Travelers 2: A Medicine For Gibran

Travelers 2: A Medicine For Gibran
BAB 7 - HARAPAN TERAKHIR KAMI



Setelah melerai perkelahian Annabelle dan Anjelie yang sudah memasuki babak jambak-jambakan rambut, mengunci rumah, dan memberikan kunci rumahnya pada tetangga sebelah, gadis berpakaian ala-ala penyihir—lengkap dengan topinya—itu mengajak kami jalan keluar kompleks perumahan dengan jalan kaki.


 


“Padahal aku hampir saja menang!” ujar Annabelle sambil memberengut. Anjelie memandangi gadis itu dengan tatapan marahnya—itu merupakan tatapan yang paling menyeramkan bagiku. Saat tatapan itu dikeluarkan oleh Anjelie, maka pupil hitamnya akan dipijari oleh api\-api kecil yang terlihat membara.


Konyolnya, aku pernah berpikiran kalau Anjelie bisa menembakkan bola api melalui matanya.


“Mana ada!” Anjelie mendesis tak terima. “Kau baru saja memenangi satu pertarungan suit! Masih ada empat pertarungan yang belum kau lewati!”


Akhirnya mereka bertengkar lagi.


Sarah menelengkan kepalanya padaku dan Silvanna, lalu terkekeh geli melihat tingkah kekanak\-kanakan Annabelle dan Anjelie. “Mereka mengingatkanku pada si kembar Tom,” kata gadis itu. Kini kami berada di pinggir jalan yang tak jauh dari gerbang masuk kompleks tempat tinggal Sarah. “Mereka sering sekali bertengkar mengenai hal\-hal yang tidak penting.”


Rupanya dia mendengarkan kata\-kata Sarah. Selagi kedua tangannya menggapai\-gapai rambut Anjelie, dia berkata, “Tidak penting!? Ini penting tahu! Ini soal harga diri, dan aku takkan mengalah jika harga diriku diinjak\-injak!”


Aku memutuskan untuk mengalihkan perhatian Sarah. Kemudian aku menunjuk ke arah langit, tepat ketika sebuah kereta aneh melintas di atas sana. “Lihat itu! Itu kereta apa? Kereta layang? Kudengar Indonesiania mulai memiliki kereta layang,” kataku. Sarah mengikuti arah yang aku tunjuk, lalu dia menghela napasnya.


“Aku malas membahas ini, tetapi rupanya tumpangan kita sudah tiba,” Sarah mendadak lesu. Dia mengangkat tas kecilnya sambil melempar pandangan pada Annabelle dan Anjelie. “Segera lerai mereka. Jika tidak, Andromeda pasti akan membakar mereka menggunakan tongkat petirnya yang dahsyat!”


Aku mencekal tangannya. Dia berputar memandangku. “Ada apa?” tanyanya.


“Andromeda ... maksudmu siapa? Dewi Langit itu?”


Sarah menghela napasnya. “Iya. Memangnya kau kira siapa lagi? Dia Andromeda, sang Dewi Langit dan Petir, yang kerjanya setiap hari berkeliling di atas langit menggunakan kereta petirnya guna melihat bagaimana keadaan di bumi. Jika di suatu daerah sedang kekeringan dan membutuhkan hujan, maka Dewi Andromeda akan meminta Dewi Zalphine menurunkan sedikit berkahnya dalam bentuk air hujan,” katanya.


Jadi, begitulah caranya hujan turun ke bumi.


“Lalu kenapa wajahmu berkerut seperti itu? Ada yang salah antara kau dengan sang Dewi?” tanya Silvanna.


Sarah menggerutu. “Kalian pasti tahu kalau Irish merupakan Dewi Sihir, dan dewi minor tentunya. Andromeda dan Irish pernah bertengkar karena Irish tak sengaja memakai sihirnya di daerah teritorial Andromeda—dengan cara mengubah kawanan burung elang yang baru saja selesai menyantap kambing para warga menjadi patung elang yang luar biasa banyak. Oleh sebab itu, Andromeda mengubah Dewi Irish menjadi patung dewi, lalu anak\-anak Irish memindahkannya ke Pulau Rhea—dan itu membuat kami, para penyihir, merasa geram dengan kelakuan Dewi Andromeda.”


