
...sesuatu yang tidak seharusnya terjadi akan terjadi namun kau akan menikmati nya bersama...
Entah kenapa rasa nya aku menyesali takdir ku saat ini mungkin saja dulu aku sangat menikmati dunia gelap ini, namun saat ini semua berubah ketika cinta itu tumbuh seseorang yang tak ku sangka akan hadir mengisi hari-hari ku dengan sebuah rasa hangat dan tak pernah terpikir cinta itu tumbuh dalam diriku.
Ripan menghela napas memejam kan mata nya tertunduk melihat lalu lalang manusia di bawah sana,Derren yang saat itu menyaksikan lelaki itu penuh dengan tanda tanya ekspresi yang tak mudah di tebak atau hanya kata-kata yang sulit di artikan.
Keysha mengetuk-ngetuk kan jemari nya ke meja ia terdiam lalu memperhatikan wajah gadis yang sedari tadi hanya tersenyum tanpa sebab amarah yang sedari tadi ia pendam membuat nya tak tertahan kan dengan memperhatikan Syahsaaa di depan nya,ia bangkit dan menarik lengan gadis itu ke dalam toilet
"Aaww,lo kenapa sih key lepasin sakit tau" tegas nya dengan mengepiskan lengan
mata Keysha terus saja menatap tajam ke arah Syahsaaa yang meringis kesakitan oleh ulah nya
"Jauhi Ripan atau" ucap nya terpotong oleh Syahsaaa yang maju mendekat
"Atau apa? gw gak pernah takut sama ancaman-ancaman lu itu ya Key dan jika lu emang suka sama Ripan ambil aja jika Ripan nya mau sama lu"
Syahsaa pergi meninggal kan Keysha di toilet tanpa melihat ekspresi gadis itu namun dari ujung mata nya ia melihat keterkejutan wajah Key yang ketara panik atau ia berpikir bahwa gadis yang selama ini diam tak kan melawan bukan berarti diam itu lemah bukan? hanya saja ada waktu nya semua amarah terlepas kan pada waktunya.
"Syaaaaaa" Teriak Chelsea yang berlarian ke arah nya "Tadi novia bilang lu berantem sama si Keysha tuh bocah ngapain lu Sya"
ucap nya dengan panik dan melihat pipi kiri kanan
"gapapa kok cuma masalah kecil kaya nya gw izin pulang lebih awal ya Chel gw gak enak badan" dengan suara parau
"Iya gapapa tapi lu yakin si Keysha gak ngacak-ngacak badan lu apa perlu gw kasih pelajaran tuh bocah" tegas nya dengan tatapan tajam
Syahsaa terkekeh melihat tingkah sahabat nya itu andaikan saja Keysha juga tak membenci nya mungkin ia akan selalu bertiga dengan nya batin nya berkata demikian
"Syaaaa malah bengong lagi, apa gw perlu nyari Ripan anterin lu pulang" dengan wajah cemas Chelsea memegang bahu Syahsaaa
"Engga gakk usah gw pengen pulang sendiri aja kok eh iya jangan bilang kalo gw abis berantem sama Keysha awas lu kalo bilang" ancam nya dengan melotot
"Tunggu jadi lu berantem sama Keysha?"
Syahsaaa memang tak pernah menang jika berbohong ia mulai lelah dengan arah pembicaraan ini,ia membenarkan tas nya dan tersenyum ke arah Chelsea
"Gw pulang dulu ya,bilangin sama Novia gw gak enak badan sorry nanti gw cerita semua nya ke lu ya Chel hari ini mood gw gak baik"
Chelsea mengerti dan mengangguk melambaikan tangan ke arah sahabat nya yang mulai melangkah meninggal kan gedung sekolah,saat Chelsea akan kembali ke lapangan mata nya melihat lelaki itu ia berlari ke arah Ripan entah kenapa rasa nya sahabat nya itu sedang membutuh kan lelaki kutub es ini.
