
Saat mendengar pengawal Naina keluar dari mulut gadis penyihir itu, aku berusaha berpikir keras guna mencari jawabannya. Seingatku, Dewi Naina memiliki dua orang pengawal berupa roh orang mati yang dibangkitkan oleh Dewi Metallica, dewi kematian dan alam neraka, khusus untuk anak kandungnya hasil perkawinan dengan Dewa Iristus, sang dewa keremajaan.
“Jadi ... mereka benar\-benar ada?” Annabelle bertanya sambil mencicit. Dia ketakutan, sementara Anjelie sedang menguncir rambut pirang gadis es itu. “Hih! Ternyata ibuku menceritakan kisah nyata, bukan sebuah dongeng semata!”
Sarah tampak tertarik. Dia menyeret kursi mendekati sofa yang diduduki Annabelle, lalu menaruh pandangan penuh minat padanya. “Apa? Apa yang ibumu ceritakan padamu? Dongeng tentang Naina bukanlah dongeng yang seru untuk diceritakan pada orang\-orang,” katanya.
Annabelle berpikir sejenak. “Hmm ... dongengnya sih klasik, hanya kisah seorang pahlawan yang mengambil ramuan penting dari Naina, lalu memberikannya pada tabib agar bisa membangkitkan ...,” Annabelle membesarkan kedua bola matanya. Dia terperangah bukan main. “Jadi dulunya Naina juga pernah ‘kecolongan’!?”
Sarah tersenyum puas lalu dia pergi dari ruang keluarga dan kembali sambil menenteng beberapa botol kaca berisikan air berwarna merah. Aku menduga itu ramuan yang biasa dibuat oleh penyihir, tetapi aku salah. Rupanya itu sirup rasa stroberi yang dibelikan oleh orang tuanya dari Amerikania.
Dia menuangkan sirup tersebut ke gelas kami. Setelah selesai, dia mengangkat gelas bagiannya tinggi\-tinggi, lalu mengulas senyum. “Minuman kali ini dipersembahkan kepada Dewa Chitarr agar memberikan kami banyak jalan menuju persembunyian Dewi Naina!” Kemudian dengan sekali teguk, dia menghabiskan sirup tersebut. Kami mengikuti apa yang dilakukan Sarah. Aku langsung meneguk habis isinya, yang mana hal itu membuat tenggorokanku terasa seperti dibakar oleh api unggun di perkemahan.
“Sirup apa ini!?” tanya Anjelie. “Rasanya seperti batu kali yang dicampur kotoran sapi—begitu pahit dan tidak enak!”
Sarah mengendikkan bahunya. “Kalian mengira itu sirup stroberi, ya? Bukan tuh. Itu minuman penambah energi dari Jermania. Pengawal kalian pasti mengetahuinya,” katanya. Kami beralih pada Silvanna yang—dengan santainya—masih meminum sirup abal\-abal itu.
“Kau tahu?” tanya Anjelie.
Silvanna mengangguk. “Yang Mulia Putri pasti juga tahu kalau aku memiliki minuman yang serupa dengan minuman ini,” ujarnya. Kini Anjelie dan Annabelle menatap padaku, menodongkan berbagai macam pertanyaan dan tatapan galak.
Aku mengendikkan bahuku.
“Sudahlah. Apapun minuman ini, lidahku benar\-benar tidak cocok dengannya,” kata Anjelie, sedangkan Annabelle malah meminta tambah. Untungnya Sarah baik hati dan menuruti permintaan gadis berambut cokelat itu.
“Lalu bagaimana dengan Naina? Kita benar\-benar harus mengambil ramuannya? Tidak ada cara yang lainnya?”
Sarah menggelengkan kepalanya. “Aku pikir tidak, sayang sekali. Hanya ramuan itu yang bisa menghidupkan manusia—meski dunia medis telah menyatakan kalau orang tersebut meninggal dunia,” kata gadis itu.
Aku menaikkan sebelah alis mataku, begitu pula Anjelie. Kami memandangi gadis itu dengan penuh selidik. “Kau ... tahu darimana?” tanya Anjelie. “Maksudku, sejak tadi kau tahu kalau kami akan menghadapi Naina beserta pasukannya—makanya kau mengajak kami masuk. Kau tahu darimana itu semua?”
“Tidak tahu ya?”
“Apa kau membaca isi pikiran kami!?” tuduh Annabelle. Suara keras nan melengking itu terpaksa membuat kami harus menutup sebelah telinga. “Biasanya para penyihir dan dewa\-dewi bisa membaca isi pikiran manusia normal—entah untuk kebutuhan pribadi atau golongan!”
“Maksudmu ... mata\-mata?”
“Iya!” Annabelle menjawab tegas. Sarah malah tertawa keras.
