
Saat Silvanna mengatakan bahwa kendaraannya adalah buraq, rupanya dia tidak sedang bercanda. Tepat ketika fajar telah datang, seekor kuda berbadan putih besar dan bermata biru tengah menanti kami di depan pintu gubuk. Di bawah kaki kuda tersebut ada tumpukan jerami yang kutebak menjadi makanan sang kuda. Tak seperti kuda lainnya, kuda ini dilengkapi dengan sepasang tanduk kecil di kepalanya.
“Wah ... aku kira hanya mitos,” kata Anjelie. Dia berlari cepat menuju kuda putih tersebut dan mengelus\-elus surainya. “Dia terbuat dari cahaya?” tanyanya.
“Pemimpinnya terbuat dari cahaya. Kalau yang satu ini tidak. Dia hanya kuda biasa yang mewarisi kecepatan dari pemimpinnya,” kata Silvanna. Kulihat pengawal perempuan kerajaan itu menarik tali kekang di leher sang kuda—yang membuat kuda itu meringkik keras sambil menendangkan kaki depannya. Kemudian dia menaiki kuda tersebut.
Senyum merekah di bibir merah mudanya. Aku sangsi kalau dia sempat berdandan tadi. Namun dari desas\-desus para pengawal yang sering aku dengar, keluarga Amirah merupakan keluarga yang menjunjung tinggi kecantikan perempuan. Jadi bisa dibilang, Silvanna adalah perempuan paling modis yang pernah aku kenal.
Tentunya, selain Agata dan Amreta.
“Tunggu apalagi? Kalian akan berdiri di sana seperti macan yang kekenyangan atau naik bersamaku? Kita tidak punya banyak waktu lagi. Dari Indiana ke Indonesiania memakan waktu selama 6 jam perjalanan darat. Sementara itu kita tidak mau membiarkan Pangeran Gibran tidur lebih lama, kan?”
Mendengar kata\-katanya, kami segera bergegas menaiki kuda itu. Kupandangi backpack serta tas besar yang ada di bawah kaki kuda sambil berpikir keras. “Lalu bagaimana dengan tas kita? Apakah kuda ini sanggup membawa empat orang gadis dan dua tas besar di punggungnya?”
“Bawa saja,” Silvanna turun dari punggung kuda, meninggalkan Annabelle dan Anjelie yang sedang sibuk dengan permainan mencairkan es di atas punggung kuda. Kemudian dia membantuku mengangkat tas ke bagian belakang dekat ekor kuda itu. “Kuda ini mampu membawa gajah atau paus seberat apapun,” sambungnya.
“Masa?” Aku meragukan kata\-katanya, tetapi Silvanna tersenyum manis lalu menumpukan kedua tas berat kami di bagian belakang kuda tersebut.
“Buktikan saja. Ayo naik, Yang Mulia. Indonesiania menunggu kedatangan kita semua,” ucapnya. Aku naik ke belakang Anjelie dan dibantu olehnya. Untung saja aku memakai baju kaus dan celana jins—jika aku memakai baju kerajaan, maka aku akan mempersulit diriku sendiri saat menaiki kuda putih ini.
“Kalian siap?” tanya Silvanna. Kami bertiga mengangguk serempak, lalu berpegangan erat pada baju orang yang ada di depan kami. Silvanna menarik tali kekangnya, membuat makhluk kuda putih asal Arabiania ini meringkik kedua kalinya dan melaju cepat, lebih cepat dari mobil balap manapun.
Angin menderu cepat di samping kanan\-kiriku. Pemandangan jalan seketika menjadi kabur dan diselingi kicauan burung yang terdengar ramai sekali. Kami melaju melewati batas normal mobil boleh melaju, tetapi Silvanna mengatakan kalau buraq adalah kuda—dan kuda tidak memiliki batas maksimal untuk melaju. Lagipula—kata Silvanna—gadis berambut hitam itu memiliki SIMB \(Surat Izin Mengendarai Buraq\) yang ditandatangani sendiri oleh Ratu Ezkiell VIII. Jelas saja, Silvanna merupakan penguasa jalanan di sini.
“Ini terlalu kencang!” ujar Anjelie membelah angin. “Api di permukaan kulit lenganku selalu padam. Jika aku terlalu banyak menghasilkan api, aku bisa muntah berhari\-hari dan kehilangan selera makan!”
“Begitu pula denganku!” timpal Annabelle.
Aku menaikkan sebelah alis mata, membuat kode pada mereka kalau aku turut bersimpati atas kekuatan dahsyat yang bisa membuat mereka muntah berhari\-hari. Namun seperti orang yang naik motor, mereka takkan bisa menerima kode alis mataku.
