
"Alkisah dulu hiduplah seorang pria tampan nan terkenal ke penjuru dunia. Saking terkenalnya, tak ada satu manusia di bumi pun yang tidak mengetahui nama sang pria. Bagaimana tidak? Dia atletis, pandai berbicara, ramah, dan murah senyum, serta tampan di mata para wanita.
Berita tentang ketenaran pria ini bahkan sampai ke telinga sang dewi yang sangat berkuasa pada saat itu, Metallica. Sang dewi pun tertarik, lalu ia pun turun ke bumi guna menemui si pria agar dia bisa menawarkan sebuah perjanjian yang amat menguntungkan—sebenarnya—bagi si pria tadi.
Berbulan\-bulan mulai berlalu, akhirnya Metallica menikah dengan pria tadi dan menghasilkan anak yang dinamai sebagai Iristus, Dewa Keremajaan, yang bakal menjadi suaminya. Metallica juga memberikan pria itu setengah dari kekuatan dewinya. Namun sayangnya, seperti kebanyakan pasangan manusia\-dewi lainnya, mereka sering terlibat pertengkaran yang hebat, hingga dewa\-dewi lainnya turun tangan agar bisa membantu.
Banyak yang menyarankan jika mereka berpisah saja, seperti kemauan si pria tadi, akhirnya mereka berpisah juga walaupun si pria tidak bisa kembali lagi menjadi manusia seutuhnya karena kekuatan Dewi Metallica ada dalam tubuhnya. Akhirnya Andromeda mengangkat pria tadi menjadi seorang dewa,” Sarah mengakhiri ceritanya dengan raut masam.
Aku dan Silvanna saling berpandangan, merasa heran karena melihat perubahan raut wajah gadis penyihir itu. Entah apa yang sedang dia alami, yang pasti dia tampak pucat dan lesu, seolah\-olah baru saja mengerahkan seluruh kekuatannya dalam sebuah cerita pendek yang ia ceritakan tadi.
“Kenapa?” tanyaku. “Ada yang salah dengan kau? Sakit perut? Atau lapar barangkali?”
“Tidak, aku hanya sedih saja mendengar cerita Dewi yang satu itu. Dia sudah kesepian di Alam Neraka, lalu harus meninggalkan satu\-satunya harapannya pula,” jawab Sarah.
“Maksudnya?”
Sarah mendengus. “Memangnya kalian tidak penasaran siapa pria tersebut? Kok kalian terlihat tenang\-tenang saja?”
“Memangnya siapa?” tanya Silvanna.
“Dia adalah Dewa Sannir, Dewa Harapan.”
Kami berdua terdiam. Sarah mengangkat kedua bahunya, lalu melempar pandangan tepat di mana kereta Andromeda melayang di atas langit. “Apa? Dewa Sannir adalah ‘mantan’ suami Dewi Metallica?”
Sarah mengangguk. “Iya. Ada alasan mengapa Andromeda mengubah Sannir menjadi Dewa Harapan—sebab itu adalah permintaan Metallica sendiri. Menurut legenda Hindiana, motif di balik permintaan Metallica yang sebenarnya karena Dewi Neraka itu menumpukan segala harapannya pada Sannir supaya pria itu mau menemaninya di dalam neraka nan panas sembari mengecek satu persatu jiwa orang yang telah mati.”
“Tapi Sannir menolaknya, lalu mereka bercerai?”
Sarah mengangguk lagi. Dia meletakkan telapak tangannya di atas dahi supaya bisa menghalau sinar mentari yang amat terik siang ini. “Jelas. Tidak ada satu pun manusia yang mau berada dalam neraka, bukan?”
“Lalu bagaimana selanjutnya?”
“Ya tentu saja, Metallica menikahi Iristus dan mengajaknya tinggal di neraka. Cerita selesai,” Sarah menatapku dengan amat lekat. “Sekarang bisakah kau menyuruh Silvanna agar dia mau memanggil Andromeda turun ke sini? Mentari semakin terik, dan aku tentu tidak mau duduk dalam kereta kencana yang memiliki suhu panas berlebih.”
“Bagaimana caranya? Kau tahu?”
“Tidak tahu sih, sebenarnya,” jawab Sarah. “Andromeda memiliki hubungan ‘khusus’ dengan keturunannya, dan menurut legenda setempat, hubungan itu benar\-benar berbahaya—sebenarnya. Namun hingga saat ini, belum ada satu pun legenda yang menyebutkan hubungan apa itu dan bagaimana cara berfungsinya.”
