daripada harus tertinggal dan bermukim beberapa jam di hutan yang menyeramkan ini hingga pagi menyingsing.


Setengah jalan, aku merasa letih kembali menyerang kakiku. Aku memegangi tangannya yang bebas dan memintanya untuk istirahat sebentar. Dia menuruti kata\-kataku. Kami beristirahat sebentar di bawah pohon besar yang rindang daunnya. Ketika aku sedang duduk bersandar di batang pohon, dia mengeluarkan sebotol kecil minuman aneh yang tidak pernah aku lihat dari dalam tas besarnya.


Aku penasaran. “Apa itu? Obat kuat? Atau penambah tinggi badan?” tanyaku. Mendengar pertanyaanku, dia tersenyum simpul. Silvanna membuka tutup botol tersebut, lalu memberikannya padaku. “Eh!? Untukku? Wah, kau baik sekali!” kataku.


“Ini obat penambah tenaga, resep rahasia keturunan Amirah yang dinilai ampuh mengembalikan energi yang terbuang dengan cepat. Dalam kurun dua menit setelah Yang Mulia meminumnya, maka energi yang habis akan segera digantikan dengan cepat,” jelasnya. Aku terpukau dengan khasiat obat di tanganku ini. Tanpa basa\-basi lagi, aku segera meminumnya hingga tandas.


“Ahh!” teriakku segar. Ternyata tidak memerlukan waktu dua menit seperti apa yang dikatakan Silvanna barusan. Aku merasa sel\-sel tubuhku terbakar, lalu membentuk energi baru bersamaan dengan larutnya minuman penambah energi tersebut dalam lambungku. Seketika aku tampak seperti gadis yang baru saja bangun tidur—ketimbang gadis yang sedang jalan\-jalan malam bersama pengawal serta *backpack* berat di punggungnya.


Kini kakiku telah menapak tanah dengan amat kokoh, berbeda dibandingkan beberapa menit yang lalu. Silvanna tersenyum melihat perubahan diriku—yang cukup aneh sebenarnya. “Manjur ternyata. Benar kata orang tuaku, obat itu akan bereaksi lebih cepat apabila diminum oleh anggota kerajaan seperti Yang Mulia,” katanya. Aku mendengus lalu tertawa.


“Mana ada! Aku hanya pura\-pura bugar saja untuk melihat reaksimu.”


“Tapi Yang Mulia telah bugar kembali, kan? Jika sudah mari kita lanjutkan perjalanan. Kasihan Annabelle dan Anjelie harus menunggu berdua di tengah hutan sambil membakar pohon\-pohon atau memadamkan api menggunakan es,” ucapnya. Aku menyetujui ucapannya. Kemudian kami bergegas kembali melanjutkan perjalanan.


Setelah berjalan sekian lamanya, akhirnya kami sampai pula di sebuah gubuk tua di sebelah pohon besar. Bagian jendela gubuk tersebut menyala terang, berarti ada seseorang yang sedang membakar—atau menyalakan lampu—di dalam sana.


“Itu pasti pekerjaan Anjelie. Dia sangat suka membakar gubuk,” ucap Silvanna.


“Mana ada,” sergahku. “Paling parah, dia hanya membakar patung kayu yang dibuat sendiri oleh Pak Jokerman. Aku ingat sekali bagaimana wajah lelahnya menahan emosi saat menyaksikan patung buatannya musnah menjadi abu sebab dibakar oleh Anjelie.”


“Kita lihat saja ke dalam!” tantang Silvanna. Kami berdua meletakkan tas di depan pintu, lalu masuk ke dalam. Di ruang tengah, tampak dua orang perempuan berkulit pucat sedang duduk\-duduk. Di tangan salah satu perempuan itu, terdapat percikan api yang menyala—mungkin digunakan sebagai penerangan gubuk yang sangat minim.


“Hei, kalian berdua! Masuk tidak memberi salam. Sudah terlambat berapa jam kalian ini!?” kata si perempuan pemegang api. Dialah Anjelie. Gadis itu mengambil sebuah lilin kecil dari laci yang kebetulan ada di samping tempat duduknya, lalu dia membakar sumbu lilin tersebut.


Annabelle mendengus. “Aku nyaris mengubah gubuk ini menjadi es karena cuaca yang panas,” ujarnya. Aku tertawa kecil. Aku mengajak Silvanna untuk duduk terlebih dahulu sambil menunggu matahari terbit.


“Jadi apa rencana kita selanjutnya?” tanya Anjelie. “Maksudku setelah matahari terbit, kita harus pergi, bukan? Tepatnya pergi ke arah mana? Apa kau punya peta dan kendaraan yang bisa membawa kami ke tempat yang dimaksud?”


Silvanna menjawab, “Tenang saja. Aku punya kendaraan yang hebat untuk mengantar kita semua. Kira\-kira dia akan datang jam ... beberapa menit setelah fajar,” lalu dia tersenyum. Annabelle dan Anjelie menatap gadis itu dengan tatapan curiga. Namun memang bawaan Silvanna saja yang selalu tenang sehingga kami mempercayai segala kata\-katanya.


“Kalau boleh tahu, kendaraan apakah yang kau maksud? Mobil? Motor? Atau kuda?”


Senyum gadis itu semakin merekah. “Buraq,” jawabnya santai.


 


***


Bersambung