“Santai saja. Silvanna punya obat penambah tenaga yang sangat manjur!” Aku ikut berteriak menyemarakkan teriakan heboh teman\-temanku mengenai kekuatan mereka. Beberapa menit yang membosankan, mereka terdiam ketika mendengar pengakuanku. Namun itu tak bertahan lama, mereka menyadari kalau penambah tenaga tidak akan bisa mencegah seseorang untuk muntah.
Selama perjalanan yang mengesankan ini, aku menemukan banyak sekali pemandangan kilat yang membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Mulai dari banteng besar di Zhongguo, Patung Singa di Republik Rakyat Singa, hingga maskot kota Malayanesia, Petronas, si menara kembar yang kabarnya dibuat oleh tenaga kerja Indonesiania.
“Berpegangan yang erat! Lima belas detik lagi kita akan segera sampai di Jayakarta! Kuda ini mengerem dengan tidak masuk akal—dan bisa membuat kalian terpental sejauh 5 kilometer apabila tidak berpegangan erat,” ujar Silvanna mengingatkan. Aku mendadak panik karena tidak ingin terpental sejauh itu. Kupegang erat baju Anjelie hingga membuat gadis api itu memekik karena seseorang memegangi bajunya terlalu keras.
“Pelan sedikit! Sakit tahu!” pekiknya.
Di depan sana, aku bisa melihat sebuah monumen besar dengan emas berbentuk api di puncaknya. Jarak kami semakin dekat, tetapi kuda putih ini malah memacu larinya semakin cepat. Aku benar\-benar panik sekarang. Kutanyakan pada gadis berambut hitam itu mengenai mekanisme pengereman khas kuda putih yang pemimpinnya terbuat dari cahaya, tetapi Silvanna mengatakan hal yang aneh.
“Tenang saja. Asal kau berpegangan, semuanya akan aman dan terkendali,” itulah jawaban yang aku peroleh dari gadis penunggang kuda ini.
Menjelang beberapa meter dari tempat monumen tadi, ketakutanku akhirnya terwujud. Buraq ini meringkik keras sekali dan menundukkan kepalanya ke bawah, mengarahkan sepasang tanduk kecil di atas kepalanya pada monumen itu. Kami berteriak, tetapi Silvanna masih tetap diam sambil sesekali menarik tali kekang buraq.
**BRAKK... KREKKK**... Aku merasakan rasa sakit yang amat sangat di bagian perutku ketika buraq tersebut berhasil menabrakkan dirinya di pintu monumen ini. Keadaan hewan berkaki empat itu baik\-baik saja, walaupun sebagian kecil tanduknya patah dan tertancap di tembok monumen. Sementara itu, Silvanna serta kedua temanku tampak meringkuk di atas lantai halaman depan monumen yang tak jauh jaraknya dari tempat pendaratanku.
Aku bergegas menghampiri mereka. Keadaan mereka rupanya lumayan kacau. Kalung kristal merah milik Anjelie pecah dan serpihannya berhamburan di lantai. Tangan Annabelle terluka, tetapi gadis itu berkata kalau dia tidak apa\-apa. Sementara Silvanna, tombaknya patah menjadi dua karena benturan tadi. Kini dia meringkuk di lantai sambil memandangi tombak yang telah patah.
Aku membantunya berdiri. “Lihat apa kataku!?” ujarku berkacak pinggang. Gadis itu menunduk, kendati demikian tangan memarnya tetap tidak bisa dia sembunyikan dariku. “Sudah kubilang untuk mengerem. Kuda itu jelas tidak bisa membedakan mana tembok mana sasaran seruduk!”
“Maaf, Yang Mulia. Aku hanya tidak menyangka kalau aku tidak terlalu paham dengan kendaraan kita,” katanya meminta maaf. Melihat wajah memelasnya, aku jadi tidak tega. Kuputuskan untuk memeluknya agar dia tidak terlalu menyalahkan dirinya.
“Ternyata benar. Ucapan anggota keluarga kerajaan memang terbukti seratus persen akurat,” bisiknya. Kulepas pelukan kami sambil memberikan tatapan peringatan.
“Sudah kubilang aku ini bukan—”
Lantai di sekeliling Annabelle mulai membeku. Sekarang aku tahu apa yang sedang dicemaskan oleh Anjelie.
Annabelle mulai kehilangan kesadaran dan dia bisa membekukan benda apapun—termasuk kulit manusia lain—selama benda itu bersentuhan dengan kulit gadis itu.
***
Aku terperangah melihat tas—bukan, maksudku rongsokan—kami yang telah hancur-lebur. Backpack ku gosong karena terbakar, sementara sisi lainnya membeku, termasuk botol kosong dan bola kristal yang diberikan tabib padaku sebelum aku menjalani misi ini.