“Tadi kau bilang kau tahu caranya!?” protesku. Sarah mengabaikan aku dan berbalik menatap Silvanna yang masih terdiam. Sesekali gadis itu menengok ke atas langit, memastikan kalau kereta Andromeda masih ada di sana. “Bagaimana cara kita memanggil Andromeda sementara kau sendiri tidak tahu caranya?”
Sarah tersenyum tipis. “Tenang, Yang Mulia Bawel, hanya para keturunan Andromeda saja yang tahu caranya,” katanya. “Kau hanya perlu mengizinkan Silvanna agar dia bisa memanggil Andromeda, itu saja resepnya.”
Kini aku beralih pada Silvanna, lalu menganggukkan kepala, pertanda kalau aku mengizinkan dia untuk memanggil sang Dewi. Kemudian Silvanna mengeluarkan sebuah botol plastik kecil dan menenggak cairan merah di dalamnya. Aku penasaran. Bukankah itu merupakan ramuan rahasia penambah energi milik keluarga Amirah? Mengapa Silvanna meminumnya sekarang? Apa dia sedang kelelahan atau bagaimana?
“Eh?”
“Tenang,” kata Sarah. Kami membiarkan Silvanna meneguk satu botol cairan merah tersebut hingga tandas. “Dia harus meminum obat tersebut. Memanggil dewa\-dewi tentunya membutuhkan energi yang sangat besar—lain ceritanya jika dewa\-dewi itu sendiri yang memanggil kita,” lanjutnya.
Aku diam saja sambil memperhatikan Silvanna. Setelah meneguk habis cairan merah penambah energi itu, Silvanna segera membuang botol kosong tersebut pada tempat sampah terdekat, lalu memejamkan matanya tepat saat dia dan Sarah berdiri saling berhadap\-hadapan.
Tak lama kemudian, pendar\-pendar aneh mulai menyelimuti kedua gadis itu. Aku merasa ada yang aneh sebab tinggi mereka semakin bertambah atau sebenarnya merekalah yang melayang. Aku memekik keras lalu menarik jubah hitam panjang milik Sarah yang terjuntai ke bawah.
“Hei! Hei, apa yang sedang terjadi?” teriakku panik. Orang\-orang di sekeliling kami hanya diam saja, seolah\-olah cuek dan merasa kalau kegiatan yang dilakukan Sarah dan Silvanna telah biasa mereka lihat. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Annabelle dan Anjelie yang masih bertengkar.
*Aku harus apa*?
*Tenanglah, Anakku*. Dalam kebingunganku, aku mendengarkan sebuah suara lembut nan menghanyutkan. *Andromeda merupakan dewi terkuat di antara delapan belas dewa\-dewi. Oleh sebab itu, yang akan memanggil Sang Dewi haruslah kuat juga. Santai saja, mereka tak akan terluka*.
Aku menoleh ke sekelilingku untuk ke sekian kalinya. Suasana Indonesiania masih seperti biasanya, ramai dan terik, meskipun aku tidak tahu reaksi mereka seandainya mereka melihat ke atas dan menyaksikan kereta Andromeda di sana, tengah memilah\-milah mana daerah yang kekurangan air dan mana yang tidak.
Aku melepaskan tarikan tangan pada jubah hitam Sarah. Mereka melayang semakin tinggi ke udara, bahkan nyaris bertabrakan dengan kereta milik Andromeda. Setelah beberapa saat melayang, mereka akhirnya menghilang di balik awan bersama kereta Andromeda.
Aku menghela napas sebal. Sambil mencak\-mencak, kuhampiri Annabelle dan Anjelie yang kini telah duduk bersandar di halte bus yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdua bertengkar. Halte tersebut sepi, terkadang ada orang\-orang yang datang untuk duduk sebentar, lalu naik ketika bus sudah tiba.
“Berhenti!” Aku memegangi kedua tangan gadis itu dengan amat erat. Mereka berdua terdiam membisu sambil memandangiku penuh keheranan. “Aku perintahkan kalian untuk berhenti bertengkar. Aku sangat muak melihat tingkah laku kalian!”
“Kenapa?” potong Anjelie sedikit keras. “Aku harus mempertahankan harga diriku! Dia tidak bisa seenaknya mengakui kalau dia menang lomba daripada diriku—padahal dia baru saja memenangi satu dari lima lomba yang kami sediakan!”