“Jadi?”


“Setiap anak\-anak penyihir pasti merasa canggung dan kesal apabila harus berhadapan maupun berdekatan dengan dewi yang satu itu,” jelas Sarah.


Silvanna menoleh padaku. Mungkin kami sedang berpikiran tentang hal yang sama, yaitu tentang hubungan Dewi Irish dan Andromeda yang pernah kami baca di buku perpustakaan sewaktu usia 15 tahun. Dalam buku tersebut dijelaskan, sebenarnya Dewi Irish dikutuk oleh Andromeda sebab sang Dewi Sihir berani mengutuk seorang anak manusia miskin karena telah mencuri tanaman singkong.


Mulai dari sini, kami sedikit mencurigai pemikiran Sarah mengenai kedua dewi itu.


“Bagaimana cara kita memanggil Andromeda? Kita ada di sini, sementara dia di atas sana. Tidak mungkin dong kita berteriak\-teriak seperti orang gila yang sedang memanggil karakter imajinasinya?” tanyaku. Sarah tersenyum miring. Dia menoleh ke belakang kami, tepat pada Silvanna yang sedang menengahi pertarungan sengit Anjelie dan Annabelle.


“Kita bisa menggunakan Silvanna,” jawabnya senang. Aku mengerutkan dahiku, sedikit bingung saat mendengarkan jawaban super\-duper aneh itu keluar dari mulut gadis penyihir tersebut. “Dia pasti sangat tertarik dengan Silvanna!”


“Oke, sampai saat ini aku belum paham maksudmu apa, oke?” Aku berusaha menghentikan ucapannya yang terlihat semakin senang itu. Kupandang lurus tepat ke dalam mata hitamnya. “Maksudmu menggunakan Silvanna itu apa? Memangnya apa daya tarik Silvanna terhadap Andromeda sehingga sang dewi mau turun ke sini?”


Sarah mengangkat kedua bahunya. “Mau tahu?” tanyanya. Aku mengangguk sangat cepat, merasa penasaran dengan kata\-kata gadis penyihir yang satu ini. “Mau tahu saja, atau mau tahu banget?” godanya.


Dia tertawa ketika aku mengerucutkan bibirku karena merasa dipermainkan. Dia menyuruhku mendekat, dan bodohnya aku mau\-mau saja. Saat aku telah mendekatinya, gadis itu berbisik di telingaku.


“Silvanna merupakan keturunan langsung Dewi Andromeda,” jawabnya lirih. Tentu saja—seperti yang kalian dambakan—aku terkejut bukan kepalang mendengar jawaban tersebut. Jujur, Sarah sering kali mengejutkanku dengan berita\-berita tak masuk akal, dan aku sangat membenci berita\-berita yang ia sampaikan.


“Dia keturunan Andromeda?” tanyaku. “Tapi, sejak kapan? Bu—bukankah keturunan Andromeda yang terakhir—Leo—sudah meninggal berabad\-abad tahun yang lalu?”


 


Mendengar pertanyaanku ini, Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendecakkan lidahnya. Angin berhembus pelan, menerbangkan rambut hitam milik gadis itu, membuatnya lebih terlihat dewasa ketimbang biasanya.


 


“Tidak, Viona, tidak,” jawab Sarah. Dia membelai rambutku dengan tatapan teduhnya, seolah tengah mengasihani aku yang terlalu banyak membaca buku. “Jangan terlalu percaya oleh buku\-buku yang ada di perpustakaan. Terkadang buku\-buku sejarah dan legenda telah ditulis ulang dan diperbaiki oleh manusia biasa—dan itu jelas\-jelas sangat melenceng daripada kenyataan yang sebenarnya.”