Sementara tas besar Silvanna, aku turut berduka. Karena letak mendaratnya yang terlalu dekat dengan Annabelle, tas tersebut membeku sepenuhnya—dan aku yakin sekali kalau Annabelle takkan bisa mencairkan kembali es yang menyelimuti tas tersebut.
“Kita bisa menggunakan apinya Anjelie. Dia pasti bisa mencairkan es itu dari tasku,” ujarnya setengah panik. Dia menolehkan kepalanya pada Anjelie, si gadis malang yang saat ini sedang mencari benda apapun yang bisa dipakai mengangkut Annabelle sebelum gadis pingsan itu membekukan seluruh lantai di halaman depan menara itu.
“Tidak bisa!” Anjelie bersikeras. “Apiku terlalu kuat melawan es buatan Annabelle. Aku bisa saja langsung membakar tasmu. Dan jelas\-jelas kebakaran lebih berbahaya ketimbang tas yang membeku.”
“Oh ayolah, ada benda penting di dalam sana,” gerutu Silvanna. Dia terus\-menerus merengek pada Anjelie, sedangkan gadis api itu mengidahkan rengekan tersebut. Sekilas Silvanna terlihat seperti seorang anak kecil yang merengek pada ibunya karena ingin membeli mainan, dan hal itu membuatku tergelitik.
“Benda penting apa!? Ada yang lebih penting daripada mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengangkut Annabelle sebelum gadis itu membekukan seluruh lantai di sini? Penjaga monumen ini pasti langsung membuka area ski berbayar kepada masyarakat.”
“Ya memang kenapa? Bukankah itu peluang bisnis yang menjanjikan di daerah panas seperti ini!?”
“Pakai saja otakmu, wahai pengawal kerajaan. Daerah panas seperti ini, lalu lantai halaman depannya membeku? Orang gila mana yang mau berseluncur di sini!?” ujar Anjelie. Mereka terlibat perdebatan yang aku tidak ketahui apa masalah utamanya. Random sekali, seperti anak kecil yang sedang bertengkar memperebutkan mainan.
Tak disangka, aku melihat seorang perempuan mendekati Annabelle. Perempuan itu asing dan aku yakin dia bukanlah Anjelie maupun Silvanna sebab kedua gadis itu masih sibuk berdebat. Dia tampak seperti penyihir dengan topi penyihir yang runcing ke atas, baju terusan hitam, serta sepatu hitam *French heels*nya. Pokoknya dia pasti menjadi manusia yang sangat disukai oleh nyamuk.
Dia merogoh kantung baju terusannya lalu mengeluarkan sebuah tabung semprot putih kecil. Pertama\-tama, dia menyemprotkan di bagian pergelangan tangan kiri dan mencium aromanya, seolah mengetes apakah itu adalah aroma yang dia inginkan atau tidak.
Setelah dirasa cocok, perempuan penyihir itu menyemprotkan cairan ke atas wajah Annabelle yang pingsan. Tak sampai satu menit, tubuh Annabelle bergerak-gerak dan es yang menyelimuti lantai halaman mulai mencair—pertanda kalau Annabelle telah sadar dari pingsannya dan bisa mengendalikan kekuatannya. Melihat pergerakan tubuh Annabelle, perempuan asing itu tersenyum kecil lalu pergi begitu saja tanpa merasa berdosa.
Memang sih, dia tidak berdosa. Mungkin barangkali sudah kewajibannya untuk menanyakan kondisi Annabelle setelah disemprot oleh cairan misterius itu, bukan?
Aku bergegas menghampiri Annabelle yang sedang duduk sambil terbatuk\-batuk. Kugenggam tangannya, tetapi aku nyaris membeku. Suhu di tangan gadis itu benar\-benar tidak normal, bahkan lebih dingin dari suhu di kulkas kerajaan. Wajah pucat itu pun mulai berangsur\-angsur normal seiring senyuman sayu terlukis di bibirnya.
“Hei,” panggilnya. “Apa yang terjadi? Di mana kita sekarang? Apakah ada kejadian menarik yang aku lewatkan?”
Aku mendengus padanya. Kulempar tatapan peringatan, lalu fokus lagi pada pemandangan dua orang gadis tengah berdebat tentang masalah mereka. “Ada. Banyak sekali, dan aku yakin kau tidak mau mendengarnya,” kataku.
“Biar kutebak, kali ini Silvanna dan Anjelie bertengkar lagi?”
Aku mengangguk. “Ya. Kali ini tentang sebuah tas besar yang engkau bekukan.”
***
Bersambung