“Apa masalahnya!?” Suaraku naik lagi satu oktaf. Kutatap mata dingin Anjelie dengan amarah yang menguasai pikiranku. “Kedua temanku sedang naik ke atas langit, sementara aku harus melihat kalian bertengkar selama mereka tidak ada!? Tolonglah, kalian sudah dewasa! Air dan api diciptakan untuk bersatu, melengkapi perbedaan yang ada, bukan untuk saling menyakiti!”
Mereka berdua masih terdiam, tetapi melalui ekor matanya, aku tahu kalau Annabelle dan Anjelie kini sedang saling salah\-menyalahkan. Kuhembus napas perlahan, berusaha membuang segala pikiran negatif dan rasa ingin marah yang masih bersarang dalam kepalaku.
“Sudahlah. Bantu aku, aku tidak tahu harus berbuat apalagi selain menunggu Silvanna dan Sarah seperti orang idiot,” kataku. Kemudian kuajak kedua gadis itu untuk duduk di halte bus sembari menunggu kedatangan Silvanna dan Sarah dari ritual pemanggilan Dewi Andromeda yang sedang mereka jalani.
Di siang terik nan panas ini, kami bertiga bagaikan udang goreng yang sedang ditiriskan dari minyak. Cuaca benar\-benar panas sekarang. Keringat membanjiri seluruh permukaan kulitku sehingga aku tampak seperti seorang manusia yang baru saja selesai mandi. Keadaan kedua gadis di sampingku ini juga tak ada bedanya, mereka sama\-sama kepanasan.
Saking panasnya, bola es buatan Annabelle saja langsung mencair. Aku semakin kasihan memikirkan Anjelie. Api bertemu api, dia pasti sangat terbakar—dalam hatinya.
“Memangnya kita harus menumpang kendaraannya Dewi Andromeda, ya? Setahuku, dewi yang satu itu takkan mau memberikan tumpangan pada orang\-orang yang sembarangan, apalagi jika dia mendengarkan alasan kita yang sebenarnya,” ujar Annabelle ragu.
Aku berdehem, berusaha mencairkan keraguannya. “Tidak. Silvanna adalah keturunan langsung dari Dewi Andromeda. Jelas saja dewi pasti akan membantu keturunannya—apalagi dalam menjalankan sebuah misi kemanusiaan.”
“Kemanusiaan apanya?” Anjelie menyela. “Memangnya membangkitkan seseorang dari kematiannya merupakan misi kemanusiaan? Maaf, bukan ingin menyela atau berkata jelek, tetapi semua dewa\-dewi pasti akan menentang hal yang satu itu, kan? Apalagi kita akan mengambil sebuah ramuan kuno dari Dewi Naina—yang telah ia jaga selama ribuan tahun lamanya.”
Ketika mendengarkan jawaban menohok dari Anjelie, aku mendadak mengurungkan niatanku untuk membalasnya. Aku menunduk, menatap kuku kaki berwarna merah menyala—yang kutebak asalnya dari minuman energi milik Silvanna. Soalnya aku tidak pernah menggunakan pewarna kuku sekali pun.
“Jangan bicara seperti itu,” tegur Annabelle. Dia merangkul erat bahuku dengan akrab. Rangkulannya hangat, serius. Aku takkan bisa menemukan seseorang yang memiliki rangkulan sehangat dirinya selain Ibunda dan Gibran—tentunya. “Dalam silsilah kerajaan, ucapan Raja dan Ratu merupakan perintah tertinggi dari ucapan siapapun. Titahnya harus dilaksanakan sebaik\-baiknya, sebab hukum tertinggi berada di tangan Raja dan Ratu. Viona pasti amat lelah karena harus menuruti perintah Yang Mulia Ratu,” lanjutnya membelaku.
Hatiku yang sempat mendung, sekarang menjadi cerah lagi bagaikan baru saja disiram oleh cahaya\-cahaya rohani yang luar biasa indah. Aku mengangkat kepalaku dan melempar senyum pada gadis yang sering sekali membekukan segala barang yang ia sentuh.
“Terima kasih,” gumamku.
Dia menganggukkan kepala. “Sama\-sama, Viona. Aku paham betapa beratnya ada di sisimu. Kehilangan seseorang yang kau sukai sekaligus harus mengembara demi menunaikan sebuah perintah dari Yang Mulia Ratu pasti benar\-benar menguras seluruh kekuatanmu,” katanya.
Kemudian Annabelle mengarahkan tatapannya ke arah Anjelie. Bukan, lebih tepatnya pada sesuatu yang berada di samping Anjelie. “Sekarang kita harus berhenti. Sepertinya Andromeda benar\-benar mengabulkan doamu—walau untuk saat ini saja.”
***
Bersambung