"Ripan, lu harus susul Syahsaa sekarang dia berantem sama Keysha" tegas nya tanpa memberikan lelaki itu jeda untuk berucap
tanpa pikir panjang Ripan berlari ke parkiran menghidup kan motor nya dan segera menyusul gadis itu tanpa tau ia di mana,keluar dari halaman sekolah dan melaju tanpa arah pikiran nya hanya terfokus tentang Syahsaaa
...****************...
Gadis itu marah , kesal tanpa sebab air mata nya menetes di pipi segera ia usap dengan tangan nya ia tak ingin terlihat cengeng berjalan pelan menatap kosong ke arah jalanan mobil mau pun motor berlalu lalang ia sesekali menghirup udara sekitar lalu membuang nya mengambil handphone nya lalu mematikan ia tak ingin terganggu dengan suasana hati nya yang kacau,
Seseorang menarik tas gendong nya membuat tubuh mungil itu mundur ke belakang membuat pikiran nya buruk dan hati nya merasa takut dengan hal-hal yang tak di ingin kan.
"Sini luu maju ke depan jangan berani sama anak SMA ya berani nya sama cewek lu" dengan suara gemetar
Syahsaa menelan ludah nya sendiri dan menyiap kan aba-aba akan lari jika preman atau penculik di belakang akan menangkap nya namun ia pun akan mengeluarkan tinjuan nya terlebih dahulu jika meleset ia akan lari sekencang mungkin,suara langkah mendekat dan dengan cekatan kilat gadis itu berbalik melayang kan tinjuan nya dengan mata melotot
"Aaawww Syaaa ini gw" lelaki itu tersungkur kebelang
Syahsaaa kaget membekap mulut nya sendiri dan berlari ke arah Ripan yang memegang ujung bibir nya dengan ringisan
"Sorry gw kira lu preman atau penculik salah lu sendiri siih" menggigit bibir bawah nya
Ripan berdiri dan melihat gadis itu ia tersenyum melihat kepanikan Syahsaa mata coklat nya yang habis menangis membuat hati nya teriris merasakan ada nyeri di sana, tangan nya mengusap pipi gadis itu dan kemudian memeluk nya tanpa menghirau kan tatapan pengendara lain
"Pan lepasin malu tau di liatin orang"
Ripan melepas kan pelukan nya lalu menggenggam jemari Syahsaaa menuju motor yang ia tinggal kan tak cukup jauh dari keberadaan mereka saat ini,
Syahsaaa mengikuti lelaki itu tanpa memberontak ia merasakan nyaman dengan genggaman yang Ripan berikan
"Mau ikut ke suatu tempat yang damai?" ucap nya dengan sebuah senyuman
"Tunggu dulu gw mau beli sesuatu" ia berlari ke arah warung kecil
Setelah Syahsaaa kembali dengan kantung yang ia bawa Ripan memberikan jaket nya ke gadis itu lalu memasang kan nya tanpa ekspresi namun hati nya berdetak seakan habis berlari kencang.
Setelah beberapa menit dalam keheningan gadis itu mulai penasaran dengan tujuan lelaki itu
"Kita mau kemana sih?" ucap nya nyaris berteriak
"Diem aja bentar lagi nyanpe kok,lu bisa berteriak di sana sesuka lu sya"
bukan jawaban yang ia dapat tapi sebuah kata "Hah,apaaa" itu membuat Ripan mendengus kasar
"Syaa ayo turun"
melihat ke belakang karena gadis itu tak menjawab perkataan nya membuat ia khawatir jika gadis itu tertidur namun perkiraan nya salah,
gadis itu sedang melihat lurus ke depan beberapa kali mengerjap kan mata nya turun dari motor perlahan berjalan melewati tanpa melihat arah jalan nya ia berbalik menatap lelaki itu tersenyum senang berlari ke depan mendekati ombak yang menyambut nya dengan mendekati kaki yang masih terbalut sepatu.