“Tidak, Gadis Es, aku tidak membaca isi pikiran kalian semua. Memang sih, bisa. Namun itu melanggar hak privasi manusia dan aku tidak mau berakhir seperti nenek moyangku—dibakar hidup\-hidup karena ketahuan sebagai penyihir,” jelas Sarah.
Dia mengangkat gelas kosong itu tinggi\-tinggi lagi. Entah apalagi yang akan diperbuat oleh gadis penyihir ini, aku tidak tahu. Yang pasti, kesan misterius dalam diri Sarah telah menghilang, dan digantikan dengan energi positif yang datangnya entah darimana.
“Oh ya?” Annabelle masih tampak ragu. Dia memicingkan matanya sambil mengerucutkan bibirnya. “Bisakah aku memercayai ucapanmu barusan? Terdengar tidak masuk akal bagiku kalau penyihir takkan menggunakan kekuatannya diam\-diam,” lanjutnya. Sarah terkekeh geli. Dia mengambil setoples kacang goreng yang ada di atas meja kecil, lalu memakannya dengan lahap.
“Benar,” Dia melempar pandangan pada Silvanna yang terdiam membeku. “Coba tanyakan saja pada pengawal kalian. Dia terlalu tahu banyak hal sehingga aku harus berhati\-hati dengannya.”
***
Aku bertanya-tanya bagaimana rasanya terlahir menjadi putri di keluarga Amirah, apakah menyenangkan atau tidak? Mereka diberkati berbagai macam kelebihan seperti bisa meracik minuman penambah energi, memiliki hubungan khusus dengan Dewi Xilene, hingga segudang ilmu pengetahuan yang ada di setiap perpustakaan yang mereka bangun dalam rumah.
Setelah lama berhias diri sambil memikirkan strategi yang akan dipakai, sekarang kami sudah siap. Aroma wangi semerbak ke penjuru ruang tamu nan kecil ini. Anjelie dan Silvanna dengan aroma mint kesukaan mereka, Silvanna beraroma stroberi, serta aku dan Sarah yang memutuskan untuk memakai parfum rumahan milik ibunya Sarah.
“Bagaimana?” tanya Annabelle. Dia memutarkan tubuhnya bagaikan penari balet yang sering ditonton oleh Ibunda Ratu. “Aku wangi tidak? Ini parfum yang diberikan oleh Roberto, lho! Sangat khusus dan harum sekali. Aku bagaikan putri es cantik yang sedang menjemput obat untuk sang terkasih!” katanya. Aku dan Silvanna mengangguk\-angguk saja, sedangkan Anjelie yang tengah memasukkan parfum serta sisir ke dalam tas milik Annabelle malah mencibir keras.
“Tuan putri apanya? Mirip gelandangan sih iya!” katanya. Annabelle menggerutu sebal dan mereka terlibat dalam suatu pertengkaran kecil mengenai Tuan Putri dan Gelandangan. Jujur saja, kalian harus menyaksikannya sendiri sebab pertengkaran mereka sangat seru dan menegangkan—mirip pertengkaran para anak kecil.
Sementara kedua gadis itu bertengkar, aku, Silvanna, dan Sarah pergi menuju dapur yang letaknya ada di sebelah ruang tamu. Gadis penyihir itu mengajak kami untuk menyiapkan perbekalan perjalanan yang berisikan aneka macam makanan yang tersedia dalam kulkasnya.
Mulai dari roti bakar selai keju, roti tawar berbentuk roti lapis yang diisikan cokelat di dalamnya, roti cane, obat\-obatan pereda nyeri dan racun—dia beranggapan kalau Naina merupakan dewi paling licik dari dua belas dewa\-dewi di alamnya, hingga minuman soda berwarna merah pekat yang—katanya—dibeli oleh orang tuanya ketika sedang liburan ke Skotlandiana.
Sungguh, orang tuanya berniat cari mati ternyata.
“Ini adalah *clep*,” Dia menunjukkan sebuah gelas putih berisi cairan merah seperti darah itu pada kami. “*Clep* berasal dari darah binatang—khususnya sapi—yang diekstrak, lalu dijadikan minuman soda. Rasanya seperti ... minuman soda merah yang sering kalian minum, apa namanya? Aku lupa itu! Yang pasti selain sebagai soda, minuman ini juga bisa membunuh para roh gentayangan.”
Silvanna mengerutkan dahinya. “Hah? Bagaimana cara kerjanya? Dari seluruh buku di perpustakaan yang sering aku baca, aku belum pernah mendengar minuman bernama *clep*,” katanya setengah penasaran. “Lalu bagaimana pula darah sapi bisa membunuh para roh gentayangan? Bukankah—setahuku—roh gentayangan hanya bisa dibunuh menggunakan pedang iblis?”
“Kau pasti belum pernah mendengar legenda Hindiana ya?”
