Travelers 2: A Medicine For Gibran

Travelers 2: A Medicine For Gibran
BAB 2 - KEPUTUSAN DALAM PENGADILAN



Suasana haru-biru terlihat di ruang pengadilan kerajaan yang cukup mewah dan besar ini. Di hadapan mimbar dan para hakim dengan setelan kerja mereka—jubah hitam dan selendang merah—bersimpuhlah dua orang tabib. Salah satu dari tabib itu adalah tabib yang memberiku minum dan menenangkan diriku fajar tadi.


 


“Pengadilan memutuskan saudari Viona, agar pergi bersama dua atau tiga orang teman dalam misi mencari obat untuk calon pewaris kerajaan, Gibran Petrus Fernandez, sebagai baktinya seorang istri pada suaminya. Sekian peradilan ini telah diputuskan!” kata Hakim Fernando. Aku dan Yang Mulia Ratu berdiri dari kursi kesaksian, sementara beberapa petinggi negeri bersorak-sorai dari kursi penonton.


Aku menundukkan kepalaku tepat di depan Hakim Fernando, diikuti oleh pelukan Ratu Ezkiell dari belakang. Beliau menangis sesegukan tatkala aku membalas pelukannya. “Tak apa, aku berikan izin kamu untuk pergi mengembara ke negeri orang demi terciptanya kelangsungan hidup Indiana di masa depan,” bisiknya.


Kami melepas pelukan. Ratu Ezkiell merapikan poni rambutku yang cukup panjang, lalu tersenyum manis. Beliau memelukku sekali lagi sebagai ucapan selamat jalan. Pagi ini beliau tampak berantakkan. Kendati demikian, seperti yang pernah aku singgung sebelumnya, kecantikannya tak pernah pudar.


“Apa Ibunda Ratu merestui hubungan kami?” tanyaku. Tiba-tiba pipiku bersemu merah ketika menyadari pertanyaanku. “Maksud—maksudku ...."


Ibunda mengacungkan jari telunjuknya tepat di mulutku agar aku diam. Beliau tersenyum lembut sambil memainkan poniku. “Bahkan sebelum kau bertemu dengannya, aku sudah merestui hubungan kalian. Ibunda Ratu tahu kalau anak itu pasti bisa menjaga dirimu dan kerajaan kita dengan baik,” katanya.


 


Aku terdiam mendengar hal itu. Ingin rasanya aku tahu bagaimana Ibunda Ratu tahu tentang Gibran—padahal jarak antara Indianapolis dengan Indonesiania amat jauh. Seniat itukah Ibunda dalam mencarikan aku pasangan untuk mewarisi kerajaan yang besar ini?


 


“Jadi kapan kau akan berangkat? Siapa saja teman yang akan kau bawa dalam misi besar ini?” tanya Ratu Ezkiell. Aku mulai memikirkan bagian itu. Banyak daftar kawan yang ingin kubawa, tetapi dua orang yang berhasil mengusik perhatianku. Si Annabelle, gadis es yang kutemui fajar tadi, dan Anjelie, si gadis api yang sering menemani Annabelle dalam latihan mencairkan es buatannya.


“Halo? Viona, kau masih di sini, kan?” Ratu Ezkiell bertanya sambil menggoyang-goyangkan telapak tangan di wajahku. Aku terkesiap, lalu tersenyum semanis mungkin. Beliau mengerutkan dahinya, sedikit curiga dengan kelakuan anehku pagi ini. “Kau kenapa? Apa kau lelah—jadinya sering melamun seperti tadi? Kau mau istirahat sebentar?”


“Tidak, Ibunda Ratu. Aku pikir akan semakin bahaya kalau membiarkan Gibran ‘tidur’ terlalu lama. Aku sedang memikirkan calon kandidat untuk menemaniku menjalani misi—dan sekarang aku telah mendapatkan nama-nama mereka,” jelasku.


 


Wajah Ratu Ezkiell berbinar cerah, lebih cerah daripada mentari di Dunia Orang Mati. Duh mengingat dunia itu saja sudah membuat dadaku sesak bukan main. Tidakkah cukup dunia itu menghantuiku lewat mimpi dengan memaparkan kejadian ulang ketika Gibran meregang nyawa sampai-sampai harus mengusikku saat berniat untuk menjalani sebuah misi!?


 


“Jadi, siapakah kandidat terkuat itu? Ibunda Ratu sudah tidak sabar mendengar nama-nama mereka!” ujar Ratu Ezkiell dengan wajah ceria.


Aku menyebutkan nama kedua orang yang aku pilih tadi. “Annabelle, dan Anjelie, wahai Ibunda Ratu. Mereka hadir bersamaku untuk saling melengkapi,” kataku. Tiba-tiba wajah Ratu Ezkiell menjadi mendung, seolah tidak terima karena aku menyebutkan dua orang saja.


 


“Apakah hal itu mengganggu Ibunda Ratu?”


 


“Tentu saja!” sembur Ratu Ezkiell. “Aku tidak merestui kau pergi dengan dua gadis payah itu! Untuk menggunakan kekuatannya saja, mereka tidak bisa. Bagaimana bisa dia ikut ke dalam misi berbahaya seperti ini!? Tidak! Bawalah Silvanna bersamamu. Aku akan mengatur ketua barisan depan perang untuk menggantikan gadis kuat itu,” lanjut beliau.


Aku kecewa. “Mereka tidak payah, Ibunda Ratu. Mereka hanya belum bisa berlatih di tempat yang bagus—karena selama ini mereka berlatih di lingkungan yang ramai penduduk. Biarkan mereka ikut agar semakin berkembang!” kataku. Namun Ratu Ezkiell tetap pada pendiriannya.


“Sekali tidak, tetap tidak. Aku tidak mengizinkan engkau untuk mengorbankan diri lagi setelah dari Dunia Orang Mati. Nasib baik—meski tidak terlalu baik—hanya Gibran yang meninggal, bukan engkau!” kata beliau yang membuat niatku semakin ciut.


Setelah dirasa cukup, semua orang yang ada di dalam pengadilan mulai keluar satu persatu, meninggalkan aku yang duduk sendirian di meja saksi sambil memikirkan langkah selanjutnya. Kasihan Annabelle, dia pasti amat sedih ketika Ratu Ezkiell tidak mengizinkannya ikut dengan alasan dia belum cukup mahir menggunakan es buatannya.


Malangnya lagi Anjelie. Sebab bermain dengan Annabelle, dia mendapatkan cap buruk dari Ibunda berupa ‘Si Tukang Les Es Mencair Annabelle’ yang terkesan amat bodoh jika didengarkan oleh siapapun. Memang sih berpergian dengan seseorang yang kuat seperti Silvanna pasti akan aman dan tentram. Namun, aku hanya mau teman-temanku. Itu sama persis ketika aku masuk ke Dunia Orang Mati untuk melawan Ferry serta Eternal.


Jadi, apakah aku harus mengikuti kehendak Ratu Ezkiell atau aku harus membuat kehendakku sendiri?


 


***


Bersambung