
Terpikat caramu menggenggam dunia
Laksana Andromeda dalam kencana
Aku berlari padamu penuh semangat
Walaupun kau ikut menjauh secepat kilat
Pintu bus mewah ini terbuka saat kami berenam telah berbaris rapi sambil membawa parasut pemberian Andromeda, si dewi konyol dan penuh rahasia. Di depanku, ada Annabelle yang berdiri paling depan. Dia menatap tajam pada awan\-awan putih yang terlihat luar biasa mengerikan dari sini.
Bayangkan saja, kau tidak pernah terjun dari ketinggian pesawat—tiba\-tiba kau disuruh terjun menggunakan parasut. Pasti pelbagai pikiran buruk berkecamuk dalam otakmu seperti bagaimana kalau seandainya parasutnya rusak, dan tidak mau digunakan? Atau bagaimana kalau kami mendarat di atas suatu gedung antah\-berantah yang memiliki penduduk luar biasa galak?
Aku melongok ke bawah bus. Aku sama sekali tidak bisa melihat daratan sebab tertutupi oleh awan putih yang cukup besar. Walaupun begitu, Andromeda mengatakan kalau di bawah awan tersebut ada daratan Hindiana yang menjadi tempat tinggal Yvett, putri dari kerajaan makmur Hindiana.
“Kau serius ingin terjun begitu saja?” tanya Annabelle padaku dengan setengah berbisik. Dia terlihat ketakutan siang ini, lebih ketakutan daripada harus melayani amarah Roberto karena pemuda itu tidak berhasil menempa senjata yang dibuat dari api. “Ini lumayan tinggi lho. Bagaimana kalau kita jatuh begitu saja—dan Andromeda malah memberikan kita parasut yang rusak?”
“Tidak mungkin,” ujarku menyakinkan. “Dia adalah dewi yang baik meskipun aku sendiri tidak bisa menebak isi pikirannya,” sambungku.
“Nah!” pekik Annabelle. Untungnya pekikan tersebut tak sampai membuat heboh. Aku mendelik padanya dengan kesal. “Kau tahu? Mungkin dia berpikir kalau kita takkan tahu jika parasut yang dia berikan rusak atau tidak, kan? Bagaimana kalau kita—”
“Kok lama sekali? Melompatlah!” tegur Silvanna. Aku tersenyum pada gadis itu, sementara Annabelle terdiam. Kemudian kusikut siku gadis itu agar dia segera melaksanakan teguran Silvanna.
“Lompatlah!” kataku. Aku mendorong\-dorong Annabelle secara pelan agar tidak ketahuan yang lainnya kalau Annabelle terlalu banyak memendam rasa curiga pada Andromeda.
Annabelle meneguk salivanya, lalu dia menoleh padaku dengan tatapan meminta tolong. Namun sayang sekali, aku mendorong gadis itu dengan sekuat tenaga, menyebabkan dia terjun bebas menembus awan putih sembari berteriak ketakutan dan melempar tatapan marah padaku.
Pasti dalam otaknya, dia berpikiran kalau aku sedang mengkhianati dirinya. Memang dasar gadis tukang drama.
Setelah memastikan kalau Annabelle benar\-benar lenyap ditelan awan putih besar itu, aku pun ikut menyusul gadis itu serta menikmati bagaimana terpaan angin kencang menghantam wajah dan seluruh tubuhku.
***
Aku selalu ingin menyaksikan bagaimana keadaan dunia saat diterpa oleh musim salju, sebab di daerah asalku, Indianapolis, tidak ada setitik pun salju yang pernah mampir di sana. Guru geografiku berkata kalau itu merupakan pengaruh letak Indianapolis yang berada di cincin api, akibatnya Indianapolis tidak memiliki satu pun salju.
Omong\-omong, apapun musimnya, aku tetap mencintai Indianapolis.
Namun aneh rasanya. Selagi terjun, aku menyaksikan bagaimana daratan kini tengah ditutupi serbuk\-serbuk berwarna putih polos tanpa ada noda sedikit pun. Dari ketinggian ini pula, aku bisa melihat anak\-anak yang bermain riang di bawah tumpukan jerami yang berwarna putih, atau sekadar membuat boneka salju dengan kancing dan topi sebagai aksesorisnya.
Duh ... jadi begitu rasanya hidup sebagai warga sipil? Bermain\-main tanpa harus belajar tentang kerajaan. Tertawa bersama tanpa harus dibedakan antara anak raja atau bukan. Jadi begitu rasanya?
Di tengah lamunanku, teriakan perempuan nan melengking membelah langit. Aku tersadar, lalu menolehkan kepalaku, tepat pada seorang gadis yang ikut terjun juga berada di sampingku. Wajahnya tersenyum ceria sementara mulutnya terus\-menerus meneriakan kata seru, asyik, ini belum seberapa!, dan berbagai kata lainnya yang tak perlu kujelaskan satu\-persatu.