Kini giliran aku yang mengerutkan dahi saat mendengar nama Indiana dari mulut gadis itu. Indiana? Legenda Indiana? Setahuku, legenda Indiana adalah pedang biru menyala milik Raja Lucas II yang hilang karena ia melanggar janji dan menikahi budaknya sendiri.
“Maksudmu, Indiana? Ah setahuku legenda negeriku adalah sebuah pedang, bukan darah sapi seperti yang kau maksud,” Aku bermaksud untuk memperjelas kalimat Sarah, tetapi gadis itu menggeleng dan tersenyum lebar.
“Biar kuceritakan sedikit dongeng dari Hindiana, bukan Indiana ya. Hindiana merupakan sebuah negeri maju yang ada di sebelah utara Indonesiania. Rakyatnya makmur dan sejahtera di bawah kepemimpinan Tuanku Fitz Abidjar yang telah memimpin kerajaan tersebut selama sepuluh tahun lamanya—”
Sarah memotong ceritanya saat kami mendengar suara ribut\-ribut dari ruang tamu. Rupanya pertengkaran Annabelle dan Anjelie sudah memasuki babak baru, yakni babak penentuan. Barangsiapa yang memiliki suara yang paling keras dan bisa menakuti lawan bicaranya, maka dialah pemenangnya.
“—sementara itu, anaknya, Putri Yvett Iskarius, bersekutu dengan Dewi Metallica, sang Dewi Kematian dan Alam Neraka. Mereka berdua membuat kesepakatan di mana Yvett akan menyediakan tumbal setiap malam bulan purnama pada Dewi Metallica berupa lima ekor sapi. Daging sapi itu akan dibagikan pada para penduduk kerajaan, sementara darahnya akan dibenamkan dalam tanah supaya Dewi Metallica bisa menyerap darah itu,” jelas Sarah.
Kupandangi raut wajah Silvanna. Dia tampaknya masih bingung mengenai hubungan antara darah sapi dan roh gentayangan.
“Lalu hubungannya dengan darah sapi itu apa?” tanya Silvanna. Senyuman Sarah semakin merekah bak bunga mawar di pagi hari. Begitu harum dan indah, walaupun dia merupakan gadis penyihir yang amat misterius bagiku. Berapa banyak ilmu pengetahuan yang ia miliki, sementara aku selalu beranggapan kalau Silvanna adalah orang paling pintar di dunia dan tidak ada bisa yang mengalahkannya?
“Jadi begini, Dewi Metallica memiliki anak kandung hasil perkawinannya dengan Dewa Iristus, yang mereka namai dengan nama Dewi Naina, sang Dewi Malam dan Mimpi Buruk. Awalnya sang Ibunda merasa kalau anaknya itu akan tumbuh menjadi anak yang nakal dan sulit diatur, makanya Dewi Metallica membentuk sepasang roh gentayangan agar bisa menjaga anaknya itu. Namun sayang ...,” Sarah menghentikan ceritanya. Dia menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan napas pelan.
“Kenapa?” tagih Silvanna. “Ada sesuatu yang tidak aku ketahui, sedangkan kau mengetahuinya?”
“Ya,” jawab Sarah. “Namun ini benar\-benar pengetahuan yang paling sial yang pernah aku dapatkan. Jika Dewa Syion telah menciptakan alat pencuci otak, maka aku bersedia menjadi kelinci percobaannya,” katanya sambil menundukkan kepala.
Kami berdua memandangi gadis itu. Rasa penasaran terhadap cerita yang baru saja ia kemukakan benar\-benar meledak dalam batinku. Aku ingin memaksa agar dia mau bercerita, tetapi rupanya penyihir itu memiliki segala hal supaya aku tak bisa memaksanya.
“Ceritakanlah!” ujar Silvanna memaksa. “Kami harus tahu mengenai Metallica dan Naina. Mereka berdua merupakan dewi yang paling kuat pengaruhnya dibandingkan delapan belas dewa\-dewi lainnya.”
Sarah menggeleng lagi. “Tidak akan. Bahkan jika diancam oleh seluruh penghuni Dunia Orang Mati dan monster\-monster abadi mereka, aku takkan bicara. Percayalah padaku, Silvanna, aku melakukan ini semua demi kebaikan kita bersama. Kisah ibu dan anak yang satu ini tidak patut untuk didengarkan!” katanya.
“Serius kau takkan bicara?” tanyaku. “Walaupun mengenai ramuan rahasia yang ada dalam genggaman Dewi Naina? Bukankah itu adalah tujuan kita?”
“Wah, kau pintar mengalihkan pikiran orang lain sepertinya, mirip dalam ramalan Dewi Juliette. Mengenai masalah ramuan, itu adalah hal lain dan akan aku jelaskan saat kita dalam perjalanan menuju kematian.”
***
Bersambung