“Lalu, pada siapa aku harus mempelajari tentang legenda hidup itu?” tanyaku.


Sarah mengacungkan jari telunjuknya ke atas langit. “Pada sumbernya langsung atau pada diriku. Aku mewarisi pengetahuan dari Dewi Irish,” jawabnya sambil tersenyum.


Aku terdiam membisu. Sarah mulai melambai\-lambaikan tangannya pada Silvanna sembari berteriak keras, membuat para orang\-orang yang melintas melihat pada gadis berpakaian ala\-ala penyihir ini. Aku memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan diriku agar orang lain tak mengira jika aku adalah temannya Sarah.


Memang bukan, sih. Kami kan baru kenal beberapa jam yang lalu. Mana mungkin kami langsung berteman?


 


Merasa dipanggil, Silvanna memutuskan untuk menyudahi acara melerai dua orang gadis yang sedang bertengkar itu lalu berjalan menuju kami. Wajahnya tampak letih, gurat-gurat kulit muncul di dahinya, seolah-olah dia baru saja bertambah tua sebanyak 30 tahun dari usia sebenarnya.


Pasti melerai pertengkaran dua orang gadis dengan kekuatan yang dahsyat akan memakan banyak energi.


 


“Ada apa?” tanya Silvanna ketika dia sudah dekat. Aku meraih bahunya sambil melempar tatapan penuh simpati. Silvanna memandangiku dengan terheran\-heran. “Kalian habis membicarakan sesuatu yang penting, ya? Kelihatan serius sekali tadi. Bahkan saat aku meminta pertolongan saja, kalian malah mengabaikanku,” katanya.


Sarah mengerutkan dahinya, tetapi dia tak ambil pusing. “Tidak penting mengenai pertolonganmu. Yang pasti ...,” Sarah memotong ucapannya karena dia harus menunjuk ke atas langit, “Di atas sana, ada kereta kencana milik Dewi Andromeda. Aku asumsikan kalau dia sedang memantau keadaan bumi yang memerlukan air hujan. Maukah kau memanggilnya turun ke sini dan bernegoisasi?” lanjutnya bertanya.


Silvanna menunjuk dirinya. “Aku? Kenapa harus aku? Memangnya dia mau mendengarkan permintaanku? Lagipula, aku ini siapanya dia?” tanya Silvanna sedikit sarkas. Sarah diam saja, tetapi tersirat aura kesal dari wajah cantiknya.


“Jangan pura\-pura bodoh!” ujar Sarah meninggikan suaranya. Silvanna memasang wajah tak peduli. Aku terkekeh melihat tingkah mereka berdua, mirip seperti Annabelle dan Anjelie, pastinya. “Kau sendiri tahu, kan, kalau dalam buku karangan Tyson Alvaro Guzzalo, menyebutkan bahwa keluarga Amirah merupakan keturunan langsung dari Dewi Andromeda, Dewi Langit serta pimpinan dari para dewa\-dewi.”


Silvanna mengelak. “Ah bohong! Aku pernah mendengar seseorang, dia berkata jangan pernah mempercayai sebuah buku hasil tulisan manusia lain—karena itu semua belum tentu benar. Orang itu juga menyarankan aku guna mencari tahu pada sumber aslinya atau seseorang yang sangat dipercaya,” Silvanna memeletkan lidahnya. “Dan kau adalah orang yang tidak aku percayai.”


“Kenapa!?”


“Tidak tahu. Semuanya tergantung Yang Mulia Putri. Apakah dia bersedia untuk mengizinkan aku melakukan sesuatu atau tidak. Jika dia tak memerintahkan, maka tak akan kulaksanakan,” jawab Silvanna.


Sarah menolehkan kepalanya padaku dengan tatapan memohon. “*Please*,” katanya. “Andromeda adalah satu\-satunya jalan agar kita bisa menemukan Yvett. Dialah harapan terakhir kita sebelum Metallica menutup gerbang neraka dan membukanya tahun depan.”


 


***


Bersambung