"Gw gak nyangka lu bakal ngajak gw kesini" ucap nya pelan menatap lelaki itu dari samping
"Jika suasana hati gw kacau tempat ini yang pertama gw datangin berisik namun menenang kan" balas nya dengan senyuman
Tiba-tiba saja air mata menetes di kedua pipi gadis itu rasa nya capee tapi ia pun aneh dengan rasa cape itu tak melakukan hal yang berat atau hanya menguras energi ia hanya cape dengan semua ini hal itu di ketahui oleh lelaki itu dan mengusap air mata di kedua pipi Syahsaaa.
"Lu boleh teriak sekencang-kencangnya disini luapin apa yang membebani lu" katanya dengan mundur selangkah membiar kan gadis itu berdiri sendiri
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak nya dan tersenyum ke belakang berlari ke arah lelaki itu lalu memeluk nya
"Udah merasa tenang ?" balas nya dengan menggenggam jemari gadis nya
Lalu mereka berjalan di pinggir pantai dengan sesekali bercanda gurai,berlarian layak nya anak tk yang sedang bermain petak umpet tertawa lepas tanpa beban,Ripan merasakan kebebasan dalam diri nya kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelum nya senyum yang begitu lepas dan ke damaian menyelimuti diri nya
"Stooppp,gw cape kita istirahat dulu disana yuu" ucap nya dengan wajah yang memerah
Ia berjalan lebih dulu ke arah pohon rindang duduk di antara bebatuan yang menyelimuti pasir, Syahsaaa mengambil tas nya dan mengeluarkan obat-obatan yang ia beli tadi,
Ripan hanya terdiam melihat perlakuan gadis nya itu
"Sakit gak ? sorry ya gw gak sengaja nonjok lu gw kira lu orang jahat" dengan wajah khawatir
"Gak sakit kok karena lu yang obatin" menatap lembut ke arah gadis nya
Membuat Syahsaaa tersipu pipi nya terasa panas dan ia yakin bahwa sekarang pipi itu seperti kepiting rebus lalu ia mengalihkan pandangan nya ke segala arah
"Lu berantem sama Keysha?" tegas nya dengan masih menatap gadis di samping nya
"Pasti Chelsea yang ngasih tau lu kan, dasar mulut ember" menghembus kan napas nya
Ripan menggenggam tangan Syahsaaa lalu lalu memeluk nya dari samping
"Jika lu ada masalah cerita ke gw,sekarang beban lu,masalah yang ku hadapi sama hal nya masalah gw Syaa" mengecup kepala gadis itu
Menghembus kan napas pelan "Lu janji kan gak bakal ninggalin gw Pan"
Ripan menatap gadis nya dengan senyuman
"Gw janji gak bakal ninggalin lu apa pun masalah nya seberat apa pun rintangan gw tetep ada di samping lu Sya gw bakal hadapi itu semua karena sekarang alasan gw hidup adalah elu"
"Apa itu sebuah janji Pan ?" balas nya menatap lelaki itu "karena gw gak suka seseorang membuat janji hmm itu akan gampang teringkari"
"Bukan___bukan sebuah janji gw bakal buktiin itu ke lu Sya karena lu hidup gw bakal berubah" mengusap pipi gadis itu "Dan lu juga gak boleh ninggalin gw Sya jika lu ninggalin gw hidup gw bakal tanpa arah" tegas nya dengan raut wajah tanpa ekspresi
"Gw gak bakal ninggalin lu Pan gak bakal" membalas pelukan lelaki itu
Andaikan waktu bisa ku hentikan akan ku hentikan saat ini,detik atau pun jam begitu pun hari ini semua begitu indah hal yang tak pernah selalu ku rasa kan kedamaian,hati tenang tanpa harus merasakan ketakutan atau hanya sekedar suara tembakan, peluru yang melayang kemana-mana darah berceceran suara mobil polisi orang-orang terluka penyesalan di akhir yang menyelimuti pikiran andai kan semua itu tak berada dalam kehidupan malam ku.