Dia tertawa tanpa suara, tetapi itu semua sudah menjelaskan padaku betapa bahagianya dia bisa terjun tanpa takut mati, setidaknya itulah yang dikatakan Andromeda kepada kami tentang aktivitas penerjunan tanpa alat keamanan dari kereta kencananya.
“Ini terlalu asyik untuk disia\-siakan!” ujarnya lantang. “Aku malah berharap kalau ada Roberto di sini. Pasti terasa menyenangkan bisa berteriak bersama—mungkin melakukan beberapa tantangan berupa menyuarakan segala keluh\-kesahmu di sini.”
“Sayangnya Roberto tidak ada hubungannya di misi kita. Lagipula aku hanya diperbolehkan membawa dua orang teman saja—tapi aku malah melanggarnya,” sahutku.
Dia tak mengindahkan ucapanku dan terus\-menerus berteriak layaknya orang yang sedang kesetanan. Oh, Ibunda, harusnya kau melihat dan menyesali alasan mengapa anakmu yang cantik jelita ini harus berpergian bersama seorang gadis gila dan tak tahu malu seperti Annabelle?
Padahal kan tadi dia tampak ketakutan sebelum terjun bebas.
“Lima menit sebelum pendaratan, kau masih tidak mau berteriak melepaskan bebanmu?” ajaknya. Aku menggelengkan kepala kuat\-kuat, menghindari segala jenis angin kencang yang menerpa seluruh tubuhku walaupun hal itu terasa sia\-sia saja. “Oh ayolah coba! Tidak ada salahnya, kan? Kau terus\-menerus memendam kekesalan dan kesakitan hati tentang Gibran selama tiga tahun terakhir. Lepaskanlah di sini, sahabatku tercinta!”
Annabelle masih asyik memaksaku untuk mengikuti permintaannya. Berkali\-kali aku menggeleng, berkali\-kali pula gadis itu memaksa. Dia bagaikan seekor semut yang tak akan menyerah dalam mengangkat makanan agar bisa dibawa ke sarangnya, meskipun ukuran makanannya itu lebih besar daripada dirinya sendiri.
“Ayolah!” teriaknya sekali lagi.
Akhirnya aku luluh juga. “Baik, baik! Aku menurutimu!” kataku. Dalam benakku, lebih baik mengakhiri permintaan konyol Annabelle daripada mendengar paksaannya lebih lama lagi. Aku menarik napasku sambil memandangi arah pendaratan kami yang jaraknya tak jauh, lalu dengan sekuat tenaga, aku mencurahkan segala penderitaan batinku ke langit\-langit dunia.
“MENGAPA HARUS AKU YANG MENANGGUNG SELURUH KUTUKAN KETURUNAN EZKIEL!? DIIKUTI DUA PERI YANG JAHATNYA BUKAN MAIN SAJA SUDAH SULIT, AKU JUGA DIPAKSA OLEH TAKDIR UNTUK JATUH CINTA PADA SEORANG PEMUDA YANG SEKARAT!?”
Setelah selesai mencurahkan isi hatiku, kupandangi Annabelle yang tak berkutik lagi. Dia menganga, persis seperti anak anjing yang sedang kehilangan tulang kesukaannya. Aku menjentikkan jariku di hadapannya, dan mengutuk tindakanku barusan. Reaksi Annabelle setelah jentikan jariku merupakan reaksi paling konyol yang pernah ia tampakkan padaku.
Kalian menyangka dia memasang wajah gila? Salah besar! Dia malah berteriak kepadaku, bahkan lebih keras daripada sebelumnya, membuat telingaku terasa ingin pecah dan kabur dari tempat terkutuk ini saja.
“CURAHAN HATI MODEL APA ITU!? AKU SUDAH BERTERIAK\-TERIAK SEJAK TURUN TADI, LALU KAU BERTERIAK TIDAK LEBIH DARI SEPULUH DETIK!? KAU INI SEDANG MEMPERMAINKAN AKU ATAU BAGAIMANA!?”
Seketika aku menyesali keputusanku untuk mengikutsertakan Annabelle. Benar kata Ibunda Ratu, aku tidak boleh melanggar peraturan yang telah diterapkan oleh pihak kerajaan. Boleh dibilang sekarang aku sedang mendapatkan karmanya.
“Suka\-suka aku dong! Aku yang berteriak, mulut juga milikku, mengapa kau yang ribut!?” tantangku.
Annabelle menampakkan reaksi tak suka. Namun sebelum sempat dia mengutarakannya, kami telah mendarat dahulu di atas tanah yang padat nan keras berlapis salju. Kami juga meninggalkan bunyi berdebum dan jejak kaki yang—aku rasa—takkan hilang hingga beberapa hari ke depan.
***